NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12: AMPLOP COKLAT DI DEPAN JENAZAH

Jam 08.00 pagi.

Rumah papan Kuala Pembuang makin ramai. Tikar pandan di ruang tengah sudah penuh ibu-ibu pakai mukena. Suara Yasin masih pelan, tapi sekarang campur suara bisik-bisik.

"Laila pulang, pakai seragam putih abu-abu..."

"Katanya udah diusir dipondok Karna bikin ulah ,sekarang katanya malah udah jadi LC..."

"Kasihan ibunya, nungguin anaknya..."

Aku masih duduk di lantai, di depan jenazah ibu. Gamis putih yang ibu setrika jam 3 subuh tadi malam masih di pangkuan ku. Belum aku pakai. Aku masih pakai seragam putih abu-abu yang Mami Asih suruh pakai dari kos pink pudar. Seragam yang bau debu gang bakso belakang Hotel Melati.

Kertas kecil tulisan ibu: Laila, kalau kamu pulang, pakai ini. Ibu kangen sama kamu. tulisan itu gemetar, kayak tangan ibu sudah lemah waktu nulis.

Bapak ku duduk di pojok, kepala nunduk. Di tangan Bapak ada tasbih kayu ibu yang putus talinya. Bapak tidak berani lihat aku lama. Kupikir bapak belom tau,tapi ternyata bapak sudah tau semua nya.Sejak aku diusir dari pondok karena dibilang gila, Bapak tidak pernah panggil aku Laila lagi. Bapak panggil "kamu".

Mami Asih jongkok di belakang ku. Mami bisik pelan, cuma aku yang dengar:

"Laila, kamu harus ganti sekarang. Di kamar belakang. Jangan di sini. Pakai gamis putih itu. Ibu kamu setrika buat kamu jadi anak baik lagi. Bukan buat kamu jadi Alia. Cepat, sebelum Kyai Abdullah datang. Biar dia lihat kamu bukan LC."

Aku angguk. Aku gendong gamis putih itu. Kainnya masih hangat. Wangi setrikaan. Wangi kayu bakar.

Aku masuk ke kamar kecil belakang. Kamar ku dulu waktu hafalan 15 juz. Dindingnya masih ada coretan jadwal murojaah pakai spidol hitam yang aku tulis umur 18 tahun.

Aku kunci pintu triplek itu.

Aku lepas seragam putih abu-abu. Aku lipat rapi, aku taruh di bawah lemari. Di saku dalam rok seragam itu ada flashdisk merah. Aku ambil. Dingin. Aku pindahin ke saku dalam gamis putih.

Terus aku pakai gamis putih itu. Gamis putih longgar, panjang sampai mata kaki. Ini gamis ku umur 16 tahun. Waktu itu badan ku masih kurus. Sekarang agak sesak di dada, tapi muat.

CCTV kancing kedua masih nempel di kerudung putih kuning ku. Mami tadi pagi pindahin dari tanktop hitam ke kerudung. Sekarang aku pindahin lagi, selipin di kerah dalam gamis putih, dekat leher. Lampu merah kecilnya masih kedip tiap 5 detik. Masih ngerekam suara.

Aku keluar kamar.

Waktu aku keluar pakai gamis putih setrikaan ibu, satu ruangan diam.

Bapak ku angkat kepala. Matanya merah. Bapak lihat aku pakai gamis putih yang istrinya setrika jam 3 subuh sebelum meninggal.

"Laila..." suara Bapak pecah. Baru kali ini Bapak panggil aku Laila lagi.

Ibu-ibu yang ngaji Yasin berhenti sebentar. Bu Siti yang tadi telepon Mami di L300, langsung peluk aku.

"Cantik, Nak... kayak dulu lagi... ibu kamu pasti senang lihat kamu pakai ini..."

Aku duduk lagi di depan jenazah ibu. Sekarang pakai gamis putih. Bukan seragam SMA. Bukan tanktop hitam.

Jam 08.20. Dari luar gang becek, ada suara mobil Avanza hitam. Suara knalpot yang aku hafal. Avanza yang kemarin di Hotel Melati, yang dipakai Kyai Abdullah dan H. Suryadi kabur tidak bayar kamar.

Mami Asih langsung berdiri, lihat dari jendela kayu.

"Dia datang," bisik Mami.

Pintu Avanza hitam kebuka. Turun Kyai Abdullah sendirian. Pakai peci putih bersih, sorban putih, gamis putih bersih juga. Tidak ada lumpur di sandalnya, padahal gang kami becek. Berarti dia digendong santri biar tidak kotor.

Di tangannya ada amplop coklat tebal. Di belakangnya ada 2 santri bawa karung beras dan dus mie instan, tulisan "Bantuan Pondok Pesantren".

Orang-orang di halaman langsung berdiri, rebutan salaman, cium tangan Kyai. Karena di Kuala Pembuang, Kyai Abdullah itu orang paling dihormati. Wakil pimpinan pondok.

Dia masuk ke ruang tengah. Langkahnya pelan, dibuat berat biar kelihatan berwibawa.

Dia lihat jenazah ibuku. Dia lihat Bapak ku. Dia lihat ibu-ibu. Terus matanya berhenti di aku.

