NovelToon NovelToon
Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:368k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kirana Pramudya

Giselle mengira menikah dengan Gibran adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Sosok pria yang mau menerima kekurangannya dan melengkapinya. Akan tetapi, semua angan dan impian Giselle berubah menjadi pahit, ketika dia tinggal satu atap dengan mertuanya.

"Jadi wanita bisanya cuma bekerja, gak tahu dapur, gak tahu kerjaan rumah tangga. Sudah begitu, kamu menikah lama dan tidak memiliki anak. Jangan-jangan kamu mandul, Sell?"

Perkataan pedas, tudingan miring, ditambah dengan ketidakberdayaan Gibran kian menambah runyam suasana. Dapatkah Giselle bertahan dengan konflik batin yang dia alami setiap harinya? Akankah pondok mertua yang tak indah ini perlahan-lahan menjadi rumah yang bisa menerimanya dan memanusiakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasih Sayang Berdasarkan Kalender

Selang dua minggu usai duka yang dialami keluarga Winatha, dan juga dengan hari ini bertepatan dengan hari gajian. Itu juga karena Giselle akan menari gaji dari perusahaannya di tanggal 1 setiap bulannya. Oleh karena itu, Giselle pun sudah mengambil sejumlah uang cash dan hendak dia berikan kepada Ibu mertuanya.

Sebelumnya, Giselle pernah berunding terlebih dahulu kepada suaminya. Menanyai berapa nominal yang hendak diberikan kepada ibu mertuanya. Menurut Giselle, bagaimana pun dalam berumahtangga, keuangan adalah hal yang penting. Sering kali finansial menjadi ranah yang sensitif dan bisa memicu pertengkaran. Oleh karena itu, Giselle memang bertanya kepada suaminya terlebih dahulu.

"Mas, jadi nanti kita kasih berapa untuk Ibu?" tanya Giselle.

"Terserah kamu saja, Sayang. Maaf, aku tidak bisa banyak membantu. Kamu tahu sendiri kan, kalau penghasilanku jauh di bawah penghasilanmu setiap bulannya," balas Gibran.

Bukannya tidak ingin membantu. Namun, Gibran pun memberikan penjelasan bahwa memang realitanya penghasilannya hanya separuh dari penghasilan Giselle. Sering kali di lapangan ada kasus seperti Giselle dan Gibran, karena pada dasarnya memang ada wanita karir yang memiliki posisi karir yang lebih baik dan juga memiliki penghasilan lebih tinggi dari sang suami.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku ikhlas untuk Ibu. Bagaimana pun, Ibu juga orang tuaku. Masak iya, aku akan membiarkan seluruh operasi di rumah ini tidak berjalan bahkan aku tega ketika dapur rumah ini tidak mengepul," balas Giselle.

Sungguh Giselle pun juga tidak akan setega itu. Terlebih dia tahu bahwa tulang punggung keluarga Winatha sudah tiada. Sehingga, jika harus memberikan uang bulanan untuk Ibu mertuanya, Giselle tidak keberatan.

***

Sekarang ....

Giselle pulang dengan membawa amplop coklat yang berisi uang sebesar lima juta Rupiah. Pikir Giselle, setidaknya lima juta cukup untuk memasak setiap hari. Toh, kemarin pembicaraan dengan Gibran, suaminya yang akan membayar tagihan listrik dan air setiap bulannya.

"Assalamualaikum, Ibu," sapa Giselle begitu dia memasuki rumah mertuanya ketika pulang kerja sore itu.

"Ya, Sell ... baru pulang? Nah, pulang tuh hari masih sore. Jangan pulang malam-malam," balas Bu Rosa.

Rupanya sang ibu mertua masih menyoroti hari di mana Giselle beberapa pulang malam. Namun, pulang malam pun bukan keinginan Giselle. Itu juga karena dia harus membuat analisis saham yang membutuhkan waktu lama.

"Maaf, Bu ... itu juga karena Giselle baru banyak kerjaan," balasnya.

"Ya, usahakan pulang itu sore. Masak gak ada yang ngurusin suami kamu," balas Bu Rosa dengan ketus.

Tidak ingin memperpanjang pembicaraan karena Giselle juga capek dan ingin mandi. Sehingga Giselle segera memberikan amplop coklat itu kepada ibu mertuanya.

"Ibu, ini Giselle berikan sedikit dari penghasilan Giselle. Untuk memasak di rumah," ucapnya.

Melihat amplop coklat dan sangat Bu Rosa percayai bahwa isinya adalah uang, raut wajah Bu Rosa seketika menjadi berubah. Wajah yang semula ketus, kini tidak lagi.

"Sell, makasih banyak yah," ucapnya dengan suara yang lebih lembut.

"Sama-sama, Ibu. Tolong diterima ya, Bu ... nanti setiap bulannya, Giselle akan berikan kepada Ibu. Baiklah, Giselle naik ke kamar dan mandi dulu ya, Bu."

Usai memberikan itu, Giselle memilih naik ke kamarnya di lantai atas. Setelahnya dia memilih mandi untuk menyegarkan dirinya. Lega, ketika bisa memberikan untuk mertuanya.

***

Keesokan harinya ....

Pagi ini, Giselle nyatanya sedikit kesiangan lagi. Itu juga karena semalam dia mengerjakan pekerjaan hampir tengah malam. Giselle sudah takut terlebih dahulu, takut jika ibu mertuanya marah ketika dia bangun kesiangan seperti yang sudah-sudah.

"Pagi, Bu ... maaf Giselle kesiangan karena semalam ada lemburan," ucapnya dengan menundukkan wajah.

"Oh, tidak apa-apa, Sell. Semua masakan sudah siap kok. Berkat uang dari kamu, Ibu bisa beli buah. Biar kita lebih sehat," balasnya.

Giselle mengernyitkan keningnya, dia merasa heran karena biasanya Ibu mertuanya akan marah dan berbicara ketus kepadanya ketika dia bangun sedikit terlambat. Sekarang, Ibu justru bersikap manis kepadanya, dan sama sekali tidak berbicara ketus. Jujur, di dalam hati Giselle senang dengan ibu mertuanya yang tidak terlalu ketus dan judes. Jika bisa, Giselle ingin ibu mertuanya akan terus sebaik ini.

***

Tiga Pekan kemudian ....

Sekarang sudah tiga pekan waktu berlalu, itu artinya kalender terus berjalan dan menuju ke tanggal tua. Kali ini, Giselle tidak bangun kesiangan. Namun, perlakuan ibu mertuanya terasa berbeda.

"Jangan langsung berangkat kerja dong, Sell. Peralatan makan milikmu dan suamimu itu dicuci dulu," perintah dari Bu Rosa dengan nada yang sedikit ketus.

Giselle akhirnya menganggukkan kepalanya, dan mencuci peralatan makan miliknya dan suaminya terlebih dahulu. Bu Rosa kini duduk di ruang tamu, kemudian dia menyindir Giselle.

"Maklum punya menantu anak orang kaya ... sehingga, cuci piring saja harus disuruh-suruh. Tangannya gak terbiasa kena sabun cuci piring."

Deg!

Seketika dada Giselle merasa sesak. Tidak mengira dia akan mendapatkan sindiran dari ibu mertuanya sendiri. Bahkan ketika urusan mencuci piring saja dikaitkan dengan latar belakang Giselle yang anak orang kaya dan tangan yang gak terbiasa memegang sabun.

Sungguh, sikap baik dari ibu mertuanya rupanya hanya berdasarkan kalender saja. Ketika tanggal muda dan Giselle usai memberikan uang bulanan, sikap sang ibu mertua akan menjadi baik dan penyayang. Sementara, ketika kalender memasuki tanggal muda, dan uang bulanan kian menepis, Giselle justru diperlakukan tidak baik. Disindir oleh mertuanya sendiri. Sindiran yang bisa Giselle dengar dengan sangat jelas. Begitu sakit dan terlukanya menjadi sosok Giselle bukan?

1
Safa Almira
yey
Dewi Nurani
bayinya perempuan tp yg diangkat bayi laki laki , gimanaaaa 🤦
Dewi Nurani
harusnya bu rani ikut bu rosa dulu biar tau rasa s amel
Alana
mertua lucknut ga tau diri udah di tolongin bukannya bersyukur dan berterima kasih malah nyalahin dan nyaci kaki ... ga tau ini otak dan mata hatinya di taruh dimana sih ?? KL di dunia nyata ada mertua kek gini gimana jadinya ya para mantu keknya banyak yg cerai 😩😩
Les Tary
Tanti Rani mendingan ikut kasihan mertua udh kyk pembantu biar tahu rasa itu menantunya kerjaan rmh dikerjain sndiri
Nenti
Gedeg banget sumpah 😡😡😡
Nenti
😭😭😭😭😭😭
sedih kalo berada di posisi Gisel semuanya serba salah
Alana
nenek gilakk dasar mertua lucknut
Alana
nenek gilakkk ga otak .. KL aku jd Gibran sakit hati bukan main mau punya anak bininya di ejek di hina abis²an... intinya dia ga suka dan benci SM Giselle Sampe kabar bahagia aja ga suka KL udah benci dr awal yaa bakal benci sebagus dan sebaik apapun Giselle ga akan baik di mata mertua gilaknya .. hahaa jujur Thor aku udah lelah bacanya SM nenek tua gilakk itu
Alana
ribet banget ni emak2
Alana
ehh aku aja kl LG ruwet masak makanan rasanya suka ga karuan.. apalg kek Giselle yaa punya mertua yg toxicnya ke iblis.. ehh nauzubillah KL aku jd Giselle sih udah give up angkat tangan
Les Tary
bknnya dicerita yg lain anaknya Kanaya udh ketemu Thor trus Kanaya sm dokter Bisma udh pnya anak cewek.
Alana
karyamu bagus Thor.. memang PD dasarnya berumah tangga itu berjuang bersama tp jika trs di sakiti mertua yaa jangan juga Krn istri berhak bahagia bagaiman mau hamil mental dan batinnya tertekan oleh mertuany yg toxic dan penuh kebencian PD mantunya wajar jika Giselle pergi dr rumah itu secara lakinya jg ga tegas SM ibunya .. hrsnya Gibran jg tegas dan sll menasehati baik2 ibunya sekali² yaa marah jg biar ibunya jera
Alana
mertua toxic banget yaa tuhan .. KL aku jd Giselle udah aku tempeleng itu muka si rosa
Alana
mertua lucknut ... emosi bcanya Thor aku
Alana
mertua ga tau diri udah di kasih nyela, ngehina dan ga menghargai mantu duuhh udahmah kaya benalu di ksh hati minta jantung nih emak²
Surabaya Honda
stop by Thor .. interesting story 👍
Densi dama Yanti
Karyo thor baguss banggat
Kirana Pramudya: Terima kasih banyak, Kak.. 😇
Dukung juga di karya lainnya yah. 🥰
total 1 replies
Ning Gedeona
cabein aja tu mulut mertua😀😀😀😀
eni mince
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!