Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Ada Jarak yang Tak Terlihat
Lapangan sore itu terasa sama seperti hari-hari sebelumnya.
Panas yang tertahan di bawah atap. Bunyi sepatu yang beradu dengan lantai. Peluit yang sesekali memotong ritme. Semua berjalan seperti biasa.
Rakha ikut bergerak di dalamnya.
Ia menyadari ada yang bergeser sejak Nayla masuk ke area lapangan. Langkahnya teratur, tas tersampir di bahu. Rambut terikat rapi. Ia langsung menuju bangku cadangan, menurunkan botol-botol minum, menyusunnya satu per satu.
Tidak tergesa. Tidak mencari siapa pun.
Rakha sempat melirik dari sudut mata.
Biasanya, di titik itu, Nayla sudah menyelipkan komentar kecil. Entah soal pemanasan, entah sekadar menyuruhnya minum. Hari ini tidak ada apa-apa.
Peluit berbunyi.
"Mulai!"
berjalan. Bola berpindah cepat. Operan pendek dijaga rapat. Keenan bergerak lincah di sisi lapangan, Dimas sesekali berteriak mengatur posisi.
Rakha mengikuti pola.
Dribble. Berhenti. Putar badan.
Gerakannya bersih, tapi napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia berhenti sebentar, mengatur ritme, lalu melangkah dua langkah menjauh dari kelompoknya.
Telapak tangannya membuka–menutup sekali, lalu diam di sisi lapangan.
Nayla kini berdiri. Pandangannya mengikuti jalannya latihan, berpindah dari satu titik ke titik lain. Saat Rakha masuk kembali ke formasi, tatapannya sempat singgah—sebentar lalu bergeser lagi.
Rakha menangkap bola, mengirim operan cepat, lalu mengambil satu langkah kecil ke samping. Tidak jauh. Cukup untuk memberi ruang.
Keenan lewat di depannya.
"Lanjut trus, Rakh." Nada suaranya ringan, seperti biasa.
Rakha mengangguk singkat. Ia tidak mendekat seperti biasanya. Tidak juga memperlambat langkah. Ia mengambil jalurnya sendiri.
Keenan tidak menoleh.
Latihan berlanjut.
Bola kembali memantul. Sepatu berdecit. Suara-suara kecil saling tumpang tindih. Di bangku cadangan, Nayla menarik tali tasnya sedikit lebih tinggi ke bahu, lalu kembali memperhatikan lapangan.
Rakha tetap bergerak.
Jaraknya tidak mencolok.
Tapi ada.
Dan itu terasa.
Di jeda istirahat, Nayla menghampiri mereka. Botol-botol dibagikan satu per satu, urut, tanpa terburu. Saat sampai di depan Rakha, langkahnya tertahan sepersekian detik.
"Ini."
Rakha menerima botol itu. Jari mereka nyaris bersentuhan—nyaris.
"Thanks."
Nayla mengangguk kecil. Tidak lebih. Lalu melangkah pergi, sebelum sempat ada jeda lain yang terbentuk.
"Jangan lupa pendinginan nanti."
Kalimatnya biasa. Sangat biasa.
Rakha baru sadar ia masih menatap punggung Nayla ketika Keenan sudah membuka botol di sampingnya.
Keenan meneguk air. "Lu tuh kenapa sih? Dari tadi keliatan berat banget."
Rakha menggeleng. "Nggak ada papa"
Jawabannya keluar terlalu cepat.
Keenan melirik sekilas, lalu mengangkat bahu. "Yaudah."
Mereka kembali ke lapangan.
Rakha bermain lebih aman kali ini. Ia memilih jalur yang paling bersih, melepas bola lebih cepat, tidak memaksakan ruang yang biasanya ia ambil. Beberapa kesempatan dibiarkan lewat begitu saja.
Pelatih memperhatikannya sebentar, lalu kembali fokus ke pemain lain.
Di pinggir lapangan, Nayla mencatat sesuatu di clipboard. Pulpen bergerak singkat, lalu berhenti. Ia menyelipkannya kembali ke saku.
Rakha tidak mencari tahu apa yang ditulis.
Latihan berakhir tanpa suara keras. Tidak ada teriakan. Tidak ada teguran. Satu per satu pemain mulai membereskan barang.
Rakha duduk di bangku, membuka sepatu. Napasnya sudah kembali teratur, tapi pikirannya tidak sepenuhnya ikut.
"Rakha."
Ia mendongak.
Nayla berdiri beberapa langkah di depannya. Tangannya menunjuk tas medis di sudut.
"Ada es. Kalau nanti kerasa pegal, pakai aja."
"Aku nggak kenapa-kenapa," jawab Rakha cepat.
Nayla tersenyum tipis—sekilas, lalu hilang. "Iya. Tapi jaga-jaga."
Rakha mengangguk.
Nayla berbalik. Langkahnya ringan, kembali ke urusannya sendiri. Tidak ada kalimat tambahan. Tidak ada jeda yang ditinggalkan.
Rakha duduk diam beberapa detik.
Bukan karena Nayla mengatakan sesuatu.
Justru karena ia tidak melakukannya.
Rakha mengikat sepatunya kembali, menarik napas panjang, lalu berdiri.
Latihan memang sudah selesai.
Tapi ada sesuatu yang bergerak pelan sejak tadi, tidak menuntut perhatian, tidak meminta nama dan kini ikut bangkit bersamanya.
Rakha melangkah keluar aula sendirian.
Lampu lorong telah menyala, memantul di lantai yang sedikit lembap. Setiap langkahnya menggema, terdengar lebih jelas dari biasanya. Ia memperlambat langkah tanpa sadar, seperti sedang menunggu sesuatu menyusul dari belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun dadanya tetap terasa sempit.
Di luar, udara sore menyentuh kulitnya. Rakha berhenti di sisi bangunan, memandang parkiran yang mulai lengang. Beberapa motor sudah pergi. Tawa terdengar jauh, terputus-putus, lalu hilang.
Biasanya, di titik seperti ini, ia akan berjalan sejajar dengan Keenan. Kadang tanpa bicara, kadang hanya saling dengar langkah.
Hari ini, jalurnya berbeda.
Rakha mengambil arah sendiri.
Sejak sore ini, ada jarak yang tidak lagi bisa ia atur. Bukan soal langkah atau posisi, melainkan sesuatu yang samar, seperti berada di ruangan terang tanpa tahu siapa yang memegang saklarnya.
Ia terus berjalan.
Tidak ada yang memanggil. Tidak ada yang mengejar.
Namun kesadaran itu menetap: tidak semua hal bisa ia hadapi sendirian. Dan pikiran itu datang bersamaan dengan kenyataan lain, ia belum siap membiarkan siapa pun berdiri terlalu dekat.
Rakha tidak menoleh lagi. Tangannya merogoh saku jaket, memastikan ponselnya ada. Layar tetap gelap. Tidak ada notifikasi.
Ia mengangguk kecil, pada dirinya sendiri.
Kata aman terlintas sebentar, lalu lewat begitu saja.
Kalimat Nayla teringat—ringan, nyaris sambil lalu. Cara ia mengatakannya seolah wajar mengetahui hal-hal kecil yang seharusnya luput.
Rakha menaiki motornya. Duduk diam sejenak sebelum menyalakan mesin.
Perasaannya belum berubah bentuk. Belum cukup jelas untuk disebut apa pun.
Namun ada jarak baru yang tumbuh pelan—bukan dari orang lain, melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Rakha berhenti menganggap semuanya sebagai kebetulan.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