NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ujian Pertama Seorang Kakak

Hari Sabtu sore, langit Jakarta tampak mendung dan menggantung berat. Setelah menjalani enam hari kerja yang padat di pabrik, aku memilih menghabiskan akhir pekan di kontrakan. Biasanya, hari libur ku gunakan untuk tidur seharian atau tenggelam dalam kecemasan memikirkan tagihan bulan depan. Namun belakangan ini, aku mulai menikmati momen-momen kecil bersama Rayan.

Aku sedang duduk di lantai sambil melipat pakaian bersih yang baru diangkat dari jemuran saat Rian pulang dari sekolah. Langkah kakinya terdengar agak ragu saat memasuki pintu depan. Ia tidak langsung menyapaku dengan ceria seperti biasanya, melainkan meluncur pelan menuju sudut kamar dan melepas tas punggungnya tanpa bersuara.

"Rayan? Baru pulang, ?" sapaku sambil menumpuk kaus di sampingku.

"Iya, Mas," jawabnya singkat. Suaranya agak pelan dan serak.

Aku menghentikan tanganku dari tumpukan pakaian, lalu memperhatikan gerak-gerik adikku. Rayan duduk bersandar di dinding, menatap lantai dengan pandangan kosong. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, namun dia tampak ragu untuk mengutarakannya padaku.

Dulu, jika melihat Rayan bertingkah seperti ini, aku akan langsung menegurnya dengan nada tinggi, menyuruhnya cepat mandi atau belajar tanpa mau pusing memikirkan perasaannya. Namun pesan dari Kareen dan pengalaman emosional di Bandung mengubah caraku merespons.

​Aku berdiri, melangkah mendekat, lalu duduk berlesehan di sampingnya. "Ada masalah di sekolah?"

​Rayan sedikit terkejut, namun dia cepat-cepat menggelengkan kepala. "Tidak ada kok, Mas. Cuma cape saja habis latihan olahraga."

"Rayan," panggilku lembut, berusaha membuat suaraku senyaman mungkin. "Kamu ingat kan kata Mas kemarin? Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, bicara saja sama Mas. Kamu tidak usah takut bikin Mas cemas."

Rayan meremas jemarinya sendiri. Setelah terdiam beberapa detik dalam keraguan, ia akhirnya meraih tas sekolahnya, membuka ritsleting depan, dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak terlipat di ujungnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menyodorkan kertas itu padaku.

Aku memutar kertas tersebut dan membacanya. Itu adalah surat edaran dari sekolah mengenai rincian biaya kegiatan perpisahan dan studi tur kelas sembilan yang harus dilunasi dalam waktu dua minggu ke depan. Angka yang tertera di sana cukup besar bagi ukuran kantong kami—sekitar satu setengah juta rupiah.

"Maaf ya, Mas Reno..." bisik Rayan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Rayan tahu keuangan kita lagi pas-pasan buat bayar kontrakan sama makan. Rayan sudah bilang ke wali kelas kalau Rayan tidak usah ikut saja. Tapi teman-teman Rayan semuanya ikut..."

Melihat wajah adikku yang diliputi rasa bersalah hanya karena ingin ikut kegiatan sekolah bersama teman-temannya membuat dadaku terasa berdenyut nyeri. Aku menyadari betapa selama ini aku telah membentuk Rayan menjadi anak yang terlalu menahan diri dan takut meminta sesuatu, karena dia selalu melihatku tertekan oleh uang.

Aku menarik napas panjang, merapikan lembaran kertas edaran itu, lalu menatap Rayan dengan senyuman hangat.

"Siapa bilang kamu tidak boleh ikut?" kataku tenang.

Rayan mendongak kaget. "Tapi Mas... uangnya kan banyak banget? Nanti buat makan kita gimana?"

"Itu urusan Mas, Rayan," jawabku sambil mengusap rambutnya yang sedikit berantakan. "Tugas kamu itu belajar, berteman, dan menikmati masa-masamu di sekolah. Masih ada waktu dua minggu. Mas punya simpanan uang lembur dari minggu lalu, dan sisanya nanti Mas usahakan dari bonus efisiensi pabrik bulan ini. Jadi, kamu tetap ikut, ya."

Air mata yang ditahan Rayan akhirnya menetas juga, namun kali ini bukan karena takut atau sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Ia langsung memelukku erat.

"Terima kasih banyak, Mas Reno! Rayan janji bakal belajar lebih rajin lagi!" ucapnya di balik pundakku.

Aku membalas pelukannya dengan erat. Ada rasa bangga dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya melihat senyum lega di wajah adikku. Dulu, aku selalu menganggap tagihan dan biaya sekolah sebagai beban hidup yang menyiksa. Tapi sekarang, aku melihatnya sebagai bentuk perjuanganku yang bermakna sebagai seorang kakak.

Malam harinya, setelah Rayan tertidur lelap di kamar, aku duduk di meja kecil depan sambil mengevaluasi anggaran bulanan kami. Memang benar, mengeluarkan satu setengah juta rupiah dalam dua minggu ke depan akan membuat tabunganku sangat tipis. Namun anehnya, aku tidak lagi merasa panik atau putus asa seperti dulu. Aku merasa lebih percaya diri bahwa aku sanggup menyelesaikannya.

Ponselku bergetar pelan. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Kareen.

Kareen: Selamat malam, Reno. Gimana akhir pekanmu di Jakarta? Rayan baik-baik saja?

Aku tersenyum, lalu mengetik balasan menceritakan kejadian sore tadi—tentang surat sekolah Rayan dan bagaimana aku memilih menanganinya dengan tenang tanpa membentak atau mengeluh di depan adikku.

Reno: Malam, Kareen. Tadi Rayan sempat takut cerita soal biaya perpisahan sekolahnya karena kasihan sama aku. Dulu mungkin aku bakal langsung pusing dan bikin dia merasa bersalah. Tapi tadi aku janji bakal usahakan uangnya. Dan aku senang banget melihat reaksinya.

Hanya butuh waktu semenit sebelum balasan Kareen muncul di layar.

Kareen: Wah, Reno... aku bangga banget dengarnya! Kamu benar-benar sudah berubah jadi kakak yang luar biasa hangat. Rayan beruntung banget punya kamu.

Kareen: Soal biayanya, kamu tidak usah terlalu panik ya. Yang penting kamu sudah mengambil langkah pertama untuk jadi tempat bersandar yang aman buat Rayan.

Kalau ada apa-apa atau butuh diskusi, aku siap dengar kapan saja.

Membaca tulisan "aku bangga banget dengarnya" dari Kareen membuat jantungku berdesir pelan. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dada, memberi dorongan energi baru yang membuat rasa lelahku menguap seketika.

Reno: Terima kasih, Kareen. Dukungan dari kamu selalu bikin aku merasa lebih yakin. Selamat istirahat ya.

Kareen: Selamat istirahat juga, Reno. Sampai jumpa di obrolan berikutnya.

Aku mematikan layar ponsel, lalu bersandar pada dinding kontrakan. Di luar, hujan gerimis mulai turun membasahi jalanan Jakarta yang bising. Namun di dalam ruangan sempit ini, hatiku terasa begitu hangat dan damai. Aku tahu jalan di depan masih panjang dan tidak mudah, tetapi aku tidak lagi takut melangkah.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!