Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayang-bayang Masa Lalu
Paviliun Tamu Kehormatan Lembah Obat Abadi tampak seperti tempat yang tenang dan suci. Dindingnya terbuat dari kayu cendana berusia seribu tahun yang memancarkan Qi penenang jiwa. Asap dupa teratai salju memenuhi ruangan dan membuat tempat itu terasa seperti bagian kecil dari surga.
Namun bagi Mo Xie dan Xue Ling'er, semua keindahan itu tak lebih dari kebusukan yang diselimuti wewangian.
Mo Xie berdiri di dekat jendela dan menatap bulan purnama di atas Kawah Es Abadi. Jubah putihnya memancarkan cahaya keemasan samar dari tulang kultivator Jiwa Baru Lahir yang tertanam di bahunya. Hawa kematian di tubuhnya tersembunyi di balik aura seorang kultivator aliran lurus.
Di belakangnya, Xue Ling'er duduk di tepi ranjang. Cadarnya telah dilepas. Tatapannya kosong, seolah menembus lantai dan melihat kembali kesengsaraan yang pernah mengurungnya.
"Mereka tidak berubah."
Suara Ling'er terdengar dingin. Jemarinya meremas seprai hingga kain itu robek.
"Yang mereka bakar masih dupa Penekan Roh. Dulu, saat aku menjadi Gadis Suci, dupa ini selalu memenuhi kamarku."
Ia menunduk.
"Mereka bilang dupa ini membantuku bermeditasi. Padahal, dupa itu memperlambat aliran darahku agar mereka bisa menyiksa dan mengorek meridianku tanpa membuatku mati terlalu cepat."
Mo Xie berbalik.
Ia berjalan mendekat tanpa suara.
"Rasa sakit yang kau pendam terlalu lama hanya akan merusak hatimu sendiri."
Tangan kiri Mo Xie terangkat. Cakar hitam dari Lengan Harimau Kegelapan menyentuh bibir Ling'er dengan lembut.
"Malam ini kita tidak hanya mengenang masa lalu. Tunjukkan kepadaku tempat mereka menyiksamu."
Mata Ling'er berkilat.
"Kita akan memanen apa yang tersisa dari masa lalumu."
Kebencian di mata Ling'er seketika menjadi tajam.
Ia bangkit dan berjalan menuju sebuah lukisan burung bangau yang tergantung di dinding timur. Ujung kukunya menyentuh mata burung bangau itu. Setetes darah jatuh ke permukaannya.
Klak.
Terdengar bunyi halus dari balik dinding.
Lukisan itu bergeser dan memperlihatkan lorong sempit yang gelap dan lembap.
"Lembah Obat Abadi dibangun di atas gua-gua bawah tanah," kata Ling'er sambil melangkah masuk. "Dulu aku melewati lorong ini saat mencoba melarikan diri."
Ia terdiam sejenak.
"Tetua Agung menangkapku di sini. Ia mematahkan kedua kakiku dan menyeretku kembali."
Mo Xie mengikuti di belakangnya.
"Lorong ini menuju Penjara Ekstraksi."
Mereka menuruni ribuan anak tangga batu yang licin oleh lumut. Semakin dalam mereka pergi, semakin kuat bau darah dan belerang yang memenuhi udara.
Wangi dupa dari permukaan telah lama lenyap.
Yang tersisa hanyalah hawa Yin yang pekat.
Setelah hampir setengah jam berjalan dalam kegelapan, mereka tiba di depan jeruji besi spiritual.
Di balik jeruji itu terbentang sebuah gua besar yang diterangi lumut hijau redup.
Pemandangan di dalamnya membuat bahkan Mo Xie terdiam sesaat.
Puluhan kultivator tergantung di sepanjang dinding. Rantai besi menembus tulang mereka dan membuat tubuh kurus itu menggantung tanpa daya.
Mereka bukan manusia fana.
Dari aura Yin yang masih tersisa, jelas bahwa sebagian besar dari mereka dahulu merupakan tetua sekte sesat dan kultivator iblis yang menurut dunia luar telah dibasmi oleh Lembah Obat Abadi.
