Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik di Kantor
Suara deru mesin truk besar memecah kesunyian malam di kawasan perumahan tersebut. Bagas yang baru saja memejamkan mata tersentak bangun, jantungnya berdegup kencang seiring dengan lampu sorot yang menyapu dinding kontrakan dari balik jendela. Ia bergegas bangkit, menyambar celana pendeknya, dan berlari kecil menuju pintu.
Di luar, Ibu Melati dan Siska sudah berdiri dengan wajah pucat pasi. Beberapa orang berpakaian rapi dengan rompi bertuliskan perusahaan logistik terlihat turun dari truk besar, diikuti oleh Pak Hendra yang berjalan tenang di belakang mereka. Pria berjas hitam itu membawa sebuah map biru yang tampak tebal, wajahnya memancarkan ketenangan yang justru membuat keluarga Bagas merasa terancam.
"Apa maksud kedatangan kalian selarut ini?" teriak Ibu Melati sambil memegangi dadanya yang sesak. "Apakah kalian tidak punya sopan santun sama sekali untuk tidak mengganggu orang di tengah malam?"
Pak Hendra berhenti tepat dua meter di depan mereka, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Ia membuka map tersebut dan memperlihatkan selembar kertas resmi dengan segel pengadilan yang berkilau di bawah lampu jalan.
"Malam, Pak Bagas dan Ibu Melati," sapa Pak Hendra datar. "Saya datang atas perintah pengadilan untuk mengeksekusi sisa aset yang masih tertahan di lokasi ini. Sesuai dengan surat perintah yang sudah ditandatangani hakim, semua perabotan mewah yang dipindahkan dari rumah utama tanpa izin harus dikembalikan sekarang juga."
Bagas terbelalak, matanya menatap nanar ke arah truk yang pintu belakangnya baru saja terbuka. "Maksud Anda? Itu semua milik kami! Laras sudah mengambil rumahnya, apa itu belum cukup?"
"Itu bukan milik kalian," sahut Pak Hendra dengan nada tajam. "Itu adalah inventaris yang terdaftar atas nama perusahaan Laras Beauty, bukan atas nama keluarga kalian. Saya sarankan jangan menghalangi petugas, karena jika kalian melawan, saya akan memanggil pihak kepolisian untuk membantu proses ini."
Siska yang berdiri di samping ibunya gemetar hebat. Ia menatap ke arah petugas yang mulai masuk ke dalam kontrakan sempit itu tanpa permisi. Suara perabotan yang digeser secara kasar memenuhi ruangan, terdengar sangat menyedihkan di telinga mereka.
"Bagas, lakukan sesuatu! Jangan biarkan mereka mengambil meja rias kesayanganku!" teriak Siska histeris sambil berusaha menarik tangan salah satu petugas.
Petugas itu melepaskan tangan Siska dengan kasar namun tetap menjaga kesopanan minimal. "Nona, tolong jangan menghalangi tugas kami. Ini adalah sita eksekusi, jika Anda menahan barang ini, Anda bisa terkena pasal pidana penggelapan aset."
Bagas terdiam membeku. Ia menatap Laras yang ternyata berdiri di dekat mobil hitam di seberang jalan, bersandar di pintu mobil dengan tangan terlipat di dada. Laras mengenakan setelan jas wanita yang sangat elegan, tampak begitu kontras dengan lingkungan kumuh tempat mereka tinggal saat ini.
"Laras! Keluar kamu dari mobil itu!" teriak Bagas dengan suara yang pecah. "Apakah kamu puas melihat kami hancur seperti ini? Hah?"
Laras berjalan mendekat dengan langkah mantap. Sepatu hak tingginya beradu dengan tanah becek, menciptakan suara yang ritmis dan mengintimidasi. Ia berhenti di depan mantan suaminya, menatap Bagas dengan tatapan mata yang benar-benar asing, tanpa rasa benci, namun juga tanpa sisa cinta sedikit pun.
"Aku tidak di sini untuk menikmati kehancuranmu, Bagas," ujar Laras dengan suara yang tenang namun menusuk hingga ke tulang. "Aku di sini karena hakku harus kembali. Kalian sudah hidup di atas properti dan fasilitas milikku selama tiga tahun, dan saat ini, aku hanya mengambil apa yang seharusnya memang milikku."
