Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Doa terindah
Waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan tanpa terasa. Suara kicau burung yang merdu menyambut hangatnya sinar matahari pagi di kediaman Dewangga, terasa sama riuhnya dengan suasana hati Nayla pagi ini.
Nayla baru saja melangkah turun dari timbangan digital di sudut ruang olahraga pribadinya. Selama satu minggu terakhir, ia sengaja menahan diri untuk tidak mengintip angka di layar kecil itu demi memberikan kejutan pada dirinya sendiri. Dan pagi ini, rasa penasaran itu terbayar tuntas dengan senyuman paling lebar yang terukir di wajahnya.
Garis angka di timbangan itu menunjuk tepat di 65 kg.
Hampir dua bulan berjuang ekstra, dengan disiplin menjaga pola makan nutrisi dari dokter gizi, menyantap hidangan sehat serta rutin berolahraga kardio dan pembentukan otot di rumah, Nayla berhasil memangkas bobot tubuhnya sebanyak 15 kilogram dari angka awal 80 kg.
Lekuk tubuhnya kini tampak jauh lebih proporsional, kencang, dan sehat. Kulit wajahnya memancarkan pendar kebugaran yang makin memesona.
Mbok Sumi yang sedang memegang alat pel di lorong luar ruang olahraga tersenyum hangat menyaksikan sang nyonya muda yang tampak begitu gembira.
"Duh... Non Nayla sekarang makin hari makin cantik dan bugar saja," puji Mbok Sumi tulus dengan wajah sumringah. "Pasti Den Adrian bakalan makin nempel terus ini mah, nggak mau jauh-jauh!"
Nayla tertawa renyah, pipinya sedikit merona. "Terima kasih ya, Bi... Tapi perjuangan ini belum berakhir kok, masih ada PR banyak menuju ideal."
Nayla membetulkan posisi pakaian olahraganya, lalu melanjutkan, "Eh, Bi... Saya minta tolong bantu kemaskan baju-baju ke koper ya. Saya sudah sisihkan bajunya di lemari paling kanan. Pakaian Mas Adrian juga tolong dimasukkan ya, pisahkan jadi dua koper berbeda."
"Baik, Non! Nanti habis ngepel lantai ini, Bibi langsung kemaskan," sahut Mbok Sumi sigap.
"Terima kasih banyak ya, Bi," tutur Nayla manis sebelum melangkah kembali ke kamar utama.
Begitu mendorong pintu kamar yang luas itu, Nayla disambut oleh aroma wangi sabun maskulin yang menyegarkan. Adrian baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih mengeringkan rambut hitamnya yang sedikit basah. Dada bidangnya yang kokoh serta perut bergaris tegasnya terpampang bebas tanpa sehelai benang pun di bagian atas.
"Sayang... kamu dari mana saja? Aku cari-cari di seluruh sudut kamar tidak ada," ucap Adrian dengan suara berat bangun tidurnya yang begitu seksi.
"Aku baru saja dari ruang olahraga, Mas, tadi setelah nyiapin barang-barang kita aku pikir masih ada waktu untuk olahraga sebentar." jawab Nayla seraya menghampiri suaminya. "Kenapa mencariku? Apa kamu butuh sesuatu, Mas?"
Bukannya menjawab, pandangan mata Adrian justru mendadak terkunci pada sosok istrinya. Manik mata hitam pekat sang CEO beredar pelan dari ujung rambut hingga ujung kaki Nayla.
Istrinya pagi ini mengenakan legging olahraga ketat yang membingkai paha dan pinggulnya yang kian terbentuk indah, dipadu dengan sports bra yang menyatukan lekuk pinggangnya yang makin ramping. Penampilan anyar Nayla memancarkan daya pikat alami yang begitu segar dan teramat menggoda.
Adrian menelan ludah dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Tatapan matanya berganti menjadi sorotan pekat yang sarat akan kekaguman dan gairah yang tak tertahankan. Pria itu melempar handuk kecil di tangannya ke atas ranjang, lalu melangkah maju mendesak posisi Nayla.
"Mas... kok malah diam begitu?" bisik Nayla heran saat dada bidang Adrian sudah berada beberapa senti di depan wajahnya.
Tanpa membuang waktu, tangan tegap Adrian merengkuh pinggang ramping Nayla, menarik tubuh istrinya rapat hingga tak bersisa jarak di antara mereka. Sensasi lekuk tubuh baru Nayla yang terasa pas dan pasrah di dalam dekapannya membuat napas Adrian kian memburu.
