Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kebetulan yang Berulang
Suara benturan logam teko yang menghantam lantai semen masih bergema memecah keheningan pagi. Uap panas membumbung tinggi dari genangan air mendidih yang membasahi lantai dapur terbuka tersebut. Bu Marni muncul dari balik pintu dengan wajah memerah, matanya melotot tajam saat mendapati Dirga berdiri tegap di samping tumpahan air panas itu.
"Kurang ajar kamu, Dirga!" jerit Bu Marni histeris seraya menunjuk muka Dirga dengan jari gemetar. "Apa-apaan kamu pagi-pagi menyelinap ke dapur orang dan memecahkan teko saya, hah?! Sudah gila kamu?!"
Dirga tidak bergeming sedikit pun. Ia tetap berdiri tenang dengan tatapan mata yang dingin dan datar. "Saya tidak sengaja menyenggolnya, Bu Marni."
"Tidak sengaja kamu bilang?!" sembur Bu Marni semakin murka, suaranya melengking hingga memancing perhatian beberapa warga yang mulai keluar rumah. "Kamu sengaja, kan?! Kamu dendam karena kemarin sore saya tegur?! Dasar pemuda tidak tahu diri! Sudah miskin, membawa sial, sekarang malah merusak barang tetangga!"
"Ibu!"
Suara tawa kecil khas anak balita terdengar dari dalam rumah. Rio, anak balita Bu Marni yang berusia tiga tahun, mendadak berlari kencang keluar dari pintu dapur seraya menimang bola plastik warna-warni. Anak kecil itu melaju tanpa arah, berlari sangat cepat menuju area meja kayu, persis ke titik tempat teko air panas tadi sebelumnya bertengger di tepi meja.
"Rio, jangan lari-lari!" teriak Bu Marni yang refleks menoleh ke arah anaknya.
Rio yang tidak melihat situasi di sekitarnya terus berlari gembira, lalu kakinya menyenggol kaki meja kayu dengan keras. Benturan itu membuat meja kayu yang lapuk tersebut bergoyang hebat, hingga taplak mejanya tertarik ke bawah dan jatuh terseret di lantai.
Brak!
Seketika itu juga, Bu Marni membeku di tempatnya. Napasnya terhenti, darahnya terasa berhenti mengalir saat menyadari apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
Seandainya teko berisi air mendidih itu masih berada di atas meja saat taplak dan meja itu tertarik oleh Rio, teko aluminium tersebut dipastikan akan jatuh tepat menimpa kepala dan tubuh mungil anak balitanya. Air panas yang menyengat itu akan membakar seluruh kulit Rio tanpa sisa.
Bu Marni terduduk lemas di ambang pintu, tangannya memegangi dada yang berdebar teramat kencang. Wajahnya yang tadinya merah padam oleh amarah kini berubah pucat pasi seputih kertas.
"Tuhan... Rio..." bisik Bu Marni dengan suara serak dan bergetar hebat.
Pak RT, yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari balik pohon nangka sejak awal, segera melangkah cepat menghampiri area dapur tersebut. Wajah Pak RT dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa seraya menatap teko yang pecah di lantai dan meja kayu yang goyah.
"Astaga..." gumam Pak RT dengan mata membelalak lebar. Ia memandang Dirga dengan tatapan yang sangat berbeda dari kemarin sore, tatapan yang kini dipenuhi rasa takjub dan takut mendalam.
Bu Marni merangkak mendekati Rio, merengkuh anaknya yang polos itu ke dalam pelukannya dengan erat seraya menangis sesenggukan. Matanya yang basah oleh air mata perlahan terangkat, menatap Dirga yang masih berdiri membisu di depannya.
"Dirga..." panggil Bu Marni dengan suara yang melunak dan penuh penyesalan. "Kamu... kamu sengaja membuang teko itu sebelum Rio berlari ke sini, kan?"
Dirga menatap wanita itu tanpa ekspresi emosi sedikit pun. "Saya sudah katakan, saya tidak sengaja menyenggol teko itu hingga jatuh."
"Tidak, Dirga! Jangan berbohong untuk menutupi kebaikanmu!" tangis Bu Marni pecah seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Dirga. "Aku tahu... aku tahu kamu menyelamatkan anakku! Kalau teko itu masih di atas meja, anakku pasti sudah cacat tersiram air mendidih! Ampuni aku, Dirga... ampuni kata-kata kasarku kemarin sore! Aku benar-benar tidak tahu diri sudah menuduhmu yang tidak-tidak!"
Pak RT mendekat, memegang pundak Dirga seraya menghela napas panjang. "Dirga... Bapak melihat semuanya dari kejauhan sejak tadi. Kamu mendatangi meja itu secara sengaja dan menjatuhkan tekonya sebelum anak Bu Marni keluar. Bagaimana bisa kamu tahu anak ini akan berlari dan menarik taplak meja itu?"
Dirga menoleh perlahan ke arah Pak RT, lalu kembali menatap Bu Marni yang masih menangis memohon ampunan darinya.
"Itu hanya kebetulan semata, Pak RT," jawab Dirga dengan nada suara formal, lugas, dan sangat dingin. "Jangan membesar-besarkan kejadian ini. Saya hanya seorang bekas OB yang tidak punya kemampuan aneh-aneh seperti yang dituduhkan warga."
"Tapi Dirga—" Bu Marni mencoba memegang ujung celana Dirga dengan tangan gemetar.
Dirga melangkah mundur satu tapak, menghindari sentuhan Bu Marni secara halus namun tegas. "Teko Ibu yang pecah akan saya ganti jika saya sudah memiliki uang lebih. Permisi, Pak RT, Bu Marni. Saya harus bersiap-siap."
Tanpa menunggu balasan atau kata-kata penyesalan lebih lanjut dari mereka, Dirga berbalik arah dan berjalan tenang menelusuri gang menuju rumah tuanya.
Pak RT berdiri terpaku menatap punggung Dirga yang kian menjauh. Rasa ketidakpercayaan di dalam dirinya perlahan runtuh, berganti menjadi sebuah keyakinan baru yang tak terbantahkan. Kasus penyelamatan Rudi di jalan sepi dan insiden teko air panas ini bukan lagi sekadar kebetulan. Dirga benar-benar memiliki kemampuan melampaui logika manusia biasa.
Matahari mulai meninggi di balik awan. Suasana di dalam kamar rumah tua milik Dirga terasa begitu sunyi dan remang-remang. Angin pagi menelusuri celah-celah dinding kayu yang lapuk, membawa aroma tanah basah pascahujan.
Dirga melepas jaket kusamnya dan duduk bersila di atas tikar pandan. Ia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, mencoba meredakan rasa pusing yang kembali menghantam kepalanya pasca-penglihatan tadi pagi. Setiap kali kilatan masa depan itu muncul secara acak, tubuh dan dadanya selalu merasakan tekanan hebat yang menguras energi fisiknya.
"Mata batin ini... jika terus muncul secara acak dan tidak terkendali, justru akan merusak fokus dan meremukkan fisiku," gumam Dirga pada dirinya sendiri dengan suara rendah yang berat.
Dirga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengingat kembali petunjuk dan aura hangat yang dirasakannya saat bertemu Sang Leluhur di alam bawah sadarnya sewaktu ia pingsan akibat kecelakaan. Ia ingat betul bagaimana Leluhur menepuk dahinya untuk membuka kran kesadaran waktu.
"Leluhur menyuruhku untuk bangkit dan mengubah takdir, bukan menjadi lemah karena ketidakmampuan mengendalikan diri," bisik Dirga dengan rasa tekad yang membara di dadanya.
Ia mulai menarik napas panjang melalui hidungnya, menahannya selama beberapa detik di dalam dada, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. Ia mengulang proses pernapasan itu berkali-kali secara teratur, memusatkan seluruh kesadaran pikiran dan jiwanya persis di titik tengah dahinya.
Dalam kegelapan mata yang terpejam, Dirga memvisualisasikan pikiran dan matanya bagaikan telaga air yang tenang. Ia tidak lagi membiarkan gelombang penglihatan membanjiri otaknya secara liar. Setiap kali kilatan warna atau bayangan asing mencoba menerobos pikirannya, Dirga mengatur ritme napasnya lebih dalam, menekan denyutan di dahinya agar tetap berada dalam kendalinya.
Perlahan tapi pasti, rasa sakit menusuk di kepalanya mulai berkurang. Denyutan tajam yang biasa menyiksanya berubah menjadi getaran halus yang tenang dan stabil. Dirga mulai belajar memilah kapan ia harus membuka pintu mata batinnya dan kapan ia harus menguncinya rapat-rapat.
Di tengah latihan fokus dan pengontrolan napas yang kian mendalam itu, sebuah gambaran wajah mendadak melintas singkat namun sangat jelas di benaknya, wajah seorang wanita muda berparas cantik namun dingin dan penuh kesombongan, pemilik kartu nama emas yang tersimpan di saku celananya, Lisa Larasati.
Mata Dirga terbuka perlahan. Manik matanya berkilat tajam di dalam kegelapan kamar.
"Dua hari telah berlalu," bisik Dirga dingin seraya mengusap dadanya yang kini terasa jauh lebih tenang. "Waktu pembuktian untuk wanita berhati dingin itu telah tiba."