NovelToon NovelToon
The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Romansa / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: aresss

Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan

Happy Reading

***

Jasmine POV

Satu bulan kemudian..

Aku merasakan bahuku berat oleh salju yang menumpuk di atasnya. Angin dingin berembus dan kelopak mataku terasa berat untuk di kedipkan. Kaki dan jemariku membeku hingga mati rasa. Sudah sejam lebih aku duduk di Hype Park di tengah musim dingin yang akhirnya mendatangi London.

"Miss..."

Aku menoleh ke arah pria paruh baya yang mengenakan baju khas penjaga, si sumber suara.

"Taman akan ditutup lebih awal karena cuaca buruk..." lanjutnya sebagai pengusiran halus.

"Yah.." aku bangkit dengan tubuhku yang begitu kaku lalu menyeka salju yang bertumpuk di bahu dan kepalaku.

Aku berjalan di atas trotoar yang mulai tertimbun salju setinggi satu centi. Uap tebal nan hangat keluar dari mulutku, menandakan betapa kedinginannya tubuhku saat ini. Namun, otakku tidak mengirimkan sinyal apa pun. Mati rasa...

Kakiku melangkah keluar dari taman dan berjalan di trotoar di pinggir jalan raya. Restoran dan bar dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menikmati segelas brendi dan semangkok sup untuk menghangatkan tubuh. Aku lapar, tapi aku yakin tidak akan bisa menelannya. Tubuhku menolak makanan apa pun yang masuk dalam tubuhku.

Dibandingkan masuk ke restoran hangat, aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam toko kelontong. Toko kelontong sempit yang dimiliki oleh wanita tua Asia. Wanita tua itu duduk di belakang kasinya seraya melakukan rajutannya lalu menatapku dengan tatapan datar.

Aku berjalan mengambil kebutuhanku, bir dan wine murahan lalu menaruhnya di kasir.

"Aku ingin rokok filter A..." dia memutar tubuhnya dan mengambil rokok yang kuinginkan.

"20 pounds.." ucapnya dengan aksen Asia yang kental. Aku memberi satu lembar uang pas untuk belanjaanku dan menerima kantong plastik hitam.

"Xie-xie.." ucapku sebagai ramah tamah dan dia menatapku datar.

"I'm Japanese, young lady..."

Aku tidak membalasnya lagi karena merasa malu dan segera keluar dari toko kelontong itu. Langit semakin gelap dan awan yang menggumpal di atas menandakan bahwa malam ini mungkin terjadi badai salju. Langkahku semakin cepat menuju apartemenku.

Saat di depan pintu apartemen, aku mengoyang-goyang tubuhku dari salju sebelum akhirnya masuk ke lobi menuju lift. Aku menatap bayangan diriku sendiri di lift sebelum akhrnya pintu lift terbuka dan aku berjalan keluar. Sesaat, aku berhenti di depan pintu apartemen Edward... Apartemen yang tidak dihuni lagi.

Dia pergi. Menghilang dari peredaran hidupku. Tidak ada lagi tanda-tanda dari dia sejak pertengkaran kami. Kupikir dia akan memperjuangkan hubungan kami, tapi tidak.. Edward memilih menghilang padahal aku mungkin akan memafkannya setelah usahanya mengirimiku bunga setiap harinya. Terakhir kali aku menghubungi nomornya melalui telepon umum dan yang kudapati nomor ponsel itu tidak ditemukan.

Aku menghela napas panjang dan melanjutkan langkah kamiku menuju apartemen. Udara hangat dari apartemen perlahan memenuhi diriku. Aku meletakkan belanjaanku di meja ruang tamu kemudian menyalakan perapaianku. Aku mengambil selimut dan duduk di depan perapaian.

Kubuka botol anggur kemudian meneguknya segera. Rasa panas langsung memenuhi tubuhku. Aku mengambil bungkusan rokok kemudian menaruhnya di antara bibirku. Kunyalakan pematik dan mengarahkan ujung rokok ku ke sana.

Menghisapnya dengan dalam kemudian aku terbatuk keras. Sial. Aku terbatuk lagi dan segera meneguk anggur untuk meredakan batukku. Aku memang tidak cocok merokok, tapi aku ingin melakukannya. Aku menghisapnya lebih lembut kali ini dan batukku tidak separah di awal.

