NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4.Hukuman salah sasaran.

Di belakang mereka, suara teriakan histeris Shi Yin dan Lian kian mendekat, disusul keributan yang memecah keheningan sore itu.

"Cepat lari! Ke arah kolam!" teriak seorang pelayan yang berlari mendekat dengan wajah pucat. "Masuk ke air, lebah tidak akan berani mendekat!"

Tanpa pikir panjang, Shi Yin dan Lian melompat serentak ke dalam kolam besar yang jernih di tengah halaman. Percikan air memercik ke mana-mana, rambut dan gaun mereka basah kuyup menempel di tubuh, namun mereka tetap menahan kepala di atas permukaan air sambil mengibas-ngibaskan tangan agar tidak ada serangga yang mendekat. Beberapa saat berlalu, suara dengungan perlahan menjauh, dan pelayan-pelayan segera mengulurkan tangan menarik mereka naik ke tepi kolam.

"Kakiku... lenganku... wajahku!" isak Shi Yin, wajahnya memerah menahan sakit dan amarah. "Siapa yang berani melakukan ini?! Siapa yang merusak sarang lebah itu?!"

"Saya melihat sesuatu, Nona..." ucap salah satu pelayan yang berdiri agak jauh, suaranya gemetar. "Tadi saya bergegas ke sini, dan melihat bayangan orang berlari keluar dari halaman Nona."

"Dia berani?!" Shi Yin menghentakkan kakinya yang basah, air memercik ke mana-mana. "Tangkap mereka! Bawa ke hadapanku sekarang juga! Aku ingin tahu siapa yang berani mempermainkanku seperti ini!"

Para penjaga yang bertugas segera berlari keluar gerbang kediaman, menyisir setiap sudut lorong dengan langkah lebar, mencari sosok yang dicurigai.

Sementara itu, di depan pintu gerbang...

Li Hua masih menatap Li Yun, jantungnya berdegup kencang, napasnya belum tenang. Tangan pemuda itu masih menahan pinggangnya, dekat, hangat, membuatnya seakan lupa bernapas.

"Terima kasih..." ucapnya pelan, menarik tangannya perlahan.

Namun seketika itu juga, Li Yun melepaskan genggamannya dengan kasar, seakan menyentuh sesuatu yang menjijikkan. Li Hua kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di tanah, telapak tangannya terasa perih terkena kerikil.

"Aduh!"

"Nona!" Qiao'er segera berlutut membantunya berdiri, membersihkan debu di pakaian tuannya dengan cemas. "Apakah terluka, Nona? Maafkan hamba..."

Li Hua mengusap pinggangnya yang terasa sakit, menatap Li Yun dengan tatapan tak percaya. "Dasar pria menyebalkan! Aku tarik ucapan terima kasihku tadi!"

Li Yun hanya menatapnya dingin, tanpa sedikit pun terlihat menyesal. "Kenapa kalian berlari mengendap-endap keluar dari sana? Apa yang kalian lakukan di sana?"

Li Hua menegakkan punggungnya, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berpacu kencang. "Jangan asal tuduh! Aku... aku berlari karena... karena kebelet! Benar kan, Qiao'er?"

Qiao'er tersentak, menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk cepat sambil menunduk. "B-benar... iya, itu benar... Nona buru-buru sekali... jadi jangan mencurigai kami seperti penjahat."

Keduanya saling tatap dengan mata melotot, lalu kembali menatap Li Yun dengan senyum yang dipaksakan — kaku, gugup, jelas sekali tidak meyakinkan.

Li Yun mengerutkan kening, semakin curiga. "Kalau begitu kenapa kalian..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki banyak terdengar mendekat dari arah belakang. Li Hua menoleh sejenak, lalu segera menggenggam tangan Qiao'er erat.

"Kita pergi!" bisiknya tegas. Sebelum berlari, ia menoleh ke arah Li Yun. "Kau juga sebaiknya pergi dari sini sekarang! Kalau tidak, kau akan disalahkan atas apa yang terjadi!"

Li Yun mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu?"

Namun Li Hua tidak menunggu jawaban. Ia menarik tangan Qiao'er dan berlari menjauh secepat kilat, menyusup ke lorong samping yang sepi, menghilang di balik pepohonan rimbun sebelum siapa pun sempat melihat mereka.

Li Yun berdiri sendirian di gerbang, masih memikirkan kata-kata gadis itu, ketika sekelompok penjaga muncul di ujung jalan. Mereka melihatnya sendirian di sana, dan tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, langsung mengelilinginya.

"Ini dia! Orangnya!"

"Tangkap!"

"Jangan biarkan dia kabur!"

Dua orang penjaga mencengkeram lengan Li Yun dengan kuat, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk membela diri.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Li Yun, berusaha melepaskan diri. "Aku tidak melakukan apa-apa!"

"Diam saja, Pangeran! Nona Shi Yin sudah menunggumu!"

