NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Suasana ruang makan malam itu kerasa beda banget. Biasanya, meja makan marmer panjang yang sanggup nampung belasan orang ini cuma jadi arena bisu. Hening, kaku, dan penuh tensi, mirip adegan di film horor di mana jumpscare bisa muncul kapan aja dalam wujud teriakan atau piring terbang. Tapi malam ini, keadaannya literally berbalik seratus delapan puluh derajat. Lampu gantung kristal di atas meja kayak memancarkan cahaya yang lebih warm.

Gue duduk di sisi kanan meja, sementara March di ujung. Di antara kita, si kembar duduk anteng di kursi high-chair mereka masing-masing. Hidangan steak dan mashed potato karya koki pribadi keluarga Ezlen udah tersaji rapi, tapi sejujurnya, fokus gue bukan ke makanannya. Fokus gue sepenuhnya buat anak-anak ini.

Gue merobek sedikit dinner roll, ngolesin mentega tipis-tipis, dan nyodorin roti itu ke piring Mika. "Jadi, kelincinya lari sekenceng mungkin, kan? Zzzuuummm! Kayak kilat." Gue meragain gerakan tangan lari dengan ekspresi heboh yang over-the-top.

Mika ketawa lepas, gigi susunya kelihatan semua. Tangan mungilnya yang belepotan mentega bertepuk-tepuk girang. "Kelinci nabrak apa, Ma? Nabrak apa?"

"Kelinci nggak nabrak, Mika. Kelincinya nyasar," sahut Miko sok tahu. Dia menyuapkan potongan ayam ke mulutnya, ngunyah dengan pipi menggembung lucu. "Nyasar ke rumah... rumah..."

"Rumah beruang cokelat yang super fluffy!" sambung gue semangat, mendramatisir cerita dadakan gue. "Beruangnya lagi makan madu pakai sendok gede banget. Nyam, nyam, nyam. Pas kelinci dateng, beruangnya kaget! Terus dia bilang, 'Hei! Kamu mau ikut makan madu, nggak?'"

Kedua bocah itu sontak ketawa ngakak. Like, pure, untainted laughter yang bikin hati gue kayak disiram sirup manis. Senyum gue ikut mengembang lebar, nggak bisa ditahan. Rasanya aneh. Maksud gue, gue cuma nyeritain fabel random nggak jelas yang gue karang sepuluh detik lalu, tapi buat Miko dan Mika, cerita ini seolah hal paling menakjubkan yang pernah mereka dengar.

Gue mengambil serbet dari pangkuan, lalu mengusap sisa saus di sudut bibir Miko dengan lembut. "Pelan-pelan makannya, jagoan."

Di ujung meja, March terdiam. Cowok itu dari tadi cuma menatap lekat interaksi kami tanpa suara. Garpu dan pisaunya diletakkan begitu aja di tepi piring. Pandangannya terpaku ke arah gue, intens dan tajam, bikin gue sadar kalau sedari tadi gue lagi diawasi dengan tingkat fokus level dewa.

Gue membalas tatapannya. Eye contact kita terkunci. Dan, wow, buat sedetik gue ngerasa udara di ruangan ini mendadak nipis. Ada sesuatu dalam tatapan March malam ini. Bukan lagi tatapan 'suami tajir yang sabar ngadepin istri toxic'-nya, tapi tatapan cowok yang kayak lagi nyoba mecahin kode rahasia yang paling bikin dia penasaran seumur hidup.

Gue angkat sebelah alis, tersenyum jahil. "Kenapa liatin terus? Ada yang salah sama mukaku? Atau ceritaku kurang make sense buat logikamu yang kaku itu, Pak Bos?"

March mengerjap pelan, seolah baru tersadar dari lamunan panjang. Dia berdeham, tangannya meraih gelas wine kristal di sebelahnya, lalu menyesap cairan merah itu sedikit. Sudut bibirnya, yang biasanya lurus dan dingin, perlahan melengkung membentuk senyum super tipis. Senyum yang sukses bikin damage lumayan parah di dada gue. Seriously, this guy is illegal.

"Nggak," jawabnya dengan suara deep yang bikin bulu kuduk gue meremang halus. "Aku cuma... lagi dengerin."

"Bohong," goda gue, menopang dagu pakai sebelah tangan, ngasih tatapan menantang yang elegan. "Kamu dari tadi nggak makan steak-mu. Kalau emang ceritaku bikin selera makanmu hilang, bilang aja."

Miko yang lagi ngunyah tiba-tiba ikut nyamber. "Papa nggak makan karena kaget, Ma! Soalnya Mama nggak marah-marah!"

Boom. Skakmat dari bocah lima tahun.

Gue langsung tersedak ludah sendiri. Anjir, anak kecil emang nggak ada filter. March di seberang sana tertawa pelan. Tawanya pelan banget, lebih mirip dengusan, tapi itu cukup buat bikin suasana yang udah hangat jadi makin rileks.

"Tuh denger," kata March santai, menunjuk Miko dengan dagunya. "Anakmu lebih jujur."

Gue memutar bola mata malas, tapi bibir gue nggak bisa berhenti senyum. "Iya, iya, my bad. Mulai sekarang, rule nomor satu di meja makan: no angry mom allowed. Yang ada cuma story time dan makanan enak."

"Janji, Ma?" Mika menatap gue dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap. Jari kelingking mungilnya teracung ke arah gue.

Hati gue lumer detik itu juga. Gue mengaitkan kelingking gue yang jauh lebih besar ke kelingking mungilnya. "Janji, Sayang. Mama janji."

Gue narik napas lega. Well, that went smoother than expected. Makan malam berlanjut dengan obrolan ringan, diselingi celotehan Miko dan Mika soal playground dan kartun terbaru mereka. March, yang biasanya lebih milih diam dan cepat-cepat nyelesaiin makannya buat balik kerja, kali ini nyempet-nyempatin nimbrung dan ngejawab pertanyaan-pertanyaan random si kembar dengan sabar.

Ini dia. Keluarga harmonis idaman semua orang. Kalau aja Aluna tau malam ini keluarga yang mau dia ancurin lagi ketawa-ketawa sambil makan malam manis, pasti dia lagi gigit jari di pojokan kamar, kan?

Tapi, plot twist, cerita ini baru mulai. Dan gue udah siap tempur buat ronde selanjutnya.

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!