SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Penggerebekan Inkuisitor
Beberapa hari setelah peristiwa masuknya berton-ton emas ke dalam brankas, rutinitas di Departemen Keuangan berjalan normal. Normal dalam artian Elara terus mencari celah meraup keuntungan, dan Caden terus mencari celah untuk memonopoli waktu Elara.
Pagi itu, Aura sedang duduk santai di kursinya sambil memoles kuku dengan cat kuku transparan yang baru saja ia beli pakai Kartu Platinum.
"Mia, tolong bacakan ringkasan portofolio kita hari ini. Pastikan nggak ada saham nyangkut di sektor energi magis," perintah Aura tanpa mengalihkan pandangan dari kuku jari telunjuknya.
Mia, yang kini sudah sangat luwes mengenakan kacamata baca berlensa tipis, membuka tabletnya dengan cekatan.
"Baik, Bu Bos! Sektor energi magis hari ini stabil. Laba bersih dari monopoli Pertanian Timur sudah masuk ke rekening penampungan. Oh ya, ada juga penawaran lelang untuk beberapa aset bekas milik Pangeran Arthur yang disita bank. Apakah kita mau ikut bidding?"
Aura meniup kukunya pelan. "Aset apaan tuh? Kalau cuma kereta udara bekas sama jubah kebesaran sih skip aja. Harga penyusutannya terlalu cepet, nggak liquid buat dijual lagi."
"Ada satu rumah kaca eksklusif penghasil herba langka, Bu Bos. Valuasi awalnya sepuluh ribu emas."
"Wah, herba langka? Boleh juga buat bahan skincare organik istana. Tawar di angka delapan ribu. Kalau mereka nggak mau, ancam mau boikot suplai pupuk dari wilayah Timur." Aura menyeringai sadis. "Kita harus main cantik, Mia. Monopoli itu seni menekan harga."
"Siap, Bu Bos! Otw input angka penawaran!"
Tepat saat Mia hendak mengetik, pintu ganda ruang VIP itu tidak hanya didorong, melainkan didobrak hingga engselnya berderit keras.
BRAK!
"Jangan bergerak! Atas nama Hukum Tertinggi Istana Astoria, letakkan semua alat komunikasi kalian!"
Aura terlonjak kaget, botol cat kukunya nyaris tumpah. Ia mendongak dengan wajah garang. "Woy! Siapa yang ngajarin dobrak pintu ruangan VIP?! Ini pintu kayu eboni asli harganya ratusan koin emas! Kalau lecet, gue potong gaji kalian sampai tujuh turunan!"
Sepuluh pria berseragam zirah merah darah dengan lambang pedang bersilang masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka, Marquis Vane berjalan dengan wajah penuh kemenangan dan senyum licik yang menyebalkan. Ini bukan Otoritas Pajak, ini adalah Pasukan Inkuisitor Istana—pasukan elit yang langsung berada di bawah perintah Raja, yang menangani kasus makar dan pengkhianatan.
"Simpan omong kosongmu, Elara!" bentak Marquis Vane, menunjuk wajah Aura dengan tongkat komandonya. "Hari ini, pelindungmu si Pangeran Caden sedang dipanggil oleh Raja di aula utama. Kau tidak punya siapa-siapa untuk bersembunyi!"
Aura perlahan menutup botol cat kukunya. Ia berdiri, membersihkan roknya yang tidak kotor, lalu menyilangkan tangan di dada.
"Marquis Vane. Perasaan tiap minggu Bapak nyari gara-gara melulu sama divisi saya. Kurang kerjaan ya di Komite Audit? Butuh kerjaan sampingan? Saya lagi butuh tukang angkut emas di brankas nih, gajinya lumayan lho," ejek Aura santai.
"Tutup mulut matremu itu!" Vane menggeram marah. "Kami ke sini bukan untuk urusan pajak atau audit! Kami membawa surat penahanan resmi! Tangkap pelayan rendahan ini dan geledah seluruh ruangannya!"
"Tunggu, tunggu, tunggu!" Aura mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Surat penahanan atas dasar apa?! Tolong ya, surat tilang parkir aja ada pasalnya, masa bapak asal main tangkap? Pelanggaran Hak Asasi Karyawan ini namanya!"
Vane menyeringai lebar, mencabut sebuah gulungan perkamen yang disegel lilin merah berlambang mahkota.
"Pasal Pengkhianatan Tingkat Tinggi dan Pencurian Aset Negara Kelas Satu!" Vane membacakan tuduhan itu dengan suara menggelegar, membuat Mia di sudut ruangan langsung lemas dan terduduk di lantai.
"Pencurian Aset Negara?!" Aura mengerutkan kening. "Barang apa yang saya curi? Pulpen istana? Kertas HVS? Perasaan semua fasilitas kantor di sini dibeli pakai duit Bos Caden sendiri!"
"Jangan pura-pura bodoh, Elara!" Vane melangkah maju, matanya memancarkan keserakahan. "Tiga minggu yang lalu, kau melakukan transaksi senilai tiga puluh ribu koin emas dengan Pangeran Caden. Kau menggadaikan sebuah koin emas berlambang naga bermata dua dari era Dinasti Pertama!"
Jantung Aura mencelos. Koin emas itu? Koin yang ia temukan di asrama dan menjadi modal awal investasinya?
"Terus kenapa kalau saya gadai koin itu?" Aura mencoba tetap tenang, meski insting bisnisnya mulai mencium bahaya. "Itu koin hasil temuan. Hukum lahan publik jelas mengatakan siapa yang menemukan harta karun tanpa pemilik di area publik, berhak atas harta tersebut!"
"Hukum itu hanya berlaku untuk kepingan emas biasa!" bentak Vane. "Tapi koin yang kau temukan bukan benda biasa! Itu adalah 'Inti Naga', kunci master dari Sistem Pertahanan Magis Istana Astoria yang hilang ratusan tahun lalu! Barang siapa yang memegang koin itu, bisa mengendalikan seluruh penghalang magis di istana ini!"
Ruangan itu mendadak hening.
Aura mengerjapkan matanya tiga kali. Otaknya memproses informasi itu dengan kecepatan super. Kunci master? Sistem pertahanan magis? Hilang ratusan tahun?
"Sebentar," Aura mengangkat jari telunjuknya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat murka. Tapi bukan murka karena dituduh mencuri.
"Maksud Bapak... koin yang gue gadai seharga tiga puluh ribu emas itu... adalah kunci keamanan VVIP dari seluruh istana ini?! Yang valuasinya pasti nggak terhingga?! BISA SAMPAI MILIARAN KOIN EMAS?!" teriak Aura histeris.
Vane terkejut melihat reaksi gadis itu. Bukannya panik karena dituduh makar, gadis itu malah panik karena salah hitung valuasi aset.
"I-itu aset negara! Tidak ada harganya! Dan kau dituduh mencurinya untuk melumpuhkan pertahanan istana!" jawab Vane berapi-api.
"SIALAN! BOS CADEN NIPU GUE!" Aura menggebrak meja dengan sangat keras hingga retak. Urat di dahinya menonjol. "Dia bilang itu cuma barang antik buat kolektor! Dia nge-lowball (menawar murah) aset berharga gue jadi cuma tiga puluh ribu! Pantesan dia senyum-senyum girang pas tanda tangan kontrak gadai! Dasar Antagonis curang! Lintah darat! Kapitalis licik! Gue rugi bandar miliaran emas!!!"
Mia yang tadinya ketakutan, kini hanya bisa sweatdrop melihat bosnya yang malah tantrum karena merasa ditipu harga, padahal nyawanya sedang di ujung tanduk.
"Kau gila! Kau benar-benar gila!" Vane menatap Aura seolah menatap monster tak berotak. "Inkuisitor! Borgol dia! Seret dia ke ruang bawah tanah dan paksa dia memberitahu di mana Caden menyembunyikan kunci itu!"
Dua Inkuisitor berbadan besar melangkah maju, mengeluarkan rantai magis yang memancarkan sengatan listrik.
"Jangan ada yang berani menyentuhnya."
Suara itu sangat pelan, sangat dingin, namun mampu menghentikan langkah para Inkuisitor itu seketika. Hawa di dalam ruangan yang tadinya panas karena amarah Aura, mendadak anjlok menjadi sedingin es.
Semua orang menoleh ke arah pintu.
Pangeran Caden berdiri di ambang pintu, matanya yang berwarna perak berkilat mematikan. Ia tidak memakai jas kerjanya, melainkan seragam militer hitam penuh medali yang hanya ia pakai saat menghadiri rapat dengan Raja. Di tangannya, ia menggenggam pedang yang belum dicabut dari sarungnya. Lucas berdiri di belakangnya dengan wajah tegang.
"Y-Yang Mulia Pangeran Caden!" Vane memucat sesaat, namun ia segera menegakkan punggungnya. "Anda tidak bisa menghalangi kami! Kami membawa titah langsung dari—"
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein