NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 : RERUNTUHAN RANCAGAOK

Asap hitam membumbung tinggi menutupi langit yang tadi paginya biru bersih. Bau mesiu dan kayu terbakar menusuk hidung. Bayu berhenti melangkah, matanya terpaku tak percaya.

Tanah di bawah kakinya masih bergetar pelan. Di depannya, tak ada lagi deretan rumah panggung rapi. Semuanya rata berantakan, tertimbun puing bambu dan genting yang masih berasap.

"Ya Allah..." bisik Karta, tangannya menyentuh sisa tiang pendek.

"Di sini dulu Bu Daria selalu kasih kami pisang rebus kalau hujan turun."

Bayu mengangguk pelan, tenggorokannya kering. Ia melangkah hati-hati melewati lubang bekas ledakan. Jauh di sana, sisa atap masjid terbalik menindih kebun singkong.

"Jangan pisah terlalu jauh," pesan Bayu pada mereka di belakang.

"Hati-hati, banyak paku dan kayu tajam."

Astri merapat di sampingnya, menggenggam lengan baju erat. Matanya terus menyapu sekeliling debu.

"Ibu ke mana ya? Tadi katanya mau ambil selimut adikku yang tertinggal," suaranya gemetar.

"Kita cari pelan-pelan," usap punggung tangannya pelan.

"Jangan putus asa dulu."

Dari arah bekas pasar terdengar tangis panjang. Embek Gombloh berlutut di sisa keranjang rotannya yang hancur, memeluk tubuh istrinya yang diam tak bergerak. Bahunya berguncang hebat, tak ada suara keluar.

Pak Somad duduk tak jauh dari situ, menatap sisa bengkelnya yang rata tanah. Di antara arang, parang dan cangkul meleleh terbakar. Ia mengambil sepotong besi yang masih utuh sedikit.

"Belasan tahun bekerja," gumamnya.

"Sekejap mata hilang begitu saja."

Mbah Kartareja menuntun Aci Cemong yang terus menempel di punggungnya. Matanya yang rabun kini menatap tajam ke langit.

"Mereka menyerang tanpa peringatan," ucapnya tenang namun berat.

"Tak ada tembakan, tak ada surat. Langsung jatuhkan api ke tengah kampung kita."

Dul Kalong datang kembali dari pinggir sungai, wajahnya penuh jelaga.

"Kenapa harus ke sini, Mbah? Kita tak pernah ganggu siapa pun. Cuma bertani dan beternak."

"Karena tanah kita subur, Nak," tepuk bahunya pelan.

"Dan karena mereka mau kita tunduk sepenuhnya, tak punya tempat berlindung."

Bayu berhenti di tempat pagar bambunya berdiri kemarin. Tinggal lubang besar berwarna merah menyala. Padi yang sempat ia doakan tumbuh baik, kini hangus jadi abu terbawa angin. Ia jongkok, ambil segenggam tanah itu, meremaskannya sampai luruh kembali. Rasanya seperti bagian dirinya ikut hancur.

"Semua rencana kita..." Karta berdiri di sebelahnya, suaranya parau.

"Rumah, syukuran panen, hari pernikahan... semuanya hilang, Yu."

"Belum tentu hilang semua," jawab Bayu menatapnya.

"Tanahnya boleh rusak, tapi tekad kita belum. Selama kita masih bernapas, kita tanam dan bangun lagi."

Tiba-tiba Bu Siti berseru pelan penuh harap. Ia menemukan tiga anak kecil meringkuk di bawah tumpukan batu kali bekas tembok pagar. Meskipun takut dan lecet, mereka selamat tanpa luka parah. Bu Siti langsung merengkuh semuanya erat, air matanya tumpah.

"Syukurlah... Ibu kira kalian ikut terbakar semua."

Satu demi satu warga mulai bergerak saling bantu mengangkat puing, mencari keluarga, atau menyelamatkan barang kecil yang masih ada. Tanpa disuruh, tanpa diperintah, semuanya bergerak dengan hati yang sama beratnya.

"Pak Somad! Tolong lihat apakah ini anak saya?" teriak Bu Ratna dari balik tumpukan kayu besar.

"Sabar Bu, sebentar saya angkat ujungnya!" balas Pak Somad segera bergegas mendekat.

