Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen
Selepas isya aku dan mama mengikuti mobil kak Ivan dari belakang. Mama sengaja mengantarku dengan mobil nya, ingin ikut serta melepasku tinggal bersama kak Ivan sementara waktu. Kami telah sepakat melanjutkan pengujian obat antiretroviral ke dalam tubuhku dengan mengikuti syarat yang Kak Ivan berikan. Entah berapa lama aku akan tinggal di apartemen nya.
Sepanjang perjalanan, aku maupun mama tidak bersuara. Aku larut dalam pikiranku sendiri tentang apa yang akan menjadi perjuangan tubuhku berikutnya. Sudah kusiapkan hati dan tekad ku dengan sangat matang, tapi tetap ada rasa takut yang kurasakan juga.
Tiga puluh menit perjalanan. Aku melihat keatas dan gedung yang menjulang tinggi di depanku menjadi objek menarik bagiku sekarang. aku akan terkurung di dalam sana. Entah di lantai berapa. Kami menaiki lift dan kak Ivan memencet tombol 12. Kami sama sekali tidak bersuara. Lift yang merangkak naik sangat terasa lama bagiku. Mama beberapa kali kulihat sibuk dengan chat di ponselnya. Bi Asih yang membantu membawakan barang-barangku pun hanya terdiam dan sepertinya wanita paruh baya itu agak segan untuk memulai bersuara terlebih dahulu.
Ting!!!
Kami melangkah mengikuti kak Ivan memasuki sebuah pintu yang berada tidak jauh dari lift ini. Apartemen yang cukup rapi menurutku untuk ukuran seorang laki-laki lajang sepertinya. Apartemen ini memiliki satu kamar, satu ruang tamu yang merangkap sebagai ruang utama, satu kamar mandi, satu dapur dan satu balkon kecil. Mungkin nantinya aku dan kak Ivan akan tidur di ranjang yang sama.
"Adit,,, baik-baik disini ya sayang. Mama dan Bi asih pulang dulu." Aku hanya mengangguk dan memeluknya sebentar. Tak lupa, ku pegang telapak tangan bi Asih dan menyalaminya takzim.
Sekarang tinggal kami berdua, kulihat kak Ivan masih sibuk mengganti sprei di kamarnya, aku bingung harus kemana dulu. Ingin rasanya langsung rebahan, tapi sepertinya kurang sopan kalau aku meminta hal ini langsung.
"Sini Dit, baju-baju kamu sama barang yang lain masukkan lemari ini aja. Kakak nggak bisa bantu angkat-angkat dulu ya, masih belum boleh." Kak Ivan setengah berteriak dari kamarnya memanggilku untuk mendekat.
"Aman kak, Adit bisa sendiri kok." Kuturuti permintaan nya memasukkan semua baju dan barang-barang yang kubawa dalam lemari Hitam yang cukup besar miliknya. Ada slot satu kotak kosong untuk baju-baju ku.
Kami masih sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai akhirnya sebuah dering panggilan terdengar dari iPhone ku.
Ferdy...
"Iya Dy, ada apa?" Aku mengawali tanpa salam terlebih dahulu.
"Maksud Lo apa dit?!" Masih kucerna maksud dari pertanyaan nya. Apa?!
Oh!!!
Aku teringat sore tadi setelah ada keputusan untuk ku tinggal sementara di apartemen ini, langsung kukirim pesan singkat kepada Ferdy lewat aplikasi hijau yang kami punya.
Dy, Lo nggak usah nyari gue ya.
Gue izin sebulan ini nggak muncul dulu. Mau hibernasi Jangan kangen sama sahabat Lo yang super ganteng ini ya.
Ada sesuatu yang harus gue selesaikan.
Lo harus bisa gantiin gue di puncak acara pensi nanti.
See U sebulan lagi.
"Gue mau hibernasi, Lo baik-baik ya. Nggak usah kangen gue." Aku sengaja menanggapinya dengan sedikit gurauan. Aku tidak ingin siapa pun selain kami berempat, mengetahui hal ini. Bahkan Ferdy pun yang pastinya akan selalu mempertanyakan keberadaan ku tidak ku beritahu, kasihan kalau dia harus ikut dipusingkan memikirkan kondisiku saat ini.
