NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Yang Sebenarnya Terjadi Semalam

Kunci depan berputar tanpa tersangkut.

Kirana mencobanya tiga kali, dari dalam dan luar. Setelah itu ia menggoyang daun pintu untuk memastikan kusennya tidak longgar.

"Sudah diganti seluruh rumah kuncinya," kata pemilik rumah. "Kuncinya baru dua. Tidak ada salinan pada penyewa lama."

Bagas mencatat nomor kunci pada lembar serah terima. "Kalau ternyata ada salinan lama?"

"Silakan ganti silinder lagi dan potong dari uang sewa bulan berikutnya. Saya tulis."

Mereka pindah ke jendela belakang. Pengait yang sebelumnya goyah sudah diganti, bukan hanya dikencangkan. Bekas lembap di langit-langit dapur masih terlihat, tetapi genting di atasnya telah ditambal.

Kirana menyentuh dinding di bawah noda. Masih dingin, belum sepenuhnya kering.

"Kita tidak bisa tahu tambalannya berhasil sebelum hujan," katanya.

Pemilik rumah mengangguk. "Saya beri jaminan tertulis tiga puluh hari untuk kebocoran bagian itu. Kalau bocor lagi, saya perbaiki tanpa biaya."

"Tulis juga waktu tanggapnya. Maksimal dua hari setelah dilaporkan, kecuali hujan membuat tukang tidak bisa naik."

Bagas menoleh kepadanya, lalu menambahkan kalimat tersebut ke daftar.

Calon penyewa lain datang saat mereka memeriksa aliran air. Sepasang suami istri berdiri di teras bersama agen kecil, memandang ke dalam dengan rasa ingin tahu.

Pemilik rumah mulai gelisah. "Kalau Mbak Kirana belum yakin, mereka juga ingin melihat."

"Silakan," jawab Kirana. "Kami tidak akan membayar hanya karena takut didahului."

Ia membuka keran dapur, menunggu satu ember terisi, lalu menyiram toilet dan memeriksa apakah aliran di kamar mandi melemah. Tekanannya turun sedikit, tetapi masih berfungsi.

Rumah itu tidak mewah. Dua kamar, ruang tengah sempit, dapur kecil, dan halaman belakang yang hanya cukup untuk jemuran serta beberapa pot tanaman. Namun minibus berhenti di jalan besar dua ratus meter dari sana. Klinik dr. Suherman dapat dicapai tanpa melewati jalan rusak.

Kirana berdiri di kamar yang menghadap halaman.

"Yang ini untuk tidur," katanya. "Kamar depan bisa jadi ruang kerja. Kalau nanti bayi lahir, meja gambar bisa dipindah ke ruang tengah."

Bagas tidak mengatakan bahwa tempat itu terlalu kecil untuk dua bayi. Ia mengukur lebar pintu dengan langkah, membayangkan kereta bayi melewatinya, lalu menulis kebutuhan membuat jalur bebas dari sudut tajam.

"Kamu suka?" tanyanya.

"Aku suka karena bisa kuatur sendiri. Bukan karena sempurna."

Mereka membaca kontrak bersama. Uang jaminan satu bulan, sewa dibayar bulanan selama enam bulan pertama, daftar kerusakan terlampir, dan tidak ada larangan bekerja dari rumah selama tidak mengganggu tetangga.

Kirana memotret meter listrik, angka meter air, setiap noda lama, serta retakan tipis di dekat pintu belakang. Pemilik ikut muncul dalam satu video singkat sambil menyebut tanggal dan mengakui kondisi awal. Dengan begitu, kerusakan lama tidak dapat dibebankan kepada mereka ketika kontrak berakhir.

Mereka juga berjalan sampai ujung gang. Ada lampu jalan, pos ronda yang aktif pada malam hari, warung kebutuhan harian, dan jalur menuju halte yang cukup rata. Nomor ketua lingkungan dicantumkan di papan dekat pos. Kirana menyalinnya, lalu bertanya kepada seorang tetangga perempuan tentang banjir dan keamanan. Jawabannya tidak sepenuhnya manis, tetapi rinci. Dua tahun lalu air pernah masuk ke ujung gang, tidak sampai rumah tersebut.

