NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Menjelang sore, tepat sekitar pukul setengah enam, sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tidak jauh dari kontrakan sederhana milik Serina.

Jovan turun dari mobil. Ia mengenakan kaus lengan panjang berwarna gelap, celana panjang, serta topi yang sedikit menutupi wajahnya. Sebelum melangkah menuju rumah Serina, ia sempat menoleh ke kanan dan kiri. Jovan benar-benar berhati-hati.

Pengalaman beberapa waktu lalu ketika paparazi membuntutinya membuatnya tidak ingin mengambil risiko.

Tidak terlihat kamera. Tidak ada orang yang mencurigakan. Setelah merasa cukup aman, Jovan berjalan menuju rumah kontrakan itu.

Tok...

Tok...

Belum sempat mengetuk untuk kedua kalinya, pintu sudah terbuka. Serina berdiri di sana dengan ekspresi terkejut.

"Jovan?"

Jovan tersenyum tipis. "Maaf datang tanpa bilang lagi."

Serina masih memandangnya tidak percaya.

"Kamu benar-benar datang."

"Aku kan sudah bilang."

Belum sempat Serina menjawab, terdengar suara kecil dari dalam rumah.

"Om Jovan!" Farel berlari keluar. Wajah bocah itu seketika berubah ceria. "Om Jovan!"

Jovan langsung membuka kedua tangannya. Farel berlari dan memeluk pinggangnya erat.

"Om Jovan pulang!"

Jovan tertawa kecil. "Iya. Om pulang."

Farel kemudian mendongakkan wajahnya dan tanpa ragu mencium pipinya Jovan.

Cup!

Jovan terdiam sesaat. Kemudian tertawa. "Astaga..." Ia mengusap kepala Farel. "Om baru datang sudah dicium."

Farel tersenyum lebar. "Farel kangen!"

Jovan menatap bocah itu dengan mata penuh kelembutan. "Om juga kangen."

Serina hanya berdiri memperhatikan.Dadanya terasa hangat sekaligus perih. Ia teringat beberapa bulan lalu. Setelah Riki meninggal, Farel hampir setiap malam menangis.Bocah kecil itu sering bertanya kapan ayahnya pulang. Ia bahkan pernah membawa foto Riki dan tidur sambil memeluknya. Kesedihan itu membuat Serina nyaris tidak sanggup melihat putranya sendiri. Namun perlahan Semenjak Jovan hadir dalam kehidupan mereka, tawa Farel kembali terdengar. Kini bocah itu bahkan memiliki sebutan sendiri untuk Jovan, yakni "Kantong Doraemon."

Karena menurut Farel, Jovan selalu bisa mengeluarkan sesuatu yang membuatnya bahagia.

Serina menatap keduanya. Jovan bukan ayah Farel. Dan tidak akan pernah menggantikan Riki. Namun ia tidak bisa menyangkal satu hal. Jovan benar-benar tulus menyayangi putranya.

"Masuklah," kata Serina akhirnya.

Jovan mengangguk. Ia masih sempat menoleh ke arah jalan. Setelah memastikan tidak ada orang yang mengikuti, barulah ia masuk ke dalam rumah.

Sore perlahan berubah menjadi malam. Langit yang sejak tadi mendung semakin gelap. Angin berembus cukup kencang. Tak lama kemudian...

BRAKK!

Suara petir menggelegar.

Farel yang sedang duduk di samping Jovan langsung tersentak.

"Ah!" Bocah itu berlari dan bersembunyi di balik tubuh Jovan.

Jovan terkejut. "Farel?"

Petir kembali menyambar.

BRAAAK!

Farel semakin erat memeluk pinggangnya Jovan.

"Om..."

Jovan menunduk. "Takut?"

Farel mengangguk. Jovan tersenyum lembut. Ia kemudian merangkul tubuh kecil itu. "Nggak apa-apa. Om di sini."

Farel menempelkan wajahnya ke dadanya Jovan.

"Jangan pergi..."

Jovan terdiam. Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Ia mengusap punggung Farel perlahan.

"Om nggak pergi."

Serina yang melihat dari kejauhan hanya terdiam. Cara Farel berlindung di balik tubuh Jovan mengingatkannya pada masa lalu.

Dulu...

ketika hujan turun disertai petir, Farel juga selalu berlari kepada Riki. Dan kini... bocah itu melakukan hal yang sama kepada Jovan. Serina menundukkan wajah. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan.

Sementara Jovan sendiri memandang Farel dengan tatapan lembut. Ia tidak pernah menyangka akan menyayangi seorang anak kecil seperti ini.

Dulu, ia bahkan tidak terlalu menyukai anak-anak. Baginya, anak kecil terlalu berisik, terlalu banyak bertanya, dan terlalu merepotkan. Jovan dulu dikenal sebagai pria bad boy, urakan dan Keras kepala.

Ia sering melakukan balapan liar di jalanan hanya untuk mendapatkan sensasi kecepatan. Sampai akhirnya seseorang datang dan mengubah hidupnya.

Seseorang yang melihat bakatnya, Seseorang yang menuntunnya ke lintasan resmi. Dari situlah hidup Jovan perlahan berubah, balapan liar ditinggalkannya.Ia mulai berlatih, Ia belajar disiplin.

Hingga akhirnya cita-citanya menjadi pembalap profesional benar-benar terwujud.

Namun ada satu bagian dalam hidup Jovan yang tidak pernah benar-benar sembuh. Yakni masa kecilnya. Ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua secara utuh. Tuan Marcell selalu tegas kepadanya.Sedangkan Nyonya Marcella... tidak pernah benar-benar menerimanya.

Sejak kematian ibunya ketika Jovan masih seusia Farel, separuh jiwanya seperti ikut pergi. Ibunya adalah satu-satunya wanita yang membuat Jovan merasa dicintai sepenuhnya. Dan ketika wanita itu meninggal... Jovan merasa dunia menjadi tempat yang sangat asing. Beruntung masih ada Darren.

Kakaknya. Satu-satunya orang dalam keluarga Narendra yang benar-benar membuat Jovan merasa memiliki keluarga.

Jovan menatap Farel. Kemudian tersenyum kecil.

"Mungkin karena aku pernah kehilangan sosok yang paling kusayangi sejak kecil... Itulah sebabnya aku tidak tega melihat Farel kehilangan sosok yang dia sayangi." Batinnya.

Hujan semakin deras. Serina membuatkan minuman hangat, Jovan masih duduk bersama Farel. Beberapa saat kemudian, Jovan memandang Serina.

"Serina."

"Hmm?"

"Aku mau bicara lagi soal yang kemarin."

Serina terdiam. "Menikah?"

Jovan mengangguk. "Aku tahu kamu mungkin mengira aku melakukan ini karena merasa bersalah."

Serina tidak menjawab.

"Atau karena kasihan."

Jovan menarik napas. "Tapi bukan itu alasannya."

Serina menatapnya.

"Aku tidak ingin menjadi pengganti Riki." Jovan menatap Farel. "Aku juga nggak ingin mengambil posisi ayahnya." Ia kembali menatap Serina."Riki akan selalu menjadi ayah Farel."

Serina terdiam.

"Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa menjaga kalian."

"Jovan..."

"Aku tulus." Suara Jovan terdengar lebih dalam.

"Aku nggak tahu sejak kapan aku mulai begitu peduli sama Farel." Ia tersenyum kecil. "Tapi aku sayang sama anak itu."

Serina menelan ludah. "Dan kamu?"

Jovan terdiam.

Tatapan mereka bertemu.

"Aku juga peduli sama kamu." Jovan menarik napas.

"Mungkin lebih dari yang seharusnya."

Serina membeku. Jovan sendiri tampak gugup setelah mengucapkan kalimat itu.

"Aku nggak tahu apakah ini cinta." Ia tertawa kecil. "Tapi setiap kali kamu terluka, aku merasa ingin melindungimu."

Serina tidak mampu berkata-kata.

Jovan melanjutkan, "Aku ingin ada di sampingmu bukan karena kewajiban." Ia menatap mata Serina.

"Tapi karena aku memang ingin."

Serina terdiam cukup lama. Namun tiba-tiba Farel yang sejak tadi diam terlihat menggigil.

"Bunda..."

Serina langsung menoleh.

"Farel?"

Jovan menyentuh dahi bocah itu. Wajahnya langsung berubah panik.

"Panas."

Serina segera menghampiri.

"Memang sudah dua hari ini kondisi Farel kurang fit."

Jovan menatapnya cemas.

"Kenapa kamu nggak bilang?"

"Dia cuma demam ringan."

"Tapi panasnya tinggi."

Serina tetap tenang. "Bunda ambilkan obat demam dulu ya!"

Jovan menggeleng. "Kenapa tidak kita bawa ke dokter saja, Serina?"

"Tidak perlu."

"Serina..."

"Farel sudah terbiasa seperti ini. Setelah minum obat demam, biasanya kondisinya segera membaik."

Jovan masih terlihat khawatir. "Tapi..."

Serina menyentuh lengannya Jovan. "Percaya sama aku."

Jovan terdiam.Akhirnya ia mengangguk.

"Baik."

Malam semakin larut. Jovan dan Serina bergantian mengompres dahi Farel. Beberapa kali Jovan mengganti kain kompres. Ia bahkan tidak mengeluh ketika bajunya terkena air. Farel perlahan mulai tenang. Dalam keadaan setengah sadar, ia berbisik,

"Om..."

"Iya."

"Ceritain lagi..."

"Cerita apa?"

"Pas Om kecil..."

Jovan tersenyum."Oh, cerita tentang Om yang ingin jadi pembalap?"

Farel mengangguk.Jovan kemudian mulai bercerita.

Tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana ia pertama kali jatuh cinta pada suara mesin. Tentang bagaimana ia sering dimarahi karena balapan liar. Tentang seseorang yang akhirnya mengajarinya bahwa kecepatan harus memiliki tempat dan aturan.

Farel mendengarkan dengan mata yang semakin berat. "Om hebat..."

Jovan tersenyum. "Om dulu nakal."

"Tapi sekarang Om baik."

Jovan terkekeh pelan. "Siapa bilang?"

"Farel bilang."

Jovan mengusap rambutnya. "Kalau begitu Om harus tetap baik."

Tidak lama kemudian... Farel akhirnya tertidur pulas.

Jovan menatap wajah kecil itu. Kemudian berbisik,

"Selamat tidur, jagoan."

Serina yang berdiri di belakangnya hanya memperhatikan. Malam semakin larut. Hujan masih turun.Jovan berdiri, Ia menatap Serina.

"Kita perlu bicara."

Serina mengangguk.

Mereka berdiri berhadapan. Jovan tampak gugup.

Namun kali ini ia tidak mundur.

"Serina..."

"Iya?"

"Aku butuh jawaban darimu sekarang."

Serina menatapnya.

Jovan melangkah satu langkah mendekat. Kedua tangannya perlahan berada di atas bahu Serina.

Ia sendiri terlihat gugup. "Serina, aku butuh jawaban darimu sekarang." Jovan menelan ludah. "Aku ingin tahu... apakah kamu bersedia menikah denganku?"

Serina membeku. Jantungnya berdegup sangat cepat.Ia menatap matanya Jovan. Untuk pertama kalinya, tatapan pria itu tidak terlihat seperti seorang pembalap terkenal. Tidak seperti pria bad boy yang sering diberitakan media. Tidak seperti seseorang yang datang karena rasa bersalah. Ia hanya terlihat seperti seorang pria yang sedang mempertaruhkan seluruh keberaniannya kepada seorang wanita.

Serina membuka mulut. "Aku..." Namun belum sempat kalimat itu selesai...

Tok!

Tok!

Tok!

Keduanya tersentak. Suara ketukan keras terdengar dari pintu depan. Jovan langsung melepaskan tangannya dari bahunya Serina. Mereka saling berpandangan.

Tok!

Tok!

Tok!

Kemudian terdengar suara seseorang dari luar.

"Serina! Buka pintunya!"

Serina membeku.

Suara itu terdengar jelas, yakni Pak RT.

"Pak RT?"

Jovan menatap pintu. Dari luar terdengar suara beberapa orang.

"Pak RT, benar mereka ada di dalam?"

"Iya! Saya tahu mereka ada di dalam!"

Jantung Serina langsung berdegup kencang.

Kemudian suara Pak RT kembali terdengar.

"Serina! Saya tahu Jovan ada di dalam rumah!"

Jovan menatap Serina. "Apa-apaan ini?"

Serina menggeleng dengan wajah pucat. "Aku tidak tahu."

Dari luar terdengar suara beberapa warga.

"Katanya mereka sering berduaan!"

"Beritanya sudah menyebar ke mana-mana!"

"Kalau memang mereka tidak melakukan apa-apa, kenapa malam-malam begini ada di rumah?"

Serina semakin panik. Jovan mengepalkan tangan.

Ia baru saja berjanji akan melindungi Serina. Dan sekarang... rumah sederhana itu kembali menjadi sasaran rumor.

Jovan menatap Serina.n"Tenang."

"Tapi mereka..."

"Aku di sini." Jovan berdiri di depan Serina. Melindunginya dari pandangan pintu.

Sementara di luar, suara Pak RT kembali menggema.

"Serina! Buka pintunya sekarang!"

"Kalau tidak, kami akan mendobrak!"

Serina menatap Jovan dengan mata penuh kecemasan. Kemudian pandangannya beralih kepada Farel yang masih tertidur pulas.

Jovan mengikuti arah pandangannya.

"Jangan khawatir."

Suaranya rendah namun tegas.

"Aku nggak akan membiarkan siapa pun mempermalukanmu."

Namun di luar... suara warga semakin ramai.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Jovan menyadari bahwa masalah mereka jauh lebih besar daripada sekadar rumor di media sosial.

Karena sekarang...

seluruh warga di sekitar rumah Serina sudah mengetahui bahwa dirinya berada di dalam rumah itu. Dan mereka datang bukan untuk bertanya. Mereka datang untuk menghakimi.

Bersambung....

1
Nar Sih
dareen untung sifat mu baik seperti dedy mu dan ngk jht seperti momy mu,semagat jovan restu dri kakak mu juga dedy mu sdh di tngn mu moga lancar acara selanjut nya
Nar Sih
seneng ya jovan ahir nya lamaran mu diterima serina ,walau harus sabar dgn syarat nya pasti lama,,serina akan luluh hati nya💪
Ariany Sudjana
Darren harus tetap mengusut keterlibatan Marcella dalam kasus foto Jovan dan Serina, kamu harus tegas, meskipun pelakunya mama kamu sendiri
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Marcella siluman ular... 😡😡
fatmawati (pipit)
apakah kau marcella yang sudah membunuh mama kandung jovan🤔🤔🤔
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
fatmawati (pipit): pokoknya ditunggu setiap chapternya🤭🤭🤭
total 2 replies
fatmawati (pipit)
jangan lupa jovan undangan disebar lalu untuk darren berbesarlah hati mu karna cinta pertamamu akan menikahi adik kamu💪💪💪💪
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Bahagia selalu untuk kalian ya 🥰🥰🥰
Teh Yen
aku ragu kalau Marcella bisa berubah sih 🤔
Teh Yen
ternyata dalangnya ibunya Darren sendiri yah
Nar Sih
semagat serina ,alm suami mu sdh memberi izin padamu ,jemput bahagia mu dan farel bersama jovan
Teh Yen
siapa lagi orang yg ingin menghancurkan hidup Jovan yah
Teh Yen
wah farel sudha mengagumi om Jovan yah ,,kl ibunya gmn tuh??? 😁
fatmawati (pipit)
jovan udah ada bibit jatuh cinta nih, tinggal perjuangan jovan untuk membuka hati serina untuk menerima dirinya (jovan)
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
fatmawati (pipit): /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Serina, bukalah hatimu untuk Jovan, demi Farel 🥰🥰
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Syukurlah ngga sampai nikah paksa saat itu juga. Yawda Jovan, kamu harus cepat pulang ya... besok apel lagi 😅
Nar Sih
untung nya pejelasan mu berhasil diterima warga dan pk rt ya jovan,dan ngk jdi di nikahin dadakan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: selamet mereka berdua🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
nah kan pasti bntr lgi di nikahin dadakan
fatmawati (pipit)
jovan harus tegas dong sama orang orang yg suka julid jangan sampai farel mendengar omongan yg tidak baik.....
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
fatmawati (pipit)
itu ada tetangga julidnya seharusnya pak RT tegas kepada warga jangan hanya dengar dari desas desus gosip murahan dong kayak serina itu apa. bapak Rt gk pernah tahu apa yg dialami serina, farel dan jovan setelah riki meninggalkan jadi coba pikir bagaimana serina ingin memberikan terbaik buat farel
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
kebiasaan bgt asal labrak,bisa mikir dlu ngk sih sebelum bertindak,pantesan ngk maju2 pemikirannya pada kuno
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!