Ibu Melati maju selangkah, wajahnya merah padam karena amarah. "Kamu wanita tidak tahu diuntung! Kamu lupa siapa yang mendidikmu saat kamu masih gadis kampung dulu? Kamu pikir kamu bisa sombong hanya karena punya uang hasil menipu perusahaan orang lain?"
Laras tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Ibu Melati terbungkam sejenak. "Ibu masih berani berbicara soal sopan santun setelah apa yang kalian lakukan padaku? Kalian mencuri asetku, memfitnahku di depan umum, dan membiarkan Bagas berselingkuh tepat di depan mataku sendiri."
Laras memalingkan wajah, menatap petugas yang mulai mengeluarkan kursi-kursi mahal dari dalam kontrakan. "Pak Hendra, pastikan tidak ada satu barang pun yang tertinggal. Termasuk lampu gantung kristal yang mereka pasang secara paksa di langit-langit."
"Baik, Nyonya Laras," jawab Pak Hendra sambil memberikan instruksi tambahan kepada para pekerja.
Siska mulai menangis meraung-raung, ia merasa harga dirinya benar-benar terkoyak. Tetangga sekitar mulai berkerumun, mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah keluarga Bagas yang kini tampak seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Lihat itu, mereka ternyata memang tinggal di sini dengan barang curian," bisik salah seorang ibu tetangga kepada yang lainnya. "Sudah jatuh tertimpa tangga, pantas saja kalau mereka diperlakukan seperti itu."
Bagas merasa dunianya seolah runtuh saat melihat kasur mahal miliknya diangkut keluar oleh petugas. Ia tidak bisa lagi menahan amarah, namun tangannya terkepal lemah di samping tubuhnya. Ia tahu, sekali saja ia memukul, ia akan berakhir di jeruji besi malam ini juga.
"Laras, tolong. Beri kami sedikit keringanan," bisik Bagas dengan suara yang memohon. "Siska tidak punya tempat tidur lagi jika kalian mengambil semuanya. Setidaknya biarkan kami memiliki sesuatu."
Laras menoleh pelan ke arah Bagas, tatapan matanya tetap datar. "Dulu, saat aku meminta kalian berhenti menghinaku, apakah kalian memberiku keringanan? Saat aku harus tidur di gudang karena kalian menganggap kamar utama terlalu bagus untukku, apakah kalian peduli?"
Bagas menunduk, tidak berani membalas tatapan Laras. Ingatan tentang masa-masa kejam itu kembali menghantuinya, membuktikan bahwa apa yang ia alami saat ini hanyalah cerminan dari perbuatannya sendiri.
"Ini adalah harga dari keserakahan yang kalian tanam selama tiga tahun," lanjut Laras. "Sekarang, nikmati malam kalian dengan cara yang kalian inginkan. Pak Hendra, saya pergi dulu. Segera selesaikan tugas ini tanpa meninggalkan satu baut pun."
Laras berbalik arah menuju mobilnya, meninggalkan keluarga Bagas yang kini terduduk di lantai tanah yang dingin. Tak ada lagi kata-kata yang bisa mereka ucapkan. Di dalam ruangan, barang-barang yang dulu mereka banggakan kini menghilang satu per satu, menyisakan kekosongan yang menyesakkan dada.
Suara truk yang menjauh terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati bagi harga diri mereka. Siska masih terisak di sudut ruangan, sementara Ibu Melati menatap pintu yang terbuka lebar dengan tatapan kosong, kehilangan tenaga untuk memaki.
Malam itu, kontrakan kecil tersebut benar-benar menjadi saksi bisu dari akhir dari sebuah kesombongan yang tragis. Bagas masih berdiri di depan pintu, menatap bayangan mobil Laras yang perlahan lenyap di tikungan jalan, menyadari bahwa mulai besok, ia bukan lagi pria yang memiliki segalanya, melainkan pria yang harus mulai belajar hidup dari nol di tengah debu dan kehinaan.