Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Lampu gantung kristal di dalam ruang privat restoran Vervain & Co berpendar keemasan yang redup.
Suasana eksklusif di lantai teratas The Valerand Hotel itu terasa begitu sunyi. Hanya ada keheningan mewah yang melingkupi mereka berdua.
Di seberang meja marmer Bianca duduk tegak sembari mempertahankan senyum manis terbaiknya.
Di balik dinding kaca raksasa, hamparan lampu kota di malam hari menyala terang benderang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.15 malam.
Pembahasan draf final proyek perumahan sektor selatan baru saja di ketok palu di atas meja ini. Semua urusan angka, profit, dan hukum selesai dibahas tanpa celah.
Evan menghela napas pendek, lalu merapikan berkas di depannya dengan gerakan kaku. Selesai. Bisnis beres, dan tidak ada alasan lagi bagi dia untuk berlama-lama di tempat ini.
Pria itu meraih cangkir porselennya, menyesap kopi hitam pekat tanpa gula yang disajikan pelayan sejak awal mereka duduk tadi.
Pahit. Pekat.
Evan tidak tahu, dan tidak akan pernah menduga, bahwa di dalam kepekatan kafein itu juga melebur tiga tetes cairan misterius yang dituangkan Bianca sebelum dia melangkah masuk ke ruangan ini.
Bianca yang melihat itu langsung menyandarkan tubuhnya, memulai serangan dengan senyum manis yang menguji batas.
"Gimana pernikahan kamu sama Aira, Van? Bahagia?" tanya Bianca memancing.
"Bukan urusanmu," potong Evan datar.
Bianca tertawa sumbang, matanya menatap tajam. "Aku kan cuma tanya, sebagai teman lama."
"Kita mitra bisnis, Bianca. Bukan teman."
"Tapi kita kenal jauh lebih dulu dibanding kamu kenal cewek itu, Van! Apa salahnya aku peduli?"
"Batasi ucapanmu," desis Evan dingin. "Saya tidak suka kehidupan pribadi saya diusik."
Bianca memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Evan. "Kamu nggak perlu berlagak setia, Van. Semua orang juga tahu kamu terima perjodohan Kakek Baskara cuma demi posisi CEO, kan?"
"Bianca," suara bariton Evan merendah, sarat akan ancaman.
"Aira nggak tahu apa-apa soal dunia bisnis kita. Dia nggak sepadan di sampingmu," cecar Bianca lagi, makin berani.
"Saya bilang cukup," potong Evan telak.
"Jangan pernah lancang membandingkan istri saya dengan siapa pun." Rahang Evan mengeras sempurna. Emosinya mendadak tersulut.
Dia baru saja hendak bangkit berdiri untuk meninggalkan restoran, mendadak seluruh sendi di tubuhnya terasa bergetar hebat.
Brak!
Telapak tangan Evan yang hendak bertumpu pada tepi meja marmer justru goyah karena kekuatannya tiba-tiba merosot drastis. Kening Evan berkerut sangat dalam. Mengapa dadanya mendadak terasa begitu panas?
Rasa pusing yang menghantam bagian belakang kepalanya, diikuti oleh gelombang gairah aneh yang membakar aliran darahnya dengan sangat agresif.
Penglihatannya yang tadinya setajam elang kini menangkap bayangan lampu gantung di atasnya mulai berputar samar. Detak jantungnya berdegup dalam ritme yang menggila.
Sial, apa dia terlalu lelah karena kurang tidur belakangan ini? Tubuhnya mendadak terasa lemas, namun di saat yang sama, ada sensasi panas bergejolak yang menuntut pelepasan.
Kesadaran logis Evan ditarik paksa masuk ke dalam pusaran kabut tebal yang membuatnya sulit berpikir jernih.
Melihat napas Evan yang mulai memburu berat dengan pelipis yang basah oleh keringat dingin, Bianca langsung bangkit dari kursinya.
Dia melangkah memutari meja marmer, memasang raut wajah panik yang dibuat-buat.
"Van?! Kamu kenapa? Wajahmu mendadak merah sekali. Kamu sakit?" tanya Bianca sembari mengulurkan tangan.
"Jangan... mendekat," desis Evan parau. Suaranya terdengar sangat rendah dan tertahan di ujung tenggorokan.
