Sabar adalah kata yang selalu di ucapkan ibuku kepadaku, kata itu lah yang membuat ku kuat karena kesedihan tidak selamanya ada, akan ada kebahagiaan yang menanti.
Sejak kecil aku dan ibuku hidup berdua, ayah ku tidak pernah kembali setelah berpamitan dengan ibu ku pergi merantau ke luar negeri, setelah pergi tidak pernah ayah ku mengirim uang untuk kehidupan kami, ibu ku kerja menjadi buruh cuci gosok dari rumah ke rumah, aku sering ikut dengan ibuku karena tidak ada yang menjaga ku di rumah.
Ibu ku berhasil menyekolahkan ku sampai aku selesai kuliah, kehidupan ku yang berat membuatku selalu berhati hati kepada semua orang sampai suatu hari aku bertemu Yuda di tempat kerja ku. dia meluluhkan hati ku, membuat ku percaya bahwa lelaki tidak semua seperti ayah ku. sampai suatu hari dia mengenalkanku kepada keluarganya, disitulah aku bertemu ayah ku, pria yang sudah 20 tahun tidak pernah aku temui yang hanya aku lihat dari fotonya di kamar ibuku. ternyata ayah Yuda adalah ayahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahira alkhansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanti Kebahagiaan
Tahun 2005
Waktu itu aku masih berumur 3 tahun, Aku dan ibu ku tinggal di sebuah desa terpencil di Sumatera Utara, untuk sampai ke ibukota Medan kami harus mengendarai bus selama 10 jam. Ibuku menikah dengan ayah ku secara Siri, karena waktu itu keluarga ayah terkena tsunami jadi tidak ada wali dari ayahku, dan berkas2 ayah hilang karena tsunami lalu ayah merantau ke desa ibu ku, dan bertemu ibuku, menurut ibu ayah adalah sosok pekerja keras itulah yang membuat ibu suka dengan ayah, ayah ikut menjadi pekerja bangunan di desa ibu.
Stelah 2 bulan berkenalan Ayah melamar ibu, awalnya keluarga ibu keberatan dengan pernikahan ini, tetapi ayah memastikan kalau pernikahan ini akan di buat resmi setelah ayah selesai mengurus semua berkas berkas ayah yang hilang. Untuk menghindari zina nenek dan paman paman ku pun setuju untuk menikahkan ayah dan ibu ku agar tidak terjadi zina.
Keluarga ibuku bukan orang berada, nenek yang hidup sendiri harus membesarkan ke 3 anaknya karena kakek terlebih dahulu meninggal dunia, dan ibu ku hanya mendapatkan pendidikan sampai kelas 4 SD setelah itu nenek tidak mampu lagi menyekolahkan ibu. Dan ibu harus mengurus adik2 nya yang masih kecil karena nenek harus bekerja di ladang orang untuk menghidupi anak anaknya, di sela sela menjaga adiknya ibu juga membantu nenek mencari uang dengan bekerja agar adik adiknya tidak putus sekolah. Sampai paman paman ku menyelesaikan pendidikan SMA nya. Paman Yas adalah anak ke 2 setelah tamat SMA paman Yas merantau ke Medan, Paman Yanto menikah dengan seorang gadis dari tetangga sebelah dan memiliki banyak sawah.
Ibuku menjaga nenekku yang sudah mulai pikun, dan ibu juga harus bekerja di pabrik penggilingan padi milik pak Yusuf. Setahun setelah ibuku menikah dengan ayahku, nenek ku meninggal, setelah itu paman paman ku tidak pernah kembali ke desa kami, semuanya seperti putus hubungan padahal ibuku adalah sosok yang membesarkan dan menyekolahkan mereka. Tetapi untuk menanyakan kabar ibuku pun tidak pernah. Karena saat itu ekonomi kami sedang sulit, ibu menelepon adiknya.
"Yas, apa kabar? Dengan menggunakan hp jadul nya ibu menelepon adiknya.
" Baik kak, ada apa ya kak?? lalu istrinya berbicara, Siapa yang nelepon mas??
Kak Siti, mau ada apa nelepon? Kalau pinjam uang bilang kita gak ada uang. Begitulah kata kata yang terdengar oleh ibuku di saluran telepon itu.
Lalu ibu menjawab " tidak ada apa apa yas, kakak hanya mau memastikan keadaanmu sehat sehat aja." Ibu tidak jadi meminjam uang paman karena mendengar ucapan bibi.
Panggilan pun berakhir.
Lalu, Ibu tidak memiliki keberanian lagi untuk menelepon adik keduanya yaitu paman Yanto. Takut kalau akan seperti itu lagi yang akan membuat hati ibu terluka.
Setelah kejadian itu komunikasi ibuku dan paman paman ku putus. Setelah 1.5 tahun berumah tangga, ibu ku hamil. Disitu ayah tidak ada pekerjaan karena ayah ku adalah tukang bangunan yang tidak memiliki pekerjaan tetap. disitulah ayah memutuskan untuk pergi merantau, agar ada biaya untuk lahiran. Dan ibu mengizinkan nya.
Dek, nanti kalau Abang merantau perekonomian kita bisa lebih baik, setelah uang kita terkumpul untuk usaha, Abang akan pulang.
begitulah janji yang di ucapkan ayah pada ibuku.