"Kamu makin hari makin luar biasa cantik dan seksi, Sayang..." berbisik Adrian tepat di ceruk leher Nayla, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan hangat di sana hingga membuat Nayla meremang geli. "Aku sampai rasanya tidak ingin kemanapun... tidak ingin pergi ke Paris... Aku cuma ingin mengurungmu di kamar ini seharian."
"Mas Adrian... ih, tangannya!" pekik Nayla pelan seraya tertawa geli saat jemari tegap suaminya mulai mengusap pinggang dan punggungnya dengan makin posesif. "Ingat, kita harus berangkat ke bandara siang ini! Nanti kalau terlambat bagaimana?"
"Biar saja terlambat..." gumam Adrian manja, menyembunyikan wajah tampannya di leher halus istrinya seraya terus mendekap erat harta berharganya yang makin hari makin tak bisa ia lepaskan sedikit pun.
Tubuh Nayla terhempas pelan di atas kasur empuk berseprai sutra tatkala Adrian berhasil menindihnya dari atas. Kekuatan fisik suaminya yang jauh lebih besar membuat Nayla tak berkutik, hanya bisa menatap manik mata hitam pekat Adrian yang berpendar penuh gairah.
"Mas... lepaskan," bisik Nayla tertawa kecil seraya mendorong pelan dada bidang tanpa benang itu. "Aku harus mandi dulu, Mas. Tubuhku masih berkeringat habis olahraga."
"Nanti saja mandinya, Sayang... Kita mandi bersama," sahut Adrian dengan suara serak yang begitu memikat, menyunggingkan senyum jahil di bibir tampannya.
Nayla membelalakkan matanya gemas. "Tapi kan kamu barusan selesai mandi, Mas!"
"Tidak apa-apa... Aku tidak keberatan mandi berapa kali pun pagi ini, asal mandinya bersama denganmu," bisik Adrian makin merapatkan tubuh mereka.
"Mas... emmh...!"
Nayla hendak menyanggah lagi, namun Adrian dengan cepat mengunci bibir manis istrinya lewat ciuman hangat yang penuh dengan gairah yang membara. Nayla perlahan terbuai, jemari tangannya menyusup ke sela-sela rambut hitam Adrian yang masih setengah basah.
Namun, tepat saat suasana di atas ranjang itu kian memanas...
"Nayla! Adrian! Kalian di mana, Nak?!"
Suara renyah nan nyaring milik Bu Ratih mendadak menggelegar dari arah tangga lantai dua, diikuti bunyi ketukan langkah kaki yang makin mendekat ke arah kamar utama.
"Ini Mama datang bawakan sarapan spesial buat kalian!" panggil Bu Ratih riang.
Deg!
Ciuman Adrian seketika terputus. Pria itu menghentikan gerakannya, mengusap wajahnya kasar seraya menghela napas panjang nan pasrah. Nayla yang terkejut buru-buru mendorong tubuh Adrian, lalu bangkit duduk seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan wajah merona merah padam.
"Mama..." gumam Adrian mengerang kecewa, menatap langit-langit kamar dengan wajah merajuk yang amat menggemaskan.
Nayla tertawa geli melihat raut wajah suaminya. Ia segera melompat turun dari tempat tidur, melangkah cepat menuju pintu dan membukanya.
"Selamat pagi, Mama..." sapa Nayla hangat seraya meraih tangan ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya penuh krama.
Bu Ratih yang berdiri di depan pintu membawa tempat makan bertingkat tersenyum lebar. Tepat saat itu, Adrian melangkah mendekat, ikut mencium tangan ibunya dengan raut agak masam.
"Aduh... Maaf ya kalau kedatangan Mama pagi-pagi begini malah mengganggu waktu kalian," tutur Bu Ratih tertawa kecil saat menyadari wajah putra tunggalnya yang ditekuk.
"Ah, tidak sama sekali kok, Ma! Sama sekali tidak mengganggu!" balas Nayla cepat dengan senyum panik yang manis, berusaha menutupi kecanggungan.
"Ya sudah kalau begitu... Kamu mandi dulu sana, Nay. Mama tunggu di meja makan sama Papamu ya," ujar Bu Ratih lembut.
"Iya, Ma!"
Tanpa membuang waktu, Nayla segera melangkah cepat menyambar handuk di gantungan, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi sebelum tangan tegap Adrian sempat menarik dan menahannya lagi.
Brak.
Pintu kamar mandi terkunci rapat. Dari balik pintu, Adrian hanya bisa mengelus dadanya yang sesak seraya meringis pasrah.
'Tidak apa-apa... Pagi ini Mama boleh menggagalkan rencanaku. Tapi di Paris nanti, aku pastikan tidak akan ada seorang pun yang bisa mengganggu waktuku bersama istriku!' batin Adrian bertekad penuh kemenangan.
.
.
Beberapa saat kemudian...
Suasana di meja makan lantai bawah terasa begitu hangat dan penuh keakraban. Pak Hilman dan Bu Ratih sudah duduk rapi di sana, menyajikan sup ayam kampung berkuah bening aromatik buatan Bu Ratih sendiri yang masih mengepulkan uap hangat.
Nayla yang sudah tampil sangat segar dengan balutan gaun santai elegan berwarna pastel melangkah turun berdampingan dengan Adrian. Rambut panjangnya terurai rapi, memancarkan pesona alami yang amat menawan.
Selama menyantap makanan, mata Bu Ratih tak henti-hentinya menatap menantunya dengan binar mata bangga dan penuh kekaguman.
"Ya ampun... Menantu Mama ini makin hari kok makin cantik dan anggun sekali ya?" puji Bu Ratih tak sanggup menahan rasa bahagianya.
Bu Ratih mendekatkan tubuhnya ke meja, bercerita dengan nada bersemangat. "Oh iya, Nay... Kamu tahu tidak? Kemarin lusa Mama menunjukkan foto terbarumu ke teman-teman geng arisan Mama! Mereka semua langsung heboh memuji kamu! Mereka bilang punya menantu cantik tapi kok disembunyikan terus! Kapan-kapan kamu harus ikut temani Mama ke acara arisan ya, Sayang?"
Nayla yang kini telah memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan matang, tersenyum hangat tanpa ada lagi rasa minder di dadanya. "Iya, Mama... Dengan senang hati, nanti Nayla dampingi Mama."
"Nah, gitu dong! Oh iya, teman-teman Mama juga pada heboh minta bagikan tips dan rahasia diet dari kamu loh! Katanya perubahan tubuhmu kelihatan sangat segar dan proporsional!" tambah Bu Ratih berbinar-binar.
"Iya, Nanti kalau ada waktu luang Nayla bagikan tipsnya ya, Ma," sahut Nayla ramah.
Pak Hilman yang sejak tadi menyimak perbincangan itu menyela seraya meletakkan cangkir teh hangatnya. "Adrian, Nayla... Jadi kan kalian berangkat ke Paris hari ini?"
"Iya, Pa. Siang ini jadwal penerbangan kita." jawab Adrian mantap seraya mengusap lembut punggung tangan Nayla di atas meja.
"Bagus kalau begitu," puji Pak Hilman tersenyum bijak. "Nikmati waktu kalian berdua di sana. Jangan pikirkan soal pekerjaan kantor sedikit pun, semuanya sudah Papa minta jajaran direksi untuk cover. Dan... Papa selalu berdoa, semoga sepulang dari Paris nanti, keluarga Dewangga kita ini segera punya calon anggota keluarga baru."
Bu Ratih seketika menepuk tangannya girang, mengaminkan ucapan suaminya dengan penuh antusias. "Aamiin! Betul sekali kata Papamu, Nay! Mama tidak bermaksud menekan atau memaksa kalian, tapi Mama selalu mendoakan semoga dalam waktu dekat ini kamu cepat diberikan kehamilan dan membawakan Mama seorang cucu yang lucu!"
Mendengar doa tulus nan penuh harapan dari kedua mertuanya, dada Nayla berdesir hangat. Pipinya merona merah merajut rasa bahagia yang membuncah.
Perlahan, jemari tangan Nayla turun meraba permukaan perutnya sendiri yang kini terasa datar, kencang, dan tanpa buncit lagi di balik gaun mewahnya. Sebuah perjalanan panjang transformasi fisik telah ia lalui, dan kini ia merasa benar-benar siap untuk melangkah ke babak baru dalam hidupnya.
Di dalam sanubari paling dalam, Nayla mengutarakan senyum teduhnya seraya mengaminkan doa mulia itu.
'Aamiin ya Allah... Semoga Engkau menitipkan malaikat kecil di dalam rahimku sebagai pelengkap kebahagiaan pernikahan kami...' batin Nayla penuh harap dan kepasrahan yang indah.
best suka ama ceritanya
❤❤