NovelToon NovelToon
AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Transmigrasi
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...

Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.

"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Rora, bukannya kau akan menciumku?" Tanya Kris, karena ternyata wanita itu sedari tadi hanya memeluknya.

Aurora pun kini melepaskan pelukan itu, "Siapa yang mau berciuman dengan pria sepertimu bodoh." Ucap Aurora dalam hati.

Wanita itu hanya tersenyum, ia kemudian menyeret Kris keluar dari ruangannya.

"Sampai bertemu nanti lagi sayang, aku harus kerja, bye..." Sangat jelas sekali, wanita itu benar-benar menyeretnya keluar.

"Aurora, aku..." Belum sempat Kris menyelesaikan ucapannya, wanita itu sudah lebih dahulu menutup pintu ruang kerjanya.

BRAAAAAAAKKKKKK!

***

Ruang Direktur, tempat paling tinggi di kantor setelah komisaris. Ruangan dengan ukuran paling besar, interior yang mewah, serta berada di lantai paling atas. Pemandangan dari atas gedung pencakar langit itu, benar-benar sangat indah. Kota Jakarta dapat terlihat sangat indah dari atas sini.

Jordan tengah berdiri, ia bersedekap, mengamati pemandangan luar gedung, yang terlihat sangat-sangat memukau.

Sedangkan Alex, pria itu kini sibuk mengetik di laptopnya, mereka kini tengah menunggu kedatangan seseorang penting.

"Sudah 2 jam, dan dia belum datang." Tanya Jordan, tanpa menoleh sedikitpun.

Alex yang melihatnya hanya berdiri mematung di sana selama 2 jam, kini mulai terlihat muak. "Ayolah Jo, kau ini sebenarnya sedang apa, apa kau tidak lelah berdiri di sana terus?"

"Tidak." Jawab Jordan singkat.

Seseorang kini masuk ke dalam ruang Direktur. "Maaf Tuan Jordan, Tuan Alex, Presiden Direktur kami. Saat ini sedang tidak bisa hadir di kantor." Ucap Kamala, Sekretaris Tuan Federic.

Jordan yang mendengar hal itu, kini langsung berbalik badan, ia tak percaya dengan apa yang sedang ia dengar.

"Jika ayahnya saja sudah seperti ini, bagaimana dengan anaknya. Cih, bagaimana bisa Papa memberiakanku bertunangan dengan wanita seperti ini. Ayahnya saja tidak bisa on time, bagaimana putrinya. Tidak jelas."

Alex langsung berlari, Alex yang mendengar hal itu, kini langsung membungkam mulut Jordan. "Yang sopan gilak!" Bisik Alex dan Jordan hanya meliriknya sinis.

"Tidak apa-apa, Tuan Jordan, Tuan Alex, saya izin keluar. Karena masih ada meeting yang harus saya urus." Kamila keluar ruangan, dan di ikuti oleh Jordan dan Alex.

***

Lampu neon orange, pijarnya yang redup, menyala lalu mati, lalu menyala lagi. Seperti itu terus.

Beberapa orang pria berjalan memasuki koridor motel kecil. Tempatnya terlihat kumuh. Walau sore, suasana di dalamnya terlihat sangat suram dan kurang akan cahaya penerangan. Hanya ada beberapa lampu neon di sana, sebagai penerangan.

Dua orang pria berbadan kekar, dengan tubuh tegap dan setelan jas, berjalan melewati koridor itu, membawa seorang pria di tangannya. Pria itu seret, terlihat tak berdaya.

Dua orang lagi, berdiri di belakang mereka, mencoba mengawasi sekitar. Lalu ada satu pria di depannya yang terlihat sangat berwibawa. Dialah Faderic'xen Darren Wang.

Seorang pengusaha sukses, yang terkenal berwibawa dan terbilang tampan, untuk usianya yang tak lagi muda. Pria itu berusia 51 Tahun.

Di depannya, kini sudah ada asistennya, dan juga satu pengawal / Bodyguard untuk menjaganya.

Mereka kini berhenti, di sebuah kamar bertuliskan nomor 19 yang berada di lantai 3.

Salah seorang Bodyguard menarik pria tawanan itu dan berdiri di samping Federic.

"Ini tempatnya?" Tanya Federic, kepada pria yang ia tawan.

Dengan keadaan setengah sadar, pria itu pun mengangguk. Lalu menunjuk ke arah pintu kamar itu.

Federic tersenyum, ia kemudian mundur, dan menyuruh anak buahnya untuk mendobrak.

BRAAAAAAKKKKKKK!

Pintu itu terbuka, dan tanpa basa-basi, mereka semua langsung masuk ke dalam ruangan. Para Bodyguard itu berjaga dan tetap memastikan Tuan Federic tetap aman.

