NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Kapan Nikah?

Aroma parfum murahan yang disemprot berlebihan tidak mampu menutupi bau amis ikan dari meja sebelah. Di sebuah rumah makan padang yang bising dan ber-AC setengah mati. Tia, wanita karier berusia 35 tahun dengan posisi staf administrasi senior yang gajinya habis dipotong cicilan paylater, hanya bisa menatap piring rendangnya dengan pandangan kosong.

Di hadapannya, Tante Lies dan Tante Mirna sedang melancarkan aksi teror berkala. Sang ibu, Bu Heni, duduk di samping Tia sambil mengusap dada, berakting seolah-olah upaya menjodohkan Tia adalah sebuah perjuangan hidup dan mati yang sangat melelahkan.

"Tia, kamu itu sudah 35 tahun! Umur segitu kalau di kampung sudah dipanggil 'Mbah'!" seru Tante Lies seraya mengacungkan sendok berisi kuah gulai yang menetes-netes. "Teman seusiamu anaknya sudah ada yang masuk SMA. Kamu? Kucing saja tidak punya! Mau sampai kapan kamu melupakan kodrat?"

"Iya, Tia. Kemarin Tante mau jodohkan kamu sama Pak RT sebelah rumah Tante, kamu malah menolak. Padahal dia itu mapan, rumah sendiri, cuma duda anak empat," timpal Tante Mirna sambil mengunyah kerupuk kulit dengan suara renyah yang menggelegar.

"Pak RT itu umurnya 58 tahun, Tante! Kumisnya tebal mirip ulat bulu garong, dan tiap kali ketemu saya dia selalu menanyakan berapa premi asuransi jiwa saya! Itu bukan nyari istri, tapi nyari mangsa!" potong Tia, menahan amarah yang sudah naik sampai ke ujung ubun-ubun.

Bu Heni langsung memegang tangan Tia dengan sangat dramatis, lengkap dengan raut wajah seolah siap menghembuskan napas terakhir. "Pokoknya Bulan Depan, saat arisan keluarga besar di rumah Tante Lies, kamu harus bawa calon suami! Harus! Kalau tidak bawa, Ibu bakal pura-pura pingsan di depan semua orang dan menyalahkanmu atas serangan jantung Ibu!"

Ancaman itu sama sekali tidak main-main. Ibu Heni adalah aktris amatir terbaik di kompleks perumahannya. Jika dia bilang akan pingsan, dia benar-benar akan berguling di atas ubin demi mendapatkan simpati publik.

Tia pulang ke kontrakan tipe 21-nya dengan kepala berdenyut hebat. Logika dan akal sehatnya berputar keras memikirkan jalan keluar. Menyewa pria tampan dari agensi escort eksklusif untuk dipamerkan jelas sebuah kemewahan yang mustahil. Tarif mereka bisa mencapai lima juta rupiah per malam, sedangkan sisa limit kartu kredit Tia tinggal tiga ratus ribu rupiah, itu pun sudah terancam diblokir bank.

"Aku butuh pria tampan, bertubuh bagus, tapi... bisakah disewa pakai sistem cicilan paylater?" gumam Tia sambil berbaring telentang di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas.

Keajaiban atau awal dari kesialan yang lebih besar, dimulai keesokan harinya. Tempat kerja Tia mengadakan acara gathering tahunan di Kebun Binatang Kota. Saat rekan-rekan kerjanya yang masih muda sibuk berswafoto di depan kandang jerapah atau memberi makan kelinci, Tia memilih menyendiri di area reptil yang sepi, meratapi nasibnya yang tak kunjung menikah dan terancam menjadi bahan gunjingan keluarga selamanya.

Tiba-tiba, riuh tepuk tangan dan teriakan histeris dari pengunjung membuyarkan lamunan Tia. Karena penasaran, Tia melangkah mendekati area pertunjukan utama di kolam buaya.

Di sana, di tengah kubangan air keruh dan kawanan buaya muara berukuran raksasa yang siap mencabik-cabik daging, berdiri seorang pria. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan bentuk tubuh atletis dengan otot bahu yang simetris, terpapar sinar matahari terik. Perutnya six-pack sempurna dan mengilap terkena cipratan air. Wajahnya? Luar biasa tampan. Perpaduan antara rahang tegas ala aktor laga internasional dan mata tajam yang sanggup membuat wanita lupa bernapas. Rambutnya sedikit bergelombang dan basah, menambah kesan liar sekaligus menawan.

Tia terpana. Matanya melotot tanpa berkedip. Namun, aura romansa berkelas itu langsung buyar saat pria tersebut mulai berbicara menggunakan mikrofon jepit berkresek-kresek.

