Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 RENCANA PULANG KE INDONESIA
SELAMAT MEMBACA !!!
Waktu terus berjalan, Fira dan Haikal mulai sibuk menyusun rencana besar...Mereka ingin memindahkan pusat usahanya ke Indonesia, tempat dimana keluarga dan sahabat-sahabatnya tinggal.
Namun usaha yang di Belanda akan berjalan dan tak mungkin ditinggalkannya.
Apalagi Butik Kembar, usahanya pertama Fira yang sejak awal sudah ramai dan sudah banyak pelanggannya itu akan tetap buka dan beroperasi seperti biasanya.
Rubi yang sudah lama bekerja bersama Fira, setia dan selalu sigap membantunya dalam segala hal, dialah yang dipercaya sepenuhnya untuk mengelola Butik Kembar cabang Belanda.
Rubi menata Fira dan berbicara dengannya, "Dek, apa aku bisa jika mengelola Butik Kembar sendirian. Apa kamu percaya aku, Dek?" tanya Rubi yang belum mantap menjadi Manager Butik Kembar.
"Aku yakin, Kak Rubi pasti bisa menjalankan Butik ini. Selama ini juga Kakak kan yang menghandel Butik. Kalau Kakak kerepotan silahkan untuk mencari asisten yang bisa dipercaya. Dan aku percaya dengan Kakak. Sudahlah yang penting saling percaya, selalu komunikasi jika ada hal yang tak Kakak mengerti ya. Aku titip Butik ini sama Kakak," jawab Fira menenangkan hatinya Rubi.
Rubi terdiam tak berbicara apapun sambil menatap lekat ke matanya Fira, mencari kejujuran. Benarkah Fira percaya padanya atau hanya ingin menguji kepercayaannya.
"Percaya, Kak Rubi. Aku itu sudah menganggap Kak Rubi seperti Kakak sendiri. Mana mungkin hanya menguji Kak Rubi!" seru Fira sambil menepuk pundaknya Rubi.
Ia duduk di sofa dalam ruangannya. "Aku sudah mantap pindah ke Indonesia tempat kelahiranku, Kak. Tapi aku tak mungkin menutup Butik yang sudah membesarkan nama Butik Kembar dan aku punya tanggung jawab pada para karyawan yang sudah berjasa untuk kelangsungan Butik ini, Kak," ucap Fira kepada Rubi.
"Apa kamu sudah yakin pulang ke negara kelahirmu, Dek?" tanya Rubi masih penasaran. Tiba-tiba Fira mengatakan ingin pindah ke Indonesia.
Fira menghela napasnya sambil bersandar menatap langit-langit ruangnya. "Sebenarnya, Papa si Kembar masih hidup, Kak. Dulu waktu aku pergi ke sini ternyata terjadi kesalah pahaman dengannya. Makanya aku sampai sini, Kak. Waktu ulang tahun si kembar kemarin. Malamnya keluargaku memberitahukan bahwa suamiku tak salah hanya salah paham dan kurang komunikasi saja. Aku juga kasihan dengan si Kembar, Kak. Kalau mereka sudah tau arti orang tua itu apa? Aku takut mereka membenci Papanya yang salah sedikit sih hehehehe," jawab ZhaFira menceritakan keadaannya sekarang.
Rubi menatap wajah Bosnya yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu. "Ya juga sih, jangan sampai mengorbankan anak hanya demi ego kita. Ya sudah aku berjanji akan menjaga dan memajukan Butik Kembar yang di sini. Tapi kalau ada pesanan, kamu tetap bisa terima kan, Dek?" tanya Rubi dengan pasrah, mau bagaimana lagi kalau Butik ditutup dia juga yang akan kesulitan untuk mencari pekerjaan yang tanpa menggunakan ijazah.
Fira tersenyum mendengar jawaban dari Rubi yang setengah-tengah itu. Ia meraih tangannya Rubi dengan lembut.
"Semangat ya, Kak Rubi! Kamu harus semangat untuk masa depanmu, jangan bekerja terus. Kamu juga harus bahagia, semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari yang kemarin dan raih lah kebahagian bersamanya," ucap Fira tulus menatap wajah Rubi, ia langsung memeluk tubuh Rubi. Ia ingat sangat menemukan Rubi pertama kali, dia berpakaian lusuh muka hitam dan kurus sekali.
Rubi menangis karena akan berpisah dengan Fira dan si kembar, ia berjanji suatu saat dia ingin ke Indonesia menemui mereka.
Fira pamit pulang dulu, semua pekerjaan sudah di serahkan kepada Rubi, ia keluar dari Butik lalu menaiki mobilnya ingin langsung pulang ke rumah.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Di perusahaan Haikal juga sedang mengadakan rapat untuk memberitahukan bahwa perusahaan pusat akan di pindah ke Indonesia.
Haikal maju ke depan untuk berbicara kepada semua karyawannya.
"Selamat siang semua!" sapanya.
"Selamat siang, Tuan," jawab serempak karyawan perusahaan.
"Baik, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkumpul di aula ini. Saya tak akan berbicara panjang lebar di sini. Saya hanya akan menyampaikan sedikit informasi pada kalian semua. Saya akan memindahkan perusahaan pusat di Indonesia, tempat dimana kedua orang tua saya tinggal. Tapi jangan khawatir perusahaan tetap masih jalan. Dan untuk informasi selanjutnya, jika ada karyawan yang berasal dari Indonesia bisa mengajukan mutasi ke Indonesia," ucap Haikal dengan pelan tapi tegas.
Prok! Prok! Prok
Tepuk tangan menggema dari sebagian karyawan yang berasal dari Indonesia. Mereka bahagia jika bisa mutasi ke Indonesia bisa dekat dengan keluarganya.
"Mohon maaf, Tuan. Apa yang berasal dari Indonesia pasti akan di Acc mutasinya?" tanya salah satu karyawan dari Indonesia.
Haikal tersenyum tapi tetap wajahnya kelihatan tegas sekali. "Baik akan saya jawab, Siapapun yang ingin mutasi ke Indonesia silahkan, pasti akan di Acc. Jika karyawan asli Belanda ada yang ingin ikut mutasi silahkan saja. Untuk perusahaan yang sekarang ini akan di pimpin oleh Tuan Robert yang sekarang menjadi Direktur keuangan," jawab Haikal lagi membuat riuh suasana di dalam aula perusahaan.
Setelah selesai menyampaikan informasi kepada semua karyawannya. Haikal pamit kembali ke ruangannya. Di belakangnya ada David sang asisten, walaupun dia orang Belanda asli tapi dia akan tetap ikut pindah ke Indonesia.
Sesampainya di ruangannya Haikal bersiap melanjutkan pekerjaannya sebelum dia pindah ke Indonesia bersama istri, adik dan kedua keponakannya.
"Kamu sudah positif ingin ikut ke Indonesia, Dav?" tanya Haikal menatap wajah asisten setianya.
David yang ditanya balik menatap Bos sekaligus sahabatnya itu. "Aku akan tetap ikut ke Indonesia, Kal. Kamu tau sendiri aku di sini juga percuma tak ada keluarga. Lebih baik aku ikut kamu dan di sana masih bisa dekat dengan keluargamu. Berasa punya keluarga, Kal," jawab mantap Haikal.
Haikal menganggukan kepalanya, David tersahabat dengan Haikal dari saat pertama kali Haikal menempuh pendidikan kuliah pertama kali di Belanda.
"Ya sudah, kamu nanti juga bisa tinggal dengan Papa dan Mama dulu. Kalau seandainya kamu sudah punya apartemen atau rumah untuk tinggal boleh pindah. Siapa tau kamu mendapatkan jodoh di Indonesia hehehe," ucap Haikal dengan candaan.
Mereka kembali fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Zhafira yang sudah sampai di depan halaman depan rumah Haikal, ia turun dengan perasaan lega. Karena Rubi sudah mau menghandel Butiknya.
"Assalamualaikum," sapa Fira saat membuka pintu.
"Calam, Mama!" teriak Naya, ia langsung berdiri lalu berjalan ke arah Mamanya.
"Walaikumsalam," jawab yang lainnya.
Hap Fira menangkap tubuh Naya dan memeluknya dengan erat. Di belakangnya Devan ikut berjalan ke arah Mamanya. Mencium tangan Mamanya dengan takzim.
"Kalian sudah makan siang belum, Sayang?" tanya Fira sambil menggandeng tangan putra putrinya menuju ke ruang keluarga.
Di sana ada Amara, Nyonya Sintya dan Mila yang sedang duduk di karpet, mungkin tadi sedang menemani si kembar bermain.
"Semua belum makan, Sayang. Kembar ingin makan bareng denganmu," ucap Nyonya Sintya dengan lembut.
Fira melangkah mendekat, lalu menyalami tangan Mama dan Kakaknya dengan penuh kasih sayang. Mila juga mencium tangannya Fira, begitulah keluarga Fira, saling menyayangi satu dengan yang lain.