"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Di cafe favorite mereka, di sinilah Tomi dan Raja berada sore ini.Ya, Siang tadi Tomi menghubungi Raja guna mengajak sahabatnya itu untuk bertemu sepulang kerja.
"Hahahaha.....Jadi, istrimu bilang begitu?." Raja sampai memegangi perutnya, seolah penyampaian Tomi tentang ucapan istrinya terdengar sangat lucu.
"Sia-lan kau.... Aku mengajakmu bertemu bukan untuk menertawakan aku." Kesal Tomi.
Perlahan tawa Raja mulai surut.
"Kalau aku jadi istrimu, aku juga pasti akan berkata seperti itu, kawan. Lagipula, punya suami yang tidak bisa melaksanakan kewajibannya untuk apa? Sedangkan suami perkasa saja terkadang masih diselingkuhi oleh istrinya, apalagi suami seperti _." Raja tidak menuntaskan kalimatnya, namun tudingannya mengarah tepat pada Tomi.
"CK....." Tomi mendecak lidah mendengarnya.
"Jangan bohongi dirimu, kawan! Kau juga pasti tergoda dengan istrimu, iya kan? Tapi kau bersikap seolah kau tidak tergoda sedikitpun padanya." Raja memang tidak terlalu dekat dengan adik sepupu Abil tersebut, akan tetapi berdasarkan penilaian Raja setelah beberapa kali bertemu dengan Sonia, menurutnya gadis itu memiliki paras yang cantik dan juga menarik, maka sangat mustahil jika Tomi sama sekali tidak merasa tertarik pada gadis itu.
"Masalahnya bukan tertarik atau apalah menurutmu itu. Permasalahannya, aku tidak mencintainya, Raja. Aku tidak ingin sampai dia terluka jika pada akhirnya kami berpisah dalam kondisi ia sudah tidak suci lagi."
"Nampaknya kau terlalu yakin masih ingin berpisah setelah menyentuhnya." balas Raja.
"Aku tidak mencintainya, lalu kenapa aku harus ragu."
"Terserah kau saja, yang jelas dikhianati dengan alasan tak sanggup menunaikan kewajiban sebagai seorang suami adalah hal yang paling memalukan, kawan." Kini Tomi sudah berada di perjalanan kembali ke rumah, namun kalimat Raja tersebut masih terus terngiang ditelinga pria itu.
Dengan perasaan tak menentu, Tomi terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setibanya di rumah, berendam air hangat adalah hal yang dilakukan oleh Tomi untuk menenangkan pikiran. Sedangkan Sonia yang sudah pulang ke rumah satu jam lebih dulu, sudah terlihat cantik dan wangi dengan balutan pakaian rumahan.
Sonia menautkan jari-jemarinya ketika menyadari tatapan berbeda Tomi padanya. Sonia tak berani bertanya, gadis itu hanya menyampaikan pesan dari ayah dan ibu mertua untuk mengajak suaminya turun makan malam bersama.
"Papah dan mamah memintaku memanggil mas untuk makan malam bersama." Ujar Sonia.
"Pergilah duluan, nanti aku menyusul!." balas Tomi seraya mengayunkan langkah menuju ruang ganti.
"Baiklah." Sonia menurut, dan kembali ke ruang makan, bergabung bersama ayah dan ibu mertua.
"Suami kamu mana, nak? kenapa tidak ikut turun buat makan malam?." Tanya mamah Ika sewaktu melihat Sonia kembali seorang diri, tanpa Tomi bersamanya.
"Mas Tomi lagi ganti baju mah, aku diminta duluan saja. Nanti mas Tomi menyusul." jawab Sonia.
Mamah Ika mengangguk paham.
Tak lama kemudian, Tomi terlihat memasuki ruang makan.
Setelah kedatangan Tomi, sesi makan malam pun di mulai. Seperti biasa, sesi makan malam di selingi dengan pertanyaan papah Andrean tentang kondisi perusahaan. Ya, sebagai pimpinan perusahaan, papah Andrean hanya sesekali datang berkunjung ke perusahaan. Pria itu mempercayakan semuanya pada sang putra.
Seusai makan malam, Tomi hendak kembali ke kamar, dan ia tidak beranjak seorang diri, melainkan mengajak serta Sonia bersamanya. Sampai-sampai papah Andrean dan mamah Ika kompak saling melempar pandangan satu sama lain sambil tersenyum.
Mamah Ika dan papah Andrean masih terus mengarahkan pandangan pada anak dan menantunya yang nampak menapaki anak tangga menuju kamar.