Aku menghisapnya lagi dan menghembuskan asapnya ke udara. Tanganku bergoyang menghilangkan asap itu dan kemudian aku terbatuk lagi. Sial. Rokok kutarik dari mulutku dan mematikan sumbunya ke atas meja hingga mati. Mereka bilang rokok membantu tubuhmu rileks, tapi itu tidak berlaku untukku. Seberapa banyak apa pun aku mencoba berbagai merek rokok, tidak ada cocok padaku.

Meneguk anggur adalah satu-satunya jalan. Aku meneguk hingga tersisa setengah botol kemudian membaringkan tubuhku di sofa dan menatap kosong ke arah perapaian.

"Aku merindukanmu.." bisikku dan air mataku lagi-lagi turun tanpa kuundang.

****

Satu bulan yang lalu...

Edward POV

"Jelaskan ini padaku!" suara Jasmine berteriak kencang padaku.

Jelaskan itu, Edward.

Sial.. Suara Lucas tidak membantuku sedikit pun.

"Kau berkata tidak punya hubungan dengan Kimberly!" dia menarik kerah bajuku dengan kedua tangannya, "Aku memercayaimu, Edward!!"

"Dengarkan penjelasanku, Jasmine.." ucapku lembut berusaha menenangkan keadaan.

Dia melepas kerahku dengan kasar, "Seandainya kau jujur dari awal, mungkin aku akan memakluminya, Edward... Tapi.. Tapi.!" napasnya terengah seolah menahan amarahnya untuk meledak lagi.

"Itu foto lama, Jasmine.." aku berusaha mendekat padanya.

"Aku tidak memercayaimu!" teriaknya dan kemarahannya tidak membuat keadaan semakin baik. Itu membuatku marah juga.. Cemoohan Lucas dan kemarahan Jasmine!

Lihat.. Seandainya kau jujur, Edward

Aku menggeram dan merasakan amarahku perlahan naik. Demi apa pun! Aku tidak ingat sedikit pun tentang fakta bahwa aku pernah mencium Kimberly!! Atau kemungkinan besar, Kimberlylah yang menciumku. Aku yakin Lucas adalah pelaku dibalik foto sialan ini.

"Jasmine.." ucapku dengan suara membujuk, berusaha membawa dia duduk, tapi dia menjauh dariku.

She don't like you, Edward..

"Atau kau secara diam-diam memiliki hubungan dengan Kim di belakangku?!!"

Aku tidak bisa menjelaskan keadaanku! Aku benar-benar terjepit. Jasmine jelas-jelas tidak akan percaya jika aku berkata bahwa bukan aku yang berada dalam gambar itu. Itu Lukas! Alter egoku!!

Aku adalah kau, Edward...

Jangan membela diri dengan mengatakan bahwa aku yang melakukannya....

"Diam!" aku berteriak kuat untuk menghilangkan suara Lucas dariku, tapi itu malah membuat keadaan semakin runyam.

Jasmine menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya menatapku nanar.

Sial..

"It's not for you, Jasmine.." ucapku dan perlahan mendekatainya, tapi dia menjauh. Dia menggelengkan kepala dengan nanar.

Tidak... Tidak seharusnya seperti ini.

"Aku harus pergi..." ucapnya segera dan pergi dari ruanganku. Aku hanya berdiri di sana menatap kepergiannya. Kepalaku di penuhi oleh tawa Lucas. Tawanya yang penuh cemooh.

Aku memejamkan mata, mengkepalkan tanganku dengan kuat.. Menahan hasrat untuk tidak berteriak. Benar. Memang benar jika aku tidak akan mampu bergerak bersama Jasmine selama Lucas ada..

Jangan kasar begitu, Edward....

"Diam!" aku berteriak lagi.

Aku akan diam dan menunggu saat yang tepat untuk mengambil alih tubuh ini....

***

"Dia sudah pergi?" tanyaku pada Johansen.

"Yes, Sir."

Aku mengusap wajahku dengan gusar. Melihat kemarahan Jasmine sudah membuatku yakin bahwa dia tidak akan menerima keadaanku yang memiliki alter ego. Temperamennya benar-benar mirip Jessi. Begitu mudah tersulut.

Jika aku menjelaskan pada Jasmine bahwa itu adalah foto lama, dia jelas tidak akan memercayaiku. Dia begitu simpel seperti ibunya. Sekali merusak kepercayaannya, akan sulit untuk untuk mengambil kepercayaannya lagi.

"Menurutmu apa yang harus kulakukan?" tanyaku seraya memutar-mutar bola besi kecil di tanganku. Ini membantuku berpikir jernih.

"Anda lebih baik memperbaiki diri, Sir..."

Aku menggeleng kecil.. Tidak. Itu bukan ide yang bagus.

