NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Singkat

Faz akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju studio Hannah. Kehadirannya sontak membuat perempuan bercadar itu terkejut.

“Kenapa Anda ke sini?” tanya Hannah, sedikit terperanjat.

Faz mengangkat sebuah tas yang dibawanya. Tas milik Hannah, berisi laptop yang tertinggal di tempatnya kemarin.

“Oh iya, aku lupa. Sebenarnya Anda tidak perlu repot-repot datang ke sini,” ujar Hannah sungkan.

“Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga ingin mengunjungi studio Akira.” Faz melangkah masuk, kemudian duduk di kursi di depan meja kerja Hannah. Pandangannya berkeliling, memperhatikan ruangan yang tidak terlalu luas itu.

“Kenalkan, aku Riri, teman Hannah.” Perempuan berjilbab light beige itu mengulurkan senyum ramah.

“Faz,” jawabnya singkat.

Setelah memperkenalkan diri, Riri kembali duduk. Sementara itu, Hannah meletakkan tasnya di atas meja, lalu menatap Faz.

“Bagaimana, Anda sudah memutuskan?” tanyanya.

Faz mengangkat sebelah alis. Lagi-lagi perempuan di hadapannya itu berbicara terlalu formal, seolah-olah mereka sedang berada dalam sebuah pertemuan bisnis.

“Panggil Faz saja, Hannah.”

Hannah terdiam sejenak sebelum mengangguk kaku.

“Baik, Faz.”

Entah mengapa, mendengar namanya disebut dengan canggung seperti itu membuat Faz ingin tersenyum. Namun, ia segera mengalihkan perhatian pada urusan yang membawanya ke sana.

“Aku masih memikirkan konsep yang kamu tunjukkan kemarin. Bagaimana kalau konsep itu tetap digunakan, tetapi dengan suasana yang berbeda? Misalnya, pemotretannya dilakukan di Coffee Aroma Waktu atau di tempat terbuka. Kalau hasilnya sesuai dengan yang aku bayangkan, mungkin aku akan setuju untuk bekerja sama.”

Mata Hannah seketika berbinar.

“Baik! Aku akan membuat slide baru dengan konsep yang lebih sesuai.” Nada suaranya terdengar jauh lebih bersemangat.

Melihat perubahan ekspresi itu, Faz mulai merasa bahwa keputusannya datang ke studio Hannah tidaklah sia-sia. Setidaknya, perempuan itu terlihat begitu antusias ketika membicarakan sesuatu yang disukainya.

“Ini studio pribadimu?” tanya Faz, mengamati beberapa perlengkapan fotografi yang tertata di sudut ruangan.

“Iya. Meskipun tempatnya masih menyewa.”

“Menyewa?” Faz menoleh kepadanya. “Aku kira kamu membeli tempat ini bersama Arif.”

Hannah menggeleng pelan.

“Oh, tidak. Arif hanya membantuku mencarikan tempat ini.”

“Faz kenal Arif?” Riri menyela, tampak tertarik.

“Pernah bertemu beberapa kali,” jawab Faz cepat.

Ia tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Terlebih, hubungannya dengan Arif memang tidak bisa dikatakan dekat. Namun, ada sesuatu tentang kedekatan Hannah dengan pemilik Coffee Aroma Waktu itu yang sempat membuatnya penasaran.

“Dari dulu Hannah memang suka fotografi,” ujar Riri, berusaha mencairkan suasana. “Sejak pertama kali punya ponsel, dia sudah senang memotret apa saja.”

Faz langsung menoleh. Topik itu rupanya jauh lebih menarik perhatiannya.

“Benarkah? Waktu itu masih pakai HP jadul?”

Riri terkekeh.

“Tidak juga. Seingatku, dia sudah pakai Android.”

“Oh.” Faz mengangguk kecil. “Lalu, apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?”

Hannah terdiam sesaat, seolah sedang mencari jawaban yang tepat.

“Karena menyenangkan bisa menyimpan setiap momen. Ada banyak hal yang mungkin terlihat biasa saja saat kita mengalaminya, tetapi ketika diabadikan, kita bisa melihatnya kembali dan merasakan sesuatu yang berbeda.”

Faz memperhatikan Hannah dengan saksama.

“Kalau begitu, kenapa tidak pernah ada fotomu sendiri di Instagram?” tanyanya kemudian. “Aku sudah melihat akunmu, tetapi isinya hampir semuanya pemandangan.”

Hannah sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Faz sampai memperhatikan hal sedetail itu.

