Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Suasana duka dan kepanikan melanda Desa Sukamaju, desa tetangga yang hanya berjarak dua kilometer dari kediaman Mahardika.
Dalam kurun waktu tiga hari terakhir, puluhan warga mendadak tumbang akibat penyakit aneh.
Kulit mereka melepuh, timbul bercak kehitaman yang menjalar cepat, disertai demam tinggi hingga menggeletar.
Di lorong-lorong Rumah Sakit Utama Kota, jeritan kesakitan warga yang sangat memilukan.
Para dokter dan perawat berlarian dengan pakaian pelindung Hazmat lengkap, namun mereka tampak tak berdaya.
Dokter Broto berdiri di balik kaca ruang isolasi, memperhatikan seorang pasien paruh baya yang daging lengannya mulai membusuk dan mengeluarkan bau menyengat.
Di sampingnya, beberapa dokter spesialis menunduk lesu.
"Bagaimana hasil laboratoriumnya?! Antibiotik dosis tinggi tidak ada yang mempan sama sekali?!" bentak Dokter Broto seraya memukul pembatas kaca.
"M-maaf, Dokter Broto. Sampel darah pasien menunjukkan lonjakan sel asing yang merusak jaringan otot dalam hitungan jam. Obat-obatan Barat yang kita miliki sama sekali tidak bereaksi. Ini... ini sepertinya mutasi virus baru yang belum pernah ada di literatur medis!" sahut salah satu dokter spesialis infeksi dengan suara gemetar.
Dokter Broto menyipitkan matanya. Tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah peluang besar untuk memulihkan nama baiknya.
"Virus baru, katakan?" Broto tersenyum dingin di balik maskernya.
"Bagus! Langsung umumkan ke media massa bahwa ini adalah wabah virus mematikan tak tersembuhkan! Perintahkan pasukan keamanan untuk mengarantina paksa seluruh Desa Sukamaju. Tutup akses keluar-masuk! Biarkan mereka terisolasi di sana sampai tim peneliti Asosiasi kita menemukan 'vaksin' buatan kita sendiri!" titahnya.
"T-tapi Dokter Broto, kalau dikarantina tanpa pengobatan yang tepat, puluhan warga di sana bisa mati membusuk dalam beberapa hari!" seru sang dokter spesialis terperanjat.
"Tutup mulutmu! Biarkan saja! Semakin banyak yang panik, semakin mahal nilai vaksin yang akan kita jual nanti! Laksanakan perintahku sekarang!" gertak Broto tajam.
Sementara itu, di pekarangan rumah Mahardika.
Pak RT berlari kencang menerobos gerbang kayu rumah Mahardika dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
Di belakangnya, seorang pria paruh baya memapah seorang pemuda yang tubuhnya menggigil hebat dengan kain sarung menutupi sebagian besar kulitnya.
"Dik Dika! Dik Dika! Tolong, Dik!" jerit Pak RT panik.
Mahardika yang sedang menyapu daun kering di dekat Amel langsung berhenti.
"Ada apa, Pak RT? Siapa pemuda ini?" tanya Mahardika tenang.
"Ini Bayu, Dik! Keponakan saya dari Desa Sukamaju! Desa tetangga kita sedang diserang wabah mengerikan! Kulit Bayu melepuh dan badannya panas seperti terbakar sejak semalam! Pihak rumah sakit menolak merawatnya dan malah mau mengunci seluruh desa!" tangis Pak RT pecah.
Ayah sang Bayu langsung bersujud di atas tanah di depan kaki Mahardika.
"Mas Dika... tolong anak saya, Mas! Dokter di rumah sakit bilang ini virus mematikan dan tidak ada obatnya! Daging anak saya mulai membusuk, Mas! Tolong..." ratap ayah Bayu histeris.
"Bapak berdirilah dulu. Jangan bersujud pada saya. Mari saya periksa anak Bapak," ucap Mahardika lembut
Mahardika membuka kain sarung yang menutupi lengan Bayu.
Warga desa sekitar yang ikut melihat dari balik pagar seketika menjerit ketakutan.
Lengan pemuda itu tampak mengerak hitam, melepuh dengan cairan kekuningan, dan otot di bawah kulitnya mulai membusuk.
"Aduh, Gusti! Penyakit apa itu?!"
"Jangan-jangan ini kutukan?!"
"Jauh-jauh, nanti kita tertular!"
Mahardika tidak menghiraukan bisik-bisik warga.
Ia memejamkan mata sejenak, mengaktifkan penglihatan tembus pandangnya.
Pandangannya menembus lapisan kulit, pembuluh darah, hingga ke dalam sel-sel organ Bayu.
‘Tunggu... ini aneh,’ batin Mahardika terperanjat.
Mahardika tidak menemukan mikroorganisme berupa virus atau bakteri.
Tapi, ia melihat seperti zat asing berwarna kehitaman yang sangat pekat mengendap di dalam aliran darah dan jaringan daging dari dalam.
"Ini bukan virus... Ini adalah racun kimia industri tingkat tinggi! Racun Limbah Logam Berat!" batin Mahardika.
"Pak RT, apakah warga Desa Sukamaju yang terkena penyakit ini memiliki pola yang sama?" tanya Mahardika penasaran.
Ayah Bayu langsung menjawab cepat, "Iya, Mas! Semua warga yang sakit adalah mereka yang tinggal di sekitar aliran Sungai Kalimurni dan mengonsumsi air dari sana!"
Mahardika berdiri tegak.
" Ini bukan serangan virus. Ini adalah efek racun kimia berbahaya yang sengaja dibuang dan mencemari sumber air warga!" tegas Mahardika
"A-apa?! Racun kimia?! Jadi ada yang sengaja meracuni sungai kita, Dik?!" seru Pak RT terbelalak kaget.
"Benar. Racun ini mengendap di organ dalam dan membusukkan sel otot jika tidak segera diikat dan dikeluarkan dari tubuh," jawab Mahardika tajam.
Ayah Bayu kembali menangis memohon. "Mas Dika... apakah anak saya masih bisa diselamatkan? Apakah ada obatnya?!"
Mahardika menatap tunas-tunas Ginseng Salju dan Bunga Akar Emas di pekarangannya yang tumbuh sangat subur.
"Bisa. Penyakit yang diciptakan oleh keserakahan manusia pasti bisa disembuhkan oleh kebaikan alam. Pak RT, kumpulkan beberapa pemuda desa yang kuat! Kita berangkat ke Desa Sukamaju sekarang juga!" jawab Mahardika mantap.