Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Bernama Arka
Pesan itu terus menatap Raka.
_Jaga Naya baik-baik. Kalau Bimo masih ganggu, telepon saya. - A_
Raka mengernyit. Siapa A? Arka? Andra? Anjing?
Ia hapus pesan itu, tidak mau membuat Naya makin paranoid. Cukup Bimo dan Diandra saja yang jadi hantu di hidup Naya.
Di dalam kamar, Naya sudah berhenti menangis. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang retak. Mata bengkak, bibir pecah-pecah, rambut berantakan. Ini bukan Naya Azzahra yang dulu selalu tampil rapi dengan lipstik merahnya.
Ia mengambil wudhu. Sholat Dhuha. Lama. Untuk pertama kalinya ia tidak meminta suaminya kembali. Ia hanya meminta satu hal: kekuatan.
Di luar kamar, suasana masih seperti kapal karam.
Rahayu masih terduduk di lantai, memeluk map berisi bukti perselingkuhan Bimo dan Diandra. Adam masih tertunduk di kursi rotan, tangannya gemetar memegang tasbih yang sudah lama tidak ia sentuh.
Raka bingung mau ngapain. Ia membuatkan teh untuk semua orang, meletakkannya di meja, tapi tidak ada yang menyentuh.
Akhirnya, Adam bersuara. Suaranya serak dan pelan, tidak lagi membentak seperti tadi pagi.
"Raka... tadi... siapa yang kirim pesan ke HP-mu?"
Raka kaget. Ternyata ayah Naya melihatnya.
"Bukan siapa-siapa, Om. Salah sambung."
Adam mengangguk pelan, tapi matanya masih menatap curiga. "Kamu... kamu beneran cuma sahabat Naya?"
Raka duduk di hadapan Adam. "Iya, Om. Saya kenal Naya dari kuliah. Saya tau Naya itu pekerja keras. Dia biayain kuliahnya sendiri sambil kerja. Dia yang beliin motor Bimo, dia yang bayar kontrakan ibu Bimo. Saya lihat semua, Om. Naya itu anak yang berbakti, tapi dia capek."
Kalimat itu menampar Adam lebih keras dari teriakan Naya tadi.
Rahayu mulai terisak lagi. "Ibu... Ibu salah, ya? Ibu selama ini selalu bela Diandra karena Diandra lebih manja... Ibu pikir Naya itu kuat, jadi gak apa-apa dimarahin..."
Raka tidak menjawab. Ia biarkan kedua orang tua itu tenggelam dalam penyesalannya sendiri.
Siang itu, Naya keluar kamar. Ia sudah berganti baju rapi, kemeja putih dan celana bahan hitam. Wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah tidak kosong lagi. Ada api di sana.
"Ayah, Ibu," katanya dingin. "Aku mau ke apartemen. Mau ambil sisa barang dan ganti kunci. Raka anterin."
Adam langsung berdiri. "Ayah ikut."
Naya menatap ayahnya datar. "Gak usah."
"Biar Ayah ikut, Naya. Ayah... Ayah mau minta maaf. Tadi Ayah kelewatan."
Naya diam lama. Luka karena ayahnya jauh lebih dalam daripada luka karena Bimo. Karena Bimo adalah orang lain, tapi ayahnya adalah darahnya sendiri.
"Kalau Ayah mau ikut, jangan bicara apa-apa di jalan. Aku masih sakit hati."
Adam mengangguk cepat, seperti anak kecil yang takut dimarahi. Rahayu juga ingin ikut, tapi Naya melarang. "Ibu di rumah aja. Jaga rumah."
Perjalanan ke apartemen sepi. Raka menyetir, Naya di depan, Adam di belakang. Tidak ada yang bicara.
Apartemen Naya di lantai 18 itu tampak berantakan. Pintu sudah tidak terkunci. Jelas Bimo sudah masuk tadi pagi sebelum ke rumah Naya.
Baju-baju Naya berserakan di lantai. Make-up-nya pecah. Foto pernikahannya dengan Bimo dicoret-coret pakai spidol hitam.
Di dinding kamar, ada tulisan besar pakai lipstik merah milik Naya:
_DASAR PELACUR GAK LAKU! APARTEMEN INI AKAN JADI MILIK GUE DAN DIANDRA!_
Adam melihat itu dan mengepalkan tangannya sampai buku-bukunya memutih. Rahang Raka mengeras.