"Kuatkan Bu, kalau perlu minta bantuan Bapak-bapak lain!" seru Mbah Kartareja mengarahkan dua orang pemuda ikut membantu.

Astri tiba-tiba berlari ke arah sisa dapur rumahnya yang miring. Ia merangkak di antara puing, lalu berhenti menatap sebuah bungkusan kain. Diambilnya dengan tangan gemetar, namun ujung kain itu masih dipegang sesuatu dari balik balok.

"Ibu!" serunya kaget.

Bayu dan Karta langsung berlari mendekat. Mereka sama-sama mengangkat balok berat itu perlahan sekuat tenaga. Di sana terbaring Ibu Astri, memeluk erat bungkusan makanan yang disiapkan untuk cucunya yang belum lahir. Wajahnya tenang seolah baru tidur.

Astri jatuh berlutut, memeluk tubuh ibunya seerat mungkin. Tangisnya meledak memecah udara pagi yang pedih itu. Tak ada kata yang terucap, hanya rintihan yang menyayat hati.

Bayu berdiri diam di sampingnya, tak tahu harus berkata apa. Tak ada kata yang pantas saat hati seseorang hancur lebur. Ia hanya bisa menunduk hormat, mengusap bahu Astri sekuat dukungan yang dimilikinya.

"Kita harus membawanya pergi dari sini dulu," kata Karta pelan, memalingkan wajah menahan tangisnya sendiri.

"Masih banyak bangunan yang bisa roboh kapan saja."

Mereka mengangkat tubuh itu perlahan, menutupinya dengan kain bersih yang ditemukan di saku Bayu. Warga yang lewat ikut berhenti berdoa atau sekadar menunduk hormat.

"Bagaimana nasib kita selanjutnya, Bayu?" tanya Pak Somad mendekat sambil memegang besi sisa tadi.

"Semua mati, semua hancur."

"Kita masih hidup, Pak. Itu yang paling penting," jawab Bayu mantap.

"Selama kita masih bersama, kita bisa mulai dari nol lagi."

"Tapi di mana? Di sini semuanya rata," timpal Bu Ratna yang kini sedang menggendong anaknya yang berhasil ditemukan.

"Kita cari tempat yang terlindungi dulu. Yang jauh dari jangkauan mereka. Lalu kita susun lagi semuanya," sela Karta.

"Benar kata anak muda ini," tambah Mbah Kartareja.

"Rumah bisa dibangun ulang, ladang bisa ditanam kembali. Yang tak boleh hancur adalah semangat kita."

Tiba-tiba pandangan Mbah Kartareja tertuju pada gumpalan asap lain yang mulai mengepul agak jauh. Ia segera melambaikan tangan memanggil semuanya berkumpul.

"Cepat berkumpul! Kita tak boleh lama di sini! Takut ada sisa Bom yang belum meledak atau musuh melihat kita!"

Satu demi satu mendekat, membawa apa saja yang tersisa: sebilah pisau, selembar kain, sebutir benih, atau sekadar kenangan indah. Wajah mereka penuh debu dan air mata, tapi di mata mereka mulai tumbuh satu tekad baru.

"Siapa yang tahu jalan ke gua di balik air terjun?" tanya Bayu lantang.

"Saya tahu! Dulu sering ke sana cari obat!" jawab Dul Kalong.

"Saya juga! Jalurnya sempit dan sulit dilihat dari atas," tambah Embek Gombloh sambil menghapus air matanya kasar.

"Baik, Dul Kalong duluan memimpin jalan. Embek bawa yang tua dan sakit di tengah. Aku dan Karta paling belakang menjaga siapa pun yang tertinggal," atur Bayu tenang.

Mereka mulai melangkah meninggalkan tempat itu. Bayu sempat menoleh sekali lagi ke sekeliling kampungnya yang penuh luka.

"Kita cuma pergi sebentar," bisiknya pada tanah.

"Kita pasti kembali."

Langkah demi langkah menyusuri parit yang terlindungi semak. Di belakang mereka, kampung tercinta diam dalam reruntuhan. Namun di dada setiap orang yang melangkah, tertanam satu hal yang takkan pernah hancur: tekad untuk merebut kembali apa yang menjadi milik mereka.

"Pasti ada jalan keluarnya kan, Kang Bayu?" bisik Aci Cemong yang digendong Karta.

"Ada, Ci. Selama kita bersama, pasti ada jalan," jawab Bayu mantap.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!