Ternyata mereka tidak dibasmi.
Mereka dipelihara.
Tubuh para tahanan kurus kering. Kulit pucat melekat pada tulang. Tabung bambu spiritual menancap pada nadi utama mereka dan terus menyedot darah serta Qi Yin dari tubuh mereka.
Semua aliran itu berakhir di sebuah kolam besar di tengah gua.
Ling'er mengepalkan tangannya.
"Inilah rahasia pil keabadian mereka." Suaranya dipenuhi kebencian.
"Para kultivator di atas sana meminum pil suci dan menganggap diri mereka menyelamatkan dunia. Mereka tidak tahu bahwa pil itu diracik dari darah dan penderitaan orang-orang yang dikurung di sini."
Ia menunjuk seorang tahanan.
"Mereka bahkan memberikan pil penyambung nyawa kepada para tawanan."
Mo Xie mengerutkan kening.
"Bukan untuk menyelamatkan mereka." Ling'er tersenyum dingin. "Melainkan agar mereka tetap hidup. Selama mereka hidup, darah mereka masih bisa diperah."
Ia bersandar pada dinding batu.
"Puluhan tahun mereka lakukan hal yang sama sampai tubuh dan jiwa para tawanan hancur."
Tatapannya bergeser ke sudut gua.
"Di sana." Jarinya menunjuk sebuah altar batu hitam. "Di atas altar itu aku pernah diikat."
Suaranya bergetar. "Setiap bulan purnama, guruku menggunakan tabung yang sama untuk menghisap Darah Yin murniku."
Mo Xie tidak menjawab.
Tangannya terangkat dan mencengkeram jeruji besi spiritual.
Ia tidak langsung menghancurkannya. Ledakan Qi akan menarik perhatian penjaga.
Sebaliknya, hukum berat dari Domain Penghancur Gunung mengalir melalui ujung jarinya. Jeruji besi itu perlahan melengkung dan hancur menjadi serpihan logam tanpa menimbulkan suara berarti.
Mo Xie melangkah masuk.
Ia berjalan melewati para tahanan yang menggigil dalam tidur panjang mereka.
Tatapannya menyapu tubuh-tubuh kurus tersebut.
Sebagian besar tulang mereka telah rapuh. Sumsum mereka hampir kering setelah puluhan tahun diperas.
Tidak ada yang bisa ia gunakan. Namun di ujung gua, tiga sosok menarik perhatiannya.
Ketiganya terikat oleh rantai dan segel yang jauh lebih kuat.
Aura mereka memang telah melemah, tetapi Mo Xie masih bisa merasakan kekuatan yang pernah mereka miliki.
Ketiganya adalah kultivator iblis tingkat Inti Emas puncak.
Meski darah mereka telah disedot selama bertahun-tahun, tulang mereka masih menyimpan Qi Yin yang pekat. Sumsum mereka belum sepenuhnya kering.
Mo Xie menatap ketiga orang itu. "Tulang rusuk mereka masih memiliki tenaga."
Ia membutuhkan bahan untuk menyempurnakan rusuk kanannya yang masih fana.
Sementara itu, sumsum mereka juga bisa menjadi bekal bagi Ling'er untuk memperkuat Darah Yin-nya kelak.
Mo Xie berdiri di depan salah satu tahanan yang sedang koma.
Jika ia merobek tubuh orang itu secara langsung, jeritan dan suara tulang patah akan terdengar sampai ke penjaga.
Formasi kedap suara di tempat ini hanya menyembunyikan suara dari permukaan. Itu tidak cukup untuk membuat keributan besar.
Mo Xie menoleh kepada Ling'er. "Tutup telingamu."
Ling'er mengerti. Ia menutup telinga dan menahan napas.
Mo Xie menjejakkan kaki kanannya.
Domain Penghancur Gunung menyebar dalam radius beberapa zhang dan menutup ruang di sekitar mereka.
Hukum berat berputar.
Udara di dalam domain ditekan hingga menjadi sangat tipis. Suara pun terputus.
