Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 ~ Ingin Menahan
Di tengah ruangan toko perhiasan yang berkilau mewah, Eliza berdiri mematung di dekat etalase kaca. Matanya sesekali melirik jam di pergelangan tangan, lalu kembali menatap pintu masuk yang tak kunjung terbuka. Kegelisahan semakin menguasai dirinya. Ia sudah menunggu cukup lama di sini, namun sosok yang dinanti belum juga tampak.
Ia sempat menelepon Nyonya Davina, berharap calon ibu mertuanya itu dapat menyampaikan pesan dan meminta Damian segera datang. Bukankah hari ini mereka sudah berjanji untuk memilih cincin pertunangan bersama?
Dua tahun. Sudah dua tahun sejak pertunangan mereka disepakati oleh kedua keluarga besar. Namun hingga detik ini, Damian tak juga menunjukkan ketertarikan sedikit pun padanya. Bahkan untuk sekadar menepati janji dan hadir tepat waktu pun pria itu seakan tidak terlalu mempedulikannya. Damian lebih memilih tenggelam dalam tumpukan pekerjaannya daripada meluangkan waktu untuk berdiri di samping Eliza seperti pasangan lain pada umumnya.
Eliza menatap pantulan dirinya di kaca etalase, lalu kembali menatap pintu yang masih sepi. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya kurang dari dirinya. Ia sudah berusaha menjadi wanita yang pantas berdiri di sisi Damian, tetapi pria itu seolah selalu menjaga jarak.
Atau memang hati Damian terbuat dari batu, begitu sulit untuk dijangkau dan disentuh?
Eliza mengembuskan napas pelan. "Di mana Damian? Kenapa lama sekali?"
Belum sempat Eliza kembali duduk, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Ia spontan menoleh.
Damian akhirnya muncul. Wajahnya tetap datar, bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski telah membuat Eliza menunggu cukup lama. Haris berjalan beberapa langkah di belakangnya.
"Damian..."
Damian hanya mengangguk singkat. "Maaf membuatmu menunggu."
Satu kalimat itu terdengar begitu datar hingga Eliza bahkan tidak tahu apakah pria itu benar-benar merasa bersalah atau hanya mengucapkannya karena merasa perlu.
Damian langsung berjalan menuju meja yang dipenuhi beberapa kotak perhiasan.
"Sudah pilih?"
Eliza menggeleng pelan. "Aku menunggumu."
"Hm."
Damian duduk di kursi sebelahnya tanpa mengatakan apa pun lagi.
Seorang staf toko segera mendekat dan membuka beberapa kotak cincin yang telah disiapkan khusus untuk mereka.
"Ini beberapa pilihan cincin pertunangan yang sudah kami persiapkan."
Damian melirik sekilas. "Pilih saja yang kau suka."
Eliza terdiam. "Kita tidak memilih bersama?"
Damian menatapnya sebentar, kemudian kembali melihat cincin-cincin di atas meja.
"Aku tidak terlalu peduli soal model." Jawaban itu membuat senyum Eliza perlahan memudar.
Sebenarnya pria itu tidak perduli soal model, atau memang Damian tidak memperdulikan tentang pertunangan mereka?
Eliza mengambil salah satu cincin, lalu memasangnya di jarinya. "Kalau yang ini?"
Damian hanya melirik. "Bagus."
"Yang ini?"
"Bagus."
Eliza akhirnya menatapnya dengan sedikit kecewa. "Kamu bahkan tidak melihatnya."
Damian mengangkat pandangan. "Aku sudah melihat."
"Tapi kamu tidak benar-benar memperhatikannya." kesal Eliza. Dia benar-benar tidak mengerti dengan pria disampingnya saat ini.
Sungguh... Damian benar-benar seperti tengah menguji kesabarannya. Hari ini dia datang terlambat. Entah bagaimana jika saja Eliza tidak menelepon nyonya Davina. Sekarang pria itu terlihat begitu acuh padanya.
Damian terdiam sesaat, lalu bersandar pada kursinya. "Eliza, aku datang karena sudah berjanji. Pilih saja cincin yang kau suka. Setelah itu kita selesai."
Tidak ada nada marah dalam suaranya. Justru ketenangan itulah yang terasa lebih menyakitkan.
Eliza terdiam. Jemarinya perlahan melepaskan cincin yang tadi dicobanya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
"Baik."
Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya. Ia kembali melihat deretan cincin di hadapannya, berusaha mengabaikan rasa sesak yang mulai memenuhi dada. Setelah beberapa saat, pandangannya berhenti pada sebuah cincin berlian dengan desain sederhana namun elegan.
