NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Retakan Ruang

Semakin jauh aku melangkah ke dalam Tartarus, udara terasa semakin tidak masuk akal.

Suhu turun drastis hingga napasku menghasilkan kepulan kabut putih tipis. Ubin batu yang tadinya basah oleh lumut kini dilapisi lapisan es tipis yang berderak setiap kali kuinjak. Obor-obor sihir di dinding lorong mulai berkedip liar, sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan absolut.

Bagi murid biasa, ini adalah mimpi buruk. Tapi dengan mata yang telah beradaptasi berkat energi Serigala Bayangan, kegelapan ini sama terangnya dengan siang hari bagiku.

"Dinding labirin ini seolah bernapas, Arthur," Nox melayang di depanku, menyentuhkan jari pucatnya ke dinding batu. Riak-riak energi berwarna keunguan memancar dari titik yang disentuhnya. "Sihir spasial di tempat ini sedang menulis ulang dirinya sendiri. Seharusnya anomali seperti ini tidak terjadi di Lantai Satu."

Aku berhenti melangkah. Mataku menatap lurus ke sebuah dinding buntu di ujung lorong.

Bukan. Itu bukan dinding buntu. Itu adalah ilusi optik yang diciptakan oleh distorsi ruang. Terdapat sebuah retakan vertikal di udara—seperti kaca yang pecah—memancarkan cahaya merah darah yang berdenyut seirama dengan detak jantung.

"Sistem dunia ini sedang panik," gumamku sambil tersenyum sinis, menyilangkan tangan di dada. "Sang Protagonis utama sedang berbaring di ranjang rumah sakit, jadi 'Takdir' mencoba mengisi kekosongan itu dengan memunculkan event atau item langka secara paksa agar alur cerita tetap berjalan. Dan kebetulan... ruang glitch ini terbuka tepat di depanku."

"Atau mungkin," Nox menoleh ke arahku dengan senyum lebar yang memamerkan gigi taringnya, "dunia ini tahu kau adalah bug yang merusak kodenya, dan retakan ini adalah jebakan mematikan yang dirancang khusus untuk menghapusmu."

"Hanya ada satu cara untuk membuktikannya."

Aku tidak membuang waktu. Tanpa keraguan sedikit pun, aku melangkah menembus retakan bercahaya merah itu.

Sensasi dingin yang luar biasa menyapu seluruh tubuhku, disusul oleh perasaan seolah ditarik paksa melalui pipa yang sempit. Detik berikutnya, aku berdiri di dalam sebuah ruangan bundar raksasa yang sama sekali tidak mirip dengan lorong labirin sebelumnya.

Lantainya terbuat dari marmer hitam yang sangat mulus, dan langit-langitnya menjulang puluhan meter ke atas, ditopang oleh pilar-pilar batu berukir sejarah peperangan kuno. Di tengah-tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah altar batu.

Dan di atas altar itu... berlutut sesosok raksasa berbaju zirah.

Tingginya hampir empat meter. Seluruh tubuhnya tertutup oleh pelat baja hitam legam yang dipenuhi paku dan rune kutukan berwarna merah menyala. Tidak ada wajah di balik helmnya, hanya kobaran api biru yang menyala sebagai matanya. Kedua tangannya yang terbalut sarung tangan besi mencengkeram gagang sebuah pedang besar berbilah hitam pekat yang tertancap ke lantai.

"Penjaga Reruntuhan Kuno," siul Nox dengan nada kagum dari atas pundakku. "Monster kelas A-. Biasanya monster ini bertugas menjaga makam raja-raja penyihir di Lantai Lima puluh ke atas. Dunia ini benar-benar tidak main-main ingin membunuhmu, Arthur."

Begitu kakiku menyentuh marmer hitam, api biru di dalam helm raksasa itu berkobar membesar.

GRRAAAARR!

Suara lenguhan logam yang bergesekan menggema di seluruh ruangan. Raksasa itu bangkit berdiri. Debu berusia ratusan tahun berjatuhan dari zirahnya. Ia menarik pedang hitam raksasanya dari lantai dengan satu sentakan keras, menciptakan retakan panjang di marmer.

"Kelas A- ya?" gumamku santai. Kulepaskan kancing kerah jasku agar lebih leluasa. "Sempurna. Pemanasan melawan murid-murid bodoh tadi membuatku mengantuk."

Tanpa peringatan, sang Penjaga Kuno mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal.

Angin yang dihasilkan tebasan itu begitu kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang merobek udara. Jika tebasan itu mengenai regu ksatria akademi, setidaknya sepuluh orang akan terbelah menjadi dua bersamaan dengan perisai mereka.

Aku tidak menghindar.

Memusatkan berat badanku ke kaki, aku mengangkat lengan kiriku, menahannya tepat di jalur tebasan pedang raksasa itu.

TRAAANNNG!!!

Suara benturan logam berdenting luar biasa keras, memekakkan telinga. Gelombang kejutnya meledak ke segala arah, menghancurkan pilar-pilar batu di dekat kami. Lantai marmer di bawah kakiku hancur berkeping-keping akibat tekanan yang kuterima.

Tapi aku? Aku tidak bergeser satu sentimeter pun.

Lengan kiriku, meski lengan jas seragamnya robek tak bersisa, dengan kokoh menahan bilah pedang raksasa itu. Tulang obsidianku meredam seluruh kekuatan hantaman tersebut seolah itu hanya pukulan bantal.

