NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: KEBETULAN PERTAMA

Dua hari kemudian, Bang Tua mampir lagi ke SPBU yang sama, kali ini untuk mengisi bensin motornya yang sudah mulai menipis lagi setelah dipakai bolak balik kampus rumah kampus negeri, rutinitas yang membuatnya kadang lupa hari apa sekarang saking miripnya satu hari dengan hari lainnya. Antriannya tidak seramai kemarin, hanya ada tiga motor di depannya, jadi dia cukup cepat mendapat giliran.

Sambil menunggu petugas mengisi tangkinya, dia sempat memeriksa ponselnya, membalas beberapa pesan dari grup kelas doktoralnya soal jadwal ujian proposal yang baru saja diumumkan, sebelum akhirnya matanya tanpa sengaja menangkap sekelompok orang yang sedang berkerumun di sudut SPBU, dekat area parkir motor. Ada suara ribut ribut kecil, semacam keributan yang baru saja terjadi, cukup untuk menarik perhatian beberapa orang lain yang sedang mengantri juga.

Rasa penasaran, yang sebenarnya sudah jadi sifat dasarnya sejak kecil, meski selalu dia sembunyikan di balik wajah datarnya, membuatnya melirik ke arah kerumunan itu sambil menunggu, bahkan sedikit menggeser posisi berdirinya supaya bisa melihat lebih jelas tanpa terlihat terlalu mencolok.

"Itu lho, yang kemarin nyerobot antrian," bisik seorang bapak bapak di sebelahnya, entah kepada siapa, mungkin kepada dirinya sendiri saking hebohnya, sambil menunjuk nunjuk dengan dagunya ke arah kerumunan. "Kena tipu dia. Kartunya diblokir bank katanya, gara gara salah transfer apa gitu. Terus pas mau isi bensin pakai dompet digital, saldo nol. Malu maluin, sampai minjem duit ke orang lain buat isi bensin, sampai negosiasi lama sama petugasnya biar dikasih ngutang dulu."

Bang Tua menoleh sekilas. Benar saja, di sana berdiri pria berkacamata hitam dan jaket kulit yang sama seperti dua hari lalu, kali ini tanpa kacamata hitam, mungkin karena buru buru keluar rumah tanpa sempat bergaya seperti biasanya, wajahnya terlihat panik dan malu sekaligus, sibuk menjelaskan sesuatu ke petugas SPBU sambil terus mengecek ponselnya berkali kali, jarinya bergerak gelisah membuka aplikasi perbankan yang sama berulang kali seolah berharap keajaiban muncul dari sana.

Bang Tua mengangkat alis sedikit, tapi tidak lebih dari itu. "Oh," gumamnya pelan dalam hati, "kena batunya juga akhirnya."

Dia tidak merasa ada hubungan apa pun antara kejadian itu dengan dirinya. Bagaimana mungkin ada hubungannya? Yang dia lakukan hanya menggerutu sebentar dalam hati dua hari lalu, itu pun nyaris tidak terucap jelas, tenggelam di antara suara bising SPBU. Kalaupun sekarang orang itu kena masalah, itu murni kesialan biasa, kartu bank orang memang sering kena masalah teknis, apalagi kalau orangnya kelihatan ceroboh seperti itu, tipe orang yang terburu buru dan jarang teliti mengecek hal hal kecil. Toh, dunia memang kadang adil dengan caranya sendiri, meski jarang jarang, begitu pikirnya, sambil menerima kembalian dari petugas dan menaiki motornya lagi.

"Karma emang kadang cepet juga ya," pikirnya sambil tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya, apalagi di tempat umum, sampai sampai petugas SPBU yang menyerahkan struk pembayaran sempat menatapnya sedikit heran melihat dosen yang biasanya datar itu tiba tiba tersenyum sendiri. Dia menyalakan motor, melirik sekali lagi ke arah kerumunan yang masih ribut soal si pria kacamata hitam, lalu melaju pergi menuju kampus negeri untuk sesi bimbingan sorenya, sengaja mengambil jalan memutar sedikit untuk menghindari kemacetan yang biasa terjadi di jam segitu.

Sepanjang perjalanan, pikirannya sudah kembali sibuk dengan hal lain, draft bab tiga disertasinya yang belum juga rampung, revisi dari promotornya yang menumpuk di folder emailnya, serta jadwal mengajar besok pagi yang harus dia siapkan malam ini, belum lagi tugas tugas mahasiswa yang menumpuk menunggu diperiksa. Kejadian di SPBU itu, betapa pun anehnya kalau dipikir pikir lebih lanjut, hanya jadi catatan kecil di sudut kepalanya, sesuatu yang lucu untuk diceritakan kalau ada yang bertanya, tapi tidak lebih dari itu, seperti kebanyakan hal receh lain yang dia saksikan sehari hari lalu segera dia lupakan begitu kesibukan lain datang menyusul.

Dia benar benar tidak menyadari, dan mungkin butuh waktu lebih lama lagi sebelum dia mulai menyadari, bahwa dunia di sekitarnya baru saja mulai mendengarkan suaranya dengan cara yang sangat aneh. Bukan suara yang dia ucapkan keras keras di depan umum, karena dia memang tidak pernah melakukan itu. Tapi suara kecil, gumaman yang nyaris tak terdengar, yang keluar dari kekesalan yang selama bertahun tahun dia pendam rapat rapat, tersembunyi rapi di balik wajah datar dan sikap tenangnya yang selama ini menjadi tameng.

Untuk sekarang, itu baru satu kebetulan. Satu kejadian kecil yang bisa saja dilupakan begitu saja, tenggelam di antara ribuan hal receh lain yang terjadi setiap hari di kota sebesar Medan, kota yang tidak pernah benar benar berhenti bergerak, dengan jutaan cerita kecil yang berseliweran tanpa pernah benar benar diperhatikan siapa pun.

Tapi dunia, rupanya, baru saja mulai membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Dan pintu itu tidak akan mudah ditutup kembali.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!