"Sonia...." Seruan Tomi mengalihkan perhatian Sonia dari kegiatannya memeriksa pesan di ponselnya.
"Iya, mas." Sonia berbalik badan. Gadis itu dibuat tersentak menyadari Tomi kini telah berdiri tepat di hadapannya. "Mas Tomi...." Suara Sonia terdengar gugup, pun dengan tubuhnya ketika menyadari keberadaan Tomi.
"Kenapa terkejut begitu?." Suara Tomi berbeda dari biasanya, terdengar jauh lebih lembut.
"Bukan apa-apa kok mas. Aku hanya_." Sonia tak melanjutkan perkataannya. Gesture Tubuhnya pun bertambah gugup saat Tomi semakin mendekat padanya.
Tubuh Sonia sontak membeku ketika Tomi benar-benar mengikis jarak diantara mereka, menge-cup lembut bibir mungilnya. Saking gugupnya, Sonia sampai meremas ujung kaos yang dikenakannya.
"Relax!." ujar Tomi tepat di samping telinga Sonia, sesaat setelah menyudahi kecu-pannya. "Lagipula hal semacam ini sudah sewajarnya terjadi pada pasangan suami-isteri." Tomi menambahkan dengan nada yang masih sama lembutnya.
Sonia masih diam saja dengan wajah gugup bercampur bingung atas sikap tiba-tiba Tomi tersebut. Ya, tiba-tiba lembut, tiba-tiba menge-cup bibirnya. Semua tindakan Tomi begitu tiba-tiba, hingga terasa sangat mengejutkan sekaligus membingungkan bagi Sonia.
Belum sempat Sonia berkata-kata, Tomi kembali menge-cup bibirnya dengan lembut, dan kali ini berubah menjadi ciu-man lembut yang semakin lama kian dalam dan menuntut. Bukan hanya itu saja, kini tangan besar milik Tomi bahkan ikut bergerak sesuka hati pemiliknya, menyelusup masuk ke dalam kaos oblong berwarna putih yang melekat pada tubuh Sonia. Tomi yang awalnya hanya ingin menunaikan kewajibannya dengan alasan tak ingin sampai istrinya mengkhianati pernikahan mereka akibat tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya didapatkan wanita itu dari pasangan halalnya, kini mulai terbuai dan menikmati setiap perbuatannya.
Sonia berusaha menahan pergerakan tangan Tomi yang nyaris menyentuh salah satu gunung kembar miliknya. Menyadari Sonia mulai kehabisan napas, mau tak mau Tomi menyudahi ciu-mannya, menyatukan keningnya pada kening Sonia.
"Aku menginginkanmu, Sonia."
"Mas...."Bukannya menolak, namun Sonia seperti tidak percaya dengan permintaan Tomi.
Sonia tak dapat lagi berkata-kata sebab kini Tomi kembali menyatukan bi-bir mereka dengan lembut nan hangat. Hingga akhirnya, Tomi menuntun tubuh Sonia menuju ke ranjang tanpa melepaskan cium-annya. Detak jantung Sonia semakin tak menentu saat Tomi mengung-kung tubuhnya.
Adegan panas tersebut semakin dalam, tanpa ungkapan rasa apapun di antara Tomi dan Sonia. Sepertinya kedua insan tersebut sudah mulai terbuai hingga untaian kata rasanya tak lagi penting untuk saat ini. Malam semakin larut, suasana di kamar tersebut pun semakin panas dan menuntut, hingga pada akhirnya sesuatu yang sudah seharusnya terjadi pada pasangan suami-isteri kini terjadi juga antara Tomi dan Sonia. Tomi bahkan melakukannya lebih dari satu kali, hingga Sonia nyaris kehabisan tenaga akibat ulahnya.
Dalam diam Tomi menyaksikan sang istri yang kini telah terlelap dalam tidurnya.
"Yang aku lakukan tidak salah, dia istriku dan aku berhak sepenuhnya atas diri dan tubuhnya." Gumam Tomi, seolah menegaskan pada diri sendiri bahwa wanita cantik yang kini tidur di sampingnya itu adalah miliknya seutuhnya, sehingga apa yang telah terjadi diantara mereka bukanlah sebuah kesalahan.
Keesokan paginya.
Sonia dan Tomi sama-sama terdiam saat ingatan tentang kejadian semalam kembali terlintas di benak mereka. Keduanya nampak sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Apa mas Tomi menyesali kejadian semalam?." Batin Sonia.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku.....! Biar aku makin semangat Double up. 😘😘🥰🥰🙏🙏