NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terapi Realitas dan sosok misterius

Hari-hari berikutnya berjalan seperti sebuah medan perang di dalam kepalaku. Sejak malam yang emosional itu, aku benar-benar mencoba menuruti nasihat Rara. Aku ingin terbebas dari jerat hampa ini.

Namun, melupakan seseorang yang telah mengisi separuh jiwamu, meski dia hanya ada di balik pelupuk mata, ternyata adalah hal tersulit yang pernah kulakukan.

Beruntung, Rara tidak pernah membiarkanku sendirian. Dia menjelma menjadi tameng sekaligus pemandu yang memaksaku untuk terus melangkah di dunia nyata.

"Via, ayo bangun. Pakai baju yang rapi, hari ini gak ada waktu buat merenung di kamar!" seru Rara suatu siang. Dia tiba-tiba menerobos masuk ke kamarku dan menarik selimutku tanpa permisi.

Aku menghela napas, menatapnya malas dari balik bantal. "Ra, kepala aku agak pusing. Aku mau tidur siang aja."

"Gak ada tidur siang!" potong Rara tegas sambil berkacak pinggang.

"Kalau lo tidur, lo pasti sengaja manggil cowok itu lagi di mimpi lo, kan, jangan harap. Hari ini kita keluar, gue udah ngatur janji temu."

Aku mengernyitkan dahi, mulai merasa janggal. "Janji temu sama siapa lagi sih? Kemarin kamu udah kenalin aku sama anak teknik, anak hukum, bahkan sepupu kamu yang hobi main basket itu. Tolong, Ra... Aku gak tertarik sama mereka."

"Ini bukan janji temu sama cowok, Shavia," ucap Rara, suaranya mendadak melunak.

Dia duduk di tepi ranjang, menatapku dengan sorot mata penuh simpati dan kepedulian yang tulus.

"Gue... gue udah buatkan janji sama psikolog di klinik dekat kampus. Gue mau lo dibantu sama profesional, Vi, biar bisa berhenti terjebak di dimensi lain itu."

Aku tertegun. Jantungku berdesir aneh, ada rasa tersinggung yang mendadak muncul. "Psikolog. Kamu... Kamu menganggap aku gila, Ra?"

"Tentu aja enggak!" Rara langsung menggenggam kedua tanganku erat-erat.

"Lo gak gila, Via. Lo cuma lagi tersesat di dalam labirin pikiran lo sendiri. Lo butuh seseorang buat bantu meruntuhkan dinding khayalan itu sebelum realitas lo bener-bener hancur. Tolong, demi gue, demi diri lo sendiri."

Melihat mata Rara yang berkaca-kaca, seluruh pertahananku runtuh. Aku akhirnya mengangguk pelan.

...----------------...

Sore harinya, aku sudah berada di sebuah ruangan bernuansa putih yang menenangkan. Di hadapanku, duduk seorang psikolog paruh baya berwajah teduh bernama Dokter Amira. Rara menunggu dengan setia di ruang tunggu luar.

"Jadi, Shavia... bisa ceritakan pada saya, apa yang membuatmu begitu nyaman berada di dalam dunia khayalan itu?" tanya Dokter Amira lembut, memulainya dengan nada bicara yang sangat menenangkan.

Aku menunduk, memainkan jemariku yang mendadak terasa dingin.

"Di sana... semuanya sempurna, Dok. Cinta datang tanpa ekspektasi, tanpa syarat, dan tanpa rasa sakit. Pria yang kuciptakan di sana selalu ada hanya untukku."

"Lalu, apa yang berubah sekarang hingga kamu merasa sangat tersiksa?" Tanya Dokter Amira pelan.

Air mataku hampir menetes mengingat malam itu. "Dia membawa ibunya masuk ke mimpi saya. Dan ibunya menolak saya karena perbedaan status sosial. Sejak malam itu, mimpi manis saya berubah menjadi rasa sakit yang sangat nyata. Saya merasa dikhianati oleh pikiran saya sendiri."

Dokter Amira tersenyum tipis, lalu menuliskan sesuatu di catatan kecilnya. Beliau menatapku dengan pandangan penuh pemahaman.

"Shavia, pikiran manusia itu sangat hebat. Ketika dunia nyata memberikanmu tekanan atau rasa lelah yang tidak bisa kamu tanggung, alam bawah sadarmu menciptakan mekanisme pertahanan diri berupa sosok sempurna itu."

Beliau menjeda kalimatnya sejenak.

"Namun, konflik dengan ibunya di dalam mimpimu menunjukkan bahwa logikamu sebenarnya sudah mulai berontak. Jiwamu tahu, kamu tidak bisa selamanya bersembunyi di sana."

"Lalu saya harus bagaimana, Dok? Setiap kali saya mencoba melupakannya, dada saya terasa sangat sesak," bisikku lirih di sela isak tangis.