Tak ada jeritan yang bisa keluar dari dalam domain.
Pada saat yang sama, Lengan Harimau Kegelapan bergerak.
Srak!
Cakar hitam menembus dada tahanan itu.
Pria kurus tersebut terbangun seketika. Matanya terbuka lebar. Mulutnya menganga dalam jeritan putus asa.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Mo Xie tetap tenang.
Cakar obsidiannya menyingkap tulang rusuk yang berwarna abu-abu gelap. Qi iblis masih mengalir di antara tulang-tulang tersebut.
Lengan Kera Iblis di tangan kanannya ikut masuk ke dalam rongga dada.
Ia mematahkan sambungan tulang rusuk dengan satu gerakan.
Krak!
Tiga tulang rusuk tercabut sekaligus.
Darah hitam melayang di dalam domain dan perlahan jatuh setelah tekanan hukum berat berubah.
Tubuh tahanan itu mengejang sebelum akhirnya terkulai.
Mo Xie menyimpan ketiga tulang rusuk tersebut. Lalu ia berpindah kepada tahanan kedua.
Kemudian yang ketiga.
Semuanya berlangsung hanya dalam beberapa tarikan napas.
Tiga kultivator iblis tingkat Inti Emas puncak mati tanpa sempat mengeluarkan suara.
Mo Xie memperoleh sembilan tulang rusuk iblis.
Kesembilan tulang itu masih menyimpan Qi Yin yang kuat. Cukup untuk menyempurnakan tulang rusuk kanannya dan menjadi sumber daya bagi Ling'er.
Setelah selesai, Mo Xie menarik kembali Domain Penghancur Gunung.
Udara dari luar segera mengalir masuk.
Suara tetesan air kembali terdengar di dalam gua.
Mo Xie membersihkan darah dari cakar hitamnya lalu berjalan menuju Ling'er.
Ia menyerahkan tiga tulang rusuk yang masih menyimpan sumsum kepada wanita itu.
"Simpan."
Ling'er menerima tulang tersebut.
"Sumsum mereka mengandung Qi Yin yang murni. Kelak, saat kita berhadapan dengan gurumu, kau bisa menggunakannya untuk memulihkan kekuatan Darah Yin."
Ling'er menatap tulang-tulang itu.
Kemudian ia melihat kembali altar batu hitam di ujung gua.
"Dulu, ketika mereka mematahkan kakiku di altar itu, aku bersumpah kepada surga."
Suaranya perlahan berubah.
"Aku bersumpah akan menenggelamkan lembah ini dalam darah."
Ia menoleh kepada Mo Xie.
"Tapi sekarang aku sadar." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Membunuh mereka terlalu mudah."
Mo Xie mengangkat tangan kanannya dan menepuk bahu Ling'er.
Sentuhan logam dingin itu justru membuat hati wanita tersebut terasa tenang.
"Aku sudah berjanji kepadamu. Lembah ini tidak akan sekadar hancur."
"Kemunafikan mereka akan terbuka di hadapan seluruh dunia."
Mata Ling'er bergetar.
"Suatu hari nanti, gurumu akan melihat semua yang ia banggakan hancur di hadapan matanya sendiri."
"Dan tangan yang menghancurkannya adalah tangan yang dahulu ia buang."
Tatapan Mo Xie menjadi semakin dingin.
"Pada akhirnya, aku akan mencabut tulang punggungnya dan meletakkannya di bawah kakimu."
Ling'er menarik napas panjang. Senyumnya perlahan melebar.
Bagi orang lain, kalimat itu mungkin terdengar mengerikan. Namun bagi Ling'er, itu lebih indah daripada puisi apa pun.
Mereka berdua berbalik dan meninggalkan Penjara Ekstraksi melalui lorong rahasia.
Di belakang mereka, puluhan tahanan masih tergantung dalam keheningan.
Panen pertama Mo Xie di Lembah Obat Abadi telah selesai.
Namun ini baru permulaan.
Besok pagi, seluruh tetua dan para ahli lembah akan berkumpul untuk memurnikan Teratai Darah Yang Ekstrem.