NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalalu Amara Part 2

Masih flashback ya Gaes.

POV Amara

Aku yang di landa cemburu, menghapus air mata ku, lalu langsung berjalan ke arah kedua nya, tidak membuang waktu, Aku langsung menjambak rambut Sandra dan mendorong nya, membuat wanita itu tersungkur ke lantai.

"Dasar, pelakor gak tau malu, gak laku yah? Makanya godain suami orang," maki ku masih menjambak rambutnya, membuat wanita itu justru malah tersedu-sedu.

"Ara, apa-apaan kamu ini?" Arnav langsung menarik ku menjauh dari Sandra.

"Kamu yang apa-apaan? Kamu kan suamiku, bisa-bisanya berpelukan dengan wanita lain," balas ku meledak-ledak, itulah diriku yang suka tidak bisa kontrol emosi.

"Kamu lupa? Kita nikah karena apa? Jangan berlagak menjadi yang pertama deh," Ucap Arnav dengan suara getir menatap ku dengan tatapan tajam.

"Mending pulang deh, jangan bikin malu," lanjut nya, lalu langsung berjalan ke arah Sandra dan membantu wanita itu berdiri.

"Kalo kamu memilih Dia, maka jangan harap bisa ketemu anak mu lagi," ancam ku sambil memegang pisau untuk menusuk perut ku, jujur karena Aku merasa marah dan kesal, berharap Arnav mau memilih ku.

"Ara, berhenti bersikap konyol deh, selama ini, Aku selalu sabar yah, tapi kamu gak ngertiin Aku sedikit pun, pulang gak!" bentak nya membuat Aku langsung menjatuhkan pisau yang ku pegang, karena merasa sakit, baru pertama kali Arnav membentak ku begitu, terlebih karena Sandra.

Aku yang malu langsung berjalan keluar dari situ, karena semua orang menatap ku dengan aneh, saat ku menoleh sebentar, kulihat Arnav malah menggendong Sandra, hal itu membuat dada ku merasa sakit.

Sampai malam harinya, Arnav gak pulang, entah jam berapa pria itu pulang, yang jelas saat Aku memuka mata ku, di pagi hari, pria itu sudah memeluk ku.

"Ngapain peluk-peluk, sana sama Sandra aja," ketus ku langsung mendorong Arnav, hingga pria itu terguling di lantai.

Arnav tampak terdengar menghela nafas, sebelum akhirnya ku rasakan tubuhnya mendekat ke arah ku, sedangkan Aku pura-pura memejamkan mataku.

"Ara, maaf, gak semestinya Aku begitu, Aku cuma ingin kamu tidak kena masalah aja," bisik Arnav di telinga ku, membuat Aku langsung bangun dari tidur ku.

"Kenapa harus berbohong? Bahkan membiarkan ku di permalukan begitu," sarkas ku dengan kesal, lalu melempar bantal ke wajahnya, membuat pria itu menangkapnya.

"Itu terpaksa, Aku minta ketemuan dengan Sandra untuk mengakhiri hubungan, itu saja, alasan Aku begitu, supaya kamu gak jadi sasaran fans ku, kamu tahu kan di kampus banyak yang suka dengan ku, makan nya Aku gitu, biar kamu gak di serang," ujarnya panjang lebar, begitu menenangkan.

"Tapi tetep aja kamu jahat, bikin Aku nangis," balas ku sambil memukul-mukul dada Arnav, membuat pria itu mendekap ku, Aku yang emosi seketika langsung reda, begitu lah karena Aku mencintai nya.

"Sekarang Aku milik mu, gak akan ku biarkan, orang lain merusak hubungan kita," jawab nya yang lagi-lagi terdengar menenangkan, membuat air mata ku tidak bisa di tahan lagi.

Setelah kejadian itu rumah tangga ku kembali tentram, hari-hari yang ku jalani biasa saja, namun menginjak kandungan usia 6 bulan, Aku jadi sering overthinking dan marah-marah, membuat Arnav selalu berusaha untuk sabar.

Orang ketiga paling berbahaya ternyata adalah sepupu ku sendiri, Amera yang terlihat tenang dan polos, Dia adalah iblis yang sesungguhnya, untuk membuat ku overthinking, Dia mengirimi video Arnav yang sedang mabuk, Dimana Arnav tampak sedang menjelek-jelekan ku.

