NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Penghulu Jin Kafir, Raja Iblis Kampung

Aku masih di dalam masjid. Bu Wiwik Ibu Angkatku dan Rania sudah aku selamatkan dari kamar gaib Surabaya. Sukma mereka sudah kembali ke tubuh asli di Surabaya, di video call mereka sudah tidur pulas.

Tapi di masjid Krajan, kitab kulit kerbau Mbah Suro Joyo di lemari kayu tua berasap. Ujung kitabnya hitam terbakar sedikit. Asap hitam kecil tadi yang coba bakar kitab, itu bukan Jin kecil, itu utusan.

Malik pegang kitab itu, padamkan api pakai air putih, "Ini peringatan. Kalau kitab ini terbakar habis, semua mantra Jin Islam hilang, 300 Jin Islam di sini akan buta, tidak tahu cara perang..."ucap Malik.

Kiai Jirji buka halaman tengah kitab, halaman 143, ada gambar. Gambar makhluk tinggi besar, kepala kerbau, badan manusia, tangan empat, kaki kuda, bawa gada tulang sapi. Di bawah gambar tulisan tangan Mbah Suro Joyo tahun 1984: "JANGAN SEBUT NAMANYA. KALAU DISEBUT, DIA DATANG."

Aku bertanya, "Siapa? tanyaku.

Kiai Jirji tutup kitab pelan, "Penghulu Jin Kafir. Raja Iblis Kampung. Nama aslinya tidak boleh disebut di dalam masjid. Kita selama ini sebut dia Banaspati, itu cuma gelar. Nama aslinya lebih tua dari dusun ini...."ucap Kiai Jirji.

Ibu kandungku Mira yang masih setengah badan di retakan dua meter bercahaya putih, dia dengar nama itu, wajahnya pucat, "Arga, Ibu kenal dia, dia yang tarik Ibu tahun 2009..."ucap ibuku.

Belum selesai Ibu berbicara, tanah tulang di luar masjid bergetar. Bukan getar biasa seperti gempa. Getarannya berirama, seperti langkah kaki besar.

DUK... DUK... DUK...

400 pasukan Jin Kafir yang masih kepung masjid , mereka semua langsung berlutut, kepala tunduk ke tanah. Tidak ada yang berani berdiri.

Malik pucat, "Dia datang... Penghulunya datang..."ucap Malik.

Dari sawah timur, yang tadinya gelap, muncul bayangan besar. Tinggi. Sangat tinggi.

Pertama kelihatan tanduknya dulu. Dua tanduk kerbau melengkung besar, panjangnya dua meter satu tanduk, hitam, retak-retak, ada darah kering di ujungnya.

Lalu kepalanya. Kepala kerbau, tapi matanya bukan mata kerbau, matanya mata manusia, merah, ada air mata darah. Hidungnya keluar asap hitam pekat, setiap dia napas, padi di sawah yang masih hidup langsung mati jadi abu.

Badannya manusia, tapi besar, empat meter, otot-ototnya seperti akar beringin, hitam, ada tulisan ayat yang dibakar menempel di kulitnya, ayat-ayat yang dia bakar , dia tempel di badannya seperti tato. Setiap ayat yang dia bakar, dia pakai jadi baju besi.

Tangannya empat. Tangan kanan atas bawa gada tulang sapi besar, gada yang selama ini dia pakai. Tangan kanan bawah bawa kitab Mbah Suro Joyo yang palsu, kitab yang sudah dibakar setengah. Tangan kiri atas bawa rantai, di ujung rantai ada dua puluh tengkorak anak kecil bermata hitam. Tangan kiri bawah kosong, tapi kukunya panjang satu meter dan hitam.

Kakinya bukan kaki manusia, kaki kuda, tapi kakinya tulang, tidak ada daging, setiap langkah, tanah tulang di bawahnya retak jadi lubang hitam dua meter.

Itu Penghulu Jin Kafir. Raja Iblis Kampung. Raja asli Dusun Krajan sebelum Mbah Suro Joyo datang tahun 1984.

Dia jalan pelan ke masjid, setiap langkah, kubah hitam , sekarang jadi lagi pelan-pelan dari asap napasnya.

Dia berhenti di depan pintu masjid, jarak sepuluh meter.

Dia tidak masuk, karena masjid masih ada cahaya putih dua meter dari retakan. Dia tidak bisa masuk.

