NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

Tanpa sengaja eca terpeleset dan jatuh menimpa theo yang sedang ada di depannya,ia terpesona dengan postur badan theo yang bidang dan atlentis hingga eca tak fokus saat berada di atas tubuh theo

"Huaa...maaf nggak sengaja lagi, lagian lo ngapain sih di depan gue?"

Hantaman mendadak itu merenggut napas theo seketika. Punggungnya menghantam lantai dengan suara berdebum tumpul, teredam sedikit oleh karpet tipis lorong. Alih-alih melontarkan amukan, refleks tangannya justru terangkat melingkari pinggang ramping itu demi mencegah kepala sang gadis terbentur lantai keras.

Jantung theas berdegup kencang tak beraturan. Jarak yang lenyap tanpa permisi menghadirkan aroma herbal samar dan hangat napas yang menyapu leher jenjangnya. Saat menyadari sepasang mata bulat itu terpaku lama menatap lekuk tubuhnya tanpa berkedip, darah theo berdesir hebat.

Rasa panas merambat liar dari pangkal leher, membakar tuntas parasnya yang pongah.

theo memalingkan wajahnya ke samping, menggertakkan gigi guna menguasai diri dari sengatan rasa canggung yang nyaris meledakkan akal sehatnya. Cengkeramannya pada bahu lawan bicaranya sedikit mengerat sebelum mendorongnya pelan ke samping.

"Malah nyalahin gue, dasar ceroboh,"

sungut theo parau, berusaha menyembunyikan napasnya yang memburu tak menentu.

"Ngapain juga mata lo melotot begitu? Mau pingsan lagi di atas badan gue, hah? Buruan bangun."

Ketidak sengajaan yang datang kembali, karena eca terburu-buru bangun tiba-tiba tangan eca tergelincir dan terjatuh kembali tepat di depan wajah theo dengan keadaan posisi terlungkup di atas badan theo tanpa tidak disengaja bibir eca menyentuh bibir theo.

"Emmm...." 'siaaalllll'

Sengatan lembut yang mendarat tepat di atas bibirnya merenggut seluruh sirkulasi udara di paru-paru theo. Waktu seakan berhenti berputar di lorong marmer itu; aroma manis yang pekat dan kehangatan yang tak terduga mengunci setiap saraf geraknya. Lelaki yang biasanya mahir mempermainkan kata-kata itu mendadak kehilangan kuasa, tenggelam dalam kepanikan bisu yang membakar habis akal sehatnya.

Jantung theo berdegup luar biasa liar, menghantam rusuknya seolah hendak meloncat keluar. Sentuhan singkat nan basah itu mengirimkan getaran elektrik yang menjalar cepat ke seluruh persendian, membuat jari-jarinya meremas erat kain di sisi pinggang sang gadis tanpa sadar.

Detik berikutnya, theo menyentak tubuhnya sedikit menjauh, memalingkan muka dengan napas tersengal. Wajahnya yang biasa dingin kini merona hebat hingga ke batas rahang tegasnya.

"Lo... lo sengaja, ya?"

tuduh theo dengan suara tercekat yang berusaha ia buat setajam belati, meski kegugupan yang teramat nyata merusak wibawanya. Tangannya menopang bahu perempuan itu, buru-buru menegakkannya menjauh agar ia bisa menarik jarak.

"Dasar gila! Menjauh sekarang sebelum gue beneran hilang sabar!"

"Ngapain gue sengaja? Gue juga pilih-pilih kali kalau mau cium cowok, ini juga first kiss gue tauu" sontak eca sambil menutup bibirnya

"Aaargggh...udah gue jaga-jaga buat calon cowok gue nanti" 'gila,ciuman sama brondong..siall' seru dalam hati eca yang juga shock kedapatan mencium theo.

Pengakuan lantang itu menghantam egonya telak. Denyut hangat di bibirnya belum sepenuhnya sirna, meninggalkan sengatan aneh yang membuat dada theo bergemuruh kacau. Alih-alih merasa terpojok oleh tuduhan murahan, rasa angkuhnya tersulut ketika mendengar celotehan soal calon pasangan idaman yang seolah menempatkan dirinya di kasta terendah.

theo memiringkan kepala, menyeringai sinis demi mengubur rasa gugup yang nyaris menelanjanginya. Sorot matanya yang tajam menatap lurus, mengintimidasi tanpa ampun seraya merapikan ujung kausnya yang berantakan.

"Baguslah kalau itu yang pertama buat lo,"

cibir theo dengan nada datar yang menusuk, meski jakunnya bergerak naik-turun menelan ludah getir.

"Setidaknya memori pertama lo itu bibir cowok yang jauh di atas standar lo, bukan sembarang orang."

Lelaki itu melangkah mundur, menyandarkan bahunya pada kusen pintu lorong dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Matanya melirik sinis ke arah tangga bawah.

"Nggak usah drama kepanjangan. Buruan ke toilet sana, sebelum lo beneran ngompol di lorong kamar gue."

"Iya...iya bawel"

"Oh iyaa...sekali lagi, maafin gue ya!" balas eca pada theo

Permintaan maaf yang terlontar tulus itu justru terdengar seperti ejekan bagi theo. Helaan napas berat lolos dari celah bibirnya yang masih berdenyut hangat, memicu debar ganjil yang kian sulit ia kendalikan. Rasa gengsi yang menjulang tinggi menolak tunduk pada desakan rasa bersalah atau kecanggungan yang merayapi benaknya.

Ia membuang muka ke arah anak tangga yang membentang sepi, enggan membiarkan sepasang mata perempuan itu menangkap keraguan yang berkilat di balik tatapan dinginnya. theo mendengus remeh, menegakkan kembali postur tubuhnya yang sempat lunglai.

"Simpan maaf lo. Lo lebih butuh berterima kasih karena kepala lo nggak bocor di lantai gue,"

sahut theo ketus, nada suaranya mengalun datar tanpa kompromi.

Ia membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam kamar dan meraih botol losion antiseptik di atas meja rias dengan gerakan menyentak. Bau alkohol yang tajam menyeruak saat ia mengoleskannya ke siku yang sedikit lecet akibat benturan tadi. Dari lantai bawah, derap langkah samar menandakan gadis itu telah mencapai tujuannya.

"Lagian siapa suruh grasak-grusuk,"

gumam theo pelan pada udara kosong. Sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang menampakkan semburat merah di pangkal leher, ia menggeram jengkel.

"Bikin repot aja kerjanya."

...****************...

1
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!