Awalnya Aku hampir percaya, namun Arnav berusaha untuk meyakinkan ku bahwa itu bukan dirinya, tentunya Aku yang lebih percaya Arnav mempercayai nya, namun hal itu membuat Amera tidak senang.

Berbagai cara iya lakukan untuk membuat ku pisah dengan Arnav, namun semuanya berakhir gagal, Hingga titik paling hancur, saat kandung ku berusia 8 bulan.

Aku yang merasa stres dan selalu overthinking, akhirnya menceritakan semuanya pada Amira kembaran ku, namun hari itu Nenek Wina juga ada di sana, membuat Aku akhirnya bercerita banyak hal tentang perbuatan Amera, hingga detik ini Arnav tidak pulang padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 Malam, itu yang membuat ku khawatir dan nekat minta menemui kembaran ku malam hari di restoran.

"Si cucu rusuh itu, membuat masalah terus menerus, pasti karena gen Ayahnya," Nenek Wina tampak menghela nafas panjang, merasa pusing dengan cucu nya itu.

Aku terus melacak keberadaan Arnav menggunakan, GPS yang ku pasang di ponsel nya, karena itu kemauan nya, setelah tahu di mana keberadaan Arnav, Aku merasa terkejut karena lokasinya berada di hotel.

Dengan penuh tanda tanya, akhirnya kita bertiga langsung ke hotel, sepanjang perjalanan itu Aku terus di landa ketakutan, namun Nenek berusaha untuk menenangkan, hingga akhirnya mobil yang Amira kendarai berhenti di depan hotel, kami langsung ke sana sesuai arahan GPS berhenti di depan pintu nomor 244, Aku yang emosi langsung menendang pintu hingga pintu itu terbuka, karena dari usia 10 tahun Aku sudah belajar ilmu bela diri, jadi sangat mudah untuk menendang pintu.

Di dalam kamar, kedua insan itu hampir melakukan hal terlarang, belum sampai buka baju, tapi sudah dengan keadaan intim.

"Arnav sialan, kau bilang hanya cinta Aku, tapi malah begini sama sepupuku," Aku yang emosi langsung memukul Arnav menggunakan bantal, namun pria itu tampak terlihat memegangi kepalanya.

"Ara, itu gak seperti yang kamu pikirkan," jawab Arnav, namun Aku yang kesal langsung berlari keluar karena tidak kuat lagi.

Sedangkan Nenek sepertinya, malah lebih fokus ke Amera, entahlah setelah nya apa yang di lakukan Nenek, Aku tidak tahu yang ku pedulikan hanya lari dari hotel itu, namun saat berhenti di tangga Amira memegangi tangan ku.

"Jangan salah paham dulu, siapa tahu itu trik Amera lagi," ucap Amira berusaha untuk menenangkan.

"Kalo trik Amera, kenapa tadi Arnav hampir tergoda, harus menolak dong, kenapa kamu malahan berada di pihak nya sih?" Aku yang lagi di landa emosi meluapkan kekesalan ku pada kembaran ku.

"Lepasin deh, kalo kamu ngejar Aku hanya untuk membela Dia, mending gak usah," lanjut ku berusaha untuk menarik tangan ku yang di pegang Amira, hingga yang terjadi akhir nya kami saling tarik-menarik karena Amira tidak mau melepaskan tangan ku, pada akhirnya Amira kurang keseimbangan, membuat kami terguling bersamaan, entah apa yang terjadi dengan Amira yang jelas Dia menjerit lebih keras, sedangkan Aku lebih merasakan sakit di perut ku, hingga akhirnya ku lihat Arnav langsung berlari menggendong ku dan memasukkan ku ke dalam mobil.

Selama perjalanan itu Arnav berusaha untuk membuat Aku tidak pingsan, namun Aku yang tidak kuat perlahan hilang kesadaran.

*****

Saat Aku sudah bangun, Aku meraba perut ku, perut ku sudah kempes, kulihat Bunda dan Ayah Tampak menangis, begitu pula dengan Arnav.

"Kamu yang tabah yah," ucap Bunda, lalu detik kemudian, kulihat bayi kecil yang sudah terbujur kaku, hancur sedih Aku menjerit keras sambil memeluk putri ku, namun ada kabar duka lagi, Nenek Wina meninggal, karena darah tinggi nya kumat saat memarahi Amera, sedangkan kembaran ku belum sadar.

Hari itu menjadi duka paling menyakitkan, Aku berusaha untuk tetep bangun karena Aku ingin memandikan putri ku untuk terakhir kalinya, andai Aku dengerin Amira gak marah-marah mungkin semuanya gak akan terjadi, namun penyesalan memang selalu datang di akhir.

