Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Bayangan
Bersama Pak Baskoro dan Rijal, aku melangkah masuk ke ruang rapat utama. Sesuai kesepakatan kemarin, hari ini seluruh kepala divisi wajib menyerahkan laporan audit mandiri masing-masing.
Satu per satu kepala divisi menyerahkan laporan mereka dengan rapi. Namun, pemandangan berbeda tampak di ujung meja. Pak Pendi, Bu Rahma, dan Pak Herman duduk berdempetan dengan raut wajah tegang.
Saat giliran mereka tiba, Rijal menarik tiga bundel berkas dari hadapan ketiganya, lalu meletakkannya di depanku dan Pak Baskoro.
Berbeda dengan milik divisi lain, ketiga berkas ini tampak tebal, berantakan, dan disusun tergesa-gesa sejak tengah malam. Beberapa lembar kertas bahkan belum terklip rapi, memperlihatkan susunan angka yang tumpang-tindih.
"Pak Pendi, Bu Rahma, Pak Herman..." aku membuka suara santai, memandangi berkas di hadapanku. "Bisa jelaskan kenapa laporan dari tiga divisi vital ini baru dikirim lewat email tengah malam tadi, dan bentuk fisiknya seberantakan ini?"
Pak Pendi berdehem canggung, menyapu dahinya yang mulai dibasahi keringat dingin. "Maaf, Bu Maya. Kami harus mencocokkan data lapangan dan logistik dengan bagian keuangan sampai larut malam. Waktunya sangat mendesak."
Pak Baskoro meraih berkas milik Bu Rahma. Jemarinya membalik beberapa halaman sebelum akhirnya mengetuk pelan di atas kertas.
"Bu Rahma," panggil Pak Baskoro tegas. "Di laporan ini ada selisih angka yang sangat besar pada pengeluaran dana ekspansi enam bulan terakhir. Arus kas keluar tidak didukung faktur resmi, melainkan hanya kuitansi internal tanpa stempel verifikasi."
Bu Rahma bergerak gelisah di kursinya, meremas pulpen erat-erat. "Pengadaan barang di lapangan bergerak cepat, Pak Baskoro. Pak Herman dari Divisi Logistik yang mengurus alur barangnya."
"Tunggu dulu, Bu Rahma," potong Pak Herman cepat, bersikap defensif. "Logistik hanya mengeluarkan barang sesuai permintaan kerja dari Divisi Operasional milik Pak Pendi. Kami punya nota bon gudangnya!"
"Namun, nota dari Divisi Logistik tidak cocok dengan laporan riil di lapangan, Pak Herman," sela Rijal seraya menunjukkan layar laptopnya.
"Saya sudah mencocokkan data Anda dengan catatan operasional Mas Prasetyo. Ada barang senilai miliaran rupiah keluar dari gudang, tetapi tidak pernah sampai ke lokasi proyek mana pun."
Wajah Pak Pendi, Bu Rahma, dan Pak Herman mendadak pucat pasi. Suasana rapat hening seketika. Para kepala divisi lain mulai saling berbisik heran.
Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menatap mereka bertiga secara bergantian.
"Jadi," kataku pelan, "Divisi Keuangan mengeluarkan uang tanpa faktur jelas, Divisi Logistik mencatat barang keluar tanpa tujuan yang cocok, dan Divisi Operasional menerima anggaran tanpa bukti fisik pengerjaan proyek. Kalian saling melempar tanggung jawab, tetapi laporannya sama-sama hancur."
Pak Pendi menelan ludah dengan susah payah. "Maya, ini hanya masalah teknis pencatatan. " Laki laki itu terlihat gugup.
"Ini bukan sekadar masalah pencatatan, Pak Pendi," potong Pak Baskoro mantap. "Rekayasa laporan yang berantakan seperti ini adalah indikasi kuat adanya penggelapan dana yang terstruktur."
Di sudut belakang dekat pintu, lelaki berpostur tinggi besar dengan bahu tegap—sosok yang sempat berhadapan denganku di lorong tadi—berdiri kaku. Rahangnya mengerat tegang. Gerakan siku kanannya yang terbatas kian mengonfirmasi kecurigaanku saat menyadari kebohongan ketiga rekan sejawatnya terbongkar di depan semua orang.
Aku menatap Pak Pendi, Bu Rahma, dan Pak Herman dengan senyum tipis.
"Laporan audit mandiri kalian bertiga saya tolak," ucapku tegas. "Dan berdasarkan semua bukti penyelidikan yang ada, pelanggaran ini tidak bisa ditoleransi lagi."
Pak Pendi mencoba berdiri, tangannya terangkat gemetaran. "Maya... Bu Maya, tolong beri kami waktu sedikit lagi. Kami bisa perbaiki laporannya! Kami ini orang-orang kepercayaan Pak Prasetyo!"
"Justru karena kalian orang kepercayaan Mas Prasetyo, tindakan korup kalian ini sangat tidak bisa dimaafkan," jawabku dingin. Aku berdiri dari kursi, memandangi mereka bertiga satu per satu.
Pak Baskoro lalu membuka map merah di sampingnya dan membacakan keputusannya dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan.
"Berdasarkan bukti penggelapan dana terstruktur, manipulasi nota logistik, dan rekayasa kas tanpa faktur resmi, pihak pimpinan CV Abadi Permai menetapkan surat pemecatan tidak dengan hormat terhitung mulai hari ini untuk Saudara Pendi, Saudari Rahma, dan Saudara Herman."
Bu Rahma terduduk lemas di kursinya, penanya jatuh terlepas ke lantai. Pak Herman mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan, tak mampu lagi menyanggah satu kata pun.
"Rijal," panggilku tenang. "Panggil tim keamanan internal. Kawal mereka bertiga keluar dari area gedung sekarang juga. Pastikan mereka tidak membawa berkas atau dokumen apa pun dari meja kerja mereka."
"Baik, Bu Maya," sahut Rijal sigap.
Dua petugas keamanan kantor melangkah masuk ke ruang rapat dan berdiri mengapit ketiga mantan pejabat divisi tersebut. Tanpa ada perlawanan lagi, Pak Pendi dan Bu Rahma melangkah keluar dengan kepala tertunduk, diikuti Pak Herman yang berjalan gontai di belakangnya.
Namun, perhatianku teralih sepenuhnya ke sudut belakang ruangan.
Lelaki berpostur tinggi besar itu masih berdiri di dekat pintu. Ketika ketiga karyawan CV Abadi Permai itu dikawal keluar.
Saat melewati mejaku untuk menyusul keluar, lelaki itu sempat memiringkan kepala dan berbisik pelan, hanya cukup didengar olehku.
"Kamu baru memotong rantingnya, May... bukan akarnya."
Aku tidak bergeming. Aku menatap lurus langkah kakinya yang menjauh keluar dari ruang rapat, membiarkan ancaman terselubung itu mengudara begitu saja.
Rantingnya memang sudah ku pangkas pagi ini. Kini, tinggallah aku, Pak Baskoro, dan Rijal yang siap membongkar ke mana akar aliran dana haram itu sebenarnya mengalir.
Sebuah benda kecil terjatuh dari saku kemejanya saat tangan kanannya yang kaku mengepal erat.
Aku berjalan pelan mendekati pintu, lalu membungkuk untuk mengambilnya. Itu adalah sebuah gantungan kunci besi berbentuk koin kuno yang sangat kukenal gantungan kunci milik Mas Prasetyo yang selalu tersimpan di meja kerjanya, lengkap dengan ukiran inisial nama keluarga besarnya.
Bagaimana bisa benda milik suamiku berada di dalam saku kemeja laki-laki itu? Dan mengapa postur serta gaya bicaranya saat berbisik terasa begitu familiar, seolah ia adalah seseorang yang selama ini berada sangat dekat dengan kehidupan pribadi Mas Prasetyo?
Pak Baskoro dan Rijal mendekat ke arahku. Wajah Pak Baskoro tampak amat tegang saat mengamati koin kuno di tanganku.
"Maya, apa yang di bisikan pria itu padamu sebelum pergi?" tanya Pak Baskoro, nada suaranya sangat kecemasan.
"Dia bilang... aku baru memotong rantingnya, bukan akarnya," jawabku pelan sambil menunjukkan gantungan kunci di telapak tanganku. "Dan dia menjatuhkan ini, Pak. Ini milik Mas Prasetyo."
Rijal menatap benda itu dengan mata membelalak. "Laki-laki itu... dari gerak-gerik dan bahunya yang tegap, apakah Mardi, Mbak Maya. Kakak kandung Prilia."
Pak Baskoro menghela napas panjang dan berat. Kacamata bacanya dilepas, lalu ia memijit pangkal hidungnya pelan.
"Kalimat tentang 'akar' itu seperti nya bukan sekadar gertakan. Sejak era Pak Hendra dulu, saya sangat paham bagaimana tabiat dan karakter Ibu Halimah istri pertama Pak Hendra, ibunya Prilia dan Mardi."
"Ibu Halimah, Pak?" tanyaku menajamkan pandangan.
"Ya," angguk Pak Baskoro mantap. "Halimah adalah tipe perancang di balik layar yang sangat licik. Dia yang menanamkan ambisi gila pada anak-anaknya untuk menguasai aset keluarga ini. Jika Mardi bergerak sampai berani menyusup dan menyamar seperti ini, itu artinya Halimah yang sedang mengendalikan semua bidak dari belakang. Dialah akar sebenarnya dari seluruh kekacauan ini."
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