NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:197
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benturan Dua Masalah

Ruangan itu seperti kubur.

Dindingnya putih,tanpa hiasan, tanpa jendela. Hanya sebuah meja, dua kursi, dan lampu neon yang berdengung pelan. Shadiq telah berada di sini sejak fajar, terisolasi dari dunia setelah kembali dari vila Agung semalam. Ia duduk di kursi yang keras, memandangi ponsel di tangannya. “Tidak ada sinyal. Tidak ada jaringan.”

Jantungnya berdetak tidak karuan.

Arva pasti sudah panik.

Istrinya,dengan mata lembut yang selalu memancarkan kepercayaan itu, kini pasti diliputi amarah dan kecemasan. Ia berjanji pulang malam kemarin. Janji itu ia langgar.

Dan Irva…

Pikirannya melayang pada putri kecilnya yang berusia lima tahun,yang kemarin pagi masih memeluknya erat dan berbisik, “Ayah janji pulang cepat, ya? Baca cerita dinosaurus.”

Shadiq mengepalkan tangan.Kenyataan bahwa Farhank dan kawanannya mengetahui keberadaan keluarganya adalah pedang yang terus menghunjam di lehernya.

Dia membuka aplikasi pesan, jarinya menari di atas layar yang menyala: “Maaf sayang,

aku melanggar janjiku hari ini. Tapi aku janji, ini yang terakhir. Aku cinta kalian.”

Ia menekan‘kirim’. Ikon loading berputar-putar,

lalu berubah menjadi tanda seru merah. GAGAL TERKIRIM.

Dia mengutuk dalam hati.Ruangan ini pasti dilengkapi dengan sinyal blocker. Mereka tidak ingin ia berkomunikasi dengan siapa pun.

Tok. Tok. Tok.

Pintu terbuka.Baron berdiri di ambang pintu, bayangannya memanjang di lantai.

“Waktunya bergerak,”katanya, suaranya datar seperti mesin.

“Ke mana?”tanya Shadiq, berusaha tenang.

“Kamu akan lihat.Ayo.”

Shadiq dipandu keluar ruangan, melewati koridor yang sepi, dan masuk ke dalam BMW i8 hitam yang sama. Farhank sudah ada di kursi depan penumpang, sopir yang sama di belakang kemudi. Di mobil lain yang parkir di belakang, Shadiq melihat empat wajah asing—wajah-wajah keras dengan tatapan kosong. Mereka pasti anak buah Agung dan Danu.

“Kami dapat lokasi,” ujar Farhank tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada tablet di tangannya. “Harman dan Taplo sedang di Gedung Duri Putih, Jakarta Pusat. Rapat diplomatik.”

Shadiq menelan ludah.Mereka serius.

“Dan?”

“Dan,”sambung Baron dari sampingnya, suaranya berbisik namun penuh ancaman, “kita akan ‘temui’ mereka dalam perjalanan ke bandara. Mereka diberitahu terbang malam ini ke Jenewa. Pukul tujuh.”

Ini gila,pikir Shadiq. Menyerang diplomat? Ini bukan lagi urusan geng, ini bisa jadi perang intelijen.

Tapi wajahnya tetap netral.“Kalian punya rencana?”

Rencananya sederhana, brutal: mencegat mobil mereka di jalan, menculik, menginterogasi, dan mengambil kembali apa yang mereka anggap milik mereka.

Shadiq diberi peta digital di tablet.Tugasnya: memilih titik terbaik untuk intervensi.

Matanya mengamati peta Jakarta yang rumit.Pikirannya bekerja cepat. Ia harus memilih tempat yang meyakinkan bagi Baron, tapi yang memberi kesempatan bagi Harman untuk lolos. Jika Harman tertangkap, kebohongannya akan terbongkar dalam hitungan menit. Ia juga harus memastikan ia sendiri selamat dari baku tembak yang akan terjadi.

“Di sini,” ujar Shadiq akhirnya, menunjuk sebuah perempatan di kawasan industri dekat Cengkareng. “Jalan ini sepi setelah jam enam. Hanya beberapa pabrik, tidak banyak CCTV. Tapi…” ia mengetuk layar, “hanya lima menit dari Kantor Polisi Sektor dan sepuluh menit berkendara ke pintu tol Bandara. Efisien untuk masuk dan keluar.”

Efisien untuk kabur,pikirnya dalam hati. Dan dekat dengan otoritas, jika situasi benar-benar kacau.

Baron mengangguk, mempelajari peta. “Baik. Titik ini.”

Mereka berangkat.