Ia dibawa paksa masuk kembali, menembus lorong yang tadi dilalui Li Hua, langsung menuju kediaman Shi Yin. Di dalam kamar utama, tirai kain tebal tertutup rapat, menyembunyikan sosok Shi Yin yang duduk di kursi empuk di baliknya. Hanya siluet tubuhnya yang terlihat, dan sesekali suara isak tangis tertahan terdengar pelan.

"Majukan dia..." perintah suara itu, penuh kemarahan yang tertahan.

Li Yun didorong ke depan hingga berdiri tepat di tengah ruangan.

"Lagi-lagi kau..." ucap Shi Yin, suaranya meledak berisi amarah. "Beraninya kau melakukan hal seperti ini padaku! Apa aku tidak cukup menyiksamu, sehingga kau berani membalas dengan cara sehina ini?"

"Aku tidak mengerti maksud Nona," jawab Li Yun tenang, menunduk hormat namun tidak tampak takut. "Saya tidak berada di halaman Nona tadi."

"Bohong!"

Benda keras melayang dari balik tirai — cangkir porselen — menghantam dahi Li Yun tepat di tengah. Darah segar seketika menetes perlahan, mengalir turun membasahi pelipisnya. Ia tidak mengerang, tidak mundur, hanya menahan rasa perih itu dengan rahang yang mengeras.

"Kau pikir aku bodoh?" bentak Shi Yin lagi. "Siapa lagi yang akan melakukannya selain kau? Kau membenci aku, bukan? Kau ingin melihatku menderita!"

"Saya tidak melakukan itu, Nona."

"Diam! Aku tidak ingin mendengar alasanmu!" Shi Yin bernapas memburu, lalu berteriak pada pelayan di sampingnya. "Bawa dia! Kurung pangeran tak berguna itu di ruangan tertutup di gudang belakang! Lalu lepaskan kawanan lebah itu ke dalam ruangan, persis seperti yang dia lakukan padaku hari ini!"

"Nona... bukankah itu terlalu..." coba membantah salah satu pelayan pelan.

"Kau mau ikut disiksa juga?!" bentak Shi Yin tajam.

"Tidak, Nona! Baik, kami laksanakan!"

Li Yun ditarik keluar lagi, tanpa belas kasihan dibawa ke bangunan kecil di bagian paling belakang kediaman — ruangan batu tanpa jendela besar, hanya ada celah udara kecil di bagian atas. Pintu tertutup rapat di belakangnya, dan dari luar terdengar suara sayap berdengung, diikuti dengungan yang semakin keras. Li Yun mundur ke sudut ruangan, menutupi wajahnya dengan lengan, namun ia tidak berteriak. Ia hanya diam, menahan rasa sakit yang datang satu per satu, seakan sudah terbiasa dituduh, disakiti, dan ditinggalkan tanpa pembelaan.

Sementara itu, di kediaman kecil di halaman belakang...

Li Hua duduk santai di kursi rotan dekat jendela, menyeruput teh hangat sambil tersenyum puas. Di meja di hadapannya tersedia piring berisi camilan manis yang baru saja diantar pelayan. Qiao'er duduk di kursi seberangnya, namun tampak gelisah, sesekali melirik ke arah pintu seakan takut seseorang akan datang mengetuknya setiap saat.

"Lihat saja tadi... bagaimana mereka berdua lari terbirit-birit," ucap Li Hua sambil tertawa pelan, mengingat kembali momen itu. "Sungguh pemandangan yang menyenangkan."

"Tapi Nona..." Qiao'er menelan ludah, suaranya berbisik cemas. "Bagaimana kalau ketahuan? Bagaimana kalau mereka mencari tahu pelakunya?"

Li Hua meletakkan cangkir tehnya perlahan, tersenyum tenang. "Tenang saja, Qiao'er. Tidak ada yang melihat kita. Mereka tidak akan tahu."

"Tapi..."

"Sudahlah, nikmati saja tehnya," potong Li Hua lembut. "Aku tidak bisa membayangkan wajah mereka bengkak-bengkak karena sengatan lebah. Pasti lucu sekali."

Qiao'er akhirnya ikut tersenyum, membayangkannya membuat rasa takutnya sedikit berkurang. "Iya... memang pantas bagi Nona Shi Yin. Dia sudah terlalu lama menyakiti banyak orang."

Mereka berdua tertawa pelan sore itu, menikmati ketenangan yang terasa begitu manis setelah berhasil membalas kejahatan. Namun tidak ada yang tahu — di ruangan batu yang gelap dan sepi itu, seseorang lain justru menanggung semua akibat dari rencana mereka. Li Yun yang tidak bersalah, kembali menjadi korban kekejaman yang seharusnya menimpa orang lain. Sore itu, di tengah rasa sakit yang menyengat, nama seseorang terucap pelan dari bibirnya yang gemetar — bukan kebencian, melainkan keraguan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!