"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Emeli
"Jaga bicaramu, yandra!" sanggah nyonya Emeli menatap tajam.
"Lantas aku mau bicara seperti apa, Ma? Kan memang nggak ada urusannya sama Gracia," sahut Yandra acuh.
"Kenapa sikap kamu sekarang berubah, Mas? Apakah kamu sudah jatuh cinta pada Runi?" timpal Gracia dengan mata memerah menahan sebak di dada.
"Cia, aku minta mulai saat ini kamu jangan lagi mengganggu aku dan runi. Bagaimanapun sekarang status aku sudah menjadi suami orang. Aku harap kamu bisa menjaga sikap!" tekan Yandra.
Gracia menatap nyonya Emeli dengan air mata yang sudah jatuh di kedua pipinya. Tentu saja wanita baya itu tidak terima.
"Tega sekali kamu. Apakah kamu tidak melihat bagaimana pengorbanan cia? Seharusnya kamu tidak bersikap seperti ini," ujar nyonya Emeli kecewa sekali.
Yandra menghela nafas pelan. Kenapa banyak sekali masalah yang harus ia hadapi. Padahal ia sudah berusaha berdamai dengan keadaan, yaitu menerima Runi sepenuhnya. Yakin sekali semua sudah menjadi takdir hidupnya. Ia sudah tak berekspektasi lagi untuk mendapatkan jodoh yang sepadan. Di tambah lagi kedua orangtua Runi adalah karyawan kesayangan papa di kebun. Mereka memang pasangan yang cukup rajin dan juga baik. Rasanya ia tidak tega bila harus mengecewakan mereka.
"Sudahlah, Ma. Aku tidak ingin berdebat lagi. Saat ini aku hanya ingin fokus dengan pendidikanku, dan juga bayi yang ada di kandungan Runi," ujar Yandra mencoba untuk tidak meladeni kedua wanita itu.
"Hng! Kenapa kamu percaya sekali bahwa bayi itu adalah milik kamu. Padahal kamu tahu sendiri Runi sering menemui pilot itu secara diam-diam. Kamu jangan bod0h Yandra!" timpal nyonya Emeli dengan seringainya.
Yandra terdiam menatap sang mama dan juga Gracia. Ucapan mama barusan membuat kepercayaan Yandra kembali goyah.
Yandra tak lagi menanggapi. Ia segera berlalu dari hadapan mereka berdua. Sesampainya di kamar, Yandra seketika membuang jaketnya di sofa.
Yandra menjatuhkan bokongnya di sofa tersebut. Kembali ucapan mama menggangu pikirannya.
"Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus minta bang Vano untuk segera mengeluarkan hasil tes DNA itu," ujarnya seorang diri.
Sementara itu Runi baru saja selesai makan dan minum obat. Niatnya ingin istirahat kembali. Ia harus segera pulih dan bisa segera pulang kerumah. Kasihan bila suaminya harus bolak-balik ke RS. Ia juga tidak ingin kabar ini di ketahui oleh kedua orangtuanya. Tak ingin membuat mereka khawatir.
Saat Runi hendak kembali berbaring, terdengar suara pintu ruangan itu terbuka. Ia segera menoleh.
"Eh, ada mama!" ujar Runi tersenyum menyambut kedatangan ibu mertuanya. Namun, senyum itu seketika memudar saat melihat Gracia muncul dari balik punggung wanita baya itu.
Kedua wanita itu menghampiri Runi. Mereka tersenyum menatap satu sama lain. senyum itu terlihat menyimpan sesuatu.
"Apa kabar nyonya besar? Sungguh kehidupanmu berubah drastis setelah mendapat gelar sebagai menantu tuan saga," ucap Gracia masih dengan senyum mengejek.
"Sekarang sangat manja. Sakit sedikit langsung minta di rawat, biar apa??" timpal nyonya Emeli.
"Biar di sayang sama mas Yandra. Dan pastinya cari perhatian," sahut Gracia.
Runi masih diam dengan senyum tipis. Ia tidak boleh terpancing dengan ucapan mereka. Yakin sekali mereka ingin membuat kondisinya ngedrop. Hal itu tidak akan ia biarkan.
"Jika sudah tahu jawabannya, lalu kenapa kalian datang kesini? Biar apa?? tentunya akan membuat kalian terbakar tak menyala. Kamu mau tahu, Gracia, apa penyebab aku bisa pendarahan? Malam itu aku dan mas Yandra bercinta terlalu bergairaahh. Sungguh kami benar-benar lupa diri. Ah, kami berdua sangat menikmatinya. nanti setelah kandungan aku sudah kuat, maka kami akan bercinta lagi dengan bermacam gaya....."
"Stoop! Stop Runi!" Sanggah nyonya Emeli. Dia melihat wajah Gracia sudah memerah menahan api cemburu yang berkobar.
"Nggak! Mas Yandra nggak mungkin mau menyentuh dirimu!" ujar Gracia masih syok mendengar ucapan Runi.
Runi terkekeh kecil. "Berhentilah meyakinkan dirimu sendiri, karena itu sangat menyakitkan. Nyatanya hubungan aku dan mas yandra sudah lebih baik. Kami sudah saling memiliki," timpal Runi dengan nada tenang.
"Berhentilah bicara omong kosong mu itu, Runi! Putraku tidak mungkin melakukan hal itu. Karena kamu bukanlah tipe wanita yang di inginkannya!" bantah nyonya Emeli menatap kesal.
Runi kembali tersenyum menanggapi ucapan ibu mertuanya. Ternyata wanita baya masih berusaha untuk memisahkan dirinya dan Yandra.
"Kenapa tidak mungkin, Ma? Dulu mama juga bukan selera papa 'kan? Tapi karena mama mempunyai jurus andalan, jadinya papa terpaksa menerima mama. Tapi kita beda cerita ya, Ma. Aku tidak berbuat curang seperti mama demi mendapatkan lelaki kaya raya," ujar Runi. Ya, Runi sudah tahu kisah nyonya Emeli dari cerita mommy Amira. Semalam mereka cerita banyak saat Yandra dan papa keluar ngopi di kantin.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu. Dasar menantu kurang ajar!" nyonya Emeli hendak melayangkan tangannya.
"Berhenti, Ma!" seru Yandra membuat tangan sang mama menggantung di udara.
Bersambung....