Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧
Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.
"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."
Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."
Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.
Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?
Happy reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN ITU DATANG LAGI.
💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Xaviera berjalan keluar dengan cepat. Meski langkahnya tergesa-gesa, namun sikap postur tubuhnya masih tetap terjaga dengan baik. Dengan cepat Xaviera mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan panggilan kepada Andreas. Lelaki yang menjadi supir pribadi Valeria saat ini.
"Hallo, nona Xaviera?" Ucap Andreas saat menggeser tombol jawab di handphonenya. Ia menjauh dari Valeria yang tengah asyik berbelanja.
"Pak Andreas dimana?" tanya Xaviera to the point.
"Saya lagi bersama nyonya Valeria. Ada apa nona?" tanya Andreas setengah berbisik.
"Dimana?" kejar Xaviera bukannya menjawab. Handphonenya masih standby di telinganya dan terus melangkah keluar dari halaman restoran. Tangannya melambai saat Xaviera ingin menyebrang.
Andreas diam sejenak, mengerutkan alisnya. Tanpa sadar ia melihat handphonenya dan kembali menempelkan ke telinganya.
"Pak Andreas, apa kau mendengarku?" tanya Xaviera lagi.
"Heuh, iya nona? Saya mendengarnya." Andreas menjawab gugup.
"Sekarang pak Andreas dimana?" Xaviera menanyakan kembali.
"Di pusat perbelanjaan bersama nyonya Valeria."
"Oh, Iya?" Sudut bibir Xaviera melengkung ke atas. "Pak Andreas?" Panggil Xaviera dengan suara terendahnya.
"Iya, nona."
"Sekarang aku berada di kota xx. Ada hal yang ingin ku urus. Jangan bilang pada daddy. Apalagi ke wanita rubah itu."
"Apa? nona dimana? Anda sekarang di sini?" Andreas spontan melihat ke arah Valeria yang tengah asyik memilih pakaian. Sungguh Andreas begitu terkejut mendengarnya perkataan Xaviera.
"Ehmm, saya berada di sini. Butuh satu jam sampai ke sana. Aku akan menggunakan bus. Bapak tolong kirimkan alamat rumah yang jelas dan aku langsung ke sana."
"Baik, nona. Aku akan segera mengirimnya. Nanti kabari aku jika anda sudah sampai di sana."
"Tentu saja. Jangan lupa kirim segera alamatnya." Ucap Xaviera mengakhiri panggilannya. Ia memasukkan kembali handphonenya.
"Lihat saja Valeria, kau akan hidup di jalanan." ucapnya dengan nada geram. Xaviera melangkah sambil mengepalkan tangannya.
Dengan tarikan napas panjang, Xaviera memandang ke depan sambil menunggu bus datang. Ia memang sengaja menggunakan bus menuju kota xx. Setidaknya untuk mengirit ongkos agar bisa kembali ke Amsterdam. Jika Xaviera menggunakan taksi, bisa-bisa tarif ongkosnya seharga penginapannya satu hari di hotel. Xaviera menengadah ke atas dengan segurat harapan. Bibirnya mengulas senyum tipis.
Bus berhenti tepat di depannya. Xaviera segera masuk dan memilih duduk di dekat kaca mobil. Tenang rasanya jika sudah berada di dalam bus. Penumpang bus agak ramai. Walau ini pengalaman pertama untuknya. Tapi Xaviera tetap menikmati perjalanannya. Bus pun bergerak perlahan dengan empat puluh enam penumpang di dalamnya dan meninggalkan halte. Lalu lintas lancar, bus pelan menyusuri jalanan. Gedung-gedung menjulang menuding angkasa berpadu mesra dengan langit yang cerah. Ternyata banyak perubahan tempat ini. Ia tetap terkesima dengan pesona keindahan negara tempat dimana ia dibesarkan. Walau tidak banyak kenangan yang ia dapat dari kota ini. Tapi Xaviera mendapat banyak kasih sayang dari Yohanna. Tidak pernah sekali pun Xaviera merasa kekurangan. Semuanya ia dapatkan dengan mudah. Tapi sekarang, keadaan mengajarkannya banyak hal. Kini ia bisa merasakan menggunakan bus, taksi bahkan pernah berjalan kaki, saat ia tidak punya uang semasa kuliah dulu. Xaviera melengkungkan bibirnya dan menarik napas dalam.
Xaviera menatap keluar jendela, melihat ke arah jalanan yang dilewati. Jalanan terlihat sepi dan nyaris tidak ada manusia yang terlihat di pinggiran jalan. Yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan tinggi yang berjajar pada sisi kanan dan kiri. Ia duduk di ujung dengan menopang dagunya.
Tiba-tiba Xaviera teringat kejadian di restoran tadi. Ia menggelengkan kepalanya agar bayangan lelaki itu hilang dari pikirannya. Ia menarik napasnya lalu mengembuskannya. Namun bayangan itu datang lagi bahkan semakin jelas.