Aku pun ikut serta pemakaman putri ku, Arnav tetep menemani ku, Aku yang masih mencintainya tetep saja tidak bisa membencinya.

Di tengah kesedihan ku, Dia bahkan bilang kita masih bisa punya anak lagi, walaupun itu cuma penenang, dan kemungkinan setelah ini Aku bahkan sulit punya anak lagi. Mama Anjani mertua ku juga ikut serta, Dia meminta maaf karena tidak pernah ada, namun Aku hanya menanggapinya dengan anggukan.

Setelah nya Semua orang berlalu lalang pergi hanya menyisakan Aku seorang diri, Arnav bilang mau mengambil sesuatu di mobil, Aku pun tidak perduli.

Namun tiba-tiba Amera muncul dengan tersenyum smirk.

"Ini adalah awal Amara," ucap nya sambil menyuntikkan sesuatu hingga Aku tidak bisa melakukan apapun.

***

Saat ku membuka mata, kamar ku yang ku lihat, tapi bukan di rumah Arnav tapi kediaman Argadinata, namun yang membuat ku tercengang tangan ku di borgol.

"Lepasin Aku, apa salah ku di borgol begini," teriak ku berusaha untuk meronta namun sial tenagaku lemah, entah apa yang terjadi.

"Sayang, Bunda tahu kamu kehilangan anak, tapi jangan menggila yah," ucap Bunda yang baru saja datang.

"Aku gak gila Bunda, Aku waras," jawab Ku sambil mengerutkan kening ku heran.

"Bunda lepasin borgolnya, sakit," ucap ku berusaha untuk memohon.

Akhirnya Bunda yang tidak tega melepaskan borgol ku, hingga akhirnya Amera muncul lagi, lalu tiba-tiba menyuntikkan sesuatu di tubuh ku.

****

Lagi-lagi Aku pingsan dan ini bukan di kamar ku, melainkan seperti gudang, gelap gulita tidak ada penerangan.

"Om, seharus nya Amara, di kirim ke luar negeri saja, Aku punya kenalan dokter hebat di luar negeri, mungkin dengan begitu, Dia bisa sembuh dari gila nya," ku dengar samar-samar Amera berbicara dengan Ayah, tentu Aku yang kesal langsung berteriak heboh, membuat Amera yang masuk, bukan Ayah padahal aku berharap Ayah yang masuk.

"Amara, Aku membawakan titipan surat cerai dari kak Arnav," ucap Amera memberikan sebuah kertas kepada ku.

"Dasar licik, gak mungkin? Kak Arnav mau ceraikan Aku, Dia udah janji untuk selama-lamanya dengan ku," jawab ku sambil menatap Amera dengan tatapan tajam.

"Kalo gak percaya, biar ku telepon langsung." Amera tampak terlihat menggulir ponselnya.

"Ara, kita cerai saja yah, putri kita Zelinnara udah gak ada, jadi hubungan kita selesai, Aku lelah dan muak dengan segalanya," suara panjang lebar itu membuat ku hancur, Aku yang di landa emosi langsung menandatangani surat cerai itu, Aku merasa hidup ku udah gak ada artinya.

Setelah seminggu di kurung, Aku di kirim ke luar negeri oleh Ayahku sendiri, karena di anggap gila, hati anak mana yang gak sakit?saat Ayah nya lebih percaya orang lain daripada putrinya sendiri, yah walaupun Aku sudah membuat nya kecewa tapi gak semestinya Dia begitu.

kehilangan anak, di ceraikan suami, bahkan di tuduh gila, Aku masih ingat rasa sakit itu, sedangkan Adik ku yang seharusnya menjadi pembela ku justru malah mengalami kebutaan, dia gak bisa lihat, Bunda? Wanita itu terlalu lembek gak bisa di andalkan selain menangis, gimana dengan kakakku Darel? Dia tahu semuanya tapi memilih untuk menutupi perbuatan Amera.

Lalu apa yang terjadi selama di luar negeri? Penyiksaan, kejutan listrik hampir setiap hari ku rasakan, di ruangan gelap, ternyata rumah sakit yang Amera rekomendasi bukan rumah sakit pasien gila, tapi rumah sakit eksperimen manusia, selama 6 bulan Aku mengalami hal yang menyakitkan, hingga pita suara ku rusak.

Flashback off

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!