Kirana meminta satu tambahan: hanya nama mereka dan pemilik yang boleh menerima salinan kunci, kecuali ada persetujuan tertulis untuk keadaan darurat.

Bagas menyetujui. Ia membayar uang jaminan setelah pemilik menandatangani kontrak dan menyerahkan dua kunci baru. Bukti transfer dikirim kepada Kirana dan disimpan bersama salinan kontrak.

Pasangan lain memilih melihat rumah berikutnya.

"Jadi ini rumah kita?" Bagas bertanya ketika mereka berdiri di teras kosong.

Kirana menggenggam satu kunci. Logamnya masih mengilap.

"Ini rumah sewa yang kita pilih," katanya. "Kata *rumah kita* harus diisi pelan-pelan."

"Aku bisa mulai dengan sapu."

"Mulai dengan memastikan cat tembok tidak berbau tajam. Aku tidak mau tidur di ruangan yang baru dicat tanpa ventilasi."

"Baik."

Mereka sepakat pindah setelah dua hari udara mengalir dan noda dapur benar-benar mengering. Bagas akan membersihkan debu berat bersama Gunawan. Kirana hanya mengatur letak barang dan memeriksa daftar kebutuhan.

Saat kembali ke wisma, Bu Marni menunggu di ruang depan.

"Ada hal yang belum saya ceritakan pagi tadi," katanya.

Bagas langsung berhenti. "Tentang kemarin?"

"Tentang semalam, setelah semua orang pulang."

Bu Marni mengambil buku tamu. Pukul sebelas kurang seperempat, dua remaja datang membawa spidol cat dan selembar kertas bertuliskan tuduhan terhadap Kirana. Mereka mengaku hanya ingin menempelkan kertas di pagar agar penghuni tahu siapa yang tinggal di dalam.

"Saya tidak izinkan," katanya. "Pengurus malam memotret kertasnya, mencatat ciri mereka, lalu menyuruh mereka pergi. Mereka tidak masuk dan tidak melihat kamar Kirana."

Salah satu remaja sempat berkata bahwa alamat wisma dibagikan di sebuah grup terbuka bersama potongan video. Bu Marni tidak memaksa mereka menyerahkan ponsel. Ia hanya meminta tautan, menyimpannya, lalu menghubungi petugas keamanan kawasan untuk mendampingi sampai keduanya meninggalkan jalan depan.

Kirana membaca foto pada ponsel Bu Marni. Kalimatnya sama dengan versi video yang hanya menampilkan kebangkrutan Prawira dan tuduhan memaksa Bagas rujuk. Tidak ada satu kata pun tentang pengakuan Rangga atau perintah Melati kepada sopir.

"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Bagas.

"Karena semalam Kirana sudah mengunci diri dan perlu tidur. Pagi tadi kalian bicara. Saya menunggu sampai dia makan dan tampak tenang."

"Bu Marni membuat keputusan yang benar," kata Kirana sebelum Bagas membantah. "Sekarang kita catat sebagai kejadian terpisah."

Bu Marni mengangguk. Ia sudah melapor kepada pengelola kawasan dan meminta rekaman kamera toko di ujung jalan disimpan. Bukan untuk memburu anak-anak itu sendiri, melainkan mencari tahu siapa yang mencetak kertas dan menyuruh mereka datang.

Bagas melihat foto lagi. "Aku ingin kamu pindah secepat mungkin."

"Aku juga. Tapi bukan malam ini ke rumah yang masih berdebu. Dua hari, sesuai rencana."

"Aku bisa berjaga di depan kamar."

"Tidak. Kamu punya asrama dan tugas. Bu Marni sudah menambah pemeriksaan tamu. Kalau ada ancaman nyata, kita hubungi petugas."

Bagas mengembuskan napas melalui hidung. "Aku akan meninggalkan nomor Gunawan kepada pengurus malam."

"Dengan persetujuannya."

"Dengan persetujuannya."

Bu Marni menutup buku tamu. "Ada satu lagi. Tadi pagi seorang perempuan bernama Sri datang membawa topi dan surat kerja. Saya minta dia kembali sore karena kalian pergi."

Kirana menatap jam.

Belum sempat ia menjawab, terdengar suara langkah cepat di luar dan sebuah topi anyaman biru muncul di balik kaca pintu.

Kali ini, tamu itu membawa kabar yang sama sekali berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!