Cerita pengabdian untuk negeri tercinta
Kisah perjalanan hidup Panji Watugunung sang Pendekar Pedang Naga Api membaktikan diri untuk negeri tercinta yang berada diambang kehancuran karna perebutan kekuasaan antara putra putra raja
Di balik perjalanan hidup, ada kisah cinta yang melibatkan Dewi Anggarawati putri Kadipaten Seloageng dan dua adik seperguruannya
Kepada siapakah cinta Panji Watugunung akan berlabuh?? Bagaimana perjalanan nya sebagai pendekar muda jagoan dunia persilatan?
Simak kisah selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Diimpikan
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang saling berpandangan.
"Kapan perayaan akan di lakukan?" , tanya Ratna Pitaloka penasaran.
"Kata prajurit kemarin sih, perayaan nya besok.
Tapi hanya di alun-alun kota saja, semua boleh melihatnya non", jawab si pelayan wanita muda.
"Kata prajurit dan emban istana, putra bupati Gelang-gelang sangat tampan non, sepanjang kemarin sampai hari ini, semua pembicaraan para gadis di sini hanya itu saja yang di bahas"
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang hanya tersenyum kecut.
Seusai makan, mereka bertanya ke pelayan tadi soal tempat menginap. Sederhana tidak masalah, asal bersih begitu pinta mereka.
Pelayan wanita itu mengantar mereka ke belakang warung makan. Rupanya di belakang warung makan itu adalah penginapan..
Di kaputran Gelang-gelang, Panji Watugunung sedang duduk di kursi dalam serambi. Ada adik tirinya Dewi Anggraini, lalu Dewi Anggarawati, yang di ikuti oleh Tantri juga Mahesa Rangkah dan Parwati.
Sikap Mahesa Rangkah dan Parwati menjadi berbeda dari saat mereka masih di perjalanan.
Membuat Panji Watugunung tidak nyaman.
"Paman, jangan bersikap seperti itu. Paman juga sudah aku anggap saudara sendiri"
"Tapi Den Mas, saya harus patuh pada tata krama. Akan lebih baik buat saya, jika saya menghormati Den Mas Panji Watugunung dan Gusti Putri Anggarawati sebagai putra putri bangsawan", jawab Mahesa Rangkah sopan.
"Terserah Paman saja,
Oiya saudara paman ternyata adalah Tumenggung di Kabupaten Gelang-gelang ini.
Besok perayaan pasti hadir di Puri Agung".
"Terimakasih Den Mas, atas bantuannya. Saya benar-benar beruntung bisa bertemu dengan Den Mas Panji.."
"Kakang,
Kalau mau ke Seloageng, ajak aku ya?", potong Anggraini.
"Kau itu masih kecil, belum boleh jalan jauh Anggraini"
"Ahh kakang jahat,
Anggraini sudah gede. Sebentar lagi sudah 14 tahun", Anggraini cemberut.
"Kau ini tetap saja bandel ya?", sahut Watugunung.
"Lha kakang juga begitu, tidak mau mengajak aku jalan jalan"
"Eh sudah sudah, jangan bertengkar. Dinda sama Kangmbok Anggarawati saja. Nanti Kangmbok ajak jalan-jalan", Anggarawati menengahi.
Seketika wajah Anggraini ceria.
"Benar ya Kangmbok, awas kalau bohong"
Hari itu mereka mengobrol kesana kemari sampai tengah hari. Mahesa Rangkah dan Parwati pamit ke bangsal tamu, Anggraini juga kembali ke keputren.
Panji Watugunung berniat jalan jalan di seputar kota Gelang-gelang. Anggarawati memaksa ikut. Tantri kembali ke keputren.
Panji Watugunung kali ini berdandan layaknya seorang putra bangsawan. Kain sutra biru menyelempang di pundaknya. Gelang bahu dari emas mengganti gelang bahu dari akar bahar.
Celana sutra selutut, Jarit parang serta sabuk kain berkunci perak benar benar menambah ketampanannya.
Di pinggang nya keris pusaka bertengger, sementara di punggungnya, Pedang Naga Api tetap menggantung disana.
Sebuah sumping telinga emas berukir indah melengkapi mahkota gelung rambut khas bangsawan.
Sebenarnya Panji Watugunung malas berpakaian seperti itu, namun juga tidak berani membantah perintah ayahnya.
Melihat Panji Watugunung berdandan seperti itu, Dewi Anggarawati hanya bisa melongo. Dia tersihir aura kebangsawanan lelaki itu.
'Benar benar keturunan darah biru sejati'
gumam nya.
"Dinda..
Ayo berangkat"
Anggarawati hanya diam.
"Dinda...,
Jadi ikut tidak?", ucap Panji Watugunung sedikit keras setelah melihat Dewi Anggarawati masih bengong.
Dewi Anggarawati seketika tersadar.
"Ahhh a-apa kakang??
"Jadi ikut tidak?"
"Jadi lah, orang sudah dandan cantik begini"
"Kalau jadi kenapa masih bengong disitu??, tanya Panji Watugunung..
"Eehh anu,
Aduh apa ya.... Eh ayo berangkat Kakang", Dewi Anggarawati segera menarik tangan Watugunung.
Mereka keluar keputran Gelang-gelang dengan naik kuda. 4 prajurit mengikuti langkah mereka.
Saat yang sama,
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang berjalan jalan di sekitar alun-alun kota.
Tiba tiba suasana riuh rendah oleh sesuatu di depan gerbang istana Gelang-gelang. Para wanita muda dan orang ramai berlarian menuju jalan utama. Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang penasaran, bertanya kepada seorang gadis yang berlari.