Dia bicara, suaranya bukan satu suara, tapi seribu suara warga yang pernah kesurupan, laki perempuan anak kecil, semua berbicara barengan.

"PENJAGA BARU... ARGA... KAU TULIS AYAT PAKAI DARAHMU DI SURABAYA... KAU BAKAR BALIK APIKU... BAGUS... SEKARANG AKU DATANG SENDIRI... AKU PENGHULU KAMPUNG INI... SEBELUM MBAH SURO JOYO, SEBELUM MASJID INI ADA, KAMPUNG INI MILIKKU... MEREKA BIKIN MASJID DI ATAS KANDANGKU... MEREKA KUBUR IBU MU MIRA DI SUMURKU... SEKARANG KAU MAU TUTUP KANDANGKU PAKAI DARAHMU?"

Aku berdiri di pintu masjid, tongkat cendana sudah hitam mati, tidak ada cahaya. Aku cuma punya darahku.

Ibu Mira dari retakan teriak, "Arga jangan jawab! Kalau kau jawab namanya, kau terikat janji!"

Penghulu Jin Kafir itu angkat tangan kiri bawah yang kukunya panjang satu meter, dia cakar tanah tulang di depan masjid.

Cakarnya bikin garis panjang, dari sawah sampai jembatan bambu. Garis itu keluar api hitam.

"GARIS INI BATAS! KALAU KAU KELUAR DARI MASJID LEWAT GARIS INI, KAU SETUJU PERANG SATU LAWAN SATU DENGAN AKU! TIDAK ADA JIN ISLAM, TIDAK ADA WARGA, HANYA KAU DAN AKU! KALAU KAU MENANG, AKU LEPAS KAMPUNG INI DARI PETA HILANG DAN KAU BAWA IBU MU PULANG ! KALAU KAU KALAH, KAU JADI PENGGANTI IBU MU DI SUMUR, DAN KAMPUNG INI AKU TELAN!"

Semua diam. 300 Jin Islam tidak berani maju, karena ini tantangan penghulu, hanya penjaga sah yang boleh terima.

Malik bisik di belakangku, "Arga, jangan! Dia Raja Iblis Kampung, dia lebih kuat dari Banaspati yang kemarin, Banaspati cuma anak buahnya! Kalau kau lawan sekarang dengan tongkat mati, kau mati!"

Aku lihat Ibu Mira setengah badan, dia menangis, "Arga, Ibu sudah di sini 15 tahun, biar Ibu saja..."ucap ibuku.

Aku lihat ke belakang masjid, 40 warga peluk anaknya, Bu Lastri, Pak Min, Sari, semua lihat aku. Mereka tunggu keputusan penjaga baru.

Aku lihat HP di lantai, video call masih menyala, Bu Wiwik Ibu Angkatku di Surabaya Rania yang tidur, mereka selamat karena aku tulis ayat pakai darah. Kalau aku kalah di sini, Banaspati bisa balik lagi ke Surabaya lewat cermin dan ambil mereka lagi.

Aku tidak punya pilihan.

Aku sobek telapak tanganku lagi, darah keluar, aku oleskan darah ke ujung tongkat cendana hitam mati.

Tongkat itu menyala lagi sedikit, merah darah, bukan putih.

Aku langkahkan kaki kananku keluar dari cahaya masjid, injak tanah tulang, lewati garis api hitam yang dia buat.

Begitu kakiku lewati garis, garis api hitam itu naik jadi dinding api melingkar, kurung aku dan Penghulu Jin Kafir di dalam lingkaran api diameter dua puluh meter. Di luar lingkaran, Malik, Kiai Jirji, Ibu Mira, 300 Jin Islam, emapat puluh warga, semua tidak bisa masuk, cuma bisa melihat.

Penghulu Jin Kafir senyum, gigi kerbaunya besar kuning, "PENJAGA BARU TERIMA TANTANGAN RAJA IBLIS KAMPUNG! BAGUS! MARI KITA LIHAT, AYAT DARAHMU KUAT ATAU GADA TULANGKU KUAT!"

Dia angkat gada tulang sapi, gada itu menyala api hitam, api yang bakar ayat.

Aku angkat tongkat cendana berdarah, tongkat itu menyala api merah darah.

Dua raja kampung, satu raja iblis, satu penjaga baru, di dalam lingkaran api hitam.

Perang penghulu dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!