Aku yang duduk di depan jenazah, pakai gamis putih setrikaan ibu yang baru meninggal jam 4 subuh.

Matanya kaget. Jelas kaget. Mulutnya agak kebuka.

Karena semalam jam 14.10 dia kirim voice note 9 detik: "Ibu kamu di Kuala Pembuang... Kyai bisa bantu berobat... datang ke pondok besok jam 8... kita selesaikan kekeluargaan..."

Dia pikir jam 8 pagi ini aku akan datang ke pondok sendirian, takut, bawa flashdisk merah, minta ampun.

Ternyata jam 8 pagi ini aku di rumah ibu ku. Pakai gamis putih yang ibu setrika. Di depan jenazah ibu ku. Dikelilingi warga.

"Innalillahi... Ibu Laila orang baik... sabar ya, Laila..." kata Kyai Abdullah, suaranya dibuat pelan, seperti di pengajian.

Aku tidak jawab. Aku tunduk. Tangan ku pegang flashdisk merah di saku gamis putih. Panas.

Mami Asih yang jawab. Suara Mami keras, sopan, tapi satu ruangan dengar semua:

"Terima kasih Kyai sudah jauh-jauh datang dari pondok. Padahal semalam Kyai suruh Laila ke pondok jam 8 pagi ini lewat voice note. Tapi Laila tidak bisa ke pondok, Kyai. Karena jam 4 subuh tadi ibu Laila meninggal. Jam yang sama Kyai kirim voice note bilang bisa bantu berobat ibu Laila."

Hening.

Semua ibu-ibu yang tadi ngaji Yasin, sekarang lihat Kyai Abdullah. Voice note? Jam 8 ke pondok? Bantu berobat?

Kyai Abdullah mukanya langsung merah. Sama persis kayak muka H. Suryadi kemarin di kamar 303 waktu lihat flashdisk merah di meja.

"Eh... itu... Kyai cuma mau bantu... kasihan ibunya Laila ." Kyai Abdullah gugup. Tangan yang pegang amplop coklat gemetar.

Bapak ku yang dari tadi nunduk, tiba-tiba angkat kepala. Suara Bapak pelan, tapi semua orang diam dengerin:

"Kyai... maaf... kemarin Bu Siti bilang... Kyai telepon almarhumah... bilang Laila gila... jangan diterima kalau pulang... apa benar, Kyai?"

Itu pertanyaan yang aku tunggu Bapak berani tanyain ke Kyai.

Kyai Abdullah tidak jawab. Keringat di jidatnya keluar, padahal di dalam rumah papan ini dingin.

Dia coba alihin. Dia sodorin amplop coklat tebal ke Bapak ku.

"Ini... ini ada sedikit bantuan dari pondok untuk keluarga almarhumah... 2 juta... untuk tahlilan..."

2 juta. Di depan jenazah ibu ku. Di depan aku yang pakai gamis putih setrikaan ibu.

Tangan Bapak mau ambil amplop itu. Karena Bapak orang miskin. 2 juta itu banyak buat tahlilan.

Tapi Mami Asih tahan tangan Bapak. Mami lihat aku.

Aku maju selangkah. Pakai gamis putih setrikaan ibu. Aku berdiri di depan jenazah ibu ku, di depan Kyai Abdullah.

"Kyai..." suara ku pelan, serak habis nangis semalaman di L300. "Ibu saya setrika gamis ini jam 3 subuh. Jam 4 ibu meninggal lagi wudhu. Ibu nunggu saya pulang pakai gamis putih. Kyai masih ingat tidak, Kyai bilang apa ke saya di ndalem pondok waktu saya lapor?"

CCTV kancing di kerah gamis ku masih kedip. Merekam suara ku. Merekam wajah Kyai Abdullah yang merah.

Kyai Abdullah mundur selangkah. Peci putihnya miring kena kusen pintu.

"Laila... jangan bicara begitu di depan jenazah ibumu... tidak baik.."

"Beberapa minggu lalu Kyai bilang saya gila, tukang fitnah. Karena saya bilang tangan yang biasa pegang tasbih merobek kerudung saya. Hari ini ibu saya meninggal nungguin saya. Kyai mau minta maaf tidak ke ibu saya? Sekarang? Di depan jenazahnya langsung?"

Aku tidak teriak. Aku tidak maki. Aku pakai gamis putih. Aku anak yang baru kehilangan ibu.

Tapi satu ruangan dengar. Semua ibu-ibu dengar. Bu Siti dengar. Bapak ku dengar.dengar penuh dengan tanda tanya!

Dan amplop coklat 2 juta itu masih di tangan Kyai Abdullah. Gemetar. Tidak jadi dikasih ke Bapak.

Di luar, Avanza hitam masih nyala mesinnya di gang becek. Sopirnya nunggu Kyai kabur lagi, kayak kemarin kabur dari Hotel Melati tidak bayar kamar.

Dan flashdisk merah di saku gamis putih ku masih ada. Belum aku keluarin. Karena hari ini tidak perlu flashdisk.

Hari ini cukup gamis putih setrikaan ibu dan suara Yasin yang berhenti.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!