NovelToon NovelToon
Incaran Sang Dokter Bedah

Incaran Sang Dokter Bedah

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:157.2k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.

Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.

Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.

Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!

"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Black Cobra

“Boss.”

Bonar melangkah mendekati meja komando. “Ada satu hal lagi.”

Theo mengalihkan pandangan. “Apa?”

Bonar memberi isyarat kepada salah satu hacker. Layar utama berubah.

Bukan lagi rekaman Milka di rumah sakit. Melainkan rangkaian gambar dari beberapa lokasi berbeda. Satu gambar memperlihatkan seorang pria berdiri di depan sebuah warung. Gambar kedua menunjukkan sosok yang sama berada di seberang kantor kepolisian. Gambar ketiga memperlihatkan pria itu duduk di dalam mobil.

Dan gambar keempat, Milka. Sedang keluar dari kantor polisi.

Theo tidak berkedip. “Berapa lama?”

“Empat hari.”

Jawaban Bonar membuat rahang Theo mengeras.

“Empat hari terakhir orang itu mengikuti Bu Polisi,” lanjut Bonar. “Tapi kami belum bisa memastikan apakah dia orang yang sama dengan yang terlihat di rumah sakit.”

“Bisa jadi mereka lebih dari satu.” Naga menyahut dari belakang.

Theo mengangguk tipis. “Lanjutkan.”

Bonar kembali mengganti layar. Kali ini muncul sebuah foto lama. Foto yang kualitasnya jauh lebih buruk. Sebuah gudang tua yang memiliki pintu besi, persis seperti markas rahasia mereka tetapi di lokasi berbeda. Di sana, berjejer beberapa mobil hitam.

Dengan simbol kepala ular yang sama.

Theo menatap foto tersebut cukup lama. Sudah lima tahun berlalu semenjak terakhir kali simbol itu muncul di hadapan mereka.

Lima tahun sejak White Scalpel kehilangan salah satu jalur operasinya akibat Black Cobra.

“Dulu mereka menghilang begitu saja,” gumam Naga.

“Bukan menghilang,” jawab Theo dengan datar. “Mereka sengaja bersembunyi.”

Telunjuknya terangkat, menunjuk simbol ular hitam di layar datar tersebut. “Dan sekarang mereka keluar karena merasa sudah cukup kuat.”

Bonar mengangguk. “Mereka mulai mengikuti Bu Polisi karena merasa penyelidikan ini sudah mengusik mereka.”

Theo terdiam. Mata Theo perlahan menyipit. “Sebenarnya, bukan Milka yang mereka incar.”

Bonar mengerutkan kening.

Theo berbalik. “Mereka mengincar apa yang sedang Milka temukan.”

Ruangan kembali hening.

Naga akhirnya memahami maksudnya. “Berarti penyelidikan Bu Polisi sudah terlalu dekat?”

“Ya.” Theo berjalan kembali menuju meja komando.

“Dan kalau mereka sudah mulai mengawasi pergerakannya ...” Tangannya berhenti di atas meja. “... berarti mereka menyadari penyelidikan ini sudah mengarah kepada mereka.”

Bonar menarik napas. “Kalau begitu, kita perlu mengamankan Bu Polisi?”

“Tidak.” Jawaban Theo terlalu cepat.

Bonar dan Naga saling berpandangan.

Theo mengambil ponselnya. “Kita tidak akan mengubah rutinitas Milka.”

“Boss?”

“Kalau tiba-tiba dia mendapat pengawalan, Black Cobra akan tahu kita telah menyadari keberadaan mereka.” Theo menatap layar yang menampilkan wajah Milka.

Wajah yang beberapa menit lalu membuat sudut bibirnya sempat terangkat. Kini tatapannya justru berubah dingin.

“Biarkan mereka merasa masih memegang kendali.”

Bonar mulai memahami arah pikirannya. “Jadi kita biarkan mereka mengikuti Bu Polisi?”

“Bukan.” Theo memasukkan ponselnya ke saku.

“Kita biarkan mereka mengikuti umpan.”

Naga menyeringai tipis. “Nah. Itu baru Big Boss kami.”

Namun Theo tidak tersenyum, wajahnya masih sama datarnya. “Bonar.”

“Siap.”

“Cari tahu siapa pria bertato itu. Kalau perlu Cari sampai ke akarnya.”

Bonar mengangguk.

“Dan Naga.”

“Ya?”

Theo berhenti sejenak. “Mulai malam ini, jangan biarkan Milka pulang sendirian.”