"Yak, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian! Ini kenalkan, si Bejo! Buaya muara paling romantis se-Indonesia! Bejo ini tidak suka selingkuh, beda jauh sama mantan Bapak dan Ibu sekalian yang sukanya ngilang tanpa kabar!" seru pria itu dengan suara berat yang santai, lalu dengan sangat tak berdosa menepuk-nepuk moncong buaya seberat 400 kilogram di sebelahnya seperti menepuk anak anjing.

Tia mendekat ke papan informasi pegawai yang tergantung di dekat pagar pembatas: Samsudin - Pawang Reptil Senior.

Samsudin. Sebuah nama yang sangat merakyat untuk wajah sekelas model papan atas Milan. Tapi bagi Tia saat itu, pria ini adalah jawaban atas segala doa dan deritanya. Pria tampan, fisiknya luar biasa menunjang, dan yang paling penting dia bekerja di kebun binatang daerah, yang artinya pendapatannya kemungkinan besar bisa diajak "kompromi".

Tia menunggu dengan sabar di dekat pintu keluar khusus staf hingga pertunjukan selesai. Ketika pria tampan itu keluar sambil membopong ember plastik bekas tempat daging raksasa, Tia langsung melompat menghadangnya.

"Permisi... Mas Samsudin?" sapa Tia dengan napas terengah-engah.

Pria tampan itu berhenti, menoleh, lalu menyapu keringat di dahinya menggunakan handuk kecil yang sudah dekil. "Iya, Mbak? Mau foto sama ular sanca? Tambah dua puluh ribu ya, bayar di kasir depan."

"Bukan! Saya tidak mau foto sama ular!" kata Tia tegas, lalu mengecilkan suaranya. "Saya mau sewa Mas Samsudin."

Samsudin mengerutkan dahi tampannya, menatap Tia dengan tatapan penuh curiga. "Sewa? Mbak, saya ini pawang reptil, bukan mobil rental. Enggak bisa disewa-sewa."

"Saya mau sewa Mas jadi calon suami saya!" potong Tia tanpa jeda. "Cuma buat dipamerkan di depan ibu dan tante-tante saya yang rewel bulan depan. Mas cuma perlu duduk manis, senyum ganteng, pakai baju rapi, dan pura-pura cinta mati sama saya selama tiga jam!"

Samsudin mundur satu langkah. Matanya menatap Tia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan seperti sedang melihat orang yang baru saja lepas dari rumah sakit jiwa.

"Mbak... Mbak sehat?" tanya Samsudin polos. "Mbak baru digigit ular berbisa ya di dalam? Atau tertular gila dari monyet? Tiba-tiba datang ke kandang buaya terus ngajak nikah sewaan. Anomali banget."

"Saya serius, Mas Samsudin!" tegas Tia, matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam. "Saya bayar tiga juta untuk tiga jam!"

Samsudin sempat tertegun mendengar angka tiga juta. Namun, dia segera menggelengkan kepala keras-keras. "Enggak, enggak! Mbak ini aneh banget. Lagian nyawa saya di dalam kandang buaya itu mahal, Mbak. Saya tidak mau terlibat skenario bohong-bohongan aneh begini. Cari orang lain saja di jalanan. Saya mau cuci ember."

Samsudin langsung melangkah pergi meninggalkan Tia yang masih melongo di tempat. Penolakan mentah-mentah itu membuat harga diri Tia sedikit mencelos, tetapi tenggat waktu arisan keluarga membuatnya tak punya pilihan selain memutar otak kembali.

Malam harinya, di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor, Samsudin berjalan gontai menuju kamar kostannya. Kostan tipe 3x3 meter itu beratap seng yang kalau hujan berisik dan kalau panas rasanya seperti di dalam oven. Cat dindingnya mengelupas, dan kipas angin gantung di langit-langit berbunyi kriek-kriek menakutkan setiap kali berputar.

Samsudin melepas kausnya yang basah oleh keringat, lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur lipat yang tipis. Pekerjaannya sebagai pawang buaya sama sekali tidak semewah otot perutnya. Gajinya hanya sedikit di atas UMR kota, dan itu pun selalu menguap dalam hitungan hari.

Tiba-tiba, ponsel pintarnya yang layarnya sudah retak di banyak sisi berdering nyaring. Nama "Ibu Kampung" tertera di layar.

Samsudin menghela napas panjang, menetralkan suaranya agar tidak terdengar lelah, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Bu? Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam, Din," suara ibunya di ujung telepon terdengar parau. "Din, kamu sudah gajian belum nak?"

Hati Samsudin langsung mencelos. "Sudah Bu, dua hari lalu. Kan sudah Sam kirim satu juta ke rekening Ibu?"

"Duh, Din... uangnya sudah habis," potong ibunya cepat. "Adikmu yang nomor tiga harus bayar uang gedung SMA besok pagi, kalau tidak ikut ujian. Terus bapakmu tadi sore kambuh lagi asam uratnya, butuh beli obat ke apotek. Sama itu... tunggakan listrik rumah di kampung sudah dapat surat peringatan mau diputus."

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!