Naya malah tenang. Ia mengambil HP dan memfoto semua kerusakan itu. Satu per satu. Video.
"Biarin," katanya pelan. "Ini semua bukti KDRT dan perusakan. Makin banyak buktinya, makin cepat gugatan cerai aku dikabulkan."
Ia lalu menelepon tukang kunci yang sudah ia hubungi semalam. Dua puluh menit kemudian, kunci apartemen diganti total dengan smart lock yang hanya bisa dibuka pakai sidik jari dan password miliknya.
Saat tukang kunci sedang bekerja, seorang satpam gedung naik.
"Bu Naya? Ada titipan buat Ibu di lobi tadi pagi. Dari seorang bapak."
Satpam itu menyerahkan sebuah paper bag coklat yang mahal. Di dalamnya ada kotak beludru hitam dan sebuah amplop putih.
Naya membukanya. Di dalam kotak beludru itu ada kunci mobil baru. Dan di amplop putih ada sepucuk surat tulis tangan yang rapi:
_Naya,_
_Apartemen ini sudah tidak aman untukmu. Pindah dulu ke tempatku yang di Senopati. Kosong. Sudah aku siapkan. Kunci mobil ini untuk operasionalmu selama sidang cerai nanti, biar tidak perlu naik ojek hujan-hujanan lagi. Jangan menolak. Anggap ini hutang. Kamu bisa cicil dengan traktir aku kopi seumur hidup._
_A_
Adam dan Raka sama-sama melihat surat itu.
Raka langsung cemburu buta, tapi ia tahan. "Siapa ini, Nay? Mantan bos lo?"
Naya menggeleng. Jantungnya berdegup kencang. Tulisan tangan itu... ia sangat kenal. Tulisan tangan yang dulu sering ia lihat di pojok buku catatan kampus, saat ia diam-diam meminjam catatan kuliah seseorang.
"Arka...?" bisiknya pelan.
Adam mengernyit. "Arka? Arka yang dulu sering main ke rumah waktu SMA? Anaknya Pak Wijaya yang jadi pengusaha itu?"
Naya tidak menjawab. Tangannya gemetar memegang kunci mobil itu. Arka Wijaya. Cinta pertamanya. Laki-laki yang dulu ia tolak karena ia memilih Bimo yang terlihat lebih sederhana dan "tidak neko-neko".
Laki-laki yang dulu pernah berkata, "Kalau dia nyakitin kamu, bilang aja sama gue, Nay. Gue bakal ada."
Dan sekarang, setelah 7 tahun hilang tanpa kabar, laki-laki itu muncul lagi. Tepat di saat Naya berada di titik terendah dalam hidupnya.
Tiba-tiba HP Naya berdering lagi. Nomor tak dikenal.
Kali ini Naya angkat.
"Halo?"
Di seberang, suara seorang laki-laki yang dalam dan tenang terdengar. Suara yang sangat dirindukannya, tapi juga sangat ia takuti.
"Udah terima paper bag-nya?"
Naya membeku. "Arka?"
"Hai, Naya." Laki-laki itu tertawa pelan. "Lama gak ketemu. Lo masih suka nangis di pojokan kalo lagi kesel, ya? Satpam bilang mata lo bengkak."
Naya langsung panik melihat ke sekeliling apartemen, ke jendela, ke lorong. "Kamu di mana? Kamu ngawasin aku?"
"Gue di lobi bawah. Gue gak berani naik, takut Bimo masih di sana. Gue cuma mau mastiin lo aman. Lo turun sekarang? Atau gue yang naik?"
Naya menatap Raka, lalu menatap ayahnya. Ayahnya mengangguk pelan, memberi izin.
Dengan jantung berdebar seperti mau copot, Naya berjalan menuju lift.
Pintu lift terbuka.
Dan di sana, berdiri seorang laki-laki dengan kemeja putih yang digulung sampai siku, jam tangan mahal, dan senyum yang masih sama seperti 7 tahun lalu. Hanya saja, kini ia jauh lebih tinggi, lebih dewasa, dan tatapannya jauh lebih dalam.
Arka.
Cinta pertamanya yang dulu ia buang, kini datang kembali sebagai penyelamat.
Di belakang Naya, Raka mengepalkan tangannya. Ia tahu, mulai detik ini, posisinya sebagai sahabat akan diuji. Karena saingan yang datang bukan kaleng-kaleng
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal