NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35: Jiwa Arwah yang Menyatu

Malam telah datang di Spring Town. Cahaya lampu di apartemen menyala terang. Menampilkan kemewahan tidak biasa. Tapi semua itu hanya kamuflase dari rahasia kelam di dalamnya.

Aku, Hendra dan Jefry masih duduk di atas sofa ruang tengah dengan televisi menyala. Menampilkan siaran berita agar bisa mengalihkan pikiran kami.

“Udah jam segini, Lestari belum keluar juga, Bang?” tanya Hendra yang dari tadi merasa penasaran setelah diberitahu kalau ia sedang melakukan sesuatu kepada Shinta.

Jefry sebenarnya juga sudah tidak sabar, ia pun berdiri, lalu berjalan menuju kamar utama.

Tepat setelah itu, pintu kamar terbuka. Lestari keluar lebih dulu sebelum Jefry tiba.

Wajahnya terlihat lelah, menghembuskan nafas panjang untuk mengatur ritme. Seperti seseorang baru saja menyelesaikan kegiatan berat.

“Alhamdulillah,” ucap Lestari singkat. Tangannya kemudian menyambut Shinta yang ternyata berada di belakang.

Ia masih terlihat lemah. Tubuh kecilnya hampir roboh jika tidak segera ditahan oleh Lestari.

“Pelan-pelan,” kata Lestari.

Jefry refleks mendekat, menggantikan Lestari membantu Shinta berjalan sambil mengucapkan rasa syukur, “Puji Tuhan, terima kasih Tuhan Jesus.”

Shinta mengangkat wajah, matanya kini terbuka lebar. Meski masih sayu, tapi tidak kosong seperti sebelumnya.

“Bang?” suaranya pelan, serak, tak bertenaga.

“Lo nggak istirahat aja, Dek,” ujar Jefry sambil membopohnya.

Shinta hanya menggelengkan kepala. Memberi tanda bahwa ia ingin duduk di sofa ruang tengah.

Mereka bertiga melangkah perlahan. Shinta terlihat seperti orang yang sedang baru belajar jalan. Dengan lembut, Jefry menuntun hingga Shinta berhasil duduk di sofa.

Jefry ikut duduk tepat di sebelahnya.

“Sekarang apa yang lo rasain, Dek?” tanyanya. “Kenapa lo bisa sampai kayak gini sih?”

Shinta terdiam beberapa saat. Tangan gemetar di pangkuan.

“Nggak tau juga, Bang,” katanya pelan. “Gua kayak orang tidur aja, tapi semuanya gelap. Gua dengar semua suara yang ada di sekitar gua, tapi gua nggak bisa gerak.”

“Gua nggak bisa buka mata. Bingung juga, mau jelasin gimana. Gua takut, Bang,” beber Shinta sambil menahan tangis.

Mendengar cerita Shinta, kami hanya diam, saling tatap, lalu bersama-sama menoleh ke Lestari, berharap ada penjelasan.

Lestari menyadari situasi.

“Sebelumnya, jiwa Shinta diikat. Oleh arwah penghuni apartemen ini. Seorang wanita, paruh baya,” pungkasnya.

Seketika itu juga, aku bisa menebak, pasti Ratna.

“Jiwa Shinta dan arwah penghuni apartemen sudah menyatu. Tidak bisa dipisahkan, kecuali arwah melepaskan secara sukarela,” lanjut Lestari.

Jefry mengernyit, “Lo nggak bisa bantuin?” dengan nada ketus. “Cobalah lo pikirin dulu, kali aja ada yang bisa lo lakuin buat dia.”

Aku terkejut karena Jefry minta bantuan, tapi dengan nada justru terkesan memberi perintah.

“Bang, jangan gitu lah, Bang,” Hendra berusaha untuk mengingatkan.

Tapi Lestari malah memotong ucapan Hendra, “Nggak apa-apa kok, Kang. Wajar kalau Kang Jefry seperti itu. Mungkin dia sangat peduli sama keselamatan Neng Shinta.”

Aku langsung teringat dengan Jeje. Sikap mereka berdua sangat mirip. Tenang, misterius, penuh kesabaran. Cocok sekali untuk menjadi sepasang suami-istri.

Tak terlalu menghiraukan apa yang aku dan Hendra pikirkan, Jefry melanjutkan kalimat masih dengan acuh, “Terus, sekarang gimana?”

Lestari kemudian kembali memberi penjelasan dengan sangat lembut. Seperti sudah terbiasa menghadapi situasi begini, “Umumnya arwah memiliki permintaan yang harus dipenuhi.”

“Kita harus memenuhi keinginan tersebut.”

Setelah penjelasan Lestari terkait permintaan arwah penghuni apartemen, ruangan menjadi sunyi. Malam ini terasa lebih memberi tekanan tidak biasa.

Aku teringat dengan pesan yang ditinggalkan oleh Ratna kepadaku. Jefry dan Hendra juga langsung memandangku. Memberi isyarat agar aku memberitahu Lestari tentang tulisan itu.

“Jadi gini, Teh”

“Aku mendapatkan pesan, dari seorang wanita bernama Ratna. Dia mengaku sebagai penghuni apartemen yang menjadi korban kelalaian petugas,” ujarku mengawali penjelasan.

Tapi kemudian Hendra tak terima dengan bahasaku, “Bukan kelalaian itu namanya, Gas.”

“Lebih tepat, pembantaian,” tegasnya.

Lestari agak sedikit terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh Hendra, “Pembantaian?”

Aku berusaha meluruskan, “Mhh.. Gimana ya ceritanya.”

“Malam itu, kita sempat diberi penglihatan, Teh. Kita juga sebenarnya nggak tau pasti, bener atau nggak.”

Tak bisa sabar, Jefry ikut menimpali, “Nggak usah muter-muter, Gas. Langsung ceritain aja semua.”

Suasana jadi tegang.

Mendengar teguran Jefry, aku langsung bicara ke inti utama, “Arwah Ratna menulis Tiga Tuntutan Mutlak yang isinya, ingin pemakaman layak, pelaku ditangkap dan pembangunan apartemen dilanjutkan.”

Sontak saja, Lestari merasa heran, “Gimana caranya?”

Kami semua tak dapat memberi jawaban. Itulah pertanyaan yang selama ini kami sedang pikirkan.

“Kita belum tau juga, Teh,” jawabku, singkat.

Setelah beberapa saat tidak ada yang merespons. Shinta mengeluh ke Jefry.

“Bang, gimana ini?”

“Tenang aja, Dek. Kita pasti bakal temuin jalan keluarnya, sabar ya,” sahut Jefry menenangkan.

Ia melanjutkan dengan mendesak agar Lestari mencari solusi yang mungkin bisa dilakukan.

“Memang nggak ada cara lain?” tanyanya sambil menatap tajam ke arah Lestari.

Sayangnya, Lestari masih memberi jawaban serupa. “Nggak ada, cuma itu saja. Kalian harus penuhi tuntutan, kalau ingin menyelamatkan Neng Shinta.”

Tangis Shinta pecah. Ia merebahkan kepala ke bahu Jefry yang berada di sebelahnya.

Kami semua hanya bisa melihat momen mengharukan itu. Shinta terlihat benar-benar takut. Kami bingung, belum bisa menemukan solusi apapun.

Melihat asisten kesayangan menangis, Jefry langsung berusaha untuk mencari jalan.

“Coba deh, kita pikirin satu per-satu.”

“Pertama soal pemakaman layak. Ini berarti mayat-mayat korban, dulu dikuburin dengan cara yang nggak baik. Kalo gitu, kita harus cari dulu, dimana mereka dikubur,” ungkapnya.

Hendra ikut nimbrung, “Gimana cara kita tau dimana mereka dikubur?”

Tanpa pikir panjang, Jefry langsung melirik ke arahku, “Kita bisa minta bantuan sekuriti aneh kenalan lo, Gas.”

Aku pun juga berpikir demikian, “Oke, Bang. Nanti coba gua tanya dia.”

Setelah perundingan panjang, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Kami sepakat untuk memenuhi keinginan Ratna. Bukan karena berani, tapi karena kami tak punya pilihan lain.

“Terus gimana soal permintaan kedua dan ketiga?” ucap Hendra melanjutkan diskusi. “Kita bakal berurusan sama hukum.”

“Satu-satu aja dulu, Bro,” kata Jefry.

Shinta mulai mengangkat tubuh dari bahu Jefry, lalu bersandar ke sofa. Wajah masih pucat, tapi kali ini ada sedikit harapan tersirat di matanya.

“Tenang ya, Dek. Gua pasti bakal lakuin yang terbaik buat lu,” ujar Jefry. “Lo jangan takut ya.”

Shinta menggenggam kedua telapak tangan, “Makasih ya, Bang,” ucapnya lirih.

Di sini aku melihat kebersamaan. Meskipun belum ada solusi pasti, tapi paling tidak, kami satu visi. Masalah ini bukan lagi hal sederhana yang bisa kami abaikan.

Hendra mengusap wajah. “Tapi sumpah, gua masih nggak kepikiran gimana cara kita tangkap pelaku. Bayanginnya aja udah nggak sampai otak gua.”

“Nanti gua coba minta bantuan Damar deh,” jawab Jefry. “Biar itu gua yang omongin.”

Aku ikut melanjutkan pembahasan, “Sekalian bilang soal pembangunan apartemen, Bang. Siapa tau dia mau bantu.”

Jefry terlihat berpikir.

“Iya nanti gua ngomong sekalian,” kataku. “Kali aja dia bisa jadi investornya juga ya kan.”

Harapan mulai terlihat. Kami seperti menemukan jalan keluar yang mungkin dapat dilakukan.

Di sudut sofa paling ujung, Lestari masih duduk diam. Sejak tadi, ia tidak ikut menyusun rencana. Hanya mendengarkan.

“Ada yang mau ditambahin, Teh?” tanyaku.

Lestari menoleh pelan, tatapannya tenang, masih dengan gaya misterius.

“Untuk urusan begitu, aku ngikut aja A’ Bagas. Nggak ngerti juga,” katanya pelan. “Yang penting sekarang, Shinta sudah sadar, tinggal pemulihan dan penyembuhan aja.”

Kalimat yang diucapkan membuatku tenang. Meski hanya sementara.

“Tapi kalian juga harus paham, waktunya terbatas. Walau bagaimanapun, Shinta nggak bisa bertahan lama karena arwah itu terus menggerogoti jiwa Shinta.”

“Kalau sampai terlambat aku juga nggak bisa bantu lagi” tegasnya.

Setelah ucapan Lestari, suasana kembali berubah jadi lebih mencekam.

Secuil harapan yang baru kami temukan, belum mampu mengalahkan kekuatan ancaman tersebut.

“Berarti kita nggak bisa santai nih,” ucap Hendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!