Meskipun kesadarannya hampir habis dikuasai oleh rasa panas yang menjalar di tubuhnya, insting Evan tetap menolak sentuhan wanita itu.
"Aku cuma mau bantu, Van! Tubuhmu gemetar semua begitu," ujar Bianca, dengan sengaja merapatkan tubuhnya dan meraih lengan jas Evan.
"Saya... tidak... apa-apa!" Evan memaksakan diri untuk bersuara, menepis kasar tangan Bianca meskipun tenaganya sudah merosot drastis.
Cengkeraman tangan kokoh Evan pada tepi meja marmer semakin mengerat luar biasa kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan tubuh tegapnya agar tidak ambruk.
Bianca tidak menyerah. Dia justru memanfaatkan kondisi Evan yang setengah sadar untuk memapah tubuhnya itu dengan erat.
"Kamu sudah tidak kuat berdiri, Van. Ayo pergi dari sini, Kita istirahat dulu di kamar hotel. Aku temani kamu sampai baikan," bisik Bianca lembut, menyuntikkan pengaruhnya di telinga Evan.
Pria itu ingin menolak. Otaknya menyuruhnya untuk pergi menjauh dari wanita ini, tapi tubuhnya yang lemas dan terbakar gairah aneh sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi.
Pandangan mata Evan perlahan mulai menggelap total. Di tengah sisa kesadarannya yang berada di ambang jurang kehancuran, dia hanya bisa pasrah saat Bianca menuntun langkah beratnya keluar dari ruang privat menuju koridor lift hotel.
Bianca menyunggingkan seringai kepuasan di balik pundak pria itu seiring pintu lift privat terbuka.
*
Sementara itu, di lantai bawah yang sunyi, atmosfer di dalam kabin mobil super-luxury bernilai belasan miliar terasa begitu dingin. Tama mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kemudi. Tatapannya lurus, tertuju pada pintu lift privat khusus yang masih saja tertutup rapat.
Jam di dasbor sudah menunjukkan pukul 20.15. Satu jam penuh. Gila. Ini benar-benar di luar kebiasaan. Bosnya bukan tipe pria yang suka membuang waktu satu detik pun untuk obrolan basa-basi setelah urusan bisnis kelar, apalagi dengan wanita sejenis Bianca. Ada yang tidak beres di atas sana. Haruskah dia naik sekarang? Tapi aturan tetaplah aturan, dia harus menjaga aset dan dokumen triliunan di dalam mobil ini.
Ting.
Getaran pendek di saku jasnya memutus kepanikan yang mulai merayap. Tama bergegas merogoh ponselnya, berharap ada perintah untuk merapat ke lobi. Namun, saat matanya membaca deretan kalimat di layar, dahinya berkerut dalam.
"Tama, kamu pulang saja sekarang. Tidak usah menunggu saya. Saya masih ada urusan lain yang sangat penting malam ini dan tidak bisa diganggu."
Tama tertegun. Urusan penting apa? Dan sejak kapan Evan mengirim pesan sepanjang dan sekaku ini? Biasanya, kalau ada perubahan rencana, pria itu hanya akan menelepon atau mengirim pesan suara yang meledak-ledak. Gaya tulisan ini... terasa sangat asing. Seperti ditulis oleh orang lain yang mencoba meniru otoritas bosnya.
Rasa ganjal yang luar biasa besar langsung menghantam dadanya. Instingnya berteriak ada bahaya. Tapi, siapa dia hingga berani mempertanyakan perintah tertulis seorang Evan Wirasena? Membangkang atau menginterogasi keputusan pribadi sang CEO adalah tiket gratis menuju pemecatan. Tugasnya hanya patuh. Ya, patuh.
Tama menghela napas panjang, menekan dalam-dalam kecurigaan yang berisik di kepalanya. Jarinya mengetik balasan dengan berat hati.
"Baik, Tuan Muda. Saya izin pamit kembali terlebih dahulu."
Mesin mobil itu perlahan menderu halus. Dengan perasaan yang masih berkecamuk dan tidak tenang, Tama menginjak pedal gas, membawa mobil mewah itu membelah parkiran VIP. Dia pergi, meninggalkan The Valerand Hotel dengan tanda tanya besar yang belum terjawab.