“Ehm, aku memang lebih suka memotret pemandangan. Mengabadikan ciptaan Allah, lalu mengaguminya lebih lama melalui foto.” Suara Hannah terdengar lembut. “Kadang, sesuatu yang terlihat sederhana justru membuat kita sadar betapa banyak hal indah yang sering terlewatkan.”

Jawaban itu membuat Faz terdiam.

Ia tidak pernah menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari seorang fotografer. Selama ini, Faz lebih sering bertemu orang-orang yang menjadikan fotografi sebagai cara untuk menunjukkan diri, membangun citra, atau sekadar mengejar perhatian. Hannah justru memilih berada di balik kamera, mengabadikan dunia tanpa merasa perlu menjadi bagian dari gambar yang ia bagikan.

Perempuan itu menarik.

Namun, pada saat yang sama, Hannah juga terasa seperti seseorang yang sengaja membangun dinding tinggi di sekeliling dirinya. Ia begitu terbuka ketika berbicara tentang fotografi, tetapi seolah menutup rapat pintu menuju kehidupan pribadinya.

Faz tidak tahu apakah itu sekadar kebiasaan atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Percakapan mereka berlanjut. Sesekali Riri ikut bercerita tentang hasil jepretan Hannah, menunjukkan beberapa foto yang menurutnya paling berkesan. Faz pun mulai mengajukan pertanyaan tentang sudut pengambilan gambar, pencahayaan, hingga tempat-tempat yang biasa Hannah kunjungi untuk mencari objek foto.

Tanpa terasa, waktu berlalu lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Setelah beberapa saat, Faz akhirnya berpamitan.

“Aku pulang dulu. Kalau konsep barunya sudah selesai, kirimkan kepadaku.”

“Baik, Faz. Nanti akan aku kirim setelah selesai,” jawab Hannah.

Faz mengangguk, lalu melangkah keluar dari studio.

Hannah memperhatikannya sekilas sebelum kembali membereskan beberapa perlengkapan di atas meja. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kunjungan singkat itu justru meninggalkan sejumlah pertanyaan baru di benak Faz.

---¤-‐-

Tidak lama setelah Faz pergi, Arif datang ke studio.

Begitu melihat Hannah dan Riri, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Seolah sedang memastikan sesuatu, ia kemudian bertanya, “Tadi itu Faz, bukan?”

Riri yang sedang duduk di dekat meja langsung mengangguk antusias.

“Iya! Dia baru saja datang. Ternyata Hannah akan bekerja sama dengannya. Sekarang mereka sedang dalam proses kontrak dengan perusahaan Arfa.”

Arif menoleh kepada Hannah, meminta penjelasan lebih lanjut.

Hannah hanya mengangguk untuk membenarkan ucapan Riri.

Sesaat, Arif terdiam.

Kenapa semuanya jadi rumit begini? batinnya.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Hannah, yang selama ini ia kenal sebagai perempuan sederhana dengan dunianya sendiri, kini justru terhubung dengan Faz. Belum lagi perusahaan Arfa yang menjadi tempat Hannah akan bekerja sama.

“Bagaimana kamu bisa bekerja dengan Arfa?” tanya Arif kemudian, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Riri kembali mengambil alih pembicaraan sebelum Hannah sempat menjawab.

“Kebetulan sekali, Rif! Farah, anak pemilik perusahaan itu, tetangga Hannah. Mereka sempat ngobrol soal fotografi, lalu Farah menawarkan kerja sama. Awalnya cuma obrolan biasa, tetapi ternyata berlanjut sampai sekarang.”

Arif mengangguk pelan.

“Oh, begitu.”

Ia berusaha memasang ekspresi sewajar mungkin, meskipun pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.

Jadi, Farah sudah bertemu Hannah.

Sebenarnya, Farah adalah adik kandung Arif sendiri. Namun, hingga saat ini, Hannah belum mengetahui hubungan mereka. Arif sengaja menyembunyikan identitas itu, entah karena merasa belum perlu mengatakannya atau karena ada alasan lain yang bahkan enggan ia akui kepada dirinya sendiri.

Kini, ia justru merasa keadaan semakin sulit dikendalikan.

Faz mulai mengenal Hannah. Farah telah menawarkan kerja sama kepadanya. Dan dirinya masih berdiri di antara semua itu, menyimpan sebuah rahasia yang sewaktu-waktu bisa mengubah cara Hannah memandangnya.

Arif mengembuskan napas perlahan.

Ia datang ke studio itu tanpa mengetahui bahwa hari ini akan memberinya lebih banyak persoalan daripada jawaban.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!