"Adit!! Gue serius! Lo mau kemana?" Terdengar nada kesal disana.
"Gue masih di Jakarta Dy, gue janji kalau umur gue nyampe sebulan kedepan masih ada, gue akan cerita ke Lo."
"Adit!!! Nggak lucu deh ngomongin umur segala. Lo mau ngapain sebulan hibernasi? Mau dapat wangsit apa Lo?!" Kali ini kekesalan sangat terdengar di suara Ferdy.
"Udah ya, Lo tenang aja. Gue nggak ilang ko. Kita masih bisa wa-an, telponan, masih bisa mabar juga." Aku merasa lucu dengan kalimatku sendiri, interaksiku dan Ferdy mengalahkan romantisnya orang yang berpacaran.
"Ish! Lo itu ya! Gue bakal cari tau Lo ada dimana. Dan bakal gue samperin!" Teriakan dari seberang sana membuatku menjauhkan iPhone ini dari telingaku.
Tut... Tut... Tut...
Ferdy,,,
Ya, biarlah dia fokus menyelesaikan semuanya dulu. Aku sangat yakin cepat atau lambat Ferdy akan menemukan ku disini. Meski mama dan Bi Asih tidak akan memberitahukan keberadaan ku padanya, tapi keahliannya di bidang IT sangat memungkinkan keberhasilannya melacak keberadaan iPhone ku disini.
"Adit, malam ini istirahat dulu ya. Kakak hanya akan ngasih obat sama kaya semalem. Mungkin jadi bikin kamu ngantuk dan mual kaya kemaren malem. Kalau obat lain Kakak belum tau, Takutnya nanti kakak nggak bisa sigap kalau ada efek samping yang cukup serius." Suara kak Ivan di belakangku membuatku mendesah pelan. Aku ingin segera berakhir, kenapa harus ada penundaan lagi?!
Kuletakkan tas ku disamping lemari ini, dan aku mulai mendekati kak Ivan yang sudah dalam posisi terbaring nya. Di bagian kanan bad ini, menyisakan ruang kosong cukup besar di bagian kiri nya.
"Aku tidur disini juga kak?" Tanyaku memastikan.
"Iya, biar semua pergerakan kamu bisa kakak tahu. Sekarang siap-siap tidur aja, obatnya udah kakak siapin diatas meja itu." Ucapnya sambil menunjuk meja kecil di samping bed besar ini.
"Kak,, Adit mau nanya. Kapan kak Ivan ngasih obat ke Adit sebelumnya? Adit nggak merasa minum obat apapun selama ini, kecuali yang kemaren itu. Bahkan yang di kafe pun nggak Adit sadari." Aku mengubah posisi dudukku yang ada di sisi bad ini menjadi ke tengah bed mendekati tubuh kak Ivan yang masih terbaring.
"Hmmm... Janji nggak akan marah? Nggak akan nyesel kalau udah tau?!" Kak Ivan memberi peringatan kepadaku sebelum memberitahukan semuanya.
"Iya, Adit udah siap menerima fakta apapun yang sudah disembunyikan dari Adit." Aku menjawab cepat, tidak sabar rasanya ingin tahu informasi ini.
"Oke... Pertama, hari kedua pulang dari rumah sakit. Kakak, nitip Bi asih naruh obat itu dalam makanan kamu. Dan Bi Asih melaporkan, semua makanan yg kamu makan hari itu cuma tersentuh satu atau dua sendok bahkan langsung dimuntahkan karena kamu yang mual hebat saat itu. Saat tau hal itu, kakak mulai ragu melanjutkan sebenernya." Kak Ivan menjeda ucapannya sebentar, mungkin menunggu respon dariku. Tapi aku hanya terdiam, masih sangat jelas kuingat hari dimana aku hanya bisa bolak balik kamar mandi untuk menuntaskan rasa mual itu. Waktu itu aku beranggapan hanya asam lambungku aja yang berulah ternyata karena obat itu.
"Kedua dan ketiga kurang lebih sama caranya, kakak nggak tau pasti gimana bi Asih ngasih obat itu tanpa kamu sadari. Tapi sepertinya yang kedua dan ketiga cara konsumsi obatnya lebih tepat. Karena yang bi Asih laporkan waktu itu, setelah minum obat itu kamu tidur seperti sangat mengantuk. Itu memang seharusnya menjadi efek paling awal yang direspon tubuh. Setelahnya yang kita nggak akan tau."