"Dan meninggalkan Jasmine begitu saja?" Tentu saja aku tidak mau/

Mengobati ini berarti harus membuatku jauh dari Jasmine.

"Saya memiliki teman lama di Rusia yang berprofesi sebagai psikiater. Dia cukup terkenal hebat dalam bidangnya..."

Rusia?!! Tentu saja tidak! Aku tidak akan mengorbankan waktu dan uangku untuk tempat sejauh ini.

"Jika dia hanya menghipnotisku maka jawabannya tidak..." Aku tidak ingin kejadian dulu terjadi lagi, saat psikiater melakukan hal yang salah dan membuat Lucas semakin kuat.

Kau takut, Edward?

Aku bertambah kuat setiap harinya...

"Saya benar-benar menyarankan anda melakukan pengobatan, Sir.."

"Aku akan memikirkannya..." ucapku dan dengan itu Johansen pergi meninggalkanku sendiri dalam ruang kerjaku. Semenit kemudian, pintu terbuka.

Kimberly!! Sial. jangan dia lagi.

"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Kimberly.." ucapku ketus

"Di mana Jasmine?"

Kemarahanku naik ketika dia bertanya seolah tidak tahu.

"Pergilah, Kim..."

"Kau mengusirku sekarang?" suaranya meninggi dan aku tidak siap dengan drama ini. Benar-benar tidak siap dan aku juga muak.

Aku segera berdiri dan memukul meja, "Baik. Jika kau tidak pergi maka yang pergi..."

Aku melangkahkan kakiku dan saat aku melewatinya, Kimberly secara mengejutkan memelukku dari belakang. Aku berhenti di sana dan merasa tidak nyaman.

"Aku menyukaimu, Edward..."

Aku menggeleng, "No, Kim.. Kau tidak boleh menyukaiku."

"Kumohon..."

Aku menarik napas, merasa lelah dengan semua pergantian emosi ini.

"Aku bukan pria yang kau pikirkan, Kim. Kumohon jangan melewati batas..." aku melepas tangannya dan segera pergi meninggalkan dia.

Tentu aku tahu dia menyukaiku sejak dulu, tapi hanya itu. Aku tidak berusaha menggubrisnya dan pura-pura tidak tahu dengan perasaannya. Dia mungkin berpikir mengetahui semua tentangku, tapi tidak. Dia tidak mengetahui sedikit pun tentang Lucas.

Dia memiliki bibir yang lembut...

Kau harus mencobanya...

Bisikan Lucas membuatku naik darah.

"Kau tidak seharusnya seperti itu, Lucas.." bisikku seraya berjalan lemah menuju kamarku.

Kau lelah, Edward? Biarkan aku mengambil alih kali ini...

Aku membuka pintu kamar dan melangkah masuk. Tubuhku kuhempaskan ke atas tempat tidur. Aku merasakan seluruh tubuhku lemah. Atau jiwaku yang lelah?

Aku bisa mengambil alih tubuhmu kali ini...

"Kau membunuh Ayahku, Lucas.." bisikku dengan acak..

Dia layak menerimanya.

"Sekarang apa yang ingin kau lakukan?"

Tentu saja menjemput wanitaku kembali..

"Kau akan menyakitinya..."

Kemudian hening. Begitu hening. Aku memejamkan mataku dan saat aku membukanya, semuanya gelap. Tubuhku tertarik lagi dan aku pasrah. Tidak ada perlawanan dariku. Aku lelah. Benar-benar lelah. Dan dengan itu, Lucas mengambil alih tubuh ini.

"Ah... Aku merasa lebih bugar." ucap Lucas sesaat setelah mengambil alih tubuh Edward. Dia bangkit dari tidurnya dan berdiri untuk menggerak-gerakkan sendinya.

"Aku lebih bertenaga..." bisiknya.

Setelah tidur yang panjang.. Waktunya untuk pertunjukan

****

Lucas POV

Aku menatap muram ke arah Johansen.

"Kau sudah mengirim dia pesan?" tanyaku seraya menyesap anggurku.

"Yes, Sir.."

"Apa yang dia katakan?"

"Miss Brown bahkan tidak membacanya."

Aku mendengus marah. Jasmine. Sial. kenapa dia begitu sulit. Enam hari lamanya dan dia tidak membalas pesan atau menerima panggilan dariku. Secara harfiah, bukan aku yang mengirim pesan tapi Johansen. Jangan harapkan aku mengemis lagi padanya.

"Apa wanita selalu sesulit itu?" tanyaku pada diriku sendiri.

