Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyap di Tengah Riuh
Tiga tahun telah berlalu sejak kelahiran Aisyah. Gadis kecil itu kini berusia tiga tahun, tumbuh menjadi balita yang lincah, ceriwis, dan penuh energi. Ia adalah pusat gravitasi di rumah kecil keluarga Ratna. Setiap sudut ruangan dipenuhi mainan berwarna-warni miliknya, dinding-dindingnya dihiasi gambar crayon acak-acakan, dan udara selalu bergema dengan tawa renyah atau tangisan manjanya.
Bagi Ratna dan Budi, Aisyah adalah keajaiban yang tak pernah berhenti memberi kejutan. Mereka terpesona oleh setiap kata baru yang diucapkannya, setiap langkah pertama yang diambilnya, dan setiap kelucuannya yang polos. Namun, di balik sorotan lampu panggung yang terang benderang untuk si bungsu, Lily yang kini berusia delapan belas tahun dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi, perlahan-lahan tenggelam dalam kegelapan yang sunyi.
Lily tidak lagi menangis atau marah-marah seperti saat Aisyah masih bayi. Ia telah belajar untuk menjadi "anak baik" yang tidak merepotkan. Ia menyelesaikan masalahnya sendiri, memasak makanannya sendiri jika orang tuanya lupa, dan menjalani hari-harinya dalam kesendirian yang membisu. Ia merasa seperti hantu di rumahnya sendiri—ada secara fisik, namun tidak terlihat secara emosional.
Suatu sore yang panas, Lily pulang dari sekolah dengan wajah lesu. Ia baru saja menerima nilai tryout yang anjlok drastis karena ia sulit berkonsentrasi di rumah yang selalu berisik. Ia berharap bisa menemukan ketenangan dan dukungan dari orang tuanya. Namun, saat ia membuka pintu depan, pemandangan yang menyambutnya sudah bisa ditebak.
Budi sedang duduk di lantai ruang tengah, menggendong Aisyah di pangkuannya sambil tertawa-tawa. Ratna berada di dapur, sibuk membuat puding cokelat kesukaan Aisyah, sesekali menoleh dan tersenyum pada putri bungsunya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadiran Lily di ambang pintu.
"Ayo, Dek Aisyah, bilang Papa!" ajak Budi gembira.
"Papa! Papa ganteng!" celetuk Aisyah dengan logat balitanya yang lucu, membuat Budi tertawa terbahak-bahak.
"Wah, pintar sekali anak Papa! Nanti Papa belikan es krim!" janji Budi.
Lily meletakkan tas sekolahnya di rak dengan suara agak keras, berharap menarik perhatian mereka. Namun, suaranya tenggelam oleh deru blender di dapur yang sedang digunakan Ratna. Lily menghela napas, rasa pahit menjalar di lidahnya. Ia berjalan menuju kamarnya, melewati ruang tengah tanpa disapa.
Di dalam kamar, Lily membanting tubuhnya ke kasur. Ia memeluk bantal erat-erat, menahan air mata yang ingin jatuh. Ia merasa iri. Iri yang mendalam dan menyakitkan. Bukan karena Aisyah mendapatkan kasih sayang, tapi karena ia merasa kasih sayang itu dicuri darinya. Dulu, ia adalah satu-satunya. Kini, ia adalah sisa-sisa.
Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya diketuk pelan. Lily tidak menjawab. Ia pura-pura tidur. Pintu terbuka, dan Ratna masuk membawa segelas susu hangat.
"Lil? Kamu sudah pulang?" tanya Ratna lembut, meletakkan gelas di meja belajar. Ia melihat punggung putrinya yang kaku. "Kenapa diam saja? Ada masalah di sekolah?"
Lily tetap diam. Rasa sakit hatinya terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata biasa.
Ratna duduk di tepi kasur, mengusap punggung Lily. "Lil, Mama tahu kamu mungkin merasa Mama kurang perhatian akhir-akhir ini. Tapi kamu kan sudah besar, Nak. Aisyah masih kecil, dia butuh bantuan lebih. Kamu mengerti kan?"
Kalimat itu seperti petir di siang bolong bagi Lily. *"Kamu kan sudah besar."* Kalimat sakti yang sering digunakan orang tua untuk membenarkan pengabaian. Lily akhirnya berbalik, menatap ibunya dengan mata merah dan tajam.
"Sudah besar artinya nggak butuh diperhatikan lagi, Ma?" tanya Lily, suaranya bergetar menahan amarah. "Sudah besar artinya kalau aku dapat nilai jelek, aku harus urus sendiri? Sudah besar artinya kalau aku sedih, aku harus pendam sendiri karena Mama sibuk ngurusin Adek?"
Ratna terkejut dengan nada bicara putrinya. "Lily, jangan bicara begitu. Mama sayang sama kamu. Tapi lihatlah, Aisyah belum bisa apa-apa. Dia masih tergantung sepenuhnya pada Mama dan Papa. Kalau kamu butuh sesuatu, kenapa nggak bilang dari tadi? Mama kan nggak bisa baca pikiranmu."