Farhank tidak ikut.“Aku akan koordinasi dari sini,” katanya sebelum mobil meluncur. “Baron yang memimpin di lapangan.” Tatapannya menembus Shadiq. “Jangan coba-coba jadi pahlawan. Ingat Irva.”

Nama putrinya diucapkan seperti sebuah kutukan. Shadiq hanya mengangguk, darahnya mendidih tapi ia tertahan.

Perjalanan ke lokasi sunyi. Shadiq duduk di belakang Baron, memperhatikan empat orang bersenjata di mobil lain di belakang mereka. Mereka adalah orang Agung—profesional, dingin, dan jelas tidak sepenuhnya percaya pada Shadiq.

Salah satu dari mereka,pria berbadan tegap dengan bekas luka di alis, terus menerus memandanginya melalui kaca spion.

Mereka sampai di lokasi pukul lima sore.

Tempatnya persis seperti di peta:jalan lebar dengan trotoar rusak, dikelilingi pagar pabrik dan semak-semak liar. Cahaya senja mulai memanjang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang sempurna untuk bersembunyi.

“Rencananya?” tanya salah satu orang Agung—yang bernama Rendra.

Baron menggelar peta di atas kap mobil.“Mobil mereka akan datang dari utara. Kita parkir dua mobil di sini, di belakang pabrik tua ini. Satu mobil—kita—akan menghadang dari depan. Satu mobil lain dari belakang, mengunci mereka.”

“Lalu?”tanya Rendra.

“Lalu kita keluarkan mereka,bawa ke van yang sudah menunggu di gudang sebelah,” jawab Baron. “Cepat, bersih.”

Shadiq menghela napas. “Itu terlalu rumit. Jika mereka punya pengawal, kita akan terlibat baku tembak lama.”

“Kamu punya usul?”tantang Baron.

“Serang saja langsung,”ujar Shadiq, berusaha terdengar agresif. “Tembak ban mereka, kelilingi, dan seret mereka keluar sebelum mereka sempat bereaksi. Buat mereka panik, mereka akan menyerah. Semakin lama kita menunggu, semakin besar risiko.”

Panik dan kabur,harap Shadiq dalam hati. Bukan menyerah.

Rendra memandangnya skeptis. “Kamu yakin?”

“Aku pernah lihat Harman di vila,”bohong Shadiq. “Dia bukan petarung. Dia diplomat. Jika kita tunjukkan kekuatan, dia akan berbicara.”

Setelah debat singkat, mereka setuju pada modifikasi: pendekatan langsung, dengan Shadiq sebagai penembak pertama karena “dia mengenal wajah target.”

Malam turun dengan cepat.

Udara lembap dan sunyi,hanya diselingi suara jangkrik dan dengung jauh dari jalan tol. Shadiq duduk di dalam mobil Baron, tangannya berkeringat. Pistol Glock 17 yang diberikannya Baron terasa berat di ikat pinggang.

Bzzzt.

Tablet Baron menyala.Pesan dari Farhank melalui aplikasi enkripsi: “Mobil target berangkat. GPS aktif. ETA ke titikmu: 45 menit.”

“Siapkan,”bisik Baron.

Empat puluh lima menit yang menegangkan.

Shadiq memantau pelacak GPS di tablet.Sebuah titik merah bergerak perlahan dari Jakarta Pusat, menyusuri tol, mendekati lokasi mereka. Detak jantungnya mengikuti setiap pergerakan.

Pukul delapan kurang lima.

Mobil hitam Toyota Camry akhirnya terlihat di ujung jalan,meluncur dengan kecepatan sedang.

“Itu mereka,”desis Baron. “Siap.”

Shadiq keluar dari mobil, mengambil posisi di balik pagar rusak. Ia mengangkat pistol, membidik roda depan kanan Camry. Nafasnya tertahan.

Jangan mengenai kabin. Jangan melukai mereka.

Ia menarik pelatuk.

Braak!

Suara tembakan memecah kesunyian malam.Kaca depan Camry retak, tetapi ban depan kanan meledak. Mobil itu oleng tajam, tetapi sopirnya—Barno—berhasil mengendalikannya.

Wush!

Mobil sedan BMW milik Rendra meluncur dari persembunyian,menghadang di depan Camry yang sedang berusaha stabil. Tabrakan rendah terjadi—bumper depan BMW menghantam sisi Camry.

Segalanya meledak.

Jendela kiri Camry terbuka,dan semburan cahaya oranye—tembakan—keluar dari dalam. Dak-dak-dak-dak!

Peluru menghujam body BMW Rendra.Mereka membalas. Suara tembakan saling silang memenuhi udara, menggema di antara bangunan pabrik.

“Sial! Mereka bersenjata lengkap!” teriak salah satu orang Agung dari mobilnya.

Shadiq bergerak.

Daripada maju,ia mengintip dari balik pagar, membidik ke arah yang sama sekali tidak terduga: ke arah kepala pengemudi mobil Rendra yang sedang membuka pintu.

Ia menarik nafas,menggeser bidikan beberapa milimeter.

Braak!

Tembakannya tepat.Pria itu terjungkal ke tanah, tidak bergerak. Dari sudut pandang Baron dan yang lain, seolah-olah tembakan itu datang dari arah Camry.

“Dia tembak Rio!” teriak Rendra, marah.

Baron bereaksi.

“Tabrak mereka!Jangan biarkan lolos!”

Sopir Baron menginjak gas,BMW i8 mereka melesat dan menabrak bagian belakang Camry dengan keras. Bruuk!

Kaca belakang Camry hancur.Tapi tabrakan itu justru memiliki efek yang tidak diharapkan: momentum mendorong Camry yang sudah oleng itu maju, sedikit menjauh dari BMW Rendra yang menghadang.

Dak-dak-dak-dak!

Harman,yang terlihat samar-samar di kursi belakang, terus menembak dari jendela. Seorang lagi anak buah Agung terjatuh, memegangi bahunya.

Ini kesempatannya.

Camry,meski rusak, masih bisa bergerak. Barno, sang sopir, melihat celah kecil di antara mobil Rendra yang sudah tidak dikemudikan dan pagar pabrik. Ia menggeram, memasukkan gigi, dan menekan gas sepenuhnya. Ban berasap, mobil itu menyembur maju, menyikut body BMW, dan meloloskan diri!

“Mereka kabur!” teriak Baron, panik. “Kejar!”

Mereka semua berhamburan masuk ke mobil. Shadiq masuk ke BMW Baron, berpura-pura marah. “Sial! Mereka lebih tangguh dari yang kuduga!”

Pengejaran liar dimulai di jalan-jalan gelap. Camry yang rusak melaju dengan cepat, tetapi BMW i8 Baron lebih cepat dan lebih lincah. Mereka berhasil mendekat, tetapi Shadiq melihat papan penunjuk jalan—Bandara Soekarno-Hatta, 2 km.

Dan kemudian, mobil patroli polisi dengan lampu rotari biru merah terlihat di persimpangan di depan.

Camry langsung belok tajam ke arah jalan masuk bandara,menyusup di antara taksi dan mobil penjemput. BMW Baron, yang jelas-jelas penuh dengan orang bersenjata, tidak bisa mengikuti tanpa menarik perhatian.

“Brengsek!” Baron memukul setir. “Kita tidak bisa masuk!”

Ia melihat pelacak GPS.Titik merah itu terus bergerak, memasuki area terminal keberangkatan, lalu berhenti.

“Dia sudah di zona aman bandara,” gumam Baron, suaranya penuh frustrasi. “Kita kalah.”

Shadiq duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela pada lampu-lampu bandara yang berkilauan di kejauhan. Di dalam, jiwanya berteriak lega. Harman lolos. Kebohongannya masih aman.

Tapi wajahnya justru memerah,berpura-pura marah. “Kita hampir saja dapat mereka! Butuh lebih banyak orang!”

Rendra, yang kini hanya tinggal bersama dua orang lainnya, mendekati mobil Baron dengan wajah gelap. “Satu orangku mati, satu luka. Dan target kabur. Ini bencana.”

“Kita akan jelaskan pada Agung dan Farhank,”kata Baron dengan suara lelah. “Mobil mereka punya perlindungan lapis baja. Kita direncanai.”

Dalam perjalanan pulang, sunyi yang tegang menyelimuti mobil.

Shadiq memandangi pantulan lampu jalan di kaca jendela.Pikirannya pada Arva dan Irva. Pesan yang gagal terkirim. Ancaman Farhank yang masih menggantung. Dan peti yang masih tersembunyi di bawah kasurnya—satu-satunya kartu yang ia pegang.

Baron akhirnya berbicara, tanpa menoleh: “Kamu tembak dengan baik. Tapi kenapa gagal mengenai pengemudi mereka?”

Shadiq bertahan.“Mereka bergerak. Dan Rio menghalangi pandangan.”

Baron diam sejenak,lalu mengangguk perlahan. Terima tidak terima.

Mereka kembali ke markas.

Farhank sudah menunggu dengan wajah seperti badai.Laporan diberikan. Kemarahan meledak. Tapi semua amarah diarahkan pada “kesiapan berlebihan dari target” dan “intelijen yang kurang”. Shadiq, untuk saat ini, bukan tersangka utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!