Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan maya
Di lantai teratas gedung Wijaya Group yang megah, suasana ruang kerja orang nomor satu di gedung itu tampak tenang. Bagas melangkah mendekat ke meja kerja Adrian seraya melihat agenda di tabletnya.
"Pak Adrian, jadwal pagi ini pemeriksaan rutin," beri tahu Bagas mengingatkan.
Adrian tak bergeming. Pria itu hanya melirik jam tangan mewahnya sekilas, lalu kembali melanjutkan jemarinya yang lincah meneliti lembaran dokumen di atas meja.
Beberapa saat kemudian, setelah mengakhiri tanda tangan di berkas terakhir, Adrian berdiri dari kursi kebesarannya. Ia merapikan kancing jas hitamnya.
"Apakah keberadaannya sudah ditemukan?" tanya Adrian datar pada Bagas sembari melangkah keluar dari ruangan kerjanya.
Bagas yang berjalan satu langkah di belakangnya bergegas menjawab. "Sudah, Pak. Mbak Maya tinggal bersama suami dan keluarga mertuanya di Kompleks Perumahan Graha Asri."
"Nanti sore, saya mau bertemu langsung dengan dia," ucap Adrian dingin.
Mendengar atasan yang terkenal super dingin, kaku, dan membentengi diri dari wanita mendadak berniat menemui seorang perempuan—apalagi yang masih berstatus istri orang—Bagas seketika terperanjat kaget. Langkah kakinya bahkan sempat tertahan sejenak.
"Saya ingin meminta dia untuk menjadi pengasuh Luna," tambah Adrian kemudian dengan suara datar, seolah menyiram air dingin pada pikiran liar asistennya.
Bagas seketika menghembuskan napas lega yang cukup ketara.
Adrian melirik tipis ke arah asistennya lewat sudut mata, menangkap jelas ekspresi lega itu. "Kamu sedang memikirkan hal yang tidak benar, kan, Bagas?" tanya Adrian dengan raut wajah serba datar.
Bagas, yang sudah hafal betul tabiat dingin sang atasan, hanya bisa tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "E-enggak kok, Pak..." sahutnya bertepatan dengan denting lift yang terbuka di lantai dasar.
Adrian melangkah keluar lift terlebih dahulu. Suasana lobi utama seketika hening dan menegang. Setiap karyawan yang berpapasan maupun berdiri di lobi refleks menundukkan badan dengan penuh hormat. Di pintu kaca utama, petugas keamanan bahkan berlari kecil dan sigap membukakan pintu dengan sikap sempurna saat Adrian melintas.
Pemandangan itu menegaskan betapa sosok Adrian Wijaya begitu disegani dan dihormati di perusahaannya—entah karena wibawa dan kebaikannya, atau karena posisinya sebagai penguasa tertinggi.
Di dalam mobil sedan hitam yang melaju mulus menuju rumah sakit, Adrian menyandarkan punggungnya seraya menatap keluar jendela. Pikirannya kembali dipenuhi bayang-bayang Luna yang kian mengurung diri. Beban emosional itulah yang menjadi akar utama gangguan tidur yang tak kunjung sembuh menggerogoti kesehatannya beberapa tahun terakhir.
Mungkin jika ia bisa sejenak beristirahat dari kesibukan bisnis dan berfokus menemani Luna, pikirannya bisa lebih tenang. Namun, perusahaan yang ia bangun dari nol dengan darah dan keringat itu tidak bisa dilepas begitu saja. Keluarga besar dari almarhum orang tuanya sangat serakah, bahkan tanpa malu terang-terangan menuntut pembagian saham dengan dalih persaudaraan. Adrian harus tetap berdiri kokoh menjaga warisan dan hak putri kecilnya.
Tak terasa, mobil yang dikendarai sopir pribadi Adrian mulai memasuki gerbang pekarangan rumah sakit.
Saat mobil melambat untuk mencari tempat parkir di dekat area UGD, mata tajam Adrian secara tak sengaja menangkap kerumunan orang di pintu masuk darurat. Beberapa warga dan tukang ojek tampak terburu-buru menggotong tubuh lemah seorang wanita dari atas bak mobil pikap terbuka menuju brankar rumah sakit.
Mobil Adrian berjalan merayap, melintas tepat di samping mobil pikap tersebut. Saat pandangannya menembus kaca mobil, Adrian terpaku. Sinar matanya menajam.
Wajah pucat pasi wanita yang terkulai lemah itu ternyata... Maya
Di dalam ruang konsultasi yang tenang dan temaram, dokter spesialis neurologi menatap lembaran hasil pemeriksaan otak dan grafik kualitas tidur milik Adrian. Pria paruh baya berjas putih itu menghela napas panjang sebelum menatap pasien utamanya dengan raut wajah sangat serius.
"Pak Adrian," buka dokter itu dengan nada penuh penekanan.
"Insomnia kronis yang Anda alami bukan lagi sekadar masalah rasa kantuk atau tubuh lelah. Hasil evaluasi fungsi saraf dan pemindaian otak menunjukkan ada penurunan pola gelombang otak akibat kurangnya fase deep sleep yang parah selama bertahun-tahun."
Adrian hanya menyandarkan punggungnya di kursi, raut wajahnya tetap tenang dan tak bergeming, meski matanya menyiratkan kelelahan yang dalam. "Saya masih bisa bekerja dengan fokus, Dok."
"Untuk saat ini, iya. Tapi otak manusia ada batasnya, Pak," potong sang dokter tegas. "Jika kondisi kekurangan tidur ekstrem ini dibiarkan terus-menerus tanpa ada fase pemulihan emosional, dampak destruktifnya bisa mulai merusak fungsi kognitif, memori jangka pendek, hingga memicu depresi berat dan kerusakan regulasi saraf otak. Anda harus segera menemukan cara untuk menenangkan pikiran dan emosi Anda. Ini peringatan serius dari saya."
