NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anggur Merah, Rayuan Sang Ratu, dan Kesetiaan Mutlak

Dunia bisnis di tingkat eksekutif sering kali tidak diselesaikan di ruang rapat yang kaku, melainkan di balik pintu ruang VIP restoran mewah.

Malam itu, di sebuah restoran privat bergaya Prancis di pusat kota Beijing, alunan musik jazz mengalun lembut. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang temaram dan intim. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar kecil.

Lu Feng duduk di sana, mengenakan kemeja hitam yang kerahnya dibiarkan sedikit terbuka. Jasnya ia gantungkan di sandaran kursi. Wajahnya terlihat sedikit lelah, namun sorot matanya tetap tajam menatap dokumen kesepakatan akhir antara Campus Relay dan Chic-U.

Di seberangnya, Song Jia tampak luar biasa menawan. Mantan Ratu Kampus itu mengenakan gaun malam berbahan sutra merah marun dengan potongan dada rendah yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya digerai indah, dan bibirnya dipoles warna merah yang menggoda. Ia tidak terlihat seperti rekan bisnis, melainkan seperti seorang dewi yang sedang berburu mangsa.

Song Jia mengangkat botol anggur merah mahal dari dalam ember es, lalu menuangkannya ke gelas Lu Feng dengan gerakan yang sangat elegan.

"Kau terlalu tegang, Lu Feng," ucap Song Jia dengan suara renyah yang sedikit manja. Ia meletakkan botol itu, lalu menopang dagunya, menatap mata Lu Feng. "Kita sudah menyepakati angka komisi tadi sore di kantormu. Malam ini seharusnya menjadi malam perayaan kita. Berhentilah menatap kertas-kertas membosankan itu."

Lu Feng menutup map dokumen tersebut dan mendorongnya ke tengah meja. Ia mengambil gelas air putih, sama sekali tidak menyentuh anggur merah yang dituangkan Song Jia.

"Perayaan baru sah kalau tinta sudah kering di atas kertas kontrak besok pagi, Presiden Song," jawab Lu Feng dengan nada datar dan profesional.

Song Jia tertawa pelan. Tawa yang sangat merdu. Ia berdiri dari kursinya, membawa gelas anggurnya sendiri, lalu berjalan memutar meja. Bukannya kembali ke kursinya, wanita itu justru menarik kursi kosong yang berada tepat di sebelah kanan Lu Feng, memangkas jarak di antara mereka hingga Lu Feng bisa mencium aroma parfum mawar yang sangat menyengat.

Lu Feng tidak bergerak, namun postur tubuhnya berubah kaku.

"Kau tahu, semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa kita ini sangat mirip," Song Jia mencondongkan tubuhnya ke arah Lu Feng. Jarak wajah mereka kini sangat dekat. "Kita berdua ambisius. Kita sama-sama tahu kerasnya membangun perusahaan di usia muda. Kadang... menjadi CEO itu sangat sepi, bukan?"

"Saya punya tim yang solid. Saya tidak pernah merasa sepi," balas Lu Feng dingin, mencoba menjaga jarak dengan menyandarkan punggungnya ke kursi.

Song Jia tersenyum miring. Ia menurunkan tangan kirinya, dengan sengaja menyentuh punggung tangan Lu Feng yang berada di atas meja. Jemari lentiknya mengusap pelan urat-urat menonjol di punggung tangan pria itu.

"Tim yang solid itu urusan pekerjaan. Tapi urusan hati?" Song Jia memelankan suaranya, mengubah nadanya menjadi rayuan yang sangat fatal. "Aku tahu tentang Lin Xiao. Dia pengacara yang hebat, aku mengakuinya. Tapi dia terlalu kaku, Lu Feng. Dia hidup di dunia hitam putih yang penuh aturan. Seorang pria sepertimu... pria yang penuh gairah dan jiwa petualang, membutuhkan wanita yang mengerti cara bersenang-senang. Wanita yang bisa mengimbangi ritmemu, bukan yang terus-terusan mengikatmu dengan pasal-pasal."

Mata bulat Song Jia menatap bibir Lu Feng. Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Bagi pria normal mana pun, godaan dari mantan Ratu Kampus yang cantik dan kaya raya ini adalah sebuah durian runtuh yang tidak mungkin ditolak.

