Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
Sinar matahari pagi perlahan-lahan mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar inap Aira, menandakan bahwa hari baru telah dimulai. Azam terbangun lebih awal. Laki-laki tampan itu menatap wajah teduh istrinya yang masih tertidur pulas di pelukannya. Wajah pucat Aira kini terlihat sedikit lebih tenang dan cerah dari hari-hari sebelumnya.
"Selamat pagi, Humairaku,"
Bisik Azam lembut.
Aira yang mendengar bisikan lembut dari suaminya itu perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya. Seulas senyuman yang telah lama hilang kini kembali muncul di wajah cantiknya.
"Selamat pagi juga, Sayang,"
Bisik Aira pelan.
Azam mencium kening Aira sedikit lebih lama.
"Aku sangat merindukanmu yang seperti ini, Sayang. Aku mohon jangan salahkan dirimu lagi ya, kita harus ikhlas dan percaya bahwa setiap ujian yang Allah datangkan untuk kita itu karena bentuk cinta dan sayang Allah kepada kita,"
Bisik Azam.
Aira mengangguk, lalu perempuan itu merenggangkan otot-otot tangan, kaki, dan tubuhnya.
Azam mencubit lembut hidung mancung Aira.
Tok... tok... tok.
Azam dan Aira menoleh ke arah pintu yang diketuk dari luar.
"Sebentar ya, Sayang, aku buka pintu dulu ya,"
Kata Azam lalu turun dari brankar.
"Siapa, Mas?"
Tanya Aira yang sudah duduk bersandar.
"Kinan, lo?"
PLAK!
PLAK!
Aira melotot, begitu pun Azam. Laki-laki itu mengusap kedua pipinya yang baru saja ditampar oleh Kinan.
"Gue masih dendam ya sama elo! Berani-beraninya lo zalimi sahabat gue, hah?! Kalau emang elo udah gak mau nafkahin Aira, sini kasih ke gue aja! Gue sendiri yang bakal jaga dia, kasih dia uang jajan, makan..."
Azam menyumpal bibir Kinan dengan buah apel yang diberikan Seno diam-diam.
"Siapa bilang gue gak mau nafkahin Aira? Gue aja lebih kaya dari elo,"
Elak Azam lalu menghampiri Aira.
Kinan cemberut, lalu melemparkan apel ke bahu Azam.
"A...?"
"Diem napa, Nan! Ini di rumah sakit loh, bukan di hutan,"
Kata Ardi menoel pundak Kinan.
Kinan menepis tangan Ardi, lalu menghampiri Aira.
"Aira, kamu sudah membaik? Apa masih ada yang sakit? Kenapa kamu bisa sampai kayak gini?"
Bukannya menenangkan Aira, Kinan justru yang menangis di pelukan Aira.
"Kebalik woy! Harusnya Aira yang ditenangin, bukan elo!"
Heboh Seno.
Aira terkekeh kecil. Dengan perlahan, Aira membalas pelukan hangat Kinan.
Entah kenapa, Aira dan Kinan merasakan kehangatan tersendiri, seolah-olah memiliki ikatan batin yang sama.
"Sssstt... udah ya, Kinan, jangan nangis lagi, nanti aku malah ikutan nangis lagi loh,"
Kata Aira menghibur.
"Gue gak terima ya, Zam!!! Awas aja kalau sampai Aira terluka lagi, gak akan gue biarin lo ketemu sama Aira seumur hidup elo!!"
Kata Kinan dan dibalas anggukan oleh Azam.
Azam hanya diam saja saat Kinan memelototinya. Laki-laki itu memilih untuk tetap fokus kepada Aira.
"Ini rumah sakit apa hotel, guys?"
Heboh Ardi yang sedang tiduran di kamar untuk keluarga pasien.
Azam memang sengaja meminta perawat menempatkan Aira di kamar terbaik yang tentunya memiliki fasilitas lengkap. Di sana ada kamar tidur untuk keluarga pasien, kulkas, ruang miting, dua kamar mandi, ruang ganti baju, dan sudah disediakan camilan ringan.
"Emang lo lihat ini di mana? Udah tahu di rumah sakit masih aja nanya, heran gue,"
Sewot Seno yang sedang memakan apel di meja yang tak jauh dari brankar Aira.
"Kalian berisik deh,"
Sahut Kinan risih.
Ardi tertawa renyah. Laki-laki itu berjalan ke arah Kinan, lalu duduk di sofa empuk di belakang Kinan.
"Jangan marah melulu dong, Neng. Udah gak sabar ya Abang halalin?"
Kata Ardi mencolek pinggang ramping Kinan.
"Berani sentuh gue, gue sate tangan elo yaaa!"
Kata Kinan, makin bad mood.
Azam dan Aira hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka yang tidak pernah akur.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