Alexander Moralez Arzallane adalah seorang laki - laki berkuasa yang menyeramkan, tinggi besar dengan wajah yang dingin,, tidak pernah tersenyum, ganas dan sangat menakutkan. Psikopat sekaligus pemimpin Mafia yang sangat berbahaya.
Seorang Tuan Besar Arzallane yang berkuasa, hidup dengan banyak konflik dari masa lalunya yang penuh dendam dan pembalasan.
Sampai suatu hari bertemu dengan putri dari orang yang membuat hidupnya hancur.
Akankah ada cinta yang dapat mengubah jalan hidup seorang Tuan Besar Alexander Moralez Arzallane.
Cerita adalah asli hasil pemikiran dan sudut pandang pribadi penulis.
No plagiat
Tanggapi cerita dengan bijak, karena ini hanya sebuah karya imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeloveus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Kinara ( Part 3)
Mata Kinara mengerjap kembali menetralisir keingintahuannya. Perasaannya tiba - tiba menjadi gundah seketika.
" Akh ... ya mengapa sejak aku sadar, tuan pemarah itu tidak datang menjengukku ? Apakah dia sibuk ? ... Sibuk apa ? Pasti asyik bermain dengan wanita - wanita cantik. Ikhhh ... . "
" Akhhh, kenapa di saat terpuruk begini malah ingat laki - laki itu. Oh ... Kinar - Kinar, otakmu memang sudah oleng. Tangan dan kaki saja tidak bisa bergerak masih saja memikirkan orang lain. Dasar oon. Mana mau tuan pemarah itu datang menjenguk. Apalagi sampai jatuh hati kepadaku. Oh Kinar stop. Stupid. Sembuh dulu baru pikir laki - laki itu. " Kinara membatin, wajahnya nampak memerah menahan malu karena ketahuan sedang memikirkan sang tuan rumah.
" Akh, kenapa wajah laki - laki itu sangat jelas di otakku. Oh God. No. Pergi ! Pergi ! " batin Kinara berperang dengan bayangan - bayangan sosok sang tuan besar.
" Ehhm, " Kinara mencoba berdehem untuk mengatur tenggorokkannya yang tercekat dan mengusir wajah Alexander Moralez dari pikirannya. Seakan ada duri yang menghalangi suara Kinara tidak keluar ataupun terdengar.
" Aaaa ... tau jangan - jangan Aku juga bisu. Oh my God. No. " Kinara mulai panik dengan pemikirannya.
Kinara mengerjapkan matanya berulang kali mencoba mengusir pikiran - pikiran negatif yang mulai berseliweran di dalam pikirannya, " Apalagi ini ? Apakah dosaku sangat banyak sehingga Engkau menghukumku begitu berat. Ya Tuhan. "
Tiba - tiba Kinara menjadi panik, matanya bergerak gelisah.
Kinara mencoba menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, ternyata sakit sekali.
Kinara mencoba berdehem lagi. " Ehhemm ... . "
Suaranya hanya tercekat di tenggorokan. Tidak ada suara apapun yang keluar dan terdengar.
Kinara semakin panik. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Kinara benar - benar terpuruk. Inilah titik terendahnya.
" Apalagi ini Tuhan ? Kaki dan tangan sudah tidak bisa bergerak. Suarapun juga ikut hilang. Aku bisu. No. God, no. Ini terlalu berat bagiku, God. Aku tidak sanggup menjalaninya. " Kinara sibuk dengan pikirannya. Bebannya terasa sangat berat. Hatinya menjadi sangat sesak. Kini wajahnya mulai memucat. Nafas Kinara semakin tersengal - sengal. Detik berikutnya Kinara sudah lemas, dan tak sadarkan diri.
Han Liu yang masih berdiri di samping Kinara dan sedang menggenggam tangan gadis itu pun menjadi panik.
" Nona, " panggil Han Liu dengan sedikit menekan tangan Kinara untuk menyadarkan Kinara.
" Nona, sadar ! Nona ! Nona Kinara, Apakah Anda dapat mendengarkan suara saya ? " dengan panik Han Liu menggoyang - goyangkan bahu Kinara.
Tetapi detik berikutnya ketika nafas Kinara mulai tersengal - sengal lagi, Han Liu melepaskan genggamannya dan tangannya segera meraih alat bantu pernafasan. Mengatur panel pada tabung Oksigen dan memasangkan alat bantu pernafasan pada Kinara dan kemudian tangannya dengan kasar meraih interkom di atas meja.
" Huan, seret Dokter Zalline kembali ! " ucap Han Liu kasar dengan gigi gemletuk menahan marah.
" Baik, Sekretaris Han. " jawab Huan Lee dari seberang panggilan.
" Anda, cari mati Dokter Zalline ! Berani sekali Anda meninggalkan tugas tanpa ada perawat penjaga yang menunggu Nona Kinara. " gumam Han Liu marah sambil mengepalkan tangan dengan keras hingga buku - buku tangannya memutih.
" Apa yang akan tejadi jika saya tidak datang ? " gumam Han Liu menahan marah.
Han Liu dengan cekatan memeriksa kembali selang oksigen dan infus pada pergelangan tangan Kinara.
Kemudian Han Liu meraih tangan Kinara, menepuk punggung tangannya dengan lembut seakan sedang menenangkan hati Kinara yang sedang risau atas kondisinya walaupun gadis itu masih tak sadarkan diri.
