NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Pertemuan yang Dibayar Rasa Sakit

Pertanyaan itu membuatnya hampir kehilangan kekuatan untuk berdiri. Ia ingin berkata,

Karena aku takut. Karena aku malu. Karena aku gak tau gimana jelasin bahwa hidupku udah berubah dalam satu malam.

Karena aku takut kamu bakal mandang aku dengan cara berbeda setelah tau semuanya.

Namun, tidak satu pun kalimat itu keluar melalui tangannya. Apalagi mulutnya.

Zinnia hanya mengetik satu pesan lagi.

Jangan cari aku lagi.

Setelah memperlihatkannya kepada Dandy, ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan berbalik.

Dandy segera meraih tangannya. “Zinnia, tunggu.”

Zinnia berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Aku gak bakal maksa kamu cerita sesuatu yang belum siap kamu ceritain. Tapi jangan minta aku berhenti mencintaimu hanya karena kamu lagi punya masalah.”

Genggaman Dandy mengendur.

“Setidaknya, kasih aku kesempatan buat tetep di sisi kamu.”

Zinnia menatap tangan Dandy yang masih menyentuh tangannya. Dulu, genggaman itu selalu membuatnya merasa aman. Sekarang, ia hanya bisa membayangkan betapa hancurnya pria itu jika mengetahui kebenaran.

Dengan perlahan, Zinnia melepaskan tangannya. Ia tidak menoleh lagi. Langkahnya semakin cepat, meninggalkan Dandy yang tetap berdiri di dekat bangku taman.

“Zinnia!”

Zinnia berhenti sejenak ketika mendengar namanya dipanggil. Jemarinya mencengkeram tali tas.

Ia ingin berbalik. Ingin berlari kembali dan membiarkan Dandy memeluknya seperti dulu. Ingin mengatakan bahwa ia masih mencintainya dan tidak pernah benar-benar ingin berpisah.

Namun, ia memaksa kakinya melangkah lagi.

Malam itu, Zinnia meninggalkan Dandy tanpa mengatakan alasan sebenarnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah keputusan itu akan menyelamatkan pria yang dicintainya atau justru menghancurkan mereka berdua.

***

Siang itu, Zinnia kembali menjalankan tugasnya seperti biasa di restoran Aurelle. Ia sedang membersihkan area dekat meja tamu ketika pandangannya menangkap sosok seorang pria yang berjalan menuju lobby. Gerakan tangannya terhenti.

Postur tubuh itu ...

Zinnia menegakkan badan. Ia tidak bisa melihat wajah pria tersebut karena posisinya membelakanginya, tetapi entah mengapa, sosok itu mengingatkannya pada pria yang beberapa kali hampir ia temui.

Pria di restoran kemarin. Pria di minimarket. Dan mungkin ...

Pria di pantai malam itu.

Zinnia meletakkan kain lap di atas troli pembersih. Tanpa memedulikan panggilan seorang rekan kerja dari kejauhan, ia segera menyusul pria tersebut.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

"Apa benar dia?" pikirnya.

Jarak di antara mereka semakin dekat. Ketika pria itu hampir mencapai pintu, Zinnia mempercepat langkah dan mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya.

Namun, tepat saat itu, seorang pelayan yang membawa nampan berisi gelas dan piring berbalik mendadak.

“Permisi—!”

Tubuh pelayan itu berbenturan dengan sisi tubuh Zinnia.

Zinnia kehilangan keseimbangan.

Prang!

Nampan hampir terlepas. Gelas dan piring jatuh berhamburan, pecah setelah beradu dengan lantai.

Bruk!

Zinnia terjatuh. Telapak tangannya sempat menyentuh lantai untuk menahan tubuh, tetapi rasa sakit mendadak menjalar di bagian perutnya.

Ia meringis.

Satu tangannya langsung menekan perut, sementara tangan yang lain terulur ke arah pria di depannya.

Arvid merasakan sentuhan singkat di bahunya. Sebelum sempat menoleh, suara pecahan yang nyaring membuatnya refleks berbalik.

“Ada apa—”

Ucapannya terhenti.

Seorang perempuan terduduk di lantai tidak jauh darinya. Beberapa pecahan piring berserakan di sekitar mereka, sementara seorang pelayan berdiri dengan wajah pucat.

“Maaf! Saya gak sengaja. Saya gak lihat kamu tadi—”

Pelayan itu buru-buru meletakkan nampan yang sudah kosong ke meja terdekat.

“Kamu bisa berdiri? Maaf, saya benar-benar gak sengaja.”

Namun, Zinnia tidak menoleh kepadanya. Tatapannya tertuju pada pria yang berdiri beberapa langkah darinya.

Postur itu. Aroma parfum yang tercium samar. Pria itu kini menghadap ke arahnya.

Zinnia berusaha melihat wajahnya dengan jelas, tetapi rasa sakit di perutnya membuat pandangannya sedikit berkunang-kunang.

Arvid mengerutkan kening.

Perempuan itu terus menatapnya dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Wajahnya pucat, bibirnya terkatup rapat menahan sakit, tetapi tangannya tetap terulur ke arahnya.

Aneh. Entah mengapa, pemandangan itu membuat dada Arvid terasa tidak nyaman. Seolah-olah ia pernah melihat ekspresi serupa. Atau mungkin pernah berada dalam situasi yang hampir sama.

Namun, sebelum ia sempat mengingatnya, perempuan itu meringis dan menekan perutnya lebih kuat. Arvid segera menghampirinya.

“Kamu gak apa-apa?”

Zinnia tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah pria itu, berusaha menemukan sesuatu yang bisa memastikan dugaannya.

Suara itu ...

Pria itu berjongkok di hadapannya. “Bisa dengar saya? Bagian mana yang sakit?”

Zinnia menggerakkan bibir, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia mengangkat tangan yang bebas, hendak membentuk isyarat, tetapi jemarinya gemetar. Perutnya terasa semakin nyeri.

Arvid mengikuti arah tangannya, lalu kembali menatap wajahnya. “Perut kamu?”

Zinnia mengangguk kecil.

“Bisa berdiri?”

Zinnia mencoba menggerakkan kaki dan menopang tubuh dengan satu tangan. Baru sedikit terangkat, wajahnya langsung menegang menahan sakit.

Arvid segera menahan bahunya. “Jangan dipaksain.”

Zinnia kembali menatapnya. "Jangan pergi," pintanya dalam hati.

Ia tidak tahu bagaimana menyampaikan dua kata itu dengan cepat. Ia takut pria tersebut akan pergi sebelum ia sempat memastikan siapa dirinya.

Dengan sisa tenaga, Zinnia meraih lengan Arvid dan menggenggamnya erat.

Arvid tertegun. “Tenang. Saya gak akan ninggalin kamu di sini.”

Namun, Zinnia justru semakin erat menggenggam lengannya.

Arvid menatap tangan yang mencengkeramnya, lalu kembali melihat wajah perempuan itu.

"Kenapa ia natap aku kayak gini?" pikir Arvid.

“Pak, saya panggilkan ambulans?” tanya pelayan yang masih berdiri dengan wajah cemas.

Arvid menoleh sekilas.

“Ya. Tolong hubungi petugas medis dan minta seseorang mengamankan pecahan kaca ini. Jangan biarkan orang lain menginjaknya.”

Ia kembali menghadap Zinnia.

“Akan saya bawa kamu ke rumah sakit. Kita periksa dulu, ya?”

Zinnia menggeleng kecil, bukan karena menolak pertolongan, melainkan karena ia masih berusaha memastikan sesuatu.

Ia menatap pria itu lekat-lekat. Postur, aroma parfum, suaranya. Semua terlalu familiar untuk sekadar kebetulan.

Apa benar dia? Apa pria yang berdiri di hadapannya ini adalah orang yang selama ini ia cari?

Arvid mengulurkan tangan untuk membantu Zinnia bangkit, tetapi perempuan itu kembali meringis. Tubuhnya melemah sebelum sempat berdiri tegak.

Arvid tidak menunggu lebih lama. Ia menyelipkan satu tangan di belakang punggung Zinnia dan tangan lainnya di bawah lututnya, lalu mengangkat tubuh perempuan itu dengan hati-hati.

“Pak, mobil saya bisa saya ambilkan—” Pelayan itu menawarkan diri.

“Nggak perlu. Tolong kasih tau atasan kalian apa yang terjadi. Saya akan mengurus biaya pemeriksaan jika diperlukan.”

Arvid membawa Zinnia menuju pintu keluar. Zinnia tidak melepaskan lengannya. Satu tangannya tetap menekan perut, sementara tangan lainnya mencengkeram jas Arvid. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang semakin cepat.

“Bertahanlah sebentar,” kata Arvid sambil menatapnya. “Kita segera sampai di rumah sakit.”

Zinnia menatap wajah pria itu dari jarak dekat. Jantungnya berdebar bukan hanya karena sakit. Ada sesuatu dalam suara pria itu yang membuat ingatannya kembali pada malam di pantai.

Ia ingin bertanya siapa namanya. Ia ingin memastikan bahwa dugaannya benar. Namun, rasa nyeri kembali menghantam perutnya hingga ia terpaksa memejamkan mata.

Arvid mempererat pegangannya agar tubuh Zinnia tidak terguncang.

“Sebentar lagi.”

Zinnia membuka mata sekali lagi.

Arvid. Apakah namanya benar-benar Arvid? Apakah pria yang sedang menggendongnya ini adalah pria yang sama dengan pria di pantai malam itu?

Ia belum mendapatkan jawabannya.

Dan untuk saat ini, ia bahkan tidak tahu apakah rasa sakit di perutnya akan segera mereda.

 

...🔸🔸🔸...

...“Masa lalu tidak selalu datang kembali untuk menghancurkan kita. Terkadang, ia hadir karena ada kebenaran yang belum selesai kita hadapi dan luka yang tidak bisa terus-menerus kita hindari.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia belum menemukan orang yang dia cari setelah malam itu dan bagaimana nasibnya ke depan yah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Zinnia harus segera memutuskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!