Federic kini masuk, namun saat ia sudah masuk ke dalam ruangan itu, tak ada siapapun di sana. Hanya ada sebuah kasur, dan almari dengan pintu yang masih terbuka.

Federic pun menoleh, ia menatap pria tawanannya, pria itu kini mendongak, menatap Federic yang terlihat bodoh baginya.

"Apa-apaan ini? Kau bilang adikmu di sekap di sini?" Tanya Federic dan malah di balas tawa oleh pria itu.

"Kau benar-benar bodoh Pak tua, selamat datang di neraka." Ucapnya, dan seketika Federic langsung sadar. Bahwa ia hanya di jebak olehnya.

DOOORRR!

DOOORRRR!

Beberapa tembakan peluru di lepaskan, para Bodyguard melindungi Tuan Federic, meski mereka harus terkena peluru itu.

Tiga orang keluar dari tempat persembunyian, di tangan mereka sudah ada senjata api dengan peluru.

Jonas yang terkejut melihat kejadian itu, kini menoleh kebelakang, menatap pria tawanan yang sempat menjadi penculik. Ia kini sadar? Bahwa itu adalah sebuah jebakan. Pria itu menatap Jonas dan tertawa puas, saat mereka pikir bahwa pria itu takut, rupanya semua itu hanya sandiwara belaka.

Jonas dengan sigap langsung menarik Bosnya keluar, "Semuanya, keluar dari sini!" Jonas membawa kabur Tuan Federic.

Di susul dengan beberapa anak buahnya yang juga turut keluar, namun sayang. Saat mereka sudah keluar dan berlari di koridor, orang-orang itu juga tetap mengejarnya.

"Mau lari kemana kau Pak Tua, ayolah, ikut kami bermain. Lagakmu tadi sangat besar, nyalimu ternyata sekecil ini." Ucap salah seorang snipper, dengan dua pistol di tangannya.

DOOORRR!

DOOORRRR!

Pengawal di belakang mereka sudah tumbang, kini hanya ada Jonas dan Federic yang masih terus berusaha melarikan diri.

DOOORRRR!

Jonas terkena peluru itu, tepat di bagian kakinya, kini pria itu tak dapat berlari dan hanya bisa menyuruh Federic kabur dari sana.

"TUAN, CEPATLAH LARI!" Teriak Jonas, Federic kini hanya bisa percaya pada dirinya sendiri.

Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan bawahannya, terutama Jonas.

Jonas menggenggam kaki pria itu, lalu menariknya. Setidaknya ini cukup, untuk membuat Federic keluar dengan aman.

DOOOORRRR!

Lagi dan lagi, dentuman tembakan itu kembali terdengar. Beruntung bagi Federic, kini pria itu telah keluar dari motel. Di luaran Motel, satu snipper berdiri di atas rooftop. Mengarahkan tembakan, dengan pistol jarak jauh.

Lalu, "DOOOORRRR!"

Tembakan itu tepat mengenai bahu kanan Federic, pria itu kini tumbang dan terjatuh. "Ya Tuhan, jangan ambil saya saat ini. Masih ada dua putri, yang harus saya jaga."

BRUUUUKKKKK!

Federic terjatuh, di atas batako. Darah segar mengalir dari tubuhnya.

"Aurora, dia dalam bahaya. Keluargaku, apakah sedang di incar? Kris, aku terlalu menyepelekanmu selama ini" Tetesan air mata jatuh wajah pria itu.

***

Panggilan telepon berdering, Aurora yang saat ini tengah mengerjakan laporannya. Menerima panggilan telepon itu.

"Dengan Darren Grub, ada yang bisa kami bantu, ini dengan Aurora, tim pemasaran kreatif." Ucapnya dengan ramah tamah.

"Rora, ini mama, papa kamu. Dia kritis di rumah sakit."

TAAAKKK!

Telepon kabel kabel itu kini terjatuh, raut wajahnya juga tampak linglung sesaat.

"Apa?"

Dengan keadaan panik, wanita itu kini langsung mengambil tasnya. Ia keluar ruangan dengan sangat terburu-buru. Semua staf merasa kebingungan akan hal itu termasuk Kris.

Pria itu ingin mengejar, namun pekerjaannya di tim, belum selesai.

"Seseorang menembaknya, dia kritis sekarang, dan masih dalam icu. Kamu datanglah ke sini Aurora." Ucapan Mama Grace terus terlintas di otaknya.

Jika Aurora yang asli, pasti akan menangis saat menghadapi kenyataan ini. Namun dengan Aurora yang sekarang.

"Semua tebakanku benar, Kris bukan orang sembarangan."

"Jangan panik Rora, jangan panik dan tetaplah tenang."

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!