"Jangan dipaksa untuk langsung melupakan, tapi belajarlah untuk merelakannya," ucap Dokter Amira hangat.

"Setiap kali kamu mulai merenung dan ingin kembali ke dimensi itu, alihkan fokusmu pada hal fisik di sekitarmu. Sentuh mejamu, hirup udara dalam-dalam, dan sadari bahwa kamu ada di sini, di dunia nyata. Perlahan-lahan, khayalan itu akan pudar dengan sendirinya, seiring kamu memperbanyak memori di dunia nyata ini."

Setengah jam berlalu akhirnya sesi aku dan dokter Amira selesai. Aku keluar dari ruangan terapi, Rara langsung berdiri dari kursinya dan menghampiriku dengan wajah cemas.

"Gimana, Vi? Aman?"

Aku tersenyum tipis, mengusap sisa air mata di pipiku, lalu memeluk sahabat terbaikku itu.

"Terima kasih ya, Ra. Aku bakal berusaha keras buat bener-bener bangun."

...----------------...

Beberapa hari setelah terapi itu, aku mulai menyibukkan diri. Khayalan indah yang dulu selalu kuanyam di dalam kepala perlahan-lahan mulai memudar dan kehilangan warnanya.

Sosok tampan mirip Andy William itu tidak lagi datang mengetuk pintu tidurku. Aku pikir, aku sudah berhasil melepaskannya.

Sampai sore itu tiba, saat aku dan Rara sedang berjalan santai menyusuri trotoar jalan yang agak sepi di dekat area luar kampus. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutku.

Tiba-tiba langkah kakiku mendadak terkunci di atas semen trotoar, seluruh pasokan udara di sekitarku rasanya seperti disedot habis dalam sekejap.

Di seberang jalan raya, dari kejauhan, seorang pria sedang berjalan santai. Dia mengenakan jaket sweater berwarna merah, dengan earphone putih yang menyumbat kedua telinganya. Dia berjalan menunduk, menghalau angin sore yang dingin.

Jantungku berdegup begitu kencang hingga telingaku berdenging. Gestur tubuhnya, cara dia melangkah, dan proporsi tubuhnya...

"Enggak mungkin..." bisikku lirih. Dedak jatung yang beberapa hari ini tenang, mendadak bergemuruh hebat.

"Apa aku... apa aku berkhayal lagi?"

Ketakutan akan jatuh kembali ke dunia ilusi membuatku panik. Secara refleks, aku mengangkat tangan kanan lalu menampar pipiku sendiri dengan cukup keras.

Plak!

"Aww!" rintihku spontan. Aku meringis sembari memegangi pipiku yang mendadak terasa panas dan berunut perih.

Rasa sakit itu menjalar nyata, tamparan ini sakit, ini bukan mimpi. Dia... dia nyata. Dia benar-benar berdiri di atas bumi yang sama denganku!

Rasa haru dan gembira yang luar biasa meledak di dalam dadaku, air mata kebahagiaan menyeruak begitu saja di pelupuk mata. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memajukan tubuh, berniat berlari menyeberangi jalan untuk menuju kepadanya. Aku ingin memeluknya, aku ingin berteriak bahwa aku merindukannya.

Set!

Baru saja satu langkah kakiku terulur, sebuah sentuhan kasar mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat, menarikku mundur hingga hampir kehilangan keseimbangan.

"Via. Lo mau ke mana?!"

Suara pekikan Rara memecah fokusku.

Dia menatapku dengan mata membelalak, wajahnya dipenuhi rasa panik dan bingung melihat tingkah lakuku yang tiba-tiba menampar diri sendiri lalu mencoba menerobos jalan raya.

"Lepas, Ra. Lepasin tangan aku!" seru ku setengah histeris, berusaha memberontak dari cengkeramannya.

Mataku sama sekali tidak beralih dari punggung berselimut sweater merah di seberang sana.

"Itu dia Ra, dia nyata. Aku harus ke sana!"

"Via, sadar. Lo mau bunuh diri menyeberang jalan sembarangan?!" bentak Rara, yang justru mempererat pegangannya pada lenganku.

"Siapa yang lo maksud. Di seberang itu jalan raya, Shavia!"

"Dia, Rara. Pria yang pakai sweater merah dan earphone putih itu!" suaraku gemetar hebat, bercampur dengan isak tangis yang mulai pecah.

"Dia pacar aku, Ra. Sosok yang selama ini selalu ada di mimpi aku... Dia beralih ke dunia nyata!"

Rara tertegun sejenak. Dia ikut melemparkan pandangannya ke seberang jalan, menatap punggung pria misterius yang terus berjalan santai tanpa menyadari drama yang sedang terjadi di seberangnya.

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!