Aku bisa saja membawa dia secara paksa dari apartemennya, tapi aku takut Edward muncul. Yah.. Entah bagaimana, Edward bisa memiliki kekuatan untuk mengambil paksa tubuh ini jika dia mengetahui Jasmine dalam bahaya

"Kau sudah mengirimi dia bunga lagi?" tanyaku.

"Dia tidak mengambil satu pun bunga yang Anda kirim sejak tiga hari yang lalu..."

Aku memukul meja dengan kepalan tangan kananku. Amarahku mendidih dengan sikap Jasmine. Sial.. Andai dia tahu betapa banyaknya uang yang kukorbankan untuk Ibu gilanya yang sialan. Dan tentu saja untuk dia juga!

"Anda lebih baik membiarkan Tuan Edward untuk mengatasi masalah ini, Lucas.."

Aku terkekeh, "Kau begitu sopan saat menyebut Edward dengan embel-embel tuan, tapi tidak denganku..."

Si tua sialan ini. Dia hanya setia pada Edward, tapi aku tidak bisa menyingkirkannya. Dia berguna untukku dan Johansen selalu bisa memberi solusi di tiap masalah yang kuhadapi maupun Edward. Aku sangat suka dengan kebijakannya.

"Edward sedang tertidur, Johansen..." gumamku, "Dan aku tidak ingin membangunkan dia dari tidur nyenyaknya..."

Ada sedikit keterkejutan di sana. Yah, Johansen.. Dia tertidur sangat lelap.

"Apa kau sudah melakukan check-up?" aku menuangkan anggur ke dalam gelasku.

"Yes, Sir.."

"Bagaimana hasilnya?"

Johansen menatapku was-was dengan mata sayunya.

Aku tersenyum miring, "Aku hanya penasaran dengan kesehatanmu..."

"Semuanya baik. Terimakasih sudah bertanya, Sir..."

"Kirimlah pesan yang lain untuk dia. Berikan dia bunga, tas, atau benda mahal lain..." ucapku dengan nada malas.

"Miss Brown bukanlah tipe yang materialistis, Sir.."

"Kalau begitu berikan dia benda yang dia sukai. kanvas, cat, atau apalah..."

Johansen sedikit membungkuk ke arahku,"Baik, Sir..." dan dengan itu, dia segera keluar dari ruanganku.

Tanganku mengetuk-etuk permukaan meja. Aku akan menunggu tiga atau empat hari lagi untuk menjemput paksa Jasmine. Di saat itu, aku akan yakin Edward tidak akan bisa merebut tubuh ini dengan mudah. Hingga saat itu, aku akan bersabar.. Aku akan membawa Jasmine kembali dalam genggamanku

****

Berlalu empat hari dan belum ada tanda-tanda apa pun dari Jasmine. Dia benar-beanr keras kepala dan sangat jual mahal. Langit yang mendung seolah menyuarakan perasaanku yang muram. Helaan napasku terus berlanjut, kesabaranku benar-benar menipis.

Ketukan halus terdengar dari luar ruangan dan aku menyuruhnya masuk.

"Sir..." suara Alberto (Pelayan setia Lucas) menyadarkanku. Aku memutar tubuh dan melihat dia berdiri di pintu.

"Mobil anda telah siap, Sir.."

Aku mengangguk kecil dan melangkah menjauhi jendela. Saat di luar, mataku menatap Kimberly di sana. Aku mengangguk sekali pada Alberto agar menungguku di luar.

Kimberly menatapku dengan tajam. Tubuhnya dibalut oleh gaun selutut yang memamerkan belahan dadanya. Begitu terbuka hingga dadanya tampak ingin tumpah. Rambutnya di cat berwarna coklat, warna yang begitu mirip dengan rambut Jasmine.

Ckckck... Dia sangat berusaha keras untuk menggodaku rupanya.

"Kau memakai pakaian yang berbeda hari ini.." ucapku pelan. Tidak sedikit pun ada hasrat dalam diriku untuk wanita ini. Terlalu tua. Terlalu keras kepala.. Ah.. Kuharap dia tidak berusaha menguji kesabaran.

"Ayo kita kencan." ucapnya tegas dengan nada memerintah. Aku bukanlah sosok yang bisa kau perintahkan, Nona.

Mataku menatap dia dari atas hingga ke bawah lalu berhenti di dadanya.

"Kau punya badan yang bagus, Kim."

Kulitnya yang putih memerah. Manis. Namun, aku lebih suka Jasmine.

"Kalau begitu ayo pergi.." dia menarik tangan kananku dan aku menatapnya tajam. Tanganku yang lain melepas genggamannya dariku.

Punggung tanganku mengelus lembut wajahnya. Napasnya beradu dan perlahan aku mendekatkan wajahku padanya. Mengendusnya. Ah.. Wanginya tidak sama. Jika dia berusaha meniru Jasmine seharusnya dia harus berusaha lebih keras dari ini.

"I'm not a man for you..." kepalaku menjauhi dia dan seperti yang kuduga, dia menatapku dengan marah.

"Apa ini tentang, Jasmine?!" suaranya meninggi membuat perasaanku yang muram semakin muram.

Wanita tua sialan ini.. Tanganku dengan cepat mengapit kedua wajahnya lalu mendekatkannya ke arahku

"Hari-hariku sudah cukup buruk akhir-akhir ini dan aku tidak ingin kau semakin merusaknya.." ucapku dengan suara berat. Aku benar-benar berusaha menahan amarahku saat ini.

Tanganku melepaskannya dengan kasar dan Kim memegang pipinya seraya menatapku dengan mata nanar.

"Aku bukanlah Edward yang kau pikirkan.." sambungku sebelum akhirnya melangkahkan kakiku menuju pintu keluar.

Alberto dan Johansen sudah menunggu di sana. Johansen menatapku dengan sendu kemudian kakiku berjalan kearahnya untuk menepuk bahu kanannya.

"Dia mungkin tidak akan kembali, Johansen.." bisikku dan tersenyum miring ke arahnya. Matanya yang semula sendu menatpaku dengan tajam.

"Mulai dari sekarang, biasakan dirimu denganku, Tuan barumu..."

Pintu mobil dibukakan dan kakiku melangkah masuk untuk duduk di kursi penumpang. Pintu ditutupkan dan Alberto bergabung masuk di kursi kemudi. Dengan itu, kami berangkat..

I'm coming, my dearest Jasmine...

***

Aku keluar dari dalam lift. Senyumku tidak bisa kutahan... Ah. Semingguku yang sepi. Aku benar-beanr merindukan Jasmine. Aku melangkah diikuti Alberto di belakangku, tapi saat langkah ketigaku. Rasa pusing menghantam kepalaku.

"Arrggh.." tanganku berpegangan pada dinding.

"Sir..."

"Buka pintunya.." geramku seraya menahan rasa sakit itu.

Sudah kuduga! Sudah kuduga si Edward sialan bangun kembali. Arghh! Argh!! Dia berusaha mengambil alih tubuh ini. Tanganku kukepalkan, menahan rasa menyakitkan itu. Mataku menatap Alberto yang menekan bell pintu Jasmine berulang kali.

Aku kehilangan kekuatan kakiku hingga tubuhku meleyot ke lantai. Pandanganku semakin kabur dan rasa menyakitkan itu seakan sedang menusuk--nusuk kepalaku dari dalam. Kabur.... Hingga akhirnya semua gelap.

Sialan Edward!!

***

Edward POV

Kembali ke masa depan..

Oymyakon, Rusia

"Itulah yang terjadi saat akhirnya aku bisa mengambil alih tubuhku kembali.." aku menutup ceritaku pada Dokter Lubovskwy, seorang pria yang berumur 72 tahun. Aku telah sampai di tempat ini dua minggu lalu, kota kecil di rusia yang dijuluki kota terdingin di Rusia.

"Apa kau pernah merasakan fenomena yang sama, tapi bukan pada Jasmine?" tanyanya dengan logat Rusia yang kental.

Aku menggeleng, "No. Belum pernah. Hanya pada Jasmine..."

Pada akhirnya aku mengikuti saran Johansen untuk ke tempat ini. Ini baru pertemuan kelimaku dengan Dokter Lubovskwy. Tubuhku terserang flu berat saat tiba pertama kali di sini karena perubahan cuaca yang drastis. yah.. London memang dingin, tapi disini sepuluh kali lebih dingin.

Dokter Lubovskwy menghisap pipa rokoknya seraya menatapku, seolah memikirkan sesuatu. Cerita masyarakat di sini mengatakan bahwa kekuatan terkuat pria berasal dari pipa rokok. Ketukan halus di pintu mengalihkan tatapan kami berdua.

Ah.. Felnora. Putri Dokter Lubovskwy yang masih berumur 20 tahun. Dia membawa nampan dengan cangkir besi yang bertutup. Mata kami bertemu dan dia segera mengalihkan tatapannya. Wajahnya memerah dan aku bisa memakluminya. Semua wanita nampaknya bereaksi seperti itu ketika bertemu tatap denganku.

"Papa... " dia mengomeli ayahnya dengan bahasa rusia yang tidak bisa kupahami. Jelas karena pria tua ini merokok lagi.

"Ya.Ya." jawab Ayahnya dengan seadanya

"Papa, are you understand what I said?" Felnora berbicara dalam bahasa inggris dengan aksen yang begitu kental. Jauh lebih kental dari Dokter Lubovskwy.

"Maafkan putriku, Edward." ucapnya dan aku tersenyum kecil. Felnora menyajikan dua cangkir kopi di atas meja kecil.

"Spasibo..." ucapku. Satu-satunya bahasa Rusia yang kutahu. Terimakasih.

Felnora tersenyum dan wajahnya yang putih pucat memerah. Dia mengangguk kecil sebelum akhirnya pergi. Dokter Lubovskwy terbantuk lagi. Tanganku mengangkat cangkir besi yang panas itu lalu membuka tutupnya. Asap yang menggepul keluar dari sana. Aroma kopi yang kuat memenuhi ruangan tersebut.

"Minumlah. Itu kopi Arabica yang begitu mahal di sini.." Dokter Lubuvskwy bersandar di kursinya seraya menatap buku catatannya.

Aku menyesapnya dan merasakan rasa hangat menyebar ke seluruh tubuhku.

"Aku tidak berpikir jika Jasmine adalah kunci kau bisa sembuh." ucapnya, "Sejujurnya mustahil kau bisa sembuh terutama jika alter egomu sangat mendominasi..."

Yah dan aku menerima fakta itu.

"Sebelumnya kau berkata bahwa awal mula dominasi Lucas padamu terjadi karena kegagalan hipnotis?"

"Yah. Itu terjadi saat aku berusia delapan atau sepuluh tahun.."

Dia menaruh pipa rokoknya di asbak kemudian mengerutkan dahinya yang sudah berkerut tersebut.

"Sulit mengindetifikasinya karena kau tidak memiliki catatan medis."

"Sejak itu kejadian itu, aku selalu menghindari psikiater."

Dokter menaruh buku catatannya, "Bagaimana dengan bola kecilmu?"

"Aku mendapatkannya dari dokter yang pertama kali menanganiku."

Bola besi kecil. Berat dan selalu terasa dingin di tanganku. Dulu, aku selalu membawa bola itu dalam tanganku karena membuatku merasa tenang dan membuatku lebih terjaga. Namun, aku perlahan meninggalkannya karena takut ketergantungan.

"Aku sudah sangat jarak menggunakan ini, tapi setelah pertengkaranku dengan Jasmine, aku selalu memegang bola besi ini..."

Dia mengnagguk kecil, "Aku akan menunggu saat kau siap untuk menceritakan asal mula kedatangan Lucas. Tanpa itu, sulit rasanya mengidentifikasikan asal mula permasalah ini.."

"Yes, Sir..." ucapku pelan.

***

Tatapanku jatuh pada salju yang tidak berujung di tempat ini. Aku berdiri di teras kayu milik Dokter Labovskwy. Supirku belum datang juga karena terjebak salju dan terpaksa aku harus berjalan kaki hingga ke persimpangan jalan raya. Yah.. Rumah Dokter Labovskwy tidak berada di pusat kotanya, tapi di desa pinggiran kota

"Kakimu akan mati rasa jika berjalan di sana." aku menoleh ke arah Felnora yang baru keluar dari pintu. Dia memakai ushanka (Topi Khas Rusia) yang berwarna coklat.

"Jika itu terjadi kau akan terjatuh ditumpukan salju dan mati di sana..." lanjutnya dan aku menatap bintik-bintik kecil di sekitar hidup dan pipinya.

"Kau bisa berbahasa inggris.."

Da tertawa kecil, "Tapi aksenku begitu payah..."

"Aku pikir tidak." ucapku ramah dan lagi-lagi wajahnya memerah.

Kemudian berdehem, "Papa menyuruhku untuk mengantarmu ke persimpangan..."

"Kau akan menggendongku di punggungmu?" candaku dan dia tertawa.

"Tentu saja tidak...." dia menutup pintu dan berjalan meninggalkan teras, "Setiap orang di kota ini biasanya memiliki snowmobile dan salah satunya adalah kami.." aku mengikutinya di belakang.