Naga mengangkat alis. “Bukannya tadi Boss bilang jangan sampai Black Cobra tahu kita mengawasi?”

“Bukan aku yang akan mengawasinya.” Theo menatap tajam. “Kau.”

Naga langsung menghela napas. “Kenapa gue lagi?”

Theo sudah berbalik. “Karena kau paling banyak bicara.”

“Lah, Bonar juga—”

“Fokus.” Satu kata. Naga langsung bungkam.

Bonar menahan tawa.

Namun baru beberapa langkah Theo berjalan, suara Bonar kembali terdengar.

“Boss.”

Theo menghentikan langkahnya.

“Kalau Black Cobra benar-benar kembali setelah lima tahun...” Bonar menatap simbol ular hitam di layar. “...bukankah kita harus menganggap mereka mungkin sudah jauh lebih besar daripada sebelumnya?”

Theo tidak langsung menjawab. Tangannya mengepal perlahan. “Justru karena itu.”

Ia menoleh dengan tatapan dingin. “Kali ini jangan beri mereka kesempatan untuk menghilang lagi.”

.

.

.

Malam hari, saat Theo sedang memeriksa pasien di rumah sakit, ia mendapat panggilan dari Naga.

"Boss, Bu Polisi tak lagi tinggal di rumahnya. Sepertinya mereka sudah pisah."

Sudut bibir Theo terangkat tipis. Hanya sesaat. Begitu singkat hingga dirinya sendiri hampir tak menyadarinya. Dengan cepat, ia memanggil Dokter Residen untuk menggantikannya.

Theo melepas jas putih yang tadi melekat, dan segera meninggalkan lokasi.

"Sekarang dia di mana?"

Di ujung telepon, Naga terdiam beberapa detik. “Itu masalahnya, Boss.”

Senyum tipis di wajah Theo perlahan menghilang. “Katakan!”

“Bu Polisi nggak pulang ke rumah orang tuanya.”

Theo terdiam. “Terus?”

“Kami kehilangan jejaknya.”

*bersambung*

1
Esther
Vando dan Irana sebentar lagi hidupmu gak akan tenang
Lisa Halik
theo
Lisa Halik
siapa itu,
Lisa Halik
akhirnya
Lisa Halik
sapa lagi itu
Lisa Halik
theo kan kangen sama milka makanya dia mau delvando bawa pasangan yang halal bukan selinkuhannya
Lisa Halik
mampir thor
Lisa Halik: tidak apa2 thor...saya tetap baca juga....
total 2 replies
Evi Lusiana
mau dong d cinrai ugal²lan ky milka
SoVay: lanjut atuh kak, udah tamat ini
total 1 replies
Mul Yenti
kalau lelaki sudah terlalu sayang dan cinta ya... seperti Theo itu
Evi Lusiana
deg degan si milka
Nie
Milka kan msh perawan ya trus baru satu bulan jg,bisa ngajuin pembatalan nikah gak sih?
WHATEA SALA
Ceritanya bagus gak bertele tele atau menye2 peran ceweknya,klu bisa instingnya Milka lebih tajam lagi sebagai penyidik.
SoVay: makasi kakakku 😚❤️ iya kemarin tu kebanyakan konflik ya. mana konflik keluarga, konflik cinta, konflik pnjahat, jd dah pusying mau fokusin kmana 🤣
total 1 replies
WHATEA SALA
Penjahat besar gak tahu klu Milka istrinya vando
Safira Aurora
dapat promo dari cynara
Katherina Ajawaila
kasihan Theo, semoga Milka ngerti maksudnya ayo, cepat di gas pool, barang ori loh, dok
Katherina Ajawaila
kapok lo, pasti kebelet pipis, kebiri aja burung nya, malu ngk atau lupa kalau istri Inter, bhsa aja, di suruh komandan istri yg periksa suami. tangkap aja msk. kin prodeo sm jalang nya biar lahiran sekalian di Prodeo 🤬
Katherina Ajawaila
Intel, mau di lawan Vando, makanya di blng in main otak bukan main lendir bunting deh jalang nya 🤬
Katherina Ajawaila
Bando, otak selakangan jd jahat terus, utk yg baik mines tanggapannya
Katherina Ajawaila
jgn mau di jd in tempat cuci botol basinya, bekas jalang nya. jorok Milka 🤑
Katherina Ajawaila
mantap kita tunggu topeng valdo akan terkuak, hancur lo sm halang mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!