"Yang ini."
Staf toko segera mengambilnya dan memperlihatkan kepada Damian.
"Tuan Damian, apakah model ini sesuai?"
Damian hanya melirik sekilas. "Kalau dia suka, ambil."
Eliza menatapnya. "Jadi... kamu tidak mau mencobanya di jariku?"
Damian mengernyit tipis seolah pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan. "Untuk apa?"
Eliza terdiam, bibirnya mengatup dengan geram. "Ini cincin pertunangan kita, Damian. Setidaknya kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Aku tahu.. Dan kamu sudah memilih. Itu sudah cukup." Jawabannya begitu singkat.
Damian kemudian mengambil ponselnya dari saku jas dan melihat layar. Ada beberapa pesan pekerjaan yang masuk sejak tadi.
Eliza menatap pria itu dengan perasaan yang semakin sulit dijelaskan. Bahkan di hari ketika mereka seharusnya memilih cincin pertunangan bersama, perhatian Damian tetap tertuju pada pekerjaannya.
Ia menarik napas panjang. "Damian."
"Hm?"
"Apa kamu benar-benar tidak pernah ingin menikah denganku?!"
Jemari Damian berhenti bergerak di atas layar ponselnya. Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab. Bukan karena tidak mendengar. Tetapi karena pertanyaan itu membuatnya tidak nyaman.
Ia menatap Eliza dengan ekspresi datar. "Pertunangan ini sudah disepakati kedua keluarga. Aku tidak punya alasan untuk membatalkannya." Damian mengalihkan pandangan.
Eliza terdiam. Kalimat itu seharusnya membuatnya lega, namun entah mengapa, justru terasa jauh lebih menyakitkan.
Karena Damian tidak mengatakan bahwa ia menginginkannya. Tidak mengatakan bahwa ia mencintainya.
Bahkan tidak mengatakan bahwa ia bahagia akan menikah dengannya. Ia hanya berkata... tidak punya alasan untuk membatalkannya.
"Itu bukan jawaban, Damian. Aku mau jawaban yang lebih jujur.." tatapan Eliza tertuju lurus ke manik mata Damian. "Apa ada wanita lain?"
Damian terdiam mendadak. Ujung jarinya yang tadi menyentuh layar ponsel kini membeku di tempat. Perlahan ia menurunkan gawai itu, lalu menatap lurus ke manik mata Eliza dengan tatapan yang begitu tenang, namun sedingin es abadi.
"Ada atau tidak ada, apa itu mengubah sesuatu, Eliza?" suaranya rendah dan datar, tak ada sedikit pun getaran emosi di sana. "Pertunangan ini tetap berlaku. Perjanjian antar keluarga tetap berjalan. Dan pada waktunya, kita akan menikah."
Eliza menatapnya tak percaya. Jantungnya terasa diremas perih. "Jadi... memang ada?" suaranya tercekat, nyaris tak mampu keluar dengan jelas. "Ada wanita yang kamu inginkan, bukan? Wanita yang seandainya tidak ada pertunangan ini, yang akan kamu pilih untuk berdiri di sisimu?"
Damian mengalihkan pandangan, menatap ke arah jendela kaca toko yang memantulkan cahaya redup. Ia tak menjawab iya, namun ia juga tak menyangkalnya. Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan tegas. Keheningan itu seolah menjadi pengakuan bisu yang mematahkan harapan Eliza berkeping-keping.
"Eliza..." panggilnya pelan, kembali menatap wanita itu dengan sorot mata yang tak terbaca. "Aku tidak pernah menjanjikan perasaan padamu. Sejak awal, kamu sudah tahu alasan pertunangan ini."
Damian berdiri perlahan, menyelipkan kembali ponselnya ke dalam saku jas dengan gerakan tenang dan terukur.
"Aku harus kembali ke kantor," ucapnya singkat, tanpa nada penyesalan sedikit pun. "Urusan masih menumpuk."
Ia bahkan tak menunggu sahutan dari Eliza. Sekali ia memberi isyarat kepada staf toko untuk melanjutkan pembayaran atas nama Foster Group, lalu berbalik hendak melangkah pergi seolah pertemuan ini hanyalah urusan sepele yang telah selesai ia tuntaskan.
Eliza mengepalkan tangannya di sisi tubuh begitu kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Rasa geram meluap-luap di dadanya, bercampur dengan rasa perih yang menyayat hati. Ia ingin sekali menahan langkah pria itu.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya