NovelToon NovelToon
Setelah Diselingkuhi, Aku Dinikahi CEO Misterius

Setelah Diselingkuhi, Aku Dinikahi CEO Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aren Vely

Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.

Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.

Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf yang Terlambat

Beberapa hari setelah gala amal, kehidupan Alya di rumah Wirawan mulai menemukan ritmenya sendiri. Dia mulai terbiasa dengan rutinitas baru sarapan bersama Oma Ratna yang kini menganggapnya seperti cucu sendiri, sesekali menemani Raka dalam acara-acara formal, dan di waktu senggangnya, dia mulai membaca ulang jurnal-jurnal kedokteran lama, seolah ada bagian dari dirinya yang mulai berani berharap suatu hari nanti bisa kembali praktik.

Namun ketenangan itu terusik siang itu, ketika ponselnya berdering menampilkan nomor yang sudah lama tidak dia simpan lagi, namun masih dia kenali betul.

Bimo.

Alya menatap layar ponselnya lama, ragu antara mengangkat atau mengabaikannya sepenuhnya. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya.

"Halo?"

"Alya," suara Bimo terdengar dari seberang, nadanya jauh lebih lembut dari terakhir kali mereka bicara di rumah sakit. "Aku... aku tahu ini aneh setelah semua yang terjadi. Tapi bisakah kita bertemu sebentar? Aku ingin bicara. Sungguh-sungguh minta maaf."

Alya menghela napas panjang. "Bimo, aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita."

"Kumohon," suara Bimo terdengar mendesak, hampir putus asa. "Lima menit saja. Di kedai kopi dekat rumah sakit lama kita, seperti dulu. Aku janji ini yang terakhir kali aku menghubungimu."

Entah karena rasa penasaran, atau mungkin karena dia ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa dia sudah cukup kuat untuk menghadapi masa lalunya tanpa terguncang lagi, Alya akhirnya menyetujui pertemuan singkat itu, tanpa memberi tahu Raka — sesuatu yang kelak akan dia sesali.

Kedai kopi kecil itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali Alya duduk di sana, basah kuyup dan patah hati, sebelum semuanya berubah drastis dalam hidupnya. Bimo sudah duduk menunggu di meja sudut yang sama, tampak lebih kurus dan lelah dari yang Alya ingat.

"Terima kasih sudah mau datang," kata Bimo begitu Alya duduk di seberangnya, suaranya penuh penyesalan yang tampak tulus. "Aku sudah pikirkan ini berhari-hari. Aku... aku menyesal, Al. Sungguh. Apa yang aku dan Vania lakukan padamu, cara kalian dipecat, semuanya itu salah besar."

"Kenapa sekarang?" tanya Alya, suaranya datar, mencoba menahan gejolak emosi yang tiba-tiba muncul mendengar pengakuan itu. "Kenapa baru menyesal sekarang, setelah aku menikah dengan orang lain?"

Bimo terdiam sejenak, matanya menunduk. "Karena aku baru sadar, setelah melihatmu bersinar seperti itu di gala kemarin aku sadar aku sudah membuang sesuatu yang sangat berharga. Vania... dia tidak seperti yang aku kira. Dia terlalu ambisius, terlalu perhitungan dalam segala hal, bahkan dalam hubungan kami sendiri. Aku mulai merasa... mungkin aku salah pilih, Al."

Alya menatapnya lama, mencoba mencari jejak wanita yang dulu begitu mencintai pria di depannya ini. Tapi anehnya, yang dia rasakan bukan lagi rasa sakit atau rindu, melainkan semacam jarak yang begitu jauh, seolah dia sedang melihat orang asing yang kebetulan pernah menjadi bagian penting hidupnya.

"Bimo," katanya pelan namun tegas, "aku menghargai permintaan maafmu. Tapi itu tidak mengubah apa pun. Kau dan Vania menghancurkan reputasi profesional yang aku bangun bertahun-tahun, hanya demi menutupi kesalahan kalian sendiri. Itu bukan sesuatu yang bisa dimaafkan begitu saja hanya karena kau merasa menyesal sekarang."

"Aku tahu," Bimo mengangguk cepat, "aku tidak berharap kau langsung memaafkanku. Aku hanya aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Dan mungkin, kalau kau mau, kita bisa mulai lagi dari awal. Bukan sebagai kekasih, tapi setidaknya sebagai— aku tidak tahu, teman? Aku merindukan percakapan kita dulu, Al."

Tangan Bimo bergerak perlahan mendekat di atas meja, hampir menyentuh tangan Alya, ketika sebuah suara dingin tiba-tiba memotong dari arah pintu kedai.

"Sepertinya aku datang di saat yang tepat."

Alya menoleh cepat, jantungnya mencelos melihat Raka berdiri di ambang pintu, wajahnya datar seperti biasa, namun matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih tajam dari yang pernah Alya lihat sebelumnya. Di tangannya, ponsel masih tergenggam rupanya salah satu staf melihat Alya pergi tanpa pengawal seperti biasa, dan segera melaporkannya.

"Raka," Alya berdiri cepat, merasa seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah, meskipun sebenarnya dia tidak melakukan kesalahan apa pun. "Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Bimo hanya ingin—"

"Aku tidak berpikir apa-apa," potong Raka tenang, melangkah masuk mendekati meja mereka, matanya beralih menatap Bimo dengan tatapan dingin yang membuat pria itu langsung gugup dan berdiri dari kursinya. "Aku hanya penasaran, sejak kapan seorang mantan tunangan yang pernah mempermalukan istriku di depan seluruh rekan kerjanya, merasa punya hak untuk meminta 'memulai dari awal'?"

Bimo membuka mulut, mencoba mencari kata-kata pembelaan, tapi tidak ada yang keluar.

"Aku pikir sudah cukup jelas," lanjut Raka, suaranya tetap tenang namun tidak menyisakan ruang untuk dibantah, "bahwa Alya sudah punya kehidupan baru sekarang. Aku sarankan kau menghormati itu, dan tidak menghubunginya lagi."

Bimo akhirnya mengangguk kaku, menggumamkan permintaan maaf singkat, lalu bergegas meninggalkan kedai kopi itu dengan wajah memerah karena malu.

Setelah kepergian Bimo, keheningan canggung menggantung di antara Alya dan Raka. Alya menunduk, merasa bersalah meski tidak sepenuhnya yakin kesalahan apa yang sebenarnya dia lakukan.

"Maaf, aku seharusnya memberitahumu dulu," katanya pelan.

Raka menatapnya lama, ekspresi dinginnya perlahan mencair menjadi sesuatu yang lebih lembut, meskipun masih ada sedikit kekhawatiran tersisa di matanya. "Aku tidak marah karena kau menemuinya," katanya akhirnya, duduk di kursi yang tadi ditempati Bimo. "Aku hanya... khawatir dia akan menyakitimu lagi. Kau sudah cukup terluka karena orang itu."

Kata-kata itu, diucapkan dengan begitu jujur dan tanpa basa-basi seperti biasa, membuat dada Alya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa kekhawatiran Raka bukan lagi sekadar menjaga citra "pernikahan sempurna" di depan publik ada sesuatu yang jauh lebih personal di balik sikapnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!