Adrian terdiam sejenak. Ia paham betul bahwa akar dari seluruh beban pikirannya bukan sekadar urusan bisnis, melainkan kondisi emosional Luna yang kian memprihatinkan.
"Saya mengerti, Dok. Berikan resep yang biasa saja," sahut Adrian akhirnya, berdiri dari kursinya.
Usai keluar dari ruang konsultasi, Bagas langsung bergerak sigap menuju bagian apotek rumah sakit untuk mengantre obat penenang dan terapi gangguan tidur yang baru saja diresepkan dokter. Sementara itu, Adrian memutuskan untuk tidak membuang waktu dan melangkah sendirian menyusuri koridor rumah sakit yang dingin menuju area Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Jas hitamnya yang terpasang rapi serta perawakannya yang tegap dan berwibawa sukses menyita perhatian beberapa petugas medis yang berpapasan dengannya. Tiba di depan meja informasi IGD, Adrian menghampiri seorang perawat yang sedang mencatat berkas.
"Permisi, Sus. Pasien wanita yang baru saja tiba beberapa saat lalu menggunakan mobil pick up dirawat di mana ya?" tanya Adrian dengan nada suara yang dalam dan tenang.
Perawat itu mendongak, terpana sejenak oleh wibawa Adrian, sebelum akhirnya memeriksa papan informasi. "Oh, pasien yang pingsan di jalan tadi ya, Pak? Ada di bilik nomor tiga, di sebelah kanan koridor utama," petunjuk sang perawat seraya menunjuk ke arah tirai pembatas biru di ujung ruangan.
"Terima kasih," ucap Adrian singkat.
Dengan langkah santai namun pasti, Adrian mengayunkan kakinya menuju bilik nomor tiga. Jemarinya baru saja terangkat hendak menyibak tirai biru yang tertutup rapat, ketika pendengarannya mendadak ditampar oleh rentetan suara tajam dan cacian yang teramat tidak enak didengar dari balik tirai.
"Cuma disuruh ke pasar saja malah pingsan di jalan! Bikin repot orang saja!" omel suara wanita paruh baya yang terdengar sangat melengking dan penuh rasa benci.
"Iya, lagian aneh banget. Niatnya paling cuma mau cari perhatian Arya, kasian Arya jadi ketinggalan jam kerja" timpal suara wanita lain yang tak kalah sinis.
"Udah, Bu, Mbak, kasihan Maya..." suara pria yang diduga suami Maya menyela, namun dengan nada sangat lemah dan ragu, tanpa ada ketegasan sedikit pun untuk membela istrinya.
"Kasihan apanya?! Coba kamu lihat uang lima ratus ribu ini, untung tidak hilang atau diambil orang waktu dia tergeletak di jalan! Cuma uang ini yang penting, bukannya dia!" sahut Bu Rika lagi tanpa beban sama sekali.
Adrian menghentikan tangannya di udara. Keningnya berkerut dalam. Rasa enggan untuk mencampuri urusan domestik rumah tangga orang lain mendadak menguasai pikirannya. Bagi Adrian, drama dan cacian tak bermoral seperti ini sangat mengganggu ketenangannya.
Sangat tidak beradab, batin Adrian dingin.
Ia menghela napas panjang, memutuskan mengurungkan niatnya untuk menjenguk Maya saat ini. Adrian membalikkan badannya, siap mengayunkan langkah untuk meninggalkan area bilik tersebut.
Namun, baru saja satu langkah kakinya terayun, langkah Adrian serta merta terhenti kaku. Pintu tirai dari arah samping tersingkap, dan seorang dokter melangkah masuk ke dalam bilik dengan raut wajah sangat serius seraya membawa lembaran hasil pemeriksaan.
"Permisi, apakah ini keluarga dari Pasien Maya?" tanya dokter itu memotong omelan Bu Rika yang masih tertahan.
"Iya, Dok. Saya suaminya," jawab Arya cepat. "Istri saya cuma kecapekan dan pingsan biasa kan, Dok? Sudah boleh pulang sekarang?"
Dokter itu menghela napas panjang dan berat, tatapannya menyapu Arya, Bu Rika, dan Santi bergantian dengan raut kecewa.
"Pak, tolong dengarkan saya baik-baik," ujar dokter dengan suara bergetar menahan ketegasan. "Ibu Maya mengalami dehidrasi berat, kelelahan fisik yang ekstrem, serta kekurangan nutrisi atau malnutrisi yang sangat parah. Ditambah lagi dengan tekanan mental dan stres hebat yang ia alami..."
Dokter itu jeda sejenak, merapikan catatan medis di tangannya sebelum menyampaikan vonis yang menghantam udara.
"...akibat kondisi fisik dan mentalnya yang runtuh total, kami menemukan bahwa Ibu Maya sebenarnya sedang mengandung dengan usia kehamilan memasuki sepuluh minggu. Namun... akibat tekanan dan kelelahan berat ini, detak jantung janin di dalam kandungannya sudah tidak ada. Janinnya telah meninggal dunia di dalam kandungan dan harus segera dilakukan tindakan kuretase untuk dibersihkan."
Di luar tirai, tubuh Adrian seketika mematung kaku. Wanita yang hendak ia temui untuk menjadi penyelamat emosional bagi putrinya, ternyata baru saja kehilangan calon buah hatinya sendiri
Sementara dari balik tirai, suasana hening mencekam merebak seketika sebelum akhirnya terpecah oleh jeritan tangis histeris yang begitu memilukan dari bibir Maya.