"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis Sejajar
Satu bulan.
Tiga puluh hari telah berlalu sejak malam di mana Adinda dihajar di gang gelap, dan sejak William menerima ultimatum dari ayahnya.
Tiga puluh hari tanpa satu pun huruf yang terkirim. Tanpa satu pun panggilan telepon. Tanpa stiker lucu atau foto kegiatan sehari-hari.
Jakarta tetap macet dan bising, namun bagi Adinda dan William, kota ini mendadak menjadi sangat sunyi.
Di Kampus Institut Kesenian Jakarta
Adinda duduk di sudut studio lukis, menggoreskan kuasnya dengan gerakan mekanis. Lukisannya kali ini bukan lagi abstrak penuh warna cerah seperti bulan lalu, melainkan sketsa hitam putih yang tajam dan dingin. Gambar gedung-gedung tinggi yang tampak seperti jeruji penjara.
Lebam di wajah dan tubuhnya sudah sembuh total secara fisik. Namun, sorot matanya yang sempat mulai berbinar hangat, kini kembali redup dan waspada. Tembok pertahanan yang sempat retak, kini telah dibangun ulang lebih tinggi, lebih tebal, dan tak tertembus.
"Din, lo kenapa sih sebulan ini?" tegur Arthur sambil mengunyah gorengan di bangku sebelah.
"Kenapa apanya?" gumam Adinda tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada kanvas.
"Ya... beda aja," Arthur menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lo jadi pendiem banget. Lebih pendiem dari biasanya. Diajak nongkrong males, diajak makan nolak. Lo lagi ada masalah duit?"
Adinda berhenti menggores kuasnya sejenak. Hatinya nyeri.
Teman-temannya tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa Adinda pernah makan nasi goreng dengan seorang CEO miliarder. Mereka tidak tahu bahwa Adinda pernah hampir memiliki kisah cinta.
Dan karena tidak ada yang tahu bagaimana mulainya, maka tidak ada yang tahu betapa sakitnya saat semuanya berakhir. Adinda harus menanggung patah hati ini sendirian, tanpa bisa curhat, tanpa bisa menangis di bahu siapa pun.
"Nggak ada apa-apa, Thur," jawab Adinda datar, suaranya meyakinkan. "Gue cuma lagi burnout sama tugas. Gue pengen lulus cepet, jadi harus fokus."
Siska yang sedang main ponsel menyeletuk, "Makanya cari pacar, Din. Biar ada penyemangat. Jangan ngebatu mulu di studio. Sayang tuh muka cakep dianggurin."
Adinda tersenyum tipis senyum yang tidak mencapai mata. "Nggak minat. Pacaran cuma nambah beban pikiran."
"Dih, sok tua lu," ledek Reni.
Adinda kembali melukis, menutup percakapan itu. Di dalam saku celananya, ponsel Adinda bergetar. Notifikasi dari operator seluler.
Adinda sudah berhenti mengecek ponsel setiap lima menit. Dia sudah mematikan notifikasi untuk semua aplikasi pesan. Dia menjalani harinya seolah-olah William Bagaskara hanyalah tokoh fiksi di koran bisnis yang tidak pernah ia temui di kehidupan nyata.
Di Lantai 45, Menara Bagaskara
Suasana di kantor CEO lebih dingin dari kutub utara. Para pegawai berjalan jinjit, takut membuat suara sedikit pun yang bisa memancing amarah atasan mereka.
William Bagaskara telah kembali menjadi monster korporat yang ditakuti.
Dia datang jam enam pagi, pulang jam sebelas malam. Tidak ada lagi senyum ramah pada resepsionis. Tidak ada lagi tawa lepas saat jam istirahat. Yang ada hanya perintah singkat, target tinggi, dan tatapan mata yang bisa membekukan air.
Rudi masuk ke ruangan dengan tumpukan berkas, wajahnya tegang.
"Pak, ini laporan bulanan dari divisi properti. Dan... Ibu Sofia menelepon tadi, beliau mengingatkan Bapak untuk datang ke acara amal nanti malam. Katanya putri dari pemilik Bank Asia juga akan hadir."
"Taruh di meja," jawab William dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. "Dan bilang ke Ibu, saya tidak janji."
"Tapi Pak, Ibu bilang ini penting untuk koneksi..."
"SAYA BILANG SAYA SIBUK!" bentak William tiba-tiba, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Rudi tersentak kaget, hampir menjatuhkan tabletnya. Ia menelan ludah, ketakutan. Bosnya yang sabar dan bijaksana sebulan lalu seolah lenyap ditelan bumi.
William memejamkan mata, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Napasnya memburu.
"Maaf, Rudi. Tinggalkan saya sendiri. Sekarang."
Rudi mengangguk cepat dan buru-buru keluar ruangan, menutup pintu pelan-pelan.
Setelah sendirian, William menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang mahal itu. Keheningan ruangan luas itu justru membuat kepalanya makin berisik.
Dia memutar kursi menghadap jendela besar yang menampilkan panorama Jakarta.
Dari ketinggian ini, dia bisa melihat ke arah Jakarta Pusat. Ke arah kampus seni itu. Ke arah apartemen The Peak.
Rasa rindu itu mencekiknya setiap detik. Dia ingin sekali mengambil ponselnya. Dia ingin bertanya: "Kamu apa kabar? Apa kamu makan dengan baik? Apa kamu membenciku?"
Tapi bayangan preman sewaan ayahnya dan ancaman tentang "tangan seniman yang patah" menahannya seperti rantai besi. William tahu, cara terbaik mencintai Adinda saat ini adalah dengan berpura-pura tidak mengenalnya.
William membuka laci mejanya yang terkunci. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan dokumen rahasia, ada sebuah pensil 2B bekas yang ujungnya tumpul—satu-satunya benda peninggalan Adinda yang ia simpan.
William menatap pensil itu lama.
"Hiduplah dengan tenang, Adinda," bisik William parau pada benda mati itu. "Anggap saja kita tidak pernah bertemu."
William menutup laci itu kembali, lalu menguncinya. Bunyi klik kunci itu terdengar seperti vonis hakim yang memisahkan nasib mereka.
Dia kembali memutar kursinya menghadap meja kerja, memakai kacamata bacanya, dan kembali menenggelamkan diri dalam tumpukan angka dan saham.
Di mata dunia, mereka hanyalah dua orang asing. Adinda si mahasiswi seni biasa, dan William si miliarder angkuh. Dua garis sejajar yang berjalan beriringan di kota yang sama, namun ditakdirkan untuk tidak pernah bersentuhan lagi.
Dan bagi mereka berdua, itulah bentuk cinta yang paling menyakitkan: cinta yang memilih untuk saling melupakan demi keselamatan satu sama lain.
lanjut thor
lanjuuut