Salju segera menelan kakiku hingga lutut sehingga membuatku kesulitan berjalan. Rasa dingin langsung meliputi kakiku walau aku sudah memakai pakaian bulu yang begitu tebal. Felnora berjalan ke arah snowmobile yang berada di atas papan tinggi.

Dia menarik penutup snowmobbile yang penuh dengan salju lalu menaikinya. Mesin dinyalakan dan segera dilajukan.

"Ayo.."

Rasa canggung meliputi diriku.

"Atau kau mau mengendarainya?" ucapnya dari balik masker bulu yang dia pakai dan aku mengangguk kecil

"Da.. Da*..." balasnya

(Ya..Ya..)

Felnora menggeser badannya ke kursi belakang dan aku menaikinya. Aku memegang stang tersebut dan perlahan memutarnya sehingga benda itu berjalan.

"Benda ini lebih penting dari mobil jika kau berada di sini.." ucapnya dari balik tubuhku dan aku setuju akan itu.

"Apakah kau masih datang besok?"

Anggukan kecilku adalah jawabannya.

"Kau sangat pendiam..."

Aku tidak menjawabnya dan terus melajukan snowmobile menuju persimpangan yang sudah di depan mataku. Mobil SUV hitam bersama supirku sudah menunggu di sana. Kakiku menginjak rem dan perlahan benda itu berhenti tidak jauh dari persimpang.

Saat melepas stang, aku merasakan tanganku kaku. Di sini benar-benar dingin. Kakiku segera terbenam lagi di atas tumpukan salju setelah turun dari snowmobile.

"Thank you..." ucapku ramah.

"Senang membantumu,Edward..."

Aku mengangguk kecil seraya berjalan di tumpukan salju.

"Sir.." sapa supir itu seraya membuka pintu untukku.

"Maafkan atas ketidaknyamanan ini, Sir.." supir meminta maaf padaku sesaat setelah dia masuk dan duduk di kursi pengemudi. Aku mengangguk kecil padanya, tanda bahwa aku tidak marah atas itu.

"Ke mana tujuan kita setelah ini, sir?"

"Kembali ke hotel.."

****

Jasmine POV

"Aku ingin rokok filter B..." tanganku menunjuk rokok berkotak biru. Wanita tua jepang itu menatapku datar.

"Kau tidak cocok merokok mau sebanyak apa pun merek yang kau coba..." ucapnya.

Dia berdiri dan berjalan menuju lemari penyimpnan di belakang. Bunyi kresek plastik memenuhi tempat yang kecil itu. Kembali beberapa saat kemudian, dia menaruh bungkusan bening berisi benda aneh. Gurita?

"Gurita kering."

Aku merasa aneh melihat itu. Hitam dan berbentuk aneh.

"Kau bisa mengunyah ini dari pada menghisap rokok.."

Aku menggeleng, "No thank you..."

"Ini tidak kalah lezat dengan keju..."

Keju dan gurita. Itu perbandingan yang sangat jauh. Tanpa persetujuanku, dia memasukkan itu dalam kantong belanjaanku. Dia mengeluarkan birku dan mengisinya dengan botol hijau yang bertuliskan kanji.

"Sake lebih menyehatkan dari bir. Semuanya 18 pound.."

Aku menelan ludah dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Kuberikan uangnya dan segera pergi dari sana dengan membawa plastik belanjaanku. Entah apa yang akan kulakukan dengan ini. Sejenak, aku berpikir berapa lama lagi aku begini.

Saat berjalan dan melewati trotoar yang dipenuhi oleh orang-orang yang nampak bahagia dan sibuk, entah kenapa timbul tekad dalam diriku. Tekad untuk berubah. Sebulan adalah waktu yang cukup untuk meratapi kesedihan ini. Sejujurnya, aku merasa bodoh karena hidup awut-awutan seperti ini hanya karena seorang pria.

Ah.. Saat-saat seperti ini, aku benar-benar merindukan Jessi. Amat termat. Terakhir kali kami berbicara sekitar dua minggu lalu. Aku pastikan bahwa dia tidak pernah menangisi seorang pria. Prialah yang menangisinya, itulah prinsip Jessi. Mengingat tingkah Jessi membuatku tersenyum tanpa sebab. Aku akan menghubunginya setelah ini.

Kakiku melangkah lebih cepat untuk memasuki gedung apartemen. Saat aku memasuki lobi apartemen, penjaga yang kukenal mendatangiku. Kenapa?

"Miss Brown, kamar 201?"

"Yah. Itu aku."

"Ada seseorang yang ingin berbicara dengan Anda.."