Namun, Lu Feng bukan pria normal. Dia adalah pria yang pernah berjanji pada satu wanita di bawah langit Jiangcheng.

Tanpa terburu-buru, Lu Feng menarik tangannya dari bawah sentuhan Song Jia. Gerakannya sangat tenang, namun penolakannya terasa seperti tamparan keras di udara.

Lu Feng menoleh, menatap Song Jia tepat di matanya. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ada kekosongan dan rasa kasihan yang membuat harga diri Song Jia seketika tertusuk.

"Lo mungkin pintar baca peluang bisnis, Song Jia. Tapi lo bodoh banget soal baca karakter orang," ucap Lu Feng, suaranya kini berubah menjadi bariton rendah yang sangat tajam. Ia bahkan membuang panggilan formalnya.

Song Jia membeku. Senyum godanya luntur seketika. "Lu Feng... aku hanya menawarkan..."

"Nawarin apa? Nawarin kesenangan?" potong Lu Feng sinis. Ia berdiri dari kursinya, mengambil jasnya, lalu menatap wanita di bawahnya itu dengan pandangan merendahkan.

"Dengerin gue baik-baik," suara Lu Feng menggema di ruang privat yang sunyi itu. "Pacar gue emang kaku. Dia emang gila aturan. Tapi lo tau apa yang bikin dia beda dari cewek kayak lo? Saat gue kere, saat gue cuma berandal yang tidur di kelas dan nggak punya masa depan, dia narik gue. Dia maksa gue belajar sampai dia sendiri kurang tidur. Dia rela reputasinya hancur demi pacaran sama gue."

Lu Feng memakai jasnya, merapikan kerah kemejanya.

"Lo ngerasa kita selevel karena lo CEO? Salah besar," lanjut Lu Feng tanpa ampun. "Pesona lo, kecantikan lo, bahkan seluruh aset perusahaan lo... nggak ada harganya di mata gue dibanding satu omelan dari Lin Xiao. Karena dunia gue, perusahaan gue, dan napas gue... semuanya gue bangun cuma buat dia."

Wajah Song Jia pucat pasi. Bibirnya yang berpoles lip gloss pink sedikit bergetar. Sepanjang hidupnya, ia selalu dipuja. Baru kali ini ada pria yang menolaknya, bukan hanya menolak, tapi menghancurkan harga dirinya hingga ke akar.

"Kontraknya kita tanda tangani besok pagi di kantor gue dengan kehadiran tim legal gue. Kalau lo nggak nyaman setelah penolakan ini, batalin aja. Gue nggak rugi," pungkas Lu Feng, berbalik dan berjalan menuju pintu.

"Selamat malam, Presiden Song. Dan tolong, jangan pernah ngelewatin batas lagi kalau lo masih mau bisnis lo jalan sama gue."

Pintu ruang VIP itu tertutup, meninggalkan Song Jia yang duduk sendirian dengan tangan gemetar memegang gelas anggur, menyadari bahwa ia baru saja bermain api dengan pria yang kesetiaannya tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini.

***

Pukul sebelas malam.

Lu Feng membuka pintu apartemennya. Lampu ruang tengah masih menyala terang. Di sana, di atas karpet berbulu favorit mereka, Lin Xiao tertidur dengan posisi duduk menyandar pada sofa. Di pangkuannya terdapat setumpuk draf dokumen hukum, dan kacamata anti-radiasinya masih terpasang miring di wajahnya.

Melihat pemandangan itu, sisa-sisa amarah dan rasa muak dari restoran tadi langsung menguap dari dada Lu Feng. Hatinya mencair seketika.

Ini. Ini adalah rumahnya. Wanita keras kepala yang rela kelelahan demi melindunginya dari celah hukum.

Lu Feng berjalan mengendap-endap, berjongkok di hadapan Lin Xiao. Ia melepaskan kacamata dari wajah wanita itu dengan sangat hati-hati, lalu menaruhnya di atas meja. Jemari kasarnya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Lin Xiao.

Sentuhan lembut itu membuat Lin Xiao terbangun. Ia mengerjap pelan, matanya yang sayu menatap sosok Lu Feng di depannya.

"Kamu sudah pulang?" gumam Lin Xiao dengan suara khas orang bangun tidur yang sedikit serak. Ia mengucek matanya pelan.

"Udah, Yang. Kenapa tidur di sini? Kan gue udah bilang pindah ke kasur aja kalau ngantuk," balas Lu Feng lembut, mencium kening Lin Xiao cukup lama.

Lin Xiao menarik napas panjang, dan keningnya tiba-tiba berkerut. Ia memajukan wajahnya sedikit ke area kerah kemeja Lu Feng, mengendus pelan. Sebagai pengacara, insting dan ketajaman panca indranya sangat mengerikan.

"Kamu bau anggur merah. Dan... ada aroma parfum mawar yang sangat manis. Itu bukan parfum yang biasa dipakai resepsionis kantormu," ucap Lin Xiao, matanya yang tadi mengantuk kini berubah tajam menatap Lu Feng. "Kamu bertemu siapa malam ini?"

Lu Feng tidak panik. Ia justru tertawa pelan, kagum pada kepekaan pacarnya. Ia sama sekali tidak berniat menyembunyikan apa pun.

"Ketemu Song Jia," jawab Lu Feng jujur. Ia duduk bersila di depan Lin Xiao, menopang wajahnya dengan kedua tangan, menatap cewek itu dengan senyum miring. "Dia nyoba ngerayu gue. Pakai *dress* merah yang potongannya rendah banget, terus nyentuh-nyentuh tangan gue segala."

Lin Xiao membelalakkan matanya. Rasa kantuknya hilang seratus persen. Tangannya refleks mencengkeram tepi dokumen di pangkuannya. "Apa?! Song Jia merayumu?! Lalu apa yang kamu lakukan?!"

"Gue marahin, terus gue tinggalin," jawab Lu Feng santai, seolah baru saja membuang sampah.

Lin Xiao terdiam. Napasnya memburu karena cemburu yang tiba-tiba meledak, namun melihat wajah santai dan kejujuran mutlak di mata Lu Feng, kemarahannya pada cowok itu batal keluar.

"Dia... dia benar-benar merayumu secara langsung?" tanya Lin Xiao lagi, suaranya sedikit bergetar karena rasa tidak aman. "Dia sangat cantik, Lu Feng. Dan dia punya segalanya."

Lu Feng menghela napas. Ia memajukan tubuhnya, meraih kedua tangan Lin Xiao dari atas dokumen, lalu mengecup buku-buku jarinya satu per satu.

"Xiao, dengerin gue," bisik Lu Feng, matanya mengunci pandangan Lin Xiao. "Di luar sana mungkin banyak cewek cantik. Banyak yang kaya, banyak yang sempurna. Tapi buat gue, mau mereka telanjang bulat di depan gue pun, mata gue bakal tetep nyari lo yang lagi pakai piyama kusut sambil marah-marah ngerjain kontrak."

Wajah Lin Xiao langsung memerah padam. "Bahasa mu kotor sekali!"

"Fakta," Lu Feng tertawa, menarik tubuh Lin Xiao hingga jatuh ke pelukannya. Ia memeluk erat pinggang wanita itu, membenamkan wajahnya di leher Lin Xiao. "Parfum mawar Song Jia bikin gue mual. Gue cuma butuh aroma *peach* lo buat bisa tidur nyenyak."

Lin Xiao memukul punggung Lu Feng pelan, namun ia membalas pelukan itu dengan erat. Rasa cemburu di dadanya menguap, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa solid.

"Kalau besok dia datang ke kantor untuk tanda tangan kontrak, aku pastikan aku yang akan duduk di sampingmu. Aku akan memberinya tatapan hukum perdata yang paling kejam," ancam Lin Xiao, merengut posesif di dalam pelukan Lu Feng.

Lu Feng tertawa lepas hingga bahunya bergetar. "Silakan, Kepala Legal kesayangan gue. Hancurin mentalnya. Gue dukung dari belakang."

Malam itu, di apartemen kecil yang menjadi saksi perjuangan mereka, godaan dari dunia luar kembali dipatahkan. Mereka tahu, semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin menerpa. Namun, dengan kejujuran tanpa filter dan kesetiaan yang mutlak, akar mereka telah tumbuh terlalu dalam untuk bisa ditumbangkan oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!