"Hmmm,,, mungkin obat yang bi Asih kasih waktu itu adalah obat dari Kak Ivan. Bukan obat lambung seperti yang bi Asih bilang. Iya, aku ingat dua hari berturut-turut minum obat dari Bi Asih dan setelahnya memang mengantuk berat. Tapi tidak dengan siangnya bahkan berlanjut sampai malam rasanya nggak mau di inget lagi kak, mual muntah pusing bahkan seperti vertigo juga." Aku mulai mengingat kembali hari-hari itu. Hari dimana aku sangat dipusingkan oleh perseteruan cukup panas antara papa dan mama, juga kesakitanku yang seakan tidak berhenti.
"Iya, kakak bisa bayangin itu Dit. Hhh... Sorry banget." Ucap kak Ivan, rasa sesal itu kembali bertandang.
"Yang ke empat?" Aku bertanya masih penasaran dengan kapan obat berikutnya kuminum.
"Kakak nggak tau pasti, yang jelas hari pertama kamu sekolah Bi Asih belum sempet minta kamu minum obat. Kakak memang melarang keras Bi Asih ngasih obat itu kalau kamu mau naik motor. Terutama kalau mau ke sekolah. Tapi entah hari ke berapa kamu sekolah, Kakak minta Bi Asih coba mencampurkan di sarapan kamu. Dan siangnya bi Asih bilang sebelum ke sekolah kamu sempet muntah-muntah dulu. Dan sarapan yang kamu makan bahkan belum habis. Kayaknya hari yang sama saat kita ketemu di kafe itu deh Dit." Aku mengangguk, menyadari sandwich yang kumakan pagi itu ternyata sudah tercampur obatnya, aku sangat ingat di gigitan ketiga tiba-tiba perut ini langsung terasa kram dan rasa mual pun ikut muncul tidak lama setelah itu.
"Oke, yang kelima di kafe. Yang keenam kemaren malem di rumah." Aku mengangguk -angguk sendiri menyadari betapa pintarnya kak Ivan dan Bi Asih berkolaborasi disini.
"Kita ulang saja kak." Kak Ivan yang masih berbaring sambil memainkan ponselnya langsung terbangun kaget.
"Hah?! Maksudnya?"
"Kita ulang dari awal, ke lima belas obat yang kak Ivan maksud bisa semuanya kakak uji coba ke badan aku. Obat yang udah pernah aku minum ataupun yang belum." Aku memperjelas kalimat ku sebelumnya. Ya, sudah kutekadkan diri ini untuk memaksimalkan semuanya satu bulan ini. Sebelum aku memutuskan hal lain untuk kehidupanku sendiri selanjutnya.
"Nggak! Kita hanya akan lanjutkan obat yang belum pernah kamu minum aja Dit." Kak Ivan kembali membaringkan tubuhnya. Ada rintihan kecil dimulutnya, mungkin gerakan spontannya saat bangun tadi cukup berpengaruh pada jahitan operasinya shubuh tadi.
"Kak... Adit udah minta waktu sebulan ke mama. Oke, kak Ivan lanjutkan obat-obat yang belum pernah Adit minum. Tapi nanti kalau masih tersisa waktunya Adit minta ulangi minum ke enam obat yang pernah Adit minum." Aku tetap bersikeras memaksimalkan semuanya.
"Ya... Ya.. kita lihat saja nanti. Udah, kakak otw tidur dulu." Ucapnya kemudian dan mulai memejamkan mata.
Aku meraih Tumbler yang kusimpan di slot samping tas ku. Kuambil juga obat yang kak Ivan maksud, langsung kuminum tanpa kendala.
Rasa kantuk mulai kurasakan setelahnya, ada gejolak ringan di dalam sana. Entah karena obat ini atau memang karena aku yang cukup gugup sekarang. kubaringkan tubuh ini dan mulai ikut terlelap di samping kak Ivan.
Semoga aku bisa melewati hari-hariku selanjutnya dengan baik. Dengan penuh kesabaran, dan semoga tubuhku kuat.
semangatt juga kak 💪