Dia mengarahkan tatapannya pada pria paruh baya yang datang menghampiri kami. Tinggi, bersetelan rapi, dan membawa koper dukumen di tengan kirinya. Melihatnya membuatku gugup dan was-was.

"Melvoy Granger." dia menyodokarkan tangan kanannya padaku dan aku menerima jabatan yang kuat dan tegas itu. Wangi minyak rambut dan parfum dari tubuhnya cukup menyengat.

"Jasmine Brown." aku melepas jabatan, "Ada perlu apa?"

"Bisakah kita mencari tempat untuk berbicara?"

Aku menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengnaggukkan kepalaku.

"Sure..."

****

"Saya Pengacara Jessica Brown, Ibu anda."

Keningku berkerut ketika dia membuka pembicaraan itu, berusaha memprose infomari yang masuk. Dia membuka koper dokumennya kemudian meletakkan dua map di sana lalu amplop coklat besar dna tebal. Apa sih ini? Dia menatap saya kemudian menarik napas.

"Dengan berat hati saya ingin mengatakan bahwa Jessica Brown sudah meninggal satu hari yang lalu di Rumah Sakit Los Angeles."

Aku tidak bereaksi apa pun. Benar-benar hanya menatapnya. Jika ini lelucon, ini benar-benar sudah keterlaluan.

"Map merah ini berisi pemindahan hak kepemilikan atas apartemen yang saat ini anda tinggali dari pihak Mrs.Jessi kepada Anda. Map biru berisi total kekayaan mulai dari asuransi, tabungan, dan harta benda Mrs.Jessi yang dipindahkan menjadi kepemilikan anda. Sedangkan amplop cok--"

"Apa kau sedang melucu?" tanyaku dengan nada berat dan marah.

Dia menaruh sebuah kartu nama di sana.

"Saya tidak memiliki hak untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Mrs.Jessi, tapi di amplop coklat ini Anda akan menemukan jawabannya. Anda bisa menghubungi saya jika ingin membicarakannya lebih lanjut.."

"Aku tidak mau mendengar omong kosongku." suaraku meninggi hingga menarik perhatian pengunjung kafe tersebut. Aku berdiri dan segera meninggalkan tempat itu.

"Miss Brown." dia memanggilku dan aku mengabaikannya.

Tubuhku melewati arus manusia dan sesekali menabrak orang yang lalu lalang. Mereka berteriak marah padaku, tapi aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Tanganku merogoh ponsel dari mantelku untuk menghubungi Jessi.

Sekali, tapi tidak diangkat.

Dua kali, rasa panik mulai menguasaiku.

Tiga kali...

"Jawab!" teriakku di tengah lautan manusia itu. Mataku menatap nanar kepada ponselku yang tidak menerima panggilan itu. Aku menangis dalam diam. Wajahku dibanjiri oleh air mata. Orang-orang melewatiku dengan tatapan aneh. Aku berusaha menghilangkan tatapan-tatapan aneh itu dari kepalaku dan perlahan semua kabur.. Buram.. Hingga akhirnya gelap.

****

MrsFOx

Ckckc. Berasa kecewa ngetik chap ini. Dan aku gk tau kenapa?

1
andrana maula
Lumayan
Dian Winati
Luar biasa
Krista Itha
huuhuu kebagian yg revisi semua 😭
Krista Itha
ada koyo ya miss di London?
Krista Itha
waah paling telat ternyata aku..udh gak kebagian 😁
Krista Itha
sampai kesini saya buat ngikutin miss
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
Sari
Luar biasa
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
sokorrr bingung kann sekarang 😂😂
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
love love love dr. lubovswky
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
thanks Dr. lubowsky untung dia mau mnjelaskan siapa Jasmine
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
wahh kok Johansen jd gitu sih...ngeselin bgt
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
hilang ingatan kahh
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
wwooo kerjaan kimberly dan musuhnya lukas ini
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
kasihan Jasmine
dan kasihan juga Edward..
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis§𝆺𝅥⃝©🌸
mngkin kalau aku jadi Jasmine aku akan melakukan hal serupa... ngeselin bgt deh Kimberly
bunga cinta
gass
Siti Sa'diah
kkk aku baca ulang lg senyum2 bacanya
moci oci
baca novel ini aku ingat drama yg dimainkan hyun bin judulnya lupa, tpi inti ceritanya sama satu tubuh dua kepribadian
terimakasih thor cerita mu luar biasa
Anonymous
aq dah deg2an ni thor...
Anonymous
edward...aq padamu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!