Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: SAHABAT DARI MASA LALU
Udara pagi di area komersial eksklusif kawasan utara kota terasa sejuk dan bersih.
Kompleks pusat perbelanjaan terbuka ini dikelilingi oleh arsitektur minimalis modern, taman-taman kecil yang terawat, serta kafe-kafe bernuansa elegan yang hanya dikunjungi oleh segelintir kalangan atas.
Setelah hampir dua minggu terkurung dalam kediaman mewah di perbukitan, hari ini Alden akhirnya mengizinkan Sesil untuk keluar rumah.
Menurut Alden, sedikit perubahan suasana akan membantu mempercepat pemulihan psikologisnya.
Sesil berjalan pelan menyusuri koridor terbuka berbatu granit. Ia mengenakan mantel kasimur berwarna krem pucat dengan syal sutra yang menutupi lehernya. Di sampingnya, Alden melangkah dengan keanggunan yang selalu berhasil menarik perhatian orang-orang yang melintas.
Satu lengan pria itu melingkar erat di pinggang Sesil, memberikan dekapan protektif yang tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Sesil untuk menjauh.
"Kamu suka suasananya, Sayang?" tanya Alden seraya menunduk menatap Sesil. Senyuman hangat terpancar di wajahnya yang tampan.
"Sangat menyenangkan bisa melihat matahari luar," jawab Sesil pelan.
Meskipun pikirannya masih terasa sedikit lambat akibat pengaruh obat rutin yang diminumnya tadi malam, melihat keramaian dan manusia lain memberikan sedikit kehangatan pada jiwanya yang hampa.
"Tunggulah di sini sebentar," ujar Alden saat mereka berhenti di depan sebuah kedai kopi ternama. "Aku akan memesankan chamomile tea hangat favoritmu. Jangan kemana-mana, ya?"
Sesil mengangguk halus. "Baik, Alden."
Alden melepaskan rangkulannya dengan enggan, lalu melangkah masuk ke dalam kedai kopi.
Sesil berdiri sendirian di dekat pembatas kaca yang menghadap ke area taman terbuka. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati terpaan angin segar yang menerpa wajahnya.
"Sesil?"
Sebuah suara pria—serak, sarat akan rasa terkejut dan ketidakpercayaan—memotong keheningan di sekitar Sesil.
Sesil membuka matanya dan menoleh ke asal suara.
Berdiri hanya dua meter darinya, seorang pria muda berpakaian kemeja kasual yang sedikit kusut menatapnya dengan mata melebar.
Pria itu memiliki perawakan atletis, wajah yang ramah namun tampak sangat lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Di tangannya, pria itu memegang sebuah berkas dokumen yang kini terkulai lunglai di samping tubuhnya.
"Sesil! Ini benar-benar kamu?" Pria itu maju satu langkah dengan wajah yang mendadak dipenuhi gelombang emosi campur aduk—lega, takut, dan takjub. "Demi Tuhan, Sesil! Kamu ke mana saja selama ini? Kami semua mencarimu!"
Sesil mengernyitkan dahi, melangkah mundur secara refleks. Rasa asing dan panik langsung merayap di dadanya. "Maaf... Anda siapa?"
Pria itu membeku di tempat, tatapannya beralih dari mata Sesil ke perban kecil yang masih menempel di balik helai rambut di dekat pelipis wanita itu.
"Kamu... kamu tidak mengenali aku?" tanya pria itu dengan nada suara yang bergetar. "Ini aku, Sesil. Rian! Rian kawan satu timmu di meja berita investigasi! Kamu menghilang tanpa jejak sejak malam hujan itu!"
Rian... Berita investigasi...?
Nama itu tidak memicu memori visual di kepalanya, namun ada cetusan aneh di dalam dadanya—sebuah gema familiar yang membuat jantungnya berdegup kencang secara mendadak.
Tangan Sesil bergetar di dalam saku mantelnya.
"Rian...?" bisik Sesil ragu.
"Ya! Rian!" Pria itu kembali maju mendekat, mengabaikan jarak aman.
Matanya memancarkan urgensi yang sangat intens. "Dengar, Sesil, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi semua orang berpikir kamu sudah—"
"Ada masalah di sini?"
Suara Alden bertiup dingin bak angin kutub, memotong kalimat Rian secara tajam.
Sebelum Rian sempat merespon, tubuh tinggi besar Alden sudah menyela tepat di antara Sesil dan pria asing itu. Alden menarik tubuh Sesil ke belakang punggungnya dengan gerakan yang sangat cepat dan mengunci, menyembunyikan Sesil dari pandangan Rian.
Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi tegang. Wajah Alden yang tadinya penuh kehangatan kini mematu, memancarkan dominasi dan ancaman terselubung yang sangat pekat.
"Siapa Anda dan atas dasar apa Anda mengganggu tunangan saya?" tanya Alden dengan intonasi rendah, menatap Rian dari ketinggian posturnya.
Rian terhenyak, matanya menatap Alden dengan keterkejutan yang dengan cepat berubah menjadi sorot permusuhan dan kecurigaan. "Tunangan? Apa maksudmu? Sesil tidak pernah—"
"Aku sarankan Anda menjaga ucapan Anda, Tuan," potong Alden, langkah kakinya maju hingga mempersempit ruang gerak Rian. Cengkeraman tangan Alden di lengan Sesil mengencang hingga terasa sedikit menyakitkan. "Tunangan saya baru saja pulih dari kecelakaan berat dan ingatan klinisnya belum stabil. Jika Anda terus memaksakan diri dan mengganggunya, aku tidak akan ragu mengambil tindakan hukum atas tuduhan pelecehan."
"Tindakan hukum?" Rian tertawa getir, matanya mencoba menerobos bahu tegap Alden untuk menatap Sesil. "Sesil! Dengarkan aku! Pria ini membohongimu! Kamu seorang jurnalis! Kamu sedang menyelidiki sesuatu yang berbahaya sebelum kamu menghilang! Jangan percaya padanya!"
"Cukup!" bentak Alden.
Dua pria berbadan tegap berpakaian serba hitam—pengawal pribadi yang selama ini berjarak dari Alden—tiba-tiba muncul dari sudut bangunan dan mendekat dengan cepat.
"Bawa pria ini menjauh sebelum dia membuat keributan di tempat umum," perintah Alden dingin kepada kedua pengawalnya.
"Sesil! Mengingatlah! Buku catatan itu! Cari buku catatan hitammu!" teriak Rian saat kedua pengawal tegap itu mulai menghalangi jalannya dan memaksanya mundur menjauh. "Jangan biarkan dia mengendalikanmu!"
Sesil berdiri mematung di belakang Alden, napasnya tersengal-sengal. Kalimat Rian tentang buku catatan hitam menghantam ingatan traumatisnya bak petir. Bayangan gang sempit, hujan deras, dan buku bersampul hitam yang dipeluknya kembali berkelebat hebat di dalam otaknya. Kepala Sesil mendadak berdenyut sangat keras.
"Agh..." Sesil merintih, memegang kepalanya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Alden berbalik. Pria itu merengkuh pinggang Sesil, menyangga seluruh berat badan wanita itu.
Raut wajah Alden kembali berubah seketika menjadi sosok tunangan yang sangat cemas.
"Mari, Sayang. Kita harus pulang sekarang," bisik Alden lembut di telinganya,
menyembunyikan kekerasan yang baru saja ditunjukkannya.
Alden setengah menarik dan membopong Sesil menuju sedan hitam mereka yang sudah bersiap di area lobi utama. Pintu mobil dibuka dan Sesil didudukkan di dalam kabin yang kedap suara.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan kompleks belanja tersebut, Sesil menoleh ke arah jendela belakang. Dari kejauhan, ia bisa melihat Rian masih berdiri di trotoar, dikawal oleh dua pria berbadan besar. Pandangan Rian tertuju lurus ke arah mobil mereka—penuh dengan keputusasaan dan rasa cemas yang murni.
Di sampingnya, Alden menggenggam tangan Sesil kembali, mengusapnya seolah mencoba menghapus bekas sentuhan dari dunia luar.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Alden dengan nada suara penuh perhatian. "Pria gila seperti itu memang sering berkeliaran mencari kesempatan. Lain kali aku tidak akan membiarkanmu jauh dari pandanganku walau hanya sedetik."
Sesil tidak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang dingin, matanya menatap lurus ke depan.
Di dalam hatinya, benih keraguan yang tadinya sempat diredam oleh obat-obatan kini kembali bertunas dengan hebat.
Pria bernama Rian itu mengenali namanya, mengetahui profesi lamanya sebagai jurnalis, dan yang paling mengerikan—pria itu menyebutkan tentang buku catatan hitam.
Satu hal kini menjadi makin jelas bagi Sesil:
Narasi indah tentang masa lalu dan pertunangan mereka yang dibangun oleh Alden mulai retak dari luar.