Perkataan lelaki itu semakin terngiang-ngiang di telinganya. "Jika suatu saat aku mengetahui bahwa kau adalah wanita yang aku temui di kapel itu. Kau akan tahu akibatnya. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Ingat itu!"
Xaviera mengerutkan keningnya. Ancaman itu sama sekali tidak membuatnya takut. "Ah... terserah...kita tidak akan bertemu lagi kok. Setelah masalah ini selesai, aku akan kembali ke Amsterdam jadi aku tak mau pusing." Xaviera berbicara dengan gerakan mulut seperti mengejek Javier.
"Tapi siapa dia? Kenapa ia mengenal pastor Domenech? Kenapa ia mencariku? bahkan lelaki itu seenaknya mengatakan jika aku hampir membuatnya gila. Astagaaa... Apakah aku sejahat itu?"
Xavier mencoba mengingat-ingat lelaki yang pernah ditemuinya di kapel. Huffft...15 tahun cukup lama untuk mengingat siapa lelaki misterius itu. "Terserah, aku tak mau pusing. Lelaki seperti dia tidak ada artinya bagiku."
Tiba-tiba pandangannya berubah sayu. Ia menarik napas panjang. "Pastor Domenech meninggal?" Ah... Xaviera menunduk sedih. Tiba-tiba ia merindukan sosok itu. Pastor yang selalu mendoakan dan memberinya kekuatan. Mungkin sebelum berangkat Xaviera harus mampir ke sana dulu. Untuk melihat tempat peristirahatan terakhir pastor Domenech. "Maafkan, aku pastor, aku terlambat mengetahuinya." Xaviera membatin sambil memejamkan matanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Satu jam jarak yang ditempuh. Akhirnya Xaviera tiba di kediaman Mois. Semenjak daddy menikah lagi. Mereka tinggal di sini dan sekali pun Xaviera tidak pernah datang ke sini. Sebelum melangkah Xaviera melakukan ritual yang biasa ia lakukan. Menghembuskan napasnya lewat mulut, untuk menenangkan dirinya. Xaviera mengedarkan pandangannya. Menatap rumah mewah yang didesain modern itu. Security membuka pagar otomatis dan mempersilahkannya masuk, ketika Xaviera mengatakan tujuannya.
Xaviera memantapkan langkahnya. Ia berjalan menyusuri taman kecil. Rumah bergaya Kanada ini memiliki tampilan yang bukan saja unik namun elegan. Salah satu keunikannya bisa dilihat dari log yang menjadi elemen utama pada rumah ini. Rumah ini, tersaji dengan dinding-dinding terbuat dari kaca. Terdapat beraneka ragam bunga Cemara sekaligus membentuk pagar pendek.
Ukuran log yang besar serta perpaduan warna coklat tua dan muda membuat rumah ini tampak mirip seperti rumah lego. Pola warna kayu yang tidak seragam membuat kesan natural yang ditampilkan terasa lebih kental.
Taterial kayu yang natural membuat tampilan rumah terkesan unik. Belum lagi, pilihan kayu tertentu dengan corak yang bervariasi bisa membuat tampilan rumah terasa berkarakter.
Kayu yang diukir sesuka hati sesuai dengan kreativitas bisa menjadi dekorasi yang menarik.
Wanita itu melangkah menyusuri taman kecil. Ia berhenti tepat di depan pintu teras rumah. Sebelum menekan Bel, ia menarik napasnya dalam-dalam. Bersiap dengan apa yang dihadapinya hari ini. Xaviera mengumpulkan keberanian. Perlahan ia mengangkat tangannya, menekan Bel kediaman Mois itu.
TING NONG
TING NONG
Belum ada reaksi seseorang dari dalam untuk membukakan pintu untuknya.
Kembali Ia menekan Bel itu. Xaviera berdiri tanpa ekspresi. Wajahnya begitu kaku dan dingin. Ia mulai kesal, karena pintu tak juga dibukakan. Xaviera menekan bel rumah itu berulang-ulang dengan tempo cepat.
TING NONG! TING NONG! TING NONG!
Pintu mulai terbuka pelan. Muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu. Ekspresi wajahnya terlihat gahar. Sementara Xaviera bersikap santai dengan ulasan senyum manis terukir di wajahnya.
"Se...."
Belum lagi Xaviera menyapa, wanita itu sudah berbicara. "Anda benar-benar tidak ada sopan nona, menekan bel berulang-ulang. Apa kau pikir kami tuli." Ucap wanita itu dengan nada ketus.
"Maafkan saya, jika anda tidak nyaman. Bisakah saya masuk?"
"Hah? masuk? anda mau mencari siapa? saya tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk ke kediaman Mois."
Xaviera masih bersikap tenang, ia menjawab dengan senyuman ramah dan bersahabat. "Saya anak dari Alexander, pemilik rumah ini."
"Anda Xaviera?" Wanita itu terkejut.
"Ehmm saya Xaviera Careen." ucapnya dengan wajah datar.
"Maafkan saya nona, sungguh saya minta maaf." Wanita itu membungkukkan badannya berulangkali. "Saya tidak mengenal anda. Saya hanya mendengar nama anda beberapa kali di rumah ini. Saya minta maaf!" Ucapnya kembali.
"Jadi saya bisa masuk?"
"Tentu saja nona, silakan masuk!" Kini pintu terbuka sempurna untuk Xaviera.
Jantung Xaviera berdebar lagi, Ia mulai merasa gugup. Bagaimana pun, ia tidak menginginkan pertemuan ini. Hatinya kembali sakit mengingat peristiwa yang pernah terjadi padanya. Tidak mudah baginya berdamai dengan masa lalunya itu. Apalagi mengetahui kebenaran yang menyakitkan ini. Ia tidak bisa diam begitu saja. Xaviera melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Matanya memicing pada foto keluarga yang ukurannya lumayan besar. Entah mengapa hatinya sesak. Seharusnya mommy yang ada di sana.
"Silakan duduk nona, saya akan menghubungi nyonya Valeria."
"Tidak perlu bu, biar saya menunggunya saja." tolak Xaviera.
"Tapi?"
"Tidak apa-apa." ucapnya lagi dengan senyum ramah.
Xaviera duduk sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tak beberapa lama wanita itu datang kembali membawakan minuman untuknya.
"Silakan di minum nona," ucapnya ramah.
"Terima kasih." jawab Xaviera dengan lembut.
"Nyonya akan pulang sebentar lagi. Tadi saya sudah menghubungi pak Andreas. Anda bisa menunggunya sambil menikmati cemilannya."
Xaviera hanya mengangguk dan membiarkan wanita itu meninggalkannya. Ia kembali mengembuskan napasnya lewat mulut dengan bahu ikut turun. Ia mencoba berdamai dengan keadaan. Meski Xaviera tahu jika mengobati rasa sakit hati bukanlah perkara mudah. Terkadang, luka hati lebih sulit sembuh. Untuk mengobati berbagai kekecewaan, kemarahan, dan ketakutan di dalam hati, Ia masih perlu berjuang untuk membangkitkan dirinya.
TIGA PULUH MENIT BERLALU.
Suara langkah kaki terdengar begitu merdu melangkah menuju ruangan. Langkah kaki itu semakin dekat dan saat itu pula Xaviera mengangkat wajahnya. Langkah Valeria mulai pelan dan berhenti tiba-tiba. Tubuhnya membeku saat menyadari Xaviera ada di rumahnya. Ekspresi wajahnya berubah dan panik, dengan cepat Valeria berteriak di sana.
"Margareeetttttt....!!!!!!"
Xaviera duduk dengan angkuh. Sudut bibirnya langsung melengkung ke atas saat melihat keterkejutan Valeria.
"Kenapa, kau terkejut?" Ucap Xaviera dingin dan bangun dari duduknya.
Mendengar teriakkan dari nyonya besarnya. Margaret segera berlari dari dapur. Ia tergopoh-gopoh dan sedikit menundukkan kepalanya. "Iya, nona." ucapnya ketakutan.
"Siapa yang membiarkannya masuk ke rumahku?" teriak Valeria dengan emosi.
Margaret mengernyit heran. "Dia anak tuan Alexander, nyonya."
"Siapa bilang, anak Alexander sudah mati, saya tidak mau tahu, usir dia dari rumahku, sekarang juga!!!!" Nada suara dan tekanan kalimatnya begitu emosional.
"Seharusnya bukan aku yang keluar dari rumah ini Valeria." ucap Xaviera tersenyum sinis dengan posisi tangan bersedekap. Ia melangkah mendekat ke arah Valeria.
"Apa??????" Suara Valeria memenuhi ruangan. Kau benar-benar anak tidak tahu diri. Kau tahu, Alexander hanya menganggapmu sampah. Jadi lenyap lah dari hadapanku dan jangan kembali lagi." rahangnya mengencang kuat dan sorot matanya begitu tajam.
"Silakan katakan apa yang membuatmu senang, lakukan yang menurutmu kau bahagia. Tapi besok, aku akan menyaksikan sendiri engkau akan merangkak minta maaf padaku."
"Kau????" Valeria mengangkat tangannya dan ingin menampar Xavieria. Sebelum itu terjadi, Ia sudah lebih dulu menangkap tangan Valeria.
"Tanganmu tidak pantas menamparku." Mata mereka saling beradu dengan kemarahan dan emosi yang siap meledak.
DUAAAAARRRRRRR......!
BERSAMBUNG
❣️ Aduh senangnya, ternyata ini malam minggu ya 😍 Happy weekend my readers tersayang. Tetap bahagia bersama keluarga. Salam sehat selalu 🙏😇
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee