Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Tahta Dan Transaksi
Bisikan dingin Arka di samping telinganya menyisakan desir aneh yang menjalar hingga ke ujung jari Naya.
Namun, sebelum Naya sempat membalas ucapan itu, Arka sudah lebih dulu melepaskan genggaman tangannya.
Pria itu kembali menegakkan tubuh, mengancingkan satu kancing jas abu-abunya, dan memasang topeng kepemimpinan yang dingin.
Di hadapan mereka, Ballroom Utama Dirgantara Hotel telah disulap menjadi panggung kemewahan yang megah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer yang dipoles sempurna.
Ratusan tamu undangan, mulai dari jajaran direksi, investor kelas atas, hingga pejabat berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.
Suasana yang semula riuh oleh denting gelas sampanye mendadak surut saat langkah kaki Arka dan Naya memasuki ruangan. Ratusan pasang mata tertuju pada mereka, menilai, menimbang, dan mencari celah.
“Ingat,” bisik Arka tanpa menoleh, matanya lurus menatap panggung utama di ujung ruangan. “Di dalam ruangan ini, musuh terbesar kita bukan media, melainkan orang-orang yang tersenyum manis menyambut kita.”
Naya menegakkan punggungnya. Gaun emerald green yang membungkus tubuhnya memberikan rasa percaya diri buatan yang sangat ia butuhkan saat ini.
“Saya mengerti, Pak Arka.”
Arka menghentikan langkahnya sejenak, melirik Naya dari sudut matanya dengan tatapan tajam.
“Jangan panggil saya 'Pak' atau 'Arka'. Di depan mereka dan publik, panggil saya Mas Arka. Panggilan formal hanya akan membocorkan sandiwara ini sebelum konferensi pers dimulai.”
Naya menelan ludah, mencoba membiasakan lidahnya dengan panggilan yang terasa terlalu intim itu. “Baik... Mas Arka.”
Doni berjalan mendahului mereka, membuka jalan menuju panggung kecil yang dilengkapi mimbar berlogo Dirgantara Group.
Sebelum Arka melangkah naik, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut beruban rapi memotong jalan mereka. Pria itu mengenakan setelan hitam mahal, matanya tajam dan penuh kalkulasi, sangat mirip dengan mata Arka, namun diselimuti selapis kepalsuan yang kental.
Paman Arka, Hendra Dirgantara. Sosok yang disebut-sebut dalam dokumen Doni sebagai dalang di balik destabilisasi saham perusahaan.
“Selamat, Keponakanku,” ujar Hendra dengan suara berat yang dibuat ramah. Ia merentangkan tangan, memberikan pelukan formal yang singkat kepada Arka.
“Langkah yang sangat cepat. Bahkan Om baru tahu berita bahagiamu ini tadi malam dari laporan media.”
“Dunia bisnis bergerak cepat, Om Hendra. Om tentu paling tahu soal itu,” jawab Arka tenang, tanpa ada kehangatan sedikit pun dalam suaranya.
Mata Hendra bergeser mengamati Naya. Tatapannya meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah berusaha menguliti identitas Naya di tempat.
“Dan ini... calon pengantinmu?” Hendra tersenyum miring. “Naya, bukan? Senang bertemu denganmu, Nak. Luar biasa bagaimana Arka bisa menyembunyikan wanita secantik dirimu dari radar keluarga besar. Wajahmu terasa sangat baru di lingkaran kami. Dari keluarga mana orang tuamu?”
Ujian pertama telah dimulai.
Naya merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya, namun bayangan wajah ibunya yang terbaring di ICU memicu keberanian di dalam dadanya.
Ia menyunggingkan senyum paling anggun yang bisa ia tampilkan, persis seperti yang ia latih di depan cermin tadi pagi.
“Terima kasih atas pujiannya, Pak Hendra,” jawab Naya halus, suaranya tenang tanpa getaran.
“Keluarga saya bergerak di bidang akademis dan pelayanan masyarakat yang jauh dari sorotan media. Kami lebih terbiasa bekerja di balik layar daripada berdiri di bawah lampu kilat kamera.”
Jawaban diplomatis yang dirancang Doni meluncur mulus dari bibir Naya, memangkas niat Hendra untuk menggali latar belakang ekonominya lebih dalam.
Hendra menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ketenangan Naya.
“Begitu? Sangat membumi. Arka memang selalu penuh kejutan.” Hendra menepuk bahu Arka pelan, namun tekanan jarinya terlihat berlebihan.
“Pastikan kejutan ini tidak membawa dampak buruk bagi rapat dewan komisaris minggu depan, Arka.”
“Om Hendra tidak perlu cemas,” balas Arka dingin. “Posisi saya dan masa depan Dirgantara Group jauh lebih stabil dari yang Paman bayangkan.”
Tanpa menunggu respon Hendra selanjutnya, Arka kembali mengulurkan sikunya pada Naya. Naya menyelipkan jemarinya di lipatan siku Arka, dan bersama-sama mereka melangkah naik ke panggung utama.
Suara pembawa acara memecah ketegangan, mengumumkan dimulainya sesi pernyataan resmi. Di bawah sorotan lampu panggung yang menyilaukan, Arka berdiri di depan mimbar.
Dengan ketenangan seorang penguasa, ia membacakan pernyataan pertunangan mereka secara resmi, mengumumkan bahwa pernikahan akan digelar dalam waktu dekat.
Naya berdiri setapak di samping Arka, menyunggingkan senyum sempurna setiap kali kamera mengambil gambar. Di luar, ia tampak seperti wanita paling beruntung di kota ini. Namun di dalam hati, ia tahu bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari transaksi dingin.
Satu jam kemudian, sesi resmi selesai. Arka dan Naya diarahkan menuju ruang privat di belakang panggung untuk beristirahat sejenak sebelum acara ramah tamah dilanjutkan.
Pintu kayu jati tebal tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kebisingan ballroom. Begitu pintu terkunci, keheningan yang canggung langsung melingkupi ruangan.
Naya menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu, mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa pegal akibat sepatu stiletto lima belas sentimeter yang belum pernah ia kenakan sebelumnya.
Arka berjalan menuju meja kecil, melonggarkan dasi kupu-kupunya dan menuangkan segelas air mineral. Ia meminumnya sedikit, lalu membalikkan badan menatap Naya.
“Jawabanmu pada Om Hendra tadi...” kata Arka datar. “Cukup cekatan.”
Naya mendongak, menatap Arka yang kini tampak sedikit lebih santai tanpa aura intimidatif panggungnya. “Saya hanya menjalankan bagian saya dari perjanjian ini, Mas.”
Arka berjalan mendekat, menyodorkan segelas air putih hangat kepada Naya. Naya menerimanya dengan sedikit ragu, jari-jari mereka sempat bersentuhan sekejap.
“Uang muka transaksi sudah ditransfer Doni ke rekening rumah sakit untuk melunasi biaya operasi tahap pertama ibumu,” ucap Arka seraya menyilangkan tangan di dada.
“Sisa dana bantuan dan fasilitas rehabilitasi akan diberikan bertahap sesuai komitmenmu.”
Hati Naya berdesir. Rasa lega yang luar biasa menyelimutinya. “Terima kasih... Terima kasih banyak.”
“Jangan berterima kasih,” potong Arka cepat, suaranya kembali mengeras.
“Ini bukan kebaikan hati. Ini bisnis. Om Hendra dan para komisaris lain tidak akan berhenti mencurigai keberadaanmu. Dalam beberapa hari ke depan, mereka akan mengirim orang untuk menggali masa lalumu sampai ke akar-akarnya.”
Arka melangkah satu tapak lebih dekat, menundukkan sedikit kepalanya hingga pandangan mereka sejajar. Mata cokelat gelap milik Arka mengunci tatapan Naya.
“Mulai hari ini, kamu tidak boleh lagi tinggal di kontrakan lamamu. Kamu akan pindah ke apartemen saya. Kita harus terlihat hidup bersama di mata publik dan keluarga Dirgantara.”
Naya menahan napas. “Pindah ke tempat Mas Arka?”
“Ada keberatan?” bisik Arka dengan nada menantang. “Atau kamu lupa poin nomor tujuh dalam naskah kesepakatan yang kamu tandatangani semalam?”
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak