Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jinny
Dengan langkah gontai Hanis mengikuti Jinny masuk ke dalam ruangan.
“Duduklah,” Jinny mempersilakan Hanis untuk duduk di sofa ruang tamu, sementara dirinya sendiri duduk di sofa tunggal seberangnya.
Keheningan meliputi mereka selama beberapa saat. Hanis tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Jinny tidak langsung membuka pembicaraan, selama beberapa menit pertama ia sibuk membaca sesuatu di layar ponselnya. Sesekali terlihat mengetik.
Akhirnya Jinny mendongak. Meletakkan ponselnya di pangkuan. “Hanis, boleh aku tanya ya?”
Hanis mengangguk. “Boleh, Bu.”
“Jangan panggil aku, Bu. Usiaku baru dua puluh enam,” ucap Jinny, menolak menjadi tua karena panggilan itu.
“Ah… saya juga dua puluh enam, bulan depan,” ucap Hanis.
“Wah, kita seumuran. Sean juga berusia dua puluh enam tahun genap bulan depan,” respon Jinny dengan mata berbinar. “Kalau gitu panggil nama saja, panggil Jinny saja ya?”
“Baik, ehm, Jinny…” Hanis mengucapkannya dengan sangat canggung, rasanya tidak sopan.
“Boleh aku tanya, kamu sudah selesai nifas setelah melahirkan anak terakhirmu?” tanya Jinny hati-hati, mengikuti daftar pertanyaan yang dikirimkan Sean melalui pesan singkat.
“Sudah, Jinny… Saya juga sudah menstruasi pertama setelah selesai nifas,” ungkap Hanis jujur.
“Baiklah. Lalu, apakah setelah selesai haid kamu sempat berhubungan dengan suamimu? Maaf aku harus menanyakan ini agar kita bisa menentukan kapan program bisa dimulai.”
Hanis menggeleng. “Tidak. Belum. Saya baru selesai kemarin.”
“Baguslah. Kalau begitu, kamu dan Sean bisa mulai besok.”
Mendengarnya, jantung Hanis berdegup kencang. Ia memang sudah melahirkan empat anak kandung, tapi semuanya adalah anak Rino, suaminya. Membayangkan proses memiliki anak dengan orang asing membuatnya cemas.
“Tenang saja, kalian tidak akan melakukannya. Calon anak kalian akan dibuat dengan proses inseminasi buatan. Aku akan mengabari Sean agar dia bisa segera melakukan appointment dengan dokter untuk besok siang.”
Hanis tidak benar-benar paham tentang prosedur itu. Namun ia merasa lega karena tahu tidak perlu berhubungan badan dengan suami orang. Entah bagaimana prosedur yang akan dilakukan dokter padanya, setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang harus membuat anak secara manual dengan Sean.
“Kamu sudah makan siang?” tanya Jinny.
Sejujurnya, Hanis justru belum makan sejak semalam. Namun tentu saja ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya demi alasan kesopanan. Mengatakan belum makan sejak semalam terdengar seolah ia minta makan. Apalagi tadi anak-anaknya sudah diberi snack, buah separsel dan juga uang untuk membeli susu.
“Jangan malu-malu. Kebetulan saya belum makan juga. Mari kita makan siang bersama,” ajak Jinny, seolah bisa membaca isi pikiran Hanis hanya dari ekspresi wanita itu.
Jinny menggandeng Hanis menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersaji nasi putih, ayam goreng krispi, tahu goreng dan jus stroberi sebagai pelengkap.
“Makan yang banyak, Han. Kamu perlu gizi buat persiapan tubuhmu.”
Hanis hanya mengangguk patuh. Meski dalam hati ia mengatakan bahwa tidak makan teratur pun selama ini dirinya bisa hamil dan melahirkan anak yang sehat-sehat. Tapi dia di sini untuk bekerja, bukan untuk mengajak berdebat.
Makanan itu jelas terlalu banyak untuk Hanis yang pada terbiasa makan dalam porsi penuh. Ia hanya makan nasi, sepotong ayam goreng, dua potong tahu dan setengah gelas jus stroberinya. Tentu masih sisa banyak di atas meja.
Jinny melihatnya namun ia diam saja. Maklum. Menduga Hanis kurang nyaman, makanan itu tidak sesuai dengan seleranya atau terpikirkan oleh anak dan suaminya.
...****************...