"Karena setiap kali aku mau bicara, Mama selalu bilang 'tunggu sebentar', 'nanti ya', atau 'Adek lagi nangis'!" seru Lily, air matanya akhirnya tumpah. "Selama tiga tahun, Ma! Tiga tahun aku menunggu giliran untuk didengar. Dan giliran itu nggak pernah datang. Sekarang aku udah kelas 12, Ma. Ini tahun penentu buat masa depanku. Aku stres, aku takut gagal, dan aku butuh Mama. Bukan cuma sebagai penyedia makan, tapi sebagai ibu yang mendengarkan."
Budi yang mendengar keributan dari luar segera masuk ke kamar. Wajahnya tampak khawatir. "Ada apa ini? Kenapa teriak-teriak?"
"Tanya sama Mama," jawab Lily dingin, menghapus air matanya dengan kasar. "Tanya kenapa anaknya yang paling tua harus merasa seperti anak tiri di rumah sendiri."
Wajah Budi berubah serius. Ia memahami implikasi kata-kata itu. Ia mendekati Lily, mencoba meredakan suasana. "Lil, Papa minta maaf. Mungkin kami terlalu fokus ke Aisyah. Tapi kamu harus paham, adikmu masih balita. Dia nggak punya dosa. Jangan salahkan dia atas kurangnya perhatian kami."
"Aku nggak nyalahin Adek, Pa!" bentak Lily. "Aku nyalahin kalian! Kalian yang memilih untuk melupakanku. Dulu, sebelum Adek lahir, Papa janji bakal luangkan waktu buat aku. Janji itu cuma angin lalu, Pa. Sekarang, yang ada cuma janji-janji manis buat Adek. Beli es krim, beli mainan, ajak jalan-jalan. Sementara aku? Aku cuma disuruh belajar dan diem."
Hening menyelimuti kamar itu. Ratna dan Budi saling berpandangan, menyadari bahwa luka yang mereka kira sudah sembuh ternyata masih menganga lebar. Mereka menyadari bahwa kematangan Lily bukan berarti ketiadaan kebutuhan emosional. Justru, remaja seusia Lily membutuhkan validasi dan dukungan yang lebih kompleks daripada sekadar materi.
Ratna merasa dadanya sesak. Ia melihat putrinya yang dulu selalu ceria, kini tampak lelah, murung, dan penuh dendam. Ia sadar, ia telah gagal menyeimbangkan peran sebagai ibu bagi dua anak dengan kebutuhan yang sangat berbeda.
"Lily..." Ratna mencoba meraih tangan putrinya, namun Lily menarik tangannya menghindar.
"Jangan sentuh aku dulu, Ma," kata Lily pelan, suaranya pecah. "Aku capek. Aku cuma mau tidur. Tolong keluar."
Ratna dan Budi berdiri dengan berat hati. Mereka keluar dari kamar Lily, meninggalkan gadis itu sendirian dalam kegelapan kamarnya. Di luar, Aisyah masih tertawa riang, tidak menyadari bahwa kebahagiaannya telah dibangun di atas reruntuhan perasaan kakaknya.
Malam itu, Ratna dan Budi duduk di teras belakang, dihantui oleh keheningan yang mencekam.
"Aku gagal, Bud," bisik Ratna, air matanya mengalir deras. "Aku gagal jadi ibu buat Lily. Aku terlalu terbawa arus kebahagiaan punya bayi baru, sampai aku lupa kalau anak pertamaku juga masih butuh aku."
Budi menghela napas panjang, memegang kepala dengan kedua tangannya. "Aku juga salah, Rat. Aku pikir karena Lily sudah dewasa, dia nggak perlu diperlakukan seperti anak kecil. Aku lupa bahwa remaja itu masa transisi yang rentan. Mereka butuh pegangan. Dan kita... kita malah melepaskannya."
"Kita harus perbaiki ini, Bud," kata Ratna tegas, meski hatinya hancur. "Kalau nggak, kita bisa kehilangan Lily selamanya. Bukan secara fisik, tapi secara hati. Dan itu lebih menyakitkan daripada kematian."
Budi mengangguk pelan. "Besok. Besok kita akan bicara serius sama Lily. Bukan sebagai orang tua yang menggurui, tapi sebagai teman yang meminta maaf. Kita harus dengarkan dia. Benar-benar dengarkan, tanpa alasan, tanpa pembelaan."
Di dalam kamar, Lily terbaring menatap langit-langit. Ia mendengar bisikan orang tuanya di luar sana. Hatinya masih sakit, masih marah, namun ada sedikit harapan yang menyala. Harapan bahwa kali ini, mereka benar-benar sadar. Bahwa cinta mereka padanya tidak habis, hanya tersesat. Dan ia berharap, semoga saja, mereka bisa menemukannya kembali sebelum semuanya terlambat. Karena bagi Lily, menjadi "kakak yang hebat" bukan berarti ia harus rela menghilang. Ia ingin dilihat. Ia ingin dicintai. Sama seperti Aisyah. Sama seperti dulu.