" Maafkan saya, Tuan Besar ! Saya pegang tangan Nona Kinara, mungkin ini bisa sedikit menenangkan hatinya. " gumam Han Liu perlahan. Hatinya berdesir ketika menyentuh tangan dingin Kinara. Ada setitik perasaan yang mulai tumbuh walau masih sangat sulit diartikan tapi Han Liu sadar hatinya tertarik akan gadis yang sedang terbaring lemah ini.
Han Liu menarik nafas perlahan, tangan kokohnya masih menggenggam tangan Kinara dengan lembut.
Kinara masih tak sadarkan diri, wajahnya semakin pucat dan nafasnya masih tersengal tak beraturan.
Han Liu semakin panik.
" Huannnnn, " Han Liu berteriak lagi ketika interkom tersambung lagi.
" Dalam lima menit perempuan itu tidak datang, potong kakinya ! " Han Liu berteriak dengan marah. Kepanikan membuat emosinya menjadi tidak terkendali.
Kring. Kring.
Suara ponsel dari saku jas Han Liu terdengar nyaring.
" Selamat siang, Sekretaris Han, " Sebuah panggilan terdengar dari seberang ketika Han Liu menekan tombol hijau pada ponselnya.
" Ya ! " suara Han Liu terdengar kasar ketika menjawab sebuah panggilan dari ponselnya.
" Maaf Sekretaris Han, Dokter Zalline tidak berada di Rumah Sakit Pusat. " Seorang bodyguard melaporkan kepada Han Liu .
" Apa ? Tidak ada ? " Han Liu menggeram marah ketika seorang bodyguard melaporkan bahwa Dokter Zalline tidak ditemukan di Rumah Sakit Pusat.
" Dokter dan petugas jaga disana mengatakan bahwa Dokter Zalline belum datang dari pagi. " lanjut seorang bodyguard melaporkan.
" Cari sampai dapat ! " Han Liu menggeram menahan emosi.
Tutt. Tutt.
Han Liu mematikan panggilan. Detik berikutnya tangannya sudah meraih interkom lagi menghubungi Huan Lee.
" Panggil Dokter Merrzy Arzulla, Huan. Tapi pastikan perempuan itu dalam kondisi emosi yang stabil. Saya tidak mau kejadian seperti beberapa bulan lalu terjadi lagi. Cepat ! " lanjut Han Liu.
" Baik, Sekretaris Han. " jawab Huan Lee dari seberang.
Beberapa waktu kemudian, Dokter Merrzy Arzulla sudah tiba. Kakinya melangkah memasuki ruangan tempat Kinara dirawat.
" Selamat siang Sekretaris Han, " sapa Dokter Merrzy Arzulla dengan suara kaku. Rasa canggung jelas terlihat di wajah cantik Dokter Merrzy Arzulla begitu sosok Han Liu menoleh ke arahnya.
Han Liu hanya berdehem sejenak. Sejak kejadian beberapa bulan lalu membuat keduanya menjadi menjaga jarak. Han Liu masih marah karena Dokter Merrzy Arzulla dengan berani mengungkapkan perasaannya di muka publik. Tetapi Han Liu yang dingin tidak mengindahkan perasaannya. Dokter Merrzy Arzulla dengan marah membantai seseorang yang menjadi target Han Liu dan Han Liu sangat marah atas kejadian itu.
Han Liu memperbaiki berdirinya.
" Tolong periksa Nona Kinara ! "
" Pastikan Anda tidak melukai sedikit pun tubuh Nona Kinara, Dokter Merrzy ! Anda tahu akibatnya jika melukai milik tuan besar. " Han Liu mengingatkan lagi dengan penuh penekanan.
Dokter Merrzy Arzulla mengangguk perlahan. Mata Dokter Merrzy segera memperhatikan seorang gadis cantik yang sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan infus dan alat bantu pernafasan.
" Oh, jadi gadis ini milik Alexander. Cantik. Tapi kasihan sepertinya hidupnya tidak akan lama. " gumam Dokter Merrzy Arzulla.
" Baik. " ucap Dokter Merrzy Arzulla singkat. Tanganya dengan cekatan segera memeriksa Kinara dan memberikan obat sesuai jadwal dengan suntikan pada selang infus.
" Beruntung, Dokter Zalline menaruh kotak obat di atas nakas. Kalau tidak, habislah aku di tangan laki - laki kaku, dan dingin ini. Akh ... gara - gara kejadian itu, aku jadi harus menjaga jarak dengannya. Padahal sedikit lagi aku bisa menakhlukan laki - laki dingin dan kaku ini. " Dokter Merrzy Arzulla membatin. Wajahnya pias ketika mengingat perasaannya kepada Han Liu.
" Jangan berfikir terlalu tinggi Dokter Merrzy Arzulla, Anda akan jatuh ! " bisik Han Liu tepat ditelinga Dokter Merrzy Arzulla.
Dokter cantik itu sedikit gemetar. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Aura kuat Sekretaris Han Liu memang luar biasa.
" Jangan lupa bernafas Dokter Merrzy ! " Bisik Han Liu lagi.
Dokter Merrzy Arzulla menelan salivanya dan sebuah helaan nafas lolos terdengar di telinga Han Liu.
" Lakukan tugas Anda, Dokter Merrzy ! Jangan bekerja dengan pikiran kemana - mana ! " ucap Han Liu lagi sambil kakinya melangkah ke arah sofa, kemudian Han Liu duduk dan mulai membuka laptopnya untuk mengerjakan tugas kantor yang menumpuk dan terbengkalai.
cepat up donk