"Eh ada apa?", tanya Ratna Pitaloka.
"Itu putra mahkota kabupaten Gelang-gelang ada disana"
Setelah menjawab, gadis itu berlari lagi.
'Putra mahkota??' itu pasti....
"Kakang Wugunung! ", Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang kompak, lalu ikut berlari menuju jalan utama.
Jalan yang semula tenang mendadak ramai. Orang-orang berebut tempat, untuk melihat sang putra mahkota.
Panji Watugunung naik kuda hitam, di sampingnya Dewi Anggarawati yang berdandan cantik menaiki kuda coklat.
Dua prajurit berjalan di depan, dan dua di belakang.
"Aaah dia tampan sekali"
"Aku mau jadi istri nya"
"Dia pasti penjelmaan dewa"
"Duh gagahnya..."
"Siapa wanita itu? Aku iri padanya.."
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang merangsek maju, bengong seketika.
Panji Watugunung benar benar menjelma menjadi sosok yang berbeda.
Hampir saja Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang tak percaya kalau itu Panji Watugunung kakak seperguruannya kalau tidak melihat Pedang Naga Api di punggung nya.
"Kakang Watugunung!!!"
Merasa ada yang memanggil, Watugunung menghentikan langkah kuda nya.
Lalu dua orang gadis cantik menghadang perjalanan nya. Dua prajurit segera maju menyongsong mereka.
"Prajurit, tunggu..."
Prajurit berhenti.
"Pitaloka! Mayang!....
Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya, berlari kecil menuju Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka.
Kedua adik seperguruan Watugunung segera memeluk tubuh Panji Watugunung. Melepaskan rindu satu purnama tak bertemu.
Anggarawati terkejut melihat pemandangan itu,
Hatinya panas bukan main.
Dia tau, kedua murid Mpu Sakri itu menaruh hati pada calon suaminya.
Segera perempuan cantik itu meloncat turun dari kuda, dan bergegas menuju Panji Watugunung dan adik seperguruannya.
Ehmmmm ehemmm..
Anggarawati berdehem keras, Panji Watugunung segera menoleh melihat wajah Anggarawati yang cemberut.
Segera Panji Watugunung melepaskan pelukannya.
"Kalian kenapa bisa sampai disini?"
"Kami diutus guru kakang", jawab Ratna Pitaloka.
"Loh ada masalah apa?
Eh kalau gitu kita ke keputran saja", ajak Watugunung menarik tangan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
"Barang barang kami masih di penginapan Teratai Kakang", kata Sekar Mayang.
"Biar nanti aku urusi.
Prajurit,
Ambil barang dua nona ini di penginapan Teratai", ujar Panji Watugunung.
"Siap laksanakan Gusti Panji", ujar prajurit sambil menghormat dan bergegas menuju penginapan Teratai.
Rombongan Panji Watugunung segera kembali ke keputran Gelang-gelang. Sepanjang perjalanan Anggarawati cemberut, sedangkan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang tampak bahagia bertemu Panji Watugunung.
Sesampainya di keputran Gelang-gelang, mereka segera duduk.
Sekar Mayang tak henti hentinya berdecak kagum dengan keputran yang megah.
Sementara Ratna Pitaloka terus memperhatikan Dewi Anggarawati yang kelihatan tidak suka kehadiran mereka.
Panji Watugunung segera memanggil emban keputran untuk menyiapkan makanan.
"Kenapa kau seperti tidak suka melihat kami disini? , Ratna Pitaloka ketus pada Dewi Anggarawati
"Jelas saja. Kalian kan pengacau", jawab Anggarawati tak mau kalah.
"Apa katamu? Jangan harap aku menghormati mu karena status mu sebagai putri Adipati Seloageng", Ratna Pitaloka meradang.
"Aku tidak masalah kau hormat atau tidak. Aku cuma tidak suka kau dekat dekat dengan calon suami ku", Anggarawati panas.
"Baru calon, belum jadi istri. Semua bisa belum tentu, selama janur kuning belum melengkung, siapa saja berhak mendekati kakang Watugunung", Ratna Pitaloka tersenyum mengejek.
Sekar Mayang yang dari tadi hanya mendengar ikut menimpali.
"Betul itu Kangmbok"
Anggarawati mendelik tajam ke Sekar Mayang.
"Kenapa? Tidak terima?", Sekar Mayang ikutan sengit.
"Dengar ya Tuan Putri, di dunia ini bukan kau saja yang menyukai Kakang Watugunung, jadi jangan sombong karena status mu sebagai calon istri. Belum tentu Kakang Watugunung mencintaimu. Kan hanya di jodohkan".
Muka Anggarawati semakin kesal mendengar kata Sekar Mayang.
Namun kemudian gadis cantik itu segera tersenyum mengejek.
"Status ku memang hanya tunangan nya, belum ada kata cinta dari Kakang Watugunung tapi itu lebih baik daripada kalian"
"Kau......" ucap Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang kesal.
"Hai ada apa ini? Kenapa kalian ribut?"
Suara Panji Watugunung langsung mendiamkan mereka bertiga.
Anggarawati segera berdiri, dan memeluk tubuh Panji Watugunung.
"Kakang, kau mencintaiku kan?"
Panji Watugunung kaget mendengar omongan Anggarawati.
Ratna Pitaloka pun segera berdiri
"Kakang, tentukan siapa yang kau pilih?
Aku, Putri Manja ini atau Mayang"
.
.
.
.
.
.
.
Kira kira siapa yang di pilih Panji Watugunung ya?
Author bingung nih 🤔🤔