Sang Penjaga Kuno mematung sesaat. Api biru di matanya berkedip, seolah kecerdasan buatannya kebingungan memproses fakta bahwa manusia kecil di depannya tidak hancur menjadi bubuk daging.

"Tenagamu lumayan," ucapku datar. "Tapi pedang raksasamu ini... terlalu lambat."

Kutarik tangan kananku, mengalirkan mana kegelapan yang sangat pekat ke dalam kepalan tanganku hingga tanganku seolah dibalut oleh sarung tangan bayangan. Kutarik napas panjang. Sirkulasi Vespera: Tingkat Dua.

Aku memukul lutut berlapis baja sang Penjaga.

BAM!

Zirah baja yang dirancang untuk menahan sihir meriam itu penyok ke dalam. Sang Penjaga kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut dengan suara dentuman keras.

Sebelum raksasa itu sempat memulihkan posisinya, aku melompat naik ke atas lututnya, lalu melenting tinggi hingga posisiku sejajar dengan helmnya. Kusatukan kedua tanganku, memadatkan energi kegelapan absolut, dan menghantamkannya tepat ke wajah besi monster itu.

KRAAAK!

Helm baja tebal itu hancur berantakan. Api biru di dalamnya berhamburan. Sihir kegelapanku dengan rakus merayap masuk ke dalam celah zirah, melahap sirkuit mana yang menghidupkan monster kuno itu dari dalam.

Sang Penjaga Kuno bergetar hebat. Pedang raksasanya terlepas dari genggamannya dan jatuh berdebum ke lantai. Dalam hitungan lima detik, seluruh cahaya magis di tubuhnya padam. Raksasa setinggi empat meter itu ambruk ke belakang, hancur menjadi tumpukan pelat baja rongsokan yang tak lagi bernyawa.

Aku mendarat dengan mulus di lantai marmer, menepuk-nepuk debu dari pundakku.

"Kau benar-benar curang, tahu tidak?" keluh Nox, melayang turun untuk memeriksa bangkai zirah itu. "Pertarungan bos kelas A- yang seharusnya memakan waktu tiga bab novel, kau selesaikan dalam satu pukulan uppercut. Tidak ada seninya!"

"Efisiensi adalah bentuk seni tertinggi, Nox," balasku.

Perhatianku kini tertuju pada pedang hitam raksasa yang tadi dijatuhkan oleh sang Penjaga. Saat aku melangkah mendekat, pedang itu tiba-tiba menyusut. Bentuknya yang tadinya sebesar batang pohon berubah dengan cepat, menyesuaikan dengan fluktuasi mana di udara, hingga akhirnya menjadi sebilah pedang panjang yang ramping, mematikan, dan proporsional untuk ukuran manusia.

Bilahnya hitam tanpa pantulan cahaya, seolah menyerap segala sesuatu di sekitarnya. Gagangnya terbalut kulit naga asli.

Aku memungutnya. Begitu tanganku menggenggam gagangnya, pusaran Mana Core gelapku beresonansi kuat. Energi hitam mengalir dari lenganku, masuk ke dalam pedang, dan bilah itu seketika memancarkan kabut bayangan yang sangat dingin.

Pedang yang bisa beradaptasi dan menyalurkan elemen murni tanpa hancur. Ini jauh lebih baik dari pedang Mythril rongsokan yang kuberikan pada Leon.

"Taring Abyss," gumamku, memberikan nama pada senjata baruku. Kuayunkan pedang itu sekali. Udara di depanku terbelah tanpa suara.

"Looting yang bagus," Nox bertepuk tangan pelan. "Sekarang kau punya pedang yang tidak akan patah jika kau salurkan sihir iblismu. Lalu, mau ke mana kita sekarang?"

Aku belum sempat menjawab ketika sebuah suara desingan tajam membelah udara dari arah luar ruangan ini.

DHUAAAR!

Sebuah suar cahaya berwarna emas meledak di langit-langit labirin yang tinggi di kejauhan. Pendarannya sangat terang hingga menembus celah-celah distorsi ruang.

Suar Emas. Itu bukan suar bantuan dari murid biasa. Di Akademi Solaria, hanya anggota elit Komite Kedisiplinan yang membawa Suar Emas untuk kondisi darurat tingkat bencana.

Dan kelompok Komite Kedisiplinan yang masuk ke labirin ini dipimpin langsung oleh sang Ketua: Cecilia von Arnault.

"Wah, wah," mata emas Nox berbinar jahil. "Tampaknya si gadis arogan berambut pirang itu sedang dalam masalah besar. Anomali labirin ini pasti memunculkan monster level tinggi di rutenya juga. Kau mau menyelamatkannya layaknya pahlawan sejati?"

Aku menyarungkan Taring Abyss ke pinggangku dan merapikan sisa jasku.

"Menyelamatkannya? Tidak. Aku bukan Leon," jawabku sambil melangkah keluar menembus retakan ruang, kembali ke lorong labirin yang lembap. "Tapi Cecilia adalah kunci penting untuk politik faksi akademi. Jika dia mati terlalu cepat, keseimbangan kekuasaan akan bergeser pada Pangeran Julian. Aku tidak bisa membiarkan aset berharga hancur sebelum kuperas habis."

Aku menyeringai di dalam kegelapan. "Ayo kita lihat, seberapa putus asanya sang Nona